23 January 2015

Galur Murni...

Pebisnis itu bukan dilahirkan tapi diciptakan. Artinya bayi tidak lahir dengan bakat bisnis, lingkunganlah yang meng-create dia menjadi pebisnis. Sementara itu ada dua jalur pebisnis, galur murni dan galur turunan (made by layla library ;)
Pebisnis galur murni  mempunyai ciri, al:
a. Sesuai dengan hukum ekonomi, dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya (terkadang terkesan sadis ya ;) 
b. Sangat mengerti selera pasar. Kalau membuat suatu produk, disesuaikan ma selera pasar.
c.Ide-ide bisnisnya kreatif- original.
d. Cepat suksesnya tapi rentan terhadap pesaing.
Kebalikan galur murni, galur turunan, cirinya, al:
a. Sesuai dengan hukum proklamasi, diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
b. Selera by Me. Kalau membuat suatu produk disesuaikan dengan passionnya.
c. Ide-ide bisnisnya  merupakan penggabungan dari beberapa aliran (hasil dari hukum oreo, diputar (searching), dijilat (tasting) dan dicelupin (doing).
d.Suksesnya lambat merayap (karena masih harus mengedukasi pasar) tapi tahan terhadap pesaing. 
galur murni, sudah terlihat dari penampakan luar :)
 Galur turunan, tidak kalah lucu, tetapi harga jualnya kalah tinggi ;)


Nah, dimanakah anda berada?
Yang galur murni, memang pebisnis tangguh yang galur turunan, bukan berarti tidak tangguh tetapi...(ada beberapa catatan yang mengiringi). 
Contoh kasus:
1. Seorang teman mengajak kerjasama bisnis franchise. Menurut dia sih aku punya kemampuan dibidang tersebut dan menurutku bisnisnya memang amat sangat prospek sekali, suami juga mendukung, apalagi...? Akan tetapi...Secara halus, aku tolak.  Bukan apa-apa tetapi semata-mata, aku merasa minatku bukan disana. Ow...
2.Teman yang lain lagi, mengajak kerjasama bisnis jual-beli rumah kecil. Jadi ada rumah tipe kecil, direnovasi dikit-dikit terus dijual. Nih sudah sesuai ma passion, berarti gak ditolak ya? Setelah ditimbang-timbang, finally say no...no...So rude ya ? Apalagi alasannya? Ya karena rule no: 2, made by Me. Temen maunya merenov rumah sesuai selera pasar (style modern minimalis jadi harga bisa bersaing) aku malah mengusulkan kita menciptakan selera pasar (style klasik atau pake material kayu gitu). Temenku langsung ambil jurusan lari terbirit-birit, mana bisa rumah murah model klasik?! Susah deh pokoknya kalau mau berbisnis ma galur turunan. Perhitungan bisnisnya payah...! Lebih sering main perasaan (whew...)
3.Adikku yang terlanjur kerjasama buka klinik, sudah angkat bendera putih abu-abu (siaga satu). Ini klinik belum jalan, modal sudah habis duluan untuk interior (nyengir..).Dan terbukti, ternyata dengan mengurangi keterlibatanku dalam management, klinik baru bisa menuai laba setelah dilaunch tiga tahun yang lalu...!
Menurutku, untuk galur murni dan galur turunan, ada baiknya keduanya harus bisa berkolaborasi, selanjutnya disebut, berbisnis dengan hati. Galur murni menggunakan perasaan dalam takaran bisnis sementara galur turunan juga menggunakan hukum ekonomi dalam takaran perasaan. Gak repot khan? Kalau sekedar diatas kertas mah gampang, aslinya memang susah :(
Ada lagi satu contoh soal
Karena lagi membangun satu rumah villa didaerah nun jauh di surabaya timur (kecil saja but made by Me :) aku butuh beberapa lampu hias. Seleranya lampu hias yang model-model klasik gitu, nah biar murah (kolaborasi dengan galur murni) aku belanja aj di "Loak Shopping Centre". Kalau di Surabaya di area stadion gelora sepuluh november, kalau di jakarta, ada di area jl: surabaya. Biasalah galur turunan, kalau sudah senang sama satu penjual, susah diajak pindah ke lain hati. Ada satu penjual di jl surabaya yang barangnya selain bagus-bagus, penjualnya juga jujur. Aku memanggilnya pak haji karena memang dia selalu memakai topi untuk ke masjid, lha nih orang juga manggil aku bu haji, jadilah kita sepasang bapak dan ibu haji ;) 
lampu-lampu cantik

Pak haji ini contoh penjual yang berbisnis dengan hati. Dia akan menunjukkan bahwa barangnya yang ini langka, barang ini bagus, ini tidak bagus atau dia tak segan-segan merekomendasikan barang ditempat lain kalau memang ditokonya tidak ada. Tipe orang sepertiku yang tidak pandai menawar dan kerap menggunakan hukum proklamasi, diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya akan lebih memilih berbisnis dengan penjual yang menimbulkan rasa aman dibandingkan dengan penjual yang lain meski barangnya mungkin sama bagus dan harganya bisa lebih murah. 
Dan yang penting lagi, jual-belinya dapat membawa keberkahan pada kedua belah pihak.
Bagaimana dengan anda?

 



18 January 2015

Bahagia Itu Sederhana...

Peran menentukan kebahagian seseorang. Mengapa? 
Karena peran berkaitan dengan hak dan kewajiban. Seseorang yang berlaku sesuai perannya, berarti dia sudah menunaikan hak dan kewajibannya sebagai pribadi. Sementara bahagia itu artinya: suatu kondisi yang menyenangkan atau menentramkan. Kalau digabungkan dan diartikan secara bebas maka terbentuklah kalimat ini,  orang yang berhasil menjalankan perannya adalah orang yang berbahagia. Sesederhana itu. Pengertian bahagia menjadi complicated karena penafsiran hak dan kewajiban yang kabur. Ada yang menuntut hak tinggi tapi kewajiban yang dijalankan rendah. Begitu sebaliknya sehingga menimbulkan kekaburan peran.  Setuju? 

Anak-anak adalah contoh paling tepat dari statement, bahagia itu sederhana. 

Tulisan ini tidak khusus dibuat untuk membahas anak-anak dan permasalahannya but sebagai tanda simpati untuk berita terhangat minggu ini, Bripda Taufik. Membaca judul tentang seorang polisi yang hidup disebuah tempat yang tidak layak, sebenarnya tidak terlalu menyentuh (karena hidup tidak layak masih banyak bertebaran diseantero negeri ini) tapi ketika berita itu dihubungkan dengan bagaimana si bripda melakukannya sebagai pertanggung jawaban terhadap keluarganya, berita ini mengundang simpati. Terlebih saat bripda Taufik difoto dengan kedua adiknya yang masih kecil (duh terharu sekali...)
Bahagia itu sederhana
Tampak dalam foto, si bripda begitu sayang sama kedua adiknya yang beda usia terpaut jauh. Si bripda bukan saja menjalankan perannya sebagai anak tapi juga merangkap sebagai orangtua bagi kedua adiknya dan penanggung-jawab bagi keluarganya (terjadi kekaburan peran tapi koq kelihatan bahagia ya, makanya tuh statement diatas rada kacau, siapa yang sudah setuju duluan). 
Bahagia itu kedamaian hati. Bahagia lebih tepatnya ditentukan oleh usahanya sendiri. Berperan apa saja, seseorang bisa berbahagia asal dia mau bahagia (baca: bersyukur). Sesederhana itu? Ya bagi orang yang mau bersyukur, bagi yang susah bersyukur, semuanya tampak complicated.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim ayat 7)
Dalam ayat lain Allah Swt berfirman “Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml ayat 40)
Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278)
Bagaimana dengan si Bripda? 
Insyaallah dia menjadi contoh yang paling baik dari seseorang yang bersyukur.
Menurutku (bener-bener pendapat pribadi lho) kalau si Bripda berada ditangan yang tepat, berjalan dijalur lurus dan tetap rendah hati, dia akan tumbuh menjadi salah-satu orang yang cemerlang. Mengapa? Banyak orang yang sukses mempunyai kehidupan yang keras sebelumnya yang akan menempa kepribadiannya menjadi sosok yang tidak takut akan kesulitan atau kegagalan. Dan ini adalah salah-satu kunci sukses kehidupan. Kunci yang lain, meningkatkan ketakwaan.
Btw: tampak si Bripda sangat menyayangi kedua adiknya, apakah nanti kedua adiknya akan menyayanginya di saat si kakak sudah menua?  
Seharusnya begitu...!!!

15 January 2015

Warisan Pembelajaran...

Sadarkah kita ada bagian dari yang kita ajarkan ke anak-anak adalah hasil dari pembelajaran menurun (warisan) orangtua? Tidak selalu menyangkut hal besar seperti norma atau nilai-nilai kehidupan yang sangat bermanfaat, tapi juga merasuki a little things, for example: kebiasaan. Ada satu kebiasaan yang membuat aku mengerti kenapa aku tidak pernah menyukai telor rebus. Pada saat lampau dikala kecil, kalau ada anak yang sakit maka mom mengharuskan  kita menghabiskan waktu seharian dikamar, berbungkus selimut, minum teh panas dan makan telur rebus dengan kuning yang masih meleleh, setengah matang. Ohhh...
Atau saat abi (panggilan untuk ayah), mengantarkanku kuliah di hari pertama, nasehat yang selalu kuingat adalah: jangan pernah menerima permen (saat itu lagi marak permen bius) dari teman laki-laki. Ohh...
Dua contoh diatas sepertinya ajaran yang over tapi daripada berbuntut panjang, aku terpaksa menurut. Believe it or not, oops I did it...!!! Again.
 
Sewaktu Sirin masih berumur dua tahun, berbekal ide warisan yang telah dikreasikan, aku mencampurkan telur setengah matang ke botol susunya. Sirin yang terbiasa dengan susu  kedelai (yang mungkin rasanya lebih gak enak) meminumnya tanpa protes. Warisan pembelajaran ini terpaksa kuhentikan ketika putri sulungku menderita alergi yang lumayan parah. Dari anamnesa, dokterpun tahu apa yang kulakukan. Dengan geleng-geleng kepala sang dokter bertanya "Ibu dapat ide darimana mencampurkan susu dengan telor setengah matang?" 
Bila ada dalam persidangan maka terdakwanya adalah Mom... ;)
Masih dengan korban yang sama (sepertinya syndroma anak pertama) ketika melepas Sirin tinggal di kos, aku wanti-wanti menasehatinya panjang-lebar tentang keselamatan. Salah-satunya ya soal permen warisan itu. Mau tahu jawaban putri sulung? "Aduh... mama koq lebay banget sih...memangnya Sirin anak kecil !''
Aku hanya bisa berdehem-dehem...Bener juga ya, sayang waktu itu aku hanya diam saja. Coba dijawab, bisa gak pernah kuliah...!
Selain kedua hal sepele diatas, warisan pembelajaran juga menjadi alibi kenapa aku tidak pernah bisa bersikap konsisten. 
Untuk urusan konsisten, bersikap aj susah apalagi mendidik. Saat melakukan kesalahan, abi tidak pernah bisa menghukumku lebih dari satu jam. Setelah itu, keadaan berbalik, aku yang semula pesakitan, menjelma seketika menjadi penuntut, meminta sejumlah hadiah penebus. Aku pandai bermain memanfaatkan rasa bersalah abi yang sudah menghukum anak kecil imut berusia sepuluh tahun...! 
Untuk kedua putriku, mereka sudah hapal. Habis marah, tidak sampai setengah jam (bukan saja ajarannya yang ditop up tapi waktunya juga, oops...) aku akan mengentuk pintu kamar dan seditik kemudian tampak kedua putriku saling berpandangan dan mengerling...then, too much hug & kiss. Suami sering mengingatkan panjang-lebar tentang keburukan inkonsistensi Tapi...masuk telinga kanan-lolos lagi ditelinga kiri. Aku hanya berharap suatu saat kedua putriku itu menyadari ditengah ketidakkonsistenan ibunya bersikap, ditengah kemarahan dan pelukan, ada kasih  sepanjang jalan dan cinta ibu tanpa syarat untuk mereka.  
Tak cukup hanya berharap, sebagai orangtua, aku juga menambah segala kebaikan untuk mereka melalui doa-doa disepertiga malam. Semoga mereka menjadi anak yang sholehah dan pribadi yang kuat. Dengan doaku, aku berharap Allah SWT, melemahkan semua keburukan dalam caraku mendidik anak dan menggantikannya dengan semua kebaikan. Amin YRA.
Dan pesan khusus untuk kedua putriku,  semoga warisan pembelajaran ini tidak dibiarkan menetes turun-temurun, cukup hanya sampai di ibu dan anak saja. 
Dan terdakwa untuk sikap inkonsistensi adalah: abi... ;)
Bagaimana dengan anda...?
See you in next topic...

08 January 2015

Jalan-jalan ke KL & Singapore (part:2)

Travelling berdua beda iramanya dengan travelling bareng anak-anak. Kalau travelling berdua hampir dapat dipastikan sesuai jadwal keinginan dan kebutuhan tapi bila bersama anak-anak, agenda yang dibuat 50% terpenuhi sudah bagus. Penyebabnya tentu saja, beda fokus...;). Si ibu fokusnya gak mau rugi, on track sementara anak-anak kalau capek, maunya stay di kamar (whew...).
Tg: 23 des kita menuju Sing pake Malindo air. Sebenarnya ada tiga alternatif perjalanan darat, pake bus, sewa van atau kereta (tiket sebaiknya beli online). Tapi setelah diperhitungkan dengan cermat, kita memilih pake jalur udara. Maklum bawa mama, khawatir capek, khan ada jeda antara saat sampai Sing dengan waktu chek in hotelnya. Koper memang bisa ditaruh di concierge, istirahatnya yang bingung karena chek in hotel baru jam: 12.00 sementara by bus atau kereta nyampenya sekitar jam: 05.00. 
Keluar dari Changi airport (jangan lupa cari kartu telpon Sing atau bisa juga cari di gerai seven eleven) kita langsung naik MRT menuju Swissotel The Stamford. Uh...hotelnya koq beda ya dengan di gambar.
Ini khan gambarnya pada malam hari, kita nyampenya siang. Saat malam hari ternyata persis ma gambarnya.

Ditambah lagi saat chek in, agak ribet karena awalnya namaku tidak ditemukan dalam daftar tamu hari ini, terpaksa bongkar koper yang sudah di wrap untuk mencari bukti kwitansi dari travel (kata suami, yang salah bukan petugasnya, tapi salah sendiri kenapa ditaruhnya didalam koper bukan di handbag (gleg...) Setelah menunggu dua puluh menit baru bisa masuk kamar dan...ampun, closed bermasalah. Duh bete banget ma nih hotel. Tapi semua masalah beres dengan cepat dan esoknya baru nyadar, hotel ini sangat recomended bangeeetttt. Apalagi hotel ini juga menjadi jujugan maskapai Emirates. Sayang seribu sayang tidak free wifi. Hanya ini bisa diatasi jika kita jadi membernya, gratis untuk jadi member. 
Satu lagi keistimewaan Swissotel The Stamford yang membuat hotel ini berbeda:
(hehe mirip villa dleyla ya, kalau villa dleyla judulnya: dreamy bed sheets: A La Carte sleeping ;)
Buat pengalaman juga, kalau ke Sing gak harus pilih hotel daerah Orchard (sampai migrain ngeliat tarif hotel di Orchard di bulan desember, hotel sebelumnya Grand Park n Mandarin gak terjangkau deh, tarifnya melambung ke awan) daerah dimanapun yang satu area ma MRT maka tempatnya strategis kemana-mana)
Saat mencari makan, saat dimulai berpetualang di negeri merlion ini. Karena dibawah hotel ada pertokoan, langsung saja kita menuju foodcourtnya. Alamak...semua tidak ada lisensi halal...pasti hubby kagak mau makan nih. Suami memang paling ati-ati soal makanan halal. Saat di Eropah, kita makannya atun (tuna) melulu. Waktu ke HK, malah lebih ribet lagi, kita bawa rice cooker mini plus sembako (beras, mie instan, telur beli disupermarket sekitar). Makan ice cream, coklat atau permen harus diterjemahkan dulu ingrediantnya...untuk kehati-hatian mending gak usah aja deh padahal aslinya pengin banget ngerasain ice cream, sipenggoda diet.Tapi bener juga sih, makanan halal sangat berpengaruh terhadap keberkahan hidup, kudu ati-ati banget.Untung saja ada ibu-ibu berjilbab di sebuah resto masakan Thai. Setelah myhubby melakukan investigasi singkat untuk menyakinkan makanan halal, makanlah kita disana. Ternyata label halal tidak ada bukan berarti masakannya tidak halal tapi karena resto itu juga menjual minuman keras. Oh gitu tho... 
Pengalaman hari pertama, makan dengan tarif sejuta dollar (yang pertama!) alias selangit. Ya sudahlah gpp, asal selamat dan halal. Esoknya setelah kita mengitari sekitar hotel barulah ngeh disebelah hotel persis ada MCDonald. Oh...senangnya hatiku, paling tidak kalau kepepet kelaperan bisa makan burger. 
Breakfast di hotel ini juga istimewa, apa saja yang tersedia.
Saking lengkapnya menu sampai bingung mau milih makan apa. Nasi ada berbagai jenis (japan rice, fried rice, yellow rice, etc), bubur ada, mie ada, kue-kuenya juga beraneka. Yang detil ada juga penganan yang gluten free, siplah. Seperti biasa yang paling aman, makan ikan...i love fish..;)
Yang keren lagi, kelebihan breakfast satu orang  FREE Lho...


Berfoto di area pertokoan Raflfles City yang gabung dengan Swissotel Hotel
Di Sing, tujuan jalan-jalannya lebih beragam dibanding di Malay but I still prefer Malay than Sing, soalnya di Malay lebih murah belanjanya...:) Ketika anak-anak diamankan di USS dan pulau Sentosa (Sirin, si putri sulung anaknya pede banget ma Sing so dia yang mengawal adiknya selama disana) kita melalangbuana di Orchard plus IKEA. Karena lagi hangat berita penipuan turis di Singapore, kita jadi alergi ma Lucky Plaza, padahal sebelumnya LP menjadi semacam tujuan wisata untuk membeli parfum murah-meriah, lumayan untuk oleh-oleh :)
Menuju IKEA, bukannya mudah karena transportasinya harus berpindah ke bus dan letaknya lumayan jauh. Sesampainya disana, ternyata oh ternyata...mirip-mirip Informalah. Seperti biasa, disana aku hunting barang belah-pecah n lampu. Setelah berpusing-pusing, aku naksir satu lampu yang sayang-disayang, setelah diukur-ukur gak bisa masuk di tas kabin. Oh...*tear* tetapi mom berhasil mendapatkan piring satu lusin berbahan tempered glass...(kita saling mengedipkan mata, minta persetujuan hubby bisa gak packingnya, ternyata bisa lho...!) 
 Nyampe juga ke IKEA
naksir lampu ini, bagai kasih tak sampai..:(
Oh ya satu tip dari teman yang sangat berguna, kalau pergi ke LN, jangan lupa bawa tas dua roda yang bisa untuk ngangkut belanjaan.
Lumayan sangat berguna, apalagi kalau berniat membeli pernak-pernik dapur daripada tenteng2 tangan selain resiko pecah juga beratlah...
Juga jangan lupa selalu membawa payung. Prediksinya tidak hujan tapi ternyata hujan (desember gitu lho) Mending beli payung n selalu dibawa, ribet sedikit gpplah daripada tiap jalan beli payung, jadilah kolektor payung Sing, seperti kita :(
Tret..tret selanjutnya menuju Clarke Quay...(makan sejuta dollar part: 2)
Diam-diam ternyata Sirin, si putri sulung punya agenda terselubung selama di Sing. Agendanya lebih detil dibanding punya ibunya. Oh...Jadilah selama di Sing, kita mengikuti tour deSirin ;)
Acara selanjutnya dinner di Clarke Quay. Kita belum pernah kesana so waktu diajak putri sulung melihat CQ, seneng juga pemandangan dimalam hari sangat attraktif. Langsung saja kita berfoto-foto ria galeria.

 Swissotel The Stamford CQ
Tibalah saat perut memanggil, putar kanan-kiri, lirik sana-sini, sepertinya...Alamak hubby mengeluarkan travel warning, dilarang makan. Sirin tidak kurang akal, diajaklah kita ke resto bernuansa Midle East tapi sayang menunya gak cocok jadilah kita berputar balik. Tidak menyerah, Sirin mengajak kita ke resto Bayang, Indonesia cuisine.
Makanannya enak sih dengan nuansa balinese but tarifnya selangit...
Selanjutnya tour deSirin, lanjut menuju ke permainan ekstrem...sebelumnya Sirin ke Sing bersama teman-temannya, dia main games ini tapi bersama kami, gak bakalan ijin permit keluar. Gak deh, punya jantung cuman satu koq diajak uji nyali :(
Ekspresi Sirin yang bete ketika dilarang naik permainan ekstrem :(
Malam itu kita balik hotel jam: 23.00, capek sekali...
Esoknya kita mengunjungi Singapore Flyer, Marina Bay Sands (MBS) dan Garden by the Bay (ini wajib sekali dikunjungi, bagus bangett...ala-ala Avatar gitu). Sayang karena cuaca tidak mendukung, akhirnya gak bisa berfoto-foto ria.
Foto-foto dari Google hampir seindah warna aslinya...Amazing Place


Siangnya sebelum ke tiga area diatas, kita mampir ke icon Singapore yang lain, Mustafa centre. Awalnya kita mengira MC itu ada di Little india atau Bugis junction, ternyata...Salah! Padahal kita sudah beberapa kali kesana sebelumnya tapi ya tetap salah tuh...Setelah muter-muter dengan membawa koper persiapan memborong coklat...akhirnya sampailah kita di area MC. Makan siang dulu ala india, lanjut masuk ke pertokoan yang penuh sesak sepanjang jaman. Satu jam tersekap didalam, kita memutuskan keluar dengan keranjang belanja yang masih sepertiga penuh. Isinya sebagian besar, Sirin's chocalate for herfriends...and sugar free chocalate for myfather. Di MC kita juga mengambil banyak cookies yang sugar free, nyari di Surabaya yang sugarfree begini agak-agak susah, rasanya juga itu-itu saja. Disini banyak variannya. meski begitu, sebagai catatan, mending beli coklat atau oleh-oleh ditempat lain deh, selain transportasi yang sulit ke MC juga crowded didalam yang bikin belanja gak nyaman...Juga nilai rupiah yang anjlok (hampir mencapai level rp: 10 rb) yang membuat barang-barang di MC gak berasa murah lagi seperti dulu. btw: Menurutku juga, Singapore bukan surga belanja murah tapi mungkin surga belanja bagi barang-barang branded. Yang disale memang barang-barang branded, misal handbag, fashion, sepatu dll tapi dasar barang branded, disale 50% harganya juga masih menggantung di awan (sebelum disale, menggantung di langit ;) so masih menurutku lagi, mending kalau ke Sing fokusnya ke berbagai tempat icon Sing yang menakjubkan dibanding belanja. Selain hemat uang, juga hemat waktu. Soalnya kalau sudah masuk pertokoan di Sing, apalagi mampir ke Vivo, Wow...lupa waktu, lupa makan n lupa diri hehe...
Yang Sephora minded, coba mensiasati dengan keluar-masuk Watson, duh seneng betul ngeliat drugstore product yang murah meriah. Disini dapet lipstik LA matte (amethyst n sugar brown, cool colour)
Catatan: untuk tas-tas koper (atau barang lain semisal: handbag yang tidak bermerk), harga di Sing memang lumayan murah. Sebuah koper roda dua, buatan Italy disale dengan harga rp: 1.2 jt. Padahal sebelum berangkat, aku sempat survey harga koper bermerk-(standart2 aj) mencapai 1,2 jt & ukurannya jauh lebih kecil.
Hari itu kita kembali ke hotel sekitar jam: 23.00 dan bersiap-siap pagi harinya balik ke KL.
Ternyata bukan saja di Indo yang terkena pesawat delay, di Malay dengan Malindo Air juga delay, tiba di KLIA2 sekitar jam: 14.00 padahal harusnya jam: 11.00. Kita menyewa van yang juga ngantar kita ke bandara sebelumnya, tarifnya R130 dengan tip jadi R150 (dari hotel GM menuju KLIA2). Disini terkena kasus karena sebetulnya tidak boleh mengambil taxi luar masuk bandara (kita sudah berusaha keluar lewat exit lantai 2 tapi tetap saja ketahuan). Masalah beres, diselesaikan oleh sopir van, amanlah kita.
Hari terakhir di KL, kita check in di Traders Hotel,KLCC. Perhitungannya sih, hari terakhir sudah stop shopping tinggal windowshopping di KLCC Suriah Mall. 
Review singkat tentang hotel Traders, Kl. Service bagus, kamarnya oke, view bagus, free wifi, breakfast top but kelebihan satu orang kena charge :(
Bicara soal belanja, hari terakhir malah dapat cangkir plus soucer 2 lusin di Parkson..! (me selusin, mom selusin ;). Setelah magrib, aku ajak mom ngeliat atraksi air mancur di area bundaran KLCC. Seneng sekali ngeliat mama takjub n berfoto-foto ria (kesenangan difoto ini menurun sampai ke aku saja, si sulung Sirin n si bungsu Rana, alergi difoto, apalagi disuruh foto narsis, ogah banget (whew...)
Gambar-gambar sesuai dengan warna aslinya


Okey, see you in next post


04 January 2015

Jalan-Jalan ke KL & Singapore (part:1)

Lama gak nulis baru nyadar kalau nulis itu seperti olahraga. Sekali aja didelay, banyak gangguan lain yang datang menyergap. Setelah vakum hampir satu bulan, rasanya pengin nulis banyaaak sekali. Tarik napas dulu...
Okey, sharing sedikit tentang acara jalan-jalan ke KL dan Singapore, liburan yang tidak direncanakan.


Sebenarnya bukan murni tidak direncanakan, hanya saja yang tidak masuk dalam list available bepergian adalah putri sulung dan her king. Alhamdulillah, akhirnya kesampean juga liburan bareng meski terbagi dalam dua kloter. kloter pertama, aku and mom berangkat tg: 19 des dan kloter kedua, dad and anak-anak berangkat tg: 20 des. Semuanya pake Air Asia (AA), tujuan Sby-KL. Bukan karena kita ngefans sama AA tapi karena gak ada pilihan lain, penerbangan jurusan Sby-KL hanya dilayani AA. Alhamdulillah perjalanan lancar. Masih di area airport, kita segera mencari kartu telpon. Ini penting banget. Mending ngantri deh daripada nyari di luaran yang gak jelas tempatnya dimana. 
Hari pertama, kita menginap di Metro In, di Kajang (foto menyusul ya, masih males upload foto, speedy lagi lemot). Ceritanya liburan ini sambil menyelam. minum air, selain berlibur juga menghadiri perkawinan sepupu yang sudah menjadi warga Malay. Acara diadakan di Perbadanan (gak tahu artinya apa tp perkiraan sih, artinya gedung, kali ya?) Putra Jaya sementara rumah penganten ada di Tasik Semenyeh. Daerah tengahnya ada di Kajang. Dari bandara, menuju Metro in, kita naik taksi (gak pake argo) sampai di hotel, dikenakan tarif R130 plus tip jadinya R150. Ternyata oh ternyata...suami memakai argo hanya kena R60. Ya gpplah itung-itung amal. Oh ya kalau bepergian jangan lupa beramal tetap lanjut ya. Salah-satu keutamaan beramal itu dapat menolak bala' (malapetaka). Selain beramal, kita juga melengkapinya dengan asuransi perjalanan, kali ini memilih Allianz, totally kena US$ 99. 
Kamar at Metro IN
Pertokoan Metro, Kajang, dibelakang Hotel
Hotel ini, cukup lumayan, setara bintang dua (atau tiga?) karena berada di area pertokoan. Kita booking lewat agoda plus breakfast. Sebenarnya makanannya lumayan enak tapi kalau telat turun, ya dapetnya seadanya. Pagi itu kami dapat kentang goreng plus nasi goreng sahaja. Esoknya kami turun lebih awal, baru bisa merasakan masakan lain-lainnya, lumayan enak. Kalau mau room only juga boleh, nasi lemak dan nasi curry bertebaran di pertokoan belakang hotel.
Dari hotel kami harus riwa-riwi kekediaman penganten perempuan karena ada acara penganten pacar. untuk dicatat, di KL(daerah lain sepertinya sama juga, asal judulnya masih sama di LN) susah sekali mencari taksi. Untung banyak sepupu yang pernah sekolah disini jadilah mereka menghubungi kenalan-kenalan untuk sewa van. Satu diantaranya, bernama: Zul, hp:+60173089600 (harga menyusul ya, harus dikonfirm dulu karena gak ikut bayar...:). Asli penduduk jakarta yang lagi ambil S3 di KL. Dia masih akan tinggal di malay sampai lima tahun kedepan so yang mau ke KL rombongan, segera aja kontak, orangnya baik banget dan amaaannn hehe namanya juga saudara setanah air.
Cantiknya penganten 

Formasi lengkap di Persebadanan Putra Jaya
Kumpul-kumpul di rumah penganten
Setelah acara penganten selesai, tg: 21des jam 15.00 kita menuju KL, tepatnya ke Hotel Grand Millenium (GM) di Bukit Bintang (BB). sebelumnya, kita ke KL menginap di Grand Royal, depan sungei wang persis. Hotelnya juga recomeded. 

 Pemandangan dari jendela kamar
Review singkat tentang hotel GM. Seperti standar hotel bintang lima, service memuaskan, cek in cepat dan pelayanan ramah. Hanya saja connecting doornya agak bermasalah, dibuka bisa ditutup agak susah. Masalah selesai dengan  perbaikan singkat. Sedikit catatan juga karena kita berlima, maka satu orang terkena charge saat breakfast (hehe pelit juga ya hotelnya ): meski kita ambil dua kamar plus breakfast). Makanannya banyak ragamnya...semua ada dan halal, asyikkk...ini yang membedakan Malay dengan negara lain. Gak pake was-was soal makanan, maklum huby and anak-anak hobynya makan melulu...:) Setelah istirahat sejenak, tarik napas dulu terus lanjut menjelajah BB. Wow...dasar ibu-ibu selalu senang melihat area BB. 
Langkah pertama menuju Sephora...
Supaya tidak mengganggu kenyamanan, anak-anak dibelokkan masuk Uniqlo :).Begitu masuk, mata tak mau berkedip rasanya seperti melihat pemandangan bawah laut di Bunaken (Ohlala khabarnya kalau bunaken sudah gak seindah warna aslinya. Yang lagi ngetrend sekarang Raja Ampat, malah belum pernah kesana (whew...). Wow, betapa indahnya, hhh...hanya ibu-ibu yang bisa merasakan medan magnit Sephora, bapak-bapak mah kebanyakan alergi. Sayang disayang,  masuk cuman lima menit, barang yang dicari gak ada. Daripada membiarkan diri terkena pusaran medan magnit mending gabung ma anak-anak deh. 
Btw: ini barang yang dicari-cari di Sephora KL tapi gak ada. Ketemunya ntar di Sephora Sing. Gara-gara nyobain sample product dari indomakeup.com, kulit wajah jadi cerah akhirnya masuklah ke daftar whislist, skincare must have.
Malam itu kita makan dengan lahap di Ayam penyet Ria, sungei Wang. Masuk hotel kembali jam: 23.00. Lumayan capeknya.
Petualangan hari kedua di Kl...
Sabar ya pemirsa...nih laptop akan segera diambil pemiliknya, bertugas ke Bojonegoro. Seperti lagi protes, disuruh kerja terus, dua laptop plus satu notebook rusak berturut-turut. Alamak...
Hallo pemirsa, Selamat pagi...
Jumpa lagi masih dengan laptop pinjaman berjangka lunak 
Lanjut...
Menginjak hari kedua, kita tidak punya acara khusus di KL. Mau ke Genting, masih begitu-begitu saja (khabarnya seluruh permainan baru akan dibuka tahun 2016), mau ke batu Chaves, My Mom belum-belum sudah menolak sewaktu disodori gambarnya saja. Mau ke Sunway Lagoon sudah pernah, jadinya...hari kedua kita masih bekutat diarea BB. 
Me and Mom dengan semangat 45 meyidak Vinci dan membongkar semua koleksi sepatu dan sunglases disana. Juga yang paling favourite, toko-toko di Sungei Wang, serasa masuk Pasar Atum di Surabaya. Bedanya, di Sungei Wang harganya pas tak pake tawar-menawar. Asyiik jadi orang seperti aku yang gak bisa nawar, gak perlu khawatir kemahalan. Sementara kita sibuk menjajah Sungei Wang, anak-anak with their King menjelajah Pavilion.
Selepas shalat magrib (di KL, magrib sekitar jam:19.00), anak-anak stay di kamar, kita bertiga lanjut ke Pavilion. Eit ternyata banyak ketemu rombongan saudara disana, jadilah kita menggelar reuni kecil-kecilan sambil berfoto ria. Khawatir Parkson tutup, aku and Mom segera bergegas. Tujuan utama, mencari oleh-oleh untuk mertua. Kadang suka bingung, dikasih apa ya? Setelah melalui perenungan yang dalam sepertinya sih, oleh-oleh terbaik untuk mertua adalah handbag dan terbukti ! Setelah yang wajib terselesaikan, giliran berikutnya, hunting peralatan rumah tangga terutama barang belah pecah ;).
Semarak Pavilion menyambut Natal
Lagi terobsesi dengan pernak-pernik rumah tangga yang bernuansa shabi. Hehehe habis kenalan ma rumah cantik shabi di jakarta terus deh racunnya melekat sampe ke hati. Untungnya, suami bersedia mengeluarkan keahliannya mem-packaging pernak-pernik belah pecah (bersyukur...).
TOBE CONTINUE
JALAN-JALAN KE SINGAPORE (part:2)