31 December 2018

Cowok Vs Cewek


Siapa yang sudah melihat video kedua anak kreatif ini? Kalau belum lihat disini ya: lihat


Lagi cari inspirasi buka instagram, nemu video ini, ngakak, lucu banget. Meski (seperti biasa...🙈) aku gak langsung ngeh isinya tapi lihat mimik si cewek @daraarafah yang hayati bener jadi kagum ma aktingnya. Memang pernah ngalamin atau sekedar berempati ma para korban cowok, si daraarafah ini memang kreatif pembuatan videonya terlepas juga isinya menurutku (ukuran emak-emak) agak sarkas.  
Hhh...namanya juga video gokil, satire dan parodi. 

Para cewek dan emak-emak yang punya anak cewek, gimana apa sudah merasa terwakili? 
Begitu juga dengan video tandingan yang dibuat oleh Ikram Att, bagaimana para cowok atau emak-emak yang punya anak cowok apakah sudah terwakili?

Apakah anak mewakili orangtuanya?
Bisa ya bisa juga tidak.
Ada ungkapan Like mother like daughter atau like father like son, yang menandakan anak replika orangtuanya. Tapi bagaimana dengan badboy atau badgirl padahal orangtuanya terkesan shaleh?
Bukankah ini menandakan kelakuan anak bertolak-belakang dengan kelakuan orangtuanya?
Penelitian yang sudah terbukti, mengatakan gen kecerdasan anak diturunkan dari gen ibunya. Sementara penelitian yang tidak memerlukan bukti mengatakan, anak polah bapak kepradah...🙈

Kesimpulannya: Terwakili atau tidak, orangtua akan terseret dengan ulah anak-anaknya.  

Kenapa ada cowok yang membully cewek? Atau kebalikannya, cewek yang membully cowok?
Jawabannya seratus persen berkaitan dengan pola asuh, bukan gen. Kalau ditarik lebih jauh lagi, statement diatas bertalian darah dengan konsisitensi orangtua dalam menerapkan pola asuh. Menjadi orangtua yang konsisten terhadap anak, tampak seperti pekara kecil yang berefek maha berat. 
Rasa sayang alamiah orangtua terhadap anak, menghalangi banyak hal buruk/baik yang akan terjadi pada anak. 
Suami suka mengingatkan, menyintai anak adalah termasuk pekara hubbud dunya. Masak sih...?
Iya, ini lanjutannya: Banyak orangtua yang bersedia melakukan apa saja untuk membahagiakan anak-anaknya. Termasuk didalam perbuatan ini adalah: membiarkan, mendiamkan, membela,  atas nama anak. Saking hebatnya membela anak sampai tak disadari menjauhkan diri sendiri  dari tuntunan agama.
Hmm...Bener juga ya...😟
Kadang petuah ini masuk, kadang lewat begitu saja. Dalihku, enak memang bapak-bapak ini, mereka memikirkan anaknya hanya sampai kulit ari saja, sementara para ibu memikirkan anaknya sampai ke sumsum tulang. 
Suami menimpali: Makanya itu ibu punya kedudukan tiga kali lebih tinggi dari ayah. Bukakah ini sebuah kehormatan bagi seorang ibu? 
Bener juga ya...
Pola asuh dalam keluarga sangat mempengaruhi pandangan (nilai-nilai yang dianut) anak. Orang tua yang memiliki anak ganda campuran (anak cewek dan cowok) seharusnya dapat bersikap lebih konsisten dibanding orangtua yang hanya punya anak cewek atau cowok saja. Mengapa?
Orang tua adalah role model pertama bagi anak dalam kehidupannya. Ketika orangtua tidak bersikap konsisten  dalam menerapkan nilai-nilai antara anak cewek dan cowok, maka nilai-nilai itu akan dirasa membingungkan dan tak akan dipakai. 
Contoh kecil: 1
Ortu yang menerapkan aturan jam malam pada anak perempuannya dan tidak membatasi jam malam pada anak lelakinya maka aturan itu dianggap sebagai sebuah ketidakadilan. Sang anak perempuan akan mengabaikan hal baik dibalik aturan itu dibuat.
Contoh kecil: 2
Banyak ortu menerapkan aturan double standart (sepengetahuan saya, khususnya dalam budaya arab) pada anak perempuan dan menantu perempuannya (notobene istri dari anak lelakinya) . Pada anak perempuannya diberikan kesempatan yang luas untuk menuntut ilmu dan kebebasan-kebebasan yang lain sementara pada menantu perempuannya (khususnya mertua yang masih beraliran retro-pop.. 🙈 ) dibatasi nilai-nilai dengan dalih kasihan suaminya. Kisahnya: ada teman yang curhat, anaknya putus dengan calonnya karena si ibu sang calon tidak setuju punya mantu yang bekerja di luar rumah (dokter). Sang ibu khawatir, anak lelakinya tidak terurus. Yang menggelikan adalah, saudara perempuan si calon adalah juga seorang dokter..😶 (speechless deh, mana bisa calon besan didebat ). Maka kuhibur teman yang sedang galau itu dengan kalimat, "Itu artinya sedang dipersiapkan jodoh yang lebih baik buat Nina" 
Dalam hal ini, nilai-nilai yang tidak konsisten si ibu akan membuat anak lelakinya tidak bisa bersikap sebagaimana seharusnya (akhirnya terjadilah pembullian hubungan alias pemutusan hubungan sepihak)

Singkat kata, pola asuh ortu yang tidak konsisten memberikan sumbangsih dari pembentukan kepribadian anak yang labil. Penampakannya dalam bentuk pembulian atau pelecehan terhadap lawan jenis. Jelasnya lagi anak cewek atau anak cowok yang baik adalah murni hasil pola asuh yang baik dari orangtua yang baik tetapi badboy atau badgirl adalah hasil persilangan pola asuh yang tidak konsisten dengan lingkungan yang tercemar. 

Berkaitan dengan video satire diatas, kelihatan sekali kalau kelahirannya didasari oleh rasa empati women to women atau man to man. Hhh ...sepertinya keduanya memang berniat menyentil dan bukan pelaku. Maka berterimakasihlah kita pada @daraarafah. Bagaimana emak-emak yang punya anak cowok apa sudah terwakili oleh  @ikram_afro_attamimi...? 😉

See you in the next post...






 

21 September 2018

Perjodohan Dalam budaya Arab


Bagi anak sekarang perjodohan adalah kata yang tabu, sebaiknya sebisanya, dihindari atau seharusnya dihapuskan (mungkin disamakan juga dengan perbudakan 🙈). Sebaliknya bagi ibu-ibu ini adalah topik favourite 😉 Entah kenapa aku ketiban sampur sering diminta teman/saudara untuk jadi agen non property ini. Aku sih senang-senang saja, selain pahalanya gedhe, ikut senang juga kalau berhasil. Hanya sepanjang pengalaman jadi agent 001 ini, ada kendala tetap yang stabil menghambat, yaitu: action. Niatnya kuat tapi actionnya kurang, hasilnya: nihil..😥
Paling sering dimintai tolong oleh ibu-ibu untuk mencarikan jodoh anak perempuannya. Ada juga sih yang untuk mencari jodoh anak lelakinya meski amat jarang sekali. Ini mungkin disebabkan karena anak perempuan secara budaya ada diposisi dipinang (pasif, menunggu) bukan meminang (aktif, mencari). Meski tidak selalu berhasil, tetapi aku gak kapok tuh. Bahkan pada sisulung, aku selalu kasih woro-woro, kalau ada diantara teman-temannya yang belum punya calon untuk dikenalin ma anak temanku. Sisulung langsung angkat tangan...Mungkin dia khawatir mamanya keterusan jadi agen spionase..😄


Perjodohon dalam budaya Arab
Perjodohan sudah menjadi tradisi dalam budaya arab, bukan ssesuatu yang tabu atau menakutkan. Jaman mengalami kemajuan, sosial media menjadi acuan baru cara berkomunikasi, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat otomatis tatacara pencarian jodohpun mengalami perubahan. 
Dalam budaya arab,  perjodohan tetap berlaku hanya saja tatacaranya yang mengalami kemajuan, disesuaikan dengan kemajuan jaman.Yang paling favourite perjodohan antar sepupu atau antar kerabat, disusul dengan perjodohan antar teman. Ceritanya dulu, aku juga gak lepas dari perjodohan. Jidah (ibunya abi/nenek) menghitung jumlah cucu laki dan cucu perempuan dan ponakan sepupu. Ternyata didapat jumlah cucu perempuan berimbang dengan cucu laki maka secara samar, dijodohkanlah si A dengan si B, si C dengan si D dsb (haha...nostalgia jadul) Ternyata dari yang dijodohkan itu tak satupun menikah dengan jodoh bayangannya, yang tidak dijodohkan malah menikah juga dengan sepupunya 😍
----------------------
Ibu berperan penting dalam mencari jodoh bagi anak laki-laki sementara ayah berperan penting mencarikan jodoh bagi anak perempuannya. Kalau budaya Jawa, ada bibit, bobot, bebet. Kalau dibudaya arab mungkin yang lebih difokuskan adalah: bibit (asal-usul, malah saking percayanya ma point yang satu ini, kalau yang melamar dari keluarga baik-baik maka biasanya sianak yang melamar langsung mendapat status lolos seleksi meski personality sipelamar belum tahu betul). Silahkan baca
Merunut asal-usul adalah bagian terpenting dari budaya Arab. Untuk amannya mereka lebih senang menjodohkan anak-anaknya dengan keluarga sendiri (antar sepupu, anaknya hall/ami, halati/amati, tante/paman). Apalagi kalau dalam satu keluarga ada gen bibit unggul, wah...jarang yang sampe lolos ke gen yang lain. 
Terkadang saking cocoknya antar keluarga besan, mereka melakukan perjodohan dua tingkat, pake sistem silang. Jadi kakak-adik dari keluarga A, dapet juga kakak-adik dari keluarga B. Bahkan dari keluarga Abi (kkk-adik), persilangannya sampai tiga tingkat, ha...ha...saking dah sehatinya antar keluarga besan.
Meski begitu banyak juga yang memilih menjodohkan anaknya dengan orang lain diluar sepupu. 

Kenapa perjodohan dalam budaya Arab menjadi warisan tradisi yang masih lestari)
Ada beberapa alasan yang mungkin jadi penyebabnya, al:
1.Terbatasnya akses bertemunya antara anak laki-laki dan perempuan sehingga masing-masing pihak merasa kesulitan untuk menemukan calon yang cocok dan menyerahkan mandat pada orangtua.
2.Akses yang terbatas menyebabkan mereka tak segan jatuh cinta pada sepupu 😏 
3. Ketaatan pada orangtua (terutama ibu) menyebabkan si anak (laki) tidak menolak calon yang disodorkan ibunya. Begitu pula bagi anak perempuan biasanya setuju saja dengan calon yang disodorkan ayahnya.
4. Ibu yang mendapat mandat akan bergerak menjalankan perannya sebelum si anak merequest minta kawin. Lha siapa yang gak seneng dapet bonus calon pendamping.  Umumnya di suku Arab, menikahkan anak lebih cepat lebih baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan. Konsekwensinya, para orangtua masih menanggung secara finasial kebutuhan anaknya yang telah menikah (terutama laki-laki) sampai mereka mandiri. 
5.Pentingnya masalah asal-usul yang membuat orangtua mengambil peran aktif. Sebelum si anak terlanjur keluar jalur (mencari calon pendamping secara mandiri dimana ada kemungkinan tidak memenuhi kriteria si ibu/ayah) mereka lebih dulu mengambil langkah menjodohkan anak-anaknya.
6.Adanya supply and demand yang masih tinggi. Artinya, perjodohan masih menjadi alternatif pilihan favourite keluarga :)

Terlibat dalam beberapa scene perjodohan, aku sedikit memahami lika-liku prosesi penghalalan ini. Ada beberapa point, diantaranya:
1.Sosok ibu berperan strategis dalam memilih siapa yang akan menjadi miss universe dalam keluarga. 
Untuk calon suami bagi anak perempuannya, ayahlah yang dominan. Selain menyeleksi, ayah juga berperan sebagai explorer. Seorang ayah bertanggung-jawab mencarikan jodoh untuk anak perempuannya. Karenanya seorang ayah bisa sangat tegas (cenderung kaku) dalam menyeleksi calon pendamping anak perempuannya.
Sebagai contoh, dulu bila ada orang yang datang melamarku, bila almarhum abi tidak setuju maka  calon itu tanpa ampun, bakal terdelete  dalam direktori.  Meski sangat tegas pada anak laki-laki, almarhum abi sangat lembut pada anak perempuan bahkan siapapun calon yang dibawa anak laki-lakinya abi setuju saja hanya mama tentu saja tidak mau hak prerogatifnya terkoreksi. Abi yang sangat dominan bisa dibuat tak berkutik ketika mama menggeleng dengan calon yang disodorkan untuk anak lelakinya. Ketika mama mengangguk tanda setuju... Ups, langsung ada penghuni baru dalam keluarga 😊

2. Biasanya akses mencari jodoh/perjodohan terjadi saat kondangan pengantin karena disanalah para umi akan bertemu dengan para gadis yang akan menjadi calon untuk anaknya. Bisa dikatakan acara kondangan pengantin seperti gebyar bca gitu atau semacam pesta tahunan yang sangat dinanti-nantikan. Para gadis cantik yang bak miss universe berseliweran dengan gaya dan senyum yang menawan. 
Sebagai ibu, terkadang aku dibuat keki ma sisulung. Jarang bisa ikut (sebenarnya dimaklumi sih masih kuliah dan diluar kota pula) padahal si ibu terikat misi, ada sedulur, kerabat, teman yang mau ngenalkan anaknya. Akhirnya... Jadilah mission not working...😉
Kalau bisa ikut kepaksa banget facenya, terlihat bete. Baru aja nyampe udah request kapan pulang...😕
Tanpa diusutpun aku tahu darimana wajah bete itu berasal. Si sulung sepertiku dulu, merasa asing dengan suasananya 🙈  Tapi kalau ada kondangan pengantin dikalangan habitat temannya, wah...seru ceritanya gak habis-habis... Percis banget profil mamanya tempo doeloe.
3. Seringnya punya daftar nama perempuan lebih banyak dari yang laki. Bukan karena anak perempuan susah jodohnya tapi lebih karena mencarikan jodoh anak perempuan itu harus benar-benar berhati-hati. Gak main-main lho, ceritanya ini khan nyari surga pengganti. Jadi mikir...
Ini mungkin penyebab banyak ibu-ibu yang berusaha menjodohkan anaknya dengan anak teman/ kerabat/saudara.  Mereka merasa aman kalau menyerahkan anaknya ke tangan keluarga yang sudah mereka kenal baik. Paling tidak meski tidak bergaransi, trackrecordnya tidak masuk dalam daftar hitam. Rasa sayang orangtua pada anak perempuannya menuntut rasa aman. Kalau menurutku, faktor inilah yang no satu bukan karena bobot dan bebetnya. Itu sebabnya perjodohan tak lekang oleh kemodernan jaman sekalipun.
Sebagai ibu yang merasa sudah kuliah di era modern, mengeyam segala fasilitas modern dan memakan modern food (kfc, pizzaa, mc donald dll) aku rasa cara berpikirku sudah modern. Tapi ternyata belummmmm....Terutama dikedua mata buah hatiku...:( Contohnya ya tentang teori perjodohan ini.
Sebaliknya kalau pas ngobrol ma ibu-ibu, ngomongin topik perjodohan jadi gayeng alias rame. Ibu yang punya anak laki dan anak perempuan adalah dua kubu yang berbeda...:)

"Pokoknya mb, ibu yang punya anak laki itu menang dhisik, iso milih.... kene iki menang kari, iso nolak..."ujar seorang ibu yang keki habis diphp oleh temannya.
Maksudnya, ibu-ibu yang punya anak laki berada diatas angin karena bisa milih dulu calon mantunya. Sementara ibu-ibu yang punya anak perempuan, menangnya kemudian, karena hanya bisa nolak tapi gak bisa milih. Fenomena ini, berdasar pada anak perempuan atau orangtua yang punya anak perempuan secara adat dan budaya diposisikan pasive, menerima/menolak lamaran bukan pihak yang melamar. 
Seorang ibu yang lain nyeletuk, "Jangan khawatirlah...khan lakone biasanya menang terakhir "
Hhh...😏😊
4. Untuk menghindari niat baik yang berakhir salah, dalam perjodohan sudah seharusnya pihak laki-laki dulu yang dihubungi baru kemudian yang perempuannya.
Banyak orang yang menggunakan foto untuk menunjukkan profile calonnya sementara. Padahal sih personality seseorang tidak bisa diwakilkan dalam sebuah gambar cetak. Selembar foto itu hanya membawa pesan singkat kerangka jasmani untuk memenuhi hasrat akan keindahan. 
Khan sekarang sudah canggih, ada medsos. Masing-masing orang punya akun medsosnya sendiri. Lihat dong medsosnya tanpa pihak perempuan tahu. Nah disinilah peran pembantu diperlukan untuk bermain cantik. 
Sehubungan hal ini, ada contoh menggelitik. Dalam sebuah kesempatan datang ke kondangan pengantin, sisulung yang beberapa saat terpisah, menghampiriku. Dia terlihat agak bingung dan bertanya kepadaku, mengapa ada seseorang (umi-umi) yang minta ijin padanya untuk mengambil foto.
Buat apa fotonya? tanyanya masih keheranan.. Dia heran, bukan artis atau publik figure koq tiba-tiba ada yang mengajak foto bareng. Hmm...Aku yang mahfum, hanya menjawabnya dengan  senyum tersungging. Anakku ini memang masih asing dengan beberapa tradisi dalam budaya Arab.

5. Tidak semua orang mau membawa pesan. Seberapa besar kita berniat menjodohkan seseorang, kita tidak bisa bekerja senyap, butuh rantai untuk menjadi penghubungnya. Inilah yang kumaksud dengan action. Dalam action, ada yang dengan senang hati membantu, ada yang php dan ada juga yang abstain. Jarang sih yang langsung frontal nolak...Mungkin yang nolak sungkan, khan ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan...:) Kalau rantainya tidak terhubung dengan baik bisa dipastikan hasilnya tidak seperti yang diharapkan.  Kendala inilah yang sering kujumpai dilapangan tembak :(
Tapi ini semua kembali pada takdir. Kalau jodoh, semuanya jadi lebih mudah tapi kalau belum jodoh, ketemu aja kendalanya, yang no action, yang gak cocok, yang PHP, dll. Disinilah harus percaya takdir. Masing-masing pihak harus berbesar hati.
6. Sekufu
Inilah point of interest dari sebuah kisah perjodohan dalam budaya Arab. Umumnya pihak perempuan yang menemui kendala dalam makna kata sekufu. Seabad yang lalu, dalam salah-satu warisan tradisi  suku Arab, perempuan mempunyai akses yang terbatas dalam hal pendidikan sehingga tidak masalah jika terjadi ketimpangan pendidikan antara suami-istri. Seabad berlalu, ternyata tradisi/kebiasaan seperti ini masih  berlaku ;)
Bukan hal yang aneh kalau ada perbedaan umur, tingkat pendidikan atau strata sosial-ekonomi antara pasangan suami-istri dalam sebuah keluarga dari suku Arab. 
Inilah efek calon pilihan mami...🙈 yang bisa saja jadi blunder bagi anak perempuannya kelak. Seorang ibu pastinya menginginkan calon bagi anak lelakinya yang looks like Barbie or Cinderella (komplit, pintar masak, cantik dan baik hati).

Itu sebabnya bagi anak perempuan yang berpendidikan tinggi agak susah mencari yang sekufu. Semakin pintar, semakin sukses semakin menakutkan...Hhh mungkin umi-umi yang masih kolot aja yang berpikiran begini...Khawatir anaknya invisible. Mungkin  👀
Memang tidak bisa digeneralisasi sih tapi yang model begini masih punya tempat dan survive 😑

Pada kenyataannya, selama bumi masih berputar mengelilingi matahari, hal-hal yang kontradiktif akan selalu ada dan langgeng. Seperti yang dipaparkan dalam sebuah penelitian, banyak lelaki yang ketika beperan menjadi suami, mereka menginginkan istrinya  tidak bekerja dan semata dirumah mengurus rumah tangga saja.  Tetapi ketika silelaki itu menyublim menjadi Ayah, banyak ayah yang menginginkan anak perempuannya mandiri dengan bekerja. 
Nah khan...
-------------------
Apa yang kutulis diatas, bandingkan dengan ini...
Seorang teman (dari suku Jawa) mengisahkan anak lelakinya minta dicarikan calon. Dan ketika temanku itu spontan menawarkan anak temannya yang sekolah di pondok, si anak lelakinya langsung menolak karena tidak sekufu katanya. 
Tidak sekufu gimana? tanyaku
"Anak temanku yang dipondok itu anaknya baik, kalem tapi masih SMA, ntar jomplang cara berpikirnya. Umurnya juga beda jauh, susah diajak diskusi, kata anakku. Aku pikir-pikir betul juga.." ujar temanku, Aishah.
Hhh...aku langsung ketawa...
Aku nanya temanku itu, apa anaknya sadar betul akan ucapannya?
"Maksudnya..?'' temenku balik bertanya
"Apa anakmu sadar betul, pengin istri yang diajak diskusi tentang apa saja. Beli mobil tanya istrinya dulu, jenis dan catnya warna apa? Mau beli rumah nanya istrinya dulu. Mau ngasih uang ke ibunya, nanya istrinya dulu dll...Apa yakin, mau begitu..? Jangan-jangan anakmu cuman latah aj ma ungkapan manis bisa jadi teman diskusi" kataku menggoda.
Akhirnya temanku, Aishah ketawa juga...

Bolehkah suku Arab menikah dengan suku non Arab?
Aku bukan pemerhati budaya, jadi cerita ini ditulis semata-mata hasil dari pengalaman langsung bukan dari pengamatan ilmiah atau sejenisnya. Karenanya jawaban dari pertanyaan ini, akan kujawab sebagai bagian dari proses metamorfosa-ku.
Pertanyaan ini sering diajukan mulai dari aku masih SD. Dan biasanya aku tidak menjawab karena memang tidak tahu. Ketika menginjak SMP, pertanyaan ini tak kujawab, juga aku tidak tahu alasan sebenarnya kecuali almarhum abi melarang. Ketika menginjak hari pertama di SMA, aku sudah mulai dapat merasakan itu bukan pelarangan tapi undang-undang, seperti NKRI harga mati...🙈.
Saat itu kalau aku ditanya, aku tetap tidak menjawab hanya aku sudah mulai bisa menebak alasannya. Saat aku kuliah, aku sudah mulai bisa menjawab dengan nalar. Saat aku menikah dan mempunyai anak perempuan diusia balita, aku adalah calon pemberontak. Saat anak perempuanku memasuki usia dewasa, aku adalah prototipe almarhum abi, sangat protective terhadap anak perempuanku.

Kembali ke pertanyaan asal, apakah boleh suku arab menikah dengan suku non arab?
Jawabannya adalah boleh. 
Tidak haram? Tidak...
Tapi memang tidak mudah terutama bagi anak perempuan. 
Mengapa Tidak mudah? Apakah karena nama keluarga akan hilang jika mereka menikah dengan laki-laki dari suku non arab?
Jawabannya memang benar nama keluarga (fam) akan hilang tapi sebenarnya faktor fam bukannya yang utama.
Kalau begitu, faktor apa yang menyebabkan tidak mudah?
Setiap orangtua mempunyai harapan tersendiri pada masing-masing anak. Harapan yang membawa doa-doa terbaiknya. Sedangkan kenyataan adalah:  fakta yang ada saat ini. Antara harapan dan kenyataan adalah dua faktor yang berbeda. Bila ada gap antara harapan dan fakta itulah yang dinamakan masalah. Adanya masalah inilah yang disebut dengan tidak mudah. 
Sebenarnya gap antara harapan dan kenyataan tidak saja terjadi pada suku arab dan non arab tapi bisa juga terjadi pada suku jawa dan non jawa, suku batak dan non batak dll. 
Gap harapan dan kenyataan bisa juga merambah ke status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, profesi dll. Misalnya: keluarga dari kalangan militer cenderung menginginkan anak/mantunya punya lat-bel militer juga. Atau keluarga dari kalangan akademik cenderung menginginkan anak/mantu dari kalangan yang sama juga.
Dalam hal ini, orangtua cenderung punya harapan agar anak-anaknya menikah dengan lat-bel keluarga yang sekufu. Hal ini bukan suatu keanehan,keburukan atau kejahatan. Mereka hanya ingin memastikan anak-anak perempuannya terlindungi dan aman menurut nilai-nilai yang sudah mereka kenal bertahun-tahun. Itu sebabnya seperti uraian diatas perjodohan dikalangan suku Arab amat sangat populer.
Hanya saja, gap ini yang menjadikan perkawinan  tak sekufu itu menjadi tidak mudah terutama bagi anak-anak perempuan, utamanya lagi dari suku Arab.

Untuk anak laki-laki sebetulnya gap itu dapat lebih mudah diatasi. Mengapa?
Karena secara sosial dan agama, anak laki-laki berada dalam garda depan (punya tanggung jawab lebih) dalam menyandang nama dan kehormatan keluarga. Selain keabsahan membawa nama marga (fam), laki-laki punya hak talak dan anak laki-laki akan selalu menjadi anak ibunya (artinya: seorang anak laki-laki surganya ada pada ibunya) Karenanya ibu yang punya anak laki-laki sudah seharusnya punya tingkat kekhawatiran yang lebih rendah dibanding anak perempuan .Mungkin satu-satunya kekhawatiran seorang ibu jika anak lelakinya adalah termasuk golongan suami-suami takut istri...🙈


--------------------
Harapan hanyalah harapan. Dia tidak bisa melampaui takdir. Kalau memang jodoh, tak ada kekuatan yang dapat menolaknya. Hanya saja sesuatu yang baik, seharusnya diperjuangkan dengan baik bukan dengan pemaksaan atau sampai kawin lari segala.
Banyak kisah love story disekitarku. Diantaranya, kisah adikku.


Ketika adikku, Rima mengajukan calonnya Nova, dari suku jawa maka gegerlah dunia Al Thalib. Memang adikku bukan yang pertama, tapi dari jalur abi dan mama, Rima adalah anak perempuan yang pertama. 
Fase pertama adalah fase yang paling berat dan tidak mudah, cenderung uji nyali alias menakutkan. Almarhum abi dengan tegas menolak mentah-mentah. Fase kedua, adikku menggalang dukungan dari mama: mental-tertolak. Fase ketiga, tak kurang akal, adikku menggunakan saudara menjalin solidaritas. Dukungan  mulai terpetakan. Fase keempat, Rima mulai menebar simpati, Nova mulai dilibatkan untuk berbicara denganku dan saudara-saudara yang lain. Nova datang berusaha menemui almarhum abi: tertolak. Fase kelima,   almarhum abi mulai melunak, meminta wali hakim. Tahu ada peluang, Rima masih menebar dan menggalang simpati, terutama ke mama dan aku, sebagai penerus lidah ke saudara laki-laki. Fase keenam, almarhum abi memerintahkan aku dan anak laki-lakinya plus adiknya mama  (laki-laki) berangkat mewakili almarhum abi menikahkan Rima di mataram (tempat rima bermukim, mengikuti program PTT drg). Ketika kita sudah siap-siap berangkat, giliran Rima yang tidak mau menikah tanpa restu almarhum abi. Fase ketujuh, fase reses, rundingan melibatkan keluarga besar.  Fase kedelapan, almarhum abi mengangkat bendera, menerima Nova sebagai menantu tanpa syarat. Meski masih ada yang keberatan tetapi ketika almarhum abi sebagai garda depan, memberikan restunya, otomatis semua saudara langsung berubah haluan, ikut mendukung. Fase kesembilan, keluarga Nova berkunjung kerumah bertemu keluarga besar Al Thalib melalui tahap lamaran. Fase kesepuluh, akad nikah, langsung almarhum abi sendiri yang menikahkan Rima  Sebelum akad nikah, almarhum abi mensyaratkan akad dibaca dengan menggunakan bahasa Arab, jadilah sebelumnya Nova belajar menghafal lyrik akad berbahasa Arab. Alhamdulillah lancar :)
Ada kisah lucu dalam perkawinan campuran ini. Dalam rangka belajar menyesuaikan diri, hal pertama yang diajarkan Rima pada Nova adalah belajar bersalaman, siapa yang harus diajak bersalaman dan siapa yang tidak. Saat-saat awal masuk dalam keluarga, Nova bersalaman pada semua orang yang malah bikin kita saling pandang-memandang: terkaget, terkekeh dan meleleh 🙈



Apakah adakah alasan lain kenapa seorang perempuan dari suku Arab susah menikah dengan laki-laki non Arab?
Ada beberapa (meski sekarang jumlahnya semakin sedikit) yang beranggapan, alasan sulitnya perempuan dari suku Arab menikah dengan lelaki non Arab dikarenakan masalah rasis. Tentu saja ini adalah anggapan yang paling koyol. 
Mengapa?
Yang pertama: fakta bahwa laki-laki Arab lebih mudah menikah dengan perempuan suku non Arab ini menandakan statement diatas tidak terbukti. Kalau ada masalah rasis, mengapa mereka mempercayakan anak-anaknya lahir dan diasuh dari seorang ibu yang mereka rendahkan sukunya ?
Yang kedua: fakta bahwa laki-laki arab lebih mudah menikah dengan perempuan non arab membawa pada fakta berikutnya, kelak bisa saja pasangan ini (terutama si ibu yang non arab) akan menjadi mertua dari menantu perempuannya yang arab. Dan si menantu sebagaimana layaknya menantu-menantu arab yang lain harus hormat dan taat pada ibu mertuanya selain suaminya. Seorang menantu perempuan arab yang tidak hormat dan taat pada ibu mertuanya (apapun sukunya), dia tahu kemana perkawinan itu akan berujung. 
-----------------------------------

Apa perempuan Arab yang menikah dengan laki-laki non Arab akan terkucil dari keluarga? 
Jawaban logisnya ada dibawah ini: 
Keturunan Arab, aku  bagi kedalam tiga golongan secara sederhana.
Golongan Satu: Konservatif cenderung kolot. Ditandai dengan banyaknya tradisi yang masih mengakar kuat. Umumnya perempuannya berhijab, dan pendidikannya lebih condong memilih pendidikan agama daripada pendidikan umum. 
Golongan Dua: Moderate. Tidak banyak memegang tradisi, umumnya perempuannya berjilbab dan memilih pendidikan umum. Bisa sekolah sampai SI dan S2. Ada yang bekerja, ada yang tidak. 
Golongan Tiga: Modern. Tidak banyak memegang tradisi, biasanya kaum perempuannya tidak berjilbab dan menempuh pendidikan umum. Bisa sekolah sampai SI, S2 atau bahkan S3 dan bekerja sesuai bidangnya. 
Ini memang bukan penggolongan yang ilmiah karena hanya didasarkan dengan ukuran yang sederhana, pakai jilbab atau belum pake jilbab. Hehe..kalau di keturunan arab, kalau ada perempuan yang sudah kuliah atau menikah atau sudah berumur belum memakai jilbab sering digolongkan dengan sebutan Arab modern...🙈 
Menjawab pertanyaan diatas, biasanya yang terlibat pernikahan dengan non Arab adalah digolongan moderate dan modern.  Biasanya perempuan Arab yang menikah dengan laki-laki non Arab adalah  teman sekuliah atau teman sekerja. Mereka eksis dalam karier atau pekerjaannya sehingga mereka tidak punya banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar arabnya. Beda dengan perempuan arab pada umumnya yang setelah menikah tidak bekerja. Mereka seakan selalu exis dalam acara gathering keluarga. Jadi terkucil atau dikucilkan itu dalam artian berkaitan dengan cara pandang baru. Dengan keterbatasan waktu, bagaimana mereka mau memaksa diri untuk tetap terikat dengan keluarga besarnya atau mereka hanya merasa perlu terikat dengan keluarga kecilnya yang baru. 

---------------------------------------------
Bagaimana apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?
Semoga ada sesuatu yang baik yang bisa diambil manfaatnya.
See you inthe next post...
Salam hangat 😍







18 September 2018

Umi dan Abi


Setelah menjalani operasi ganti panggul, umi agak kesulitan dalam mobilitasnya. Kesulitan gerak bukan dikarenakan efek operasi tapi lebih karena trauma rasa sakit yang menyebabkan terlambatnya umi menjalani fisioterapi. Efek samping dari kesulitan gerak ini merubah ritual keseharian umi yang terbiasa didapur duapuluh empat jam (saking senangnya masak...😉) menjadi hanya terbatas dikamar.


Menoleh kebelakang ketika terdengar suara klik kamera 😉



Karenanya Umi senang sekali kalau diajak jalan-jalan. Kemana saja, biar hanya menjemput Rana sekolah, ke bank atau  belanja ke supermarket (sayang gak ada fotonya karena umi gak suka difoto 🙈). Selama di Surabaya Umi sudah ikut ke stasiun pasar Turi, ITC, pasar Atom, Grandcity, Plaza surabaya, LandMark, PTC dll...Terkadang kalau memungkinkan Umi turun pake kursi roda kalau lagi capek, Umi nunggu aj di mobil (yang jelas gak sendirian, ditemenin). Segitu aja Umi sudah senang...
Hal ini mengingatkaku pada almarhum Abi. Bedanya kalau Abi merequest tempat-tempat yang ingin dikunjungi, kalau Umi, ngikut aja tanpa request. Mungkin karena Abi suka sekali mengunjungi sesuatu yang baru terutama rumah makan (padahal seharusnya diet ketat). Kalau pas arisan, mencoba rumah makan baru dan ada menu yang enak, aku langsung teringat Abi...
Bagi Umi dan almarhum Abi bahagia itu tampak sederhana. Dimasa tuanya mereka hanya ingin ditemanin, diajak berbincang, diajak jalan-jalan, diajak silahturahmi, dinulyakan. Tidak dicuekin, tidak dibiarkan sendirian, tidak dikasihani, tidak dijadikan benda antik. 
Betapa beruntungnya kalau kita masih punya orangtua. Kunci surga terlihat lebih nyata. Kalau kangen kita tinggal peluk dan cium. Kalau salah-satu dari mereka sudah tiada baru kita sadar betapa sangat berharganya mereka. Semoga kita bisa menjadi anak shaleh/shalihah. Amin Ya Robbal Alamin...





26 August 2018

Apa artinya menjadi lima puluh tahun?

Sekelumit kisah wanita menjelang paruh baya..;)

Ditengah lalu lalang kerumunan orang yang sedang menunggu antrian membeli tiket kereta, tampak seorang gadis berlari-lari kecil berusaha mengikuti ibunya yang berjalan cepat menuju mobil. Dengan memakai celana jeans dan sneaker, gerakan sigadis lebih lincah mendahului ibunya untuk menuju mobil diarea parkir.
Sesampai di mobil, siibu menghempaskan tubuhnya di kursi depan sambil menarik napas berusaha rileks. Sementara si gadis sudah duduk disampingnya memegang kemudi. Sebelum memutar kunci mobil, sigadis memegang tangan ibunya seraya berkata kalimat yang sudah diulang-ulangnya sedaritadi.
"Maaf Ma..."
Si ibu memandang anak gadisnya itu dengan tatapan tajam, sejurus kemudian keluarlah kalimat pamungkasnya.
"Sirin tidak pernah dengerin mama.Sudah berapa kali mama bilang, Mama gak suka dicuekin...!
Di Malang ini, Sirin tuan rumah, mama tamunya. Ini tamu gak disambut baik....bla...bla....Penekanan kalimat si ibu pada sikap si anak yang membuatnya bete.
"Maaf... Ma" ujar sang gadis, masih dengan kalimat pengulangan yang sama. Kali ini dengan wajah yang jauh tampak memelas. 
Kupandang wajah anak gadisku ini, sorot matanya, hidungnya, mulutnya dan semua yang menyempurnakan wajahnya mengingatkanku pada sebentuk wajah  kecil nan imut disaat usianya baru dua tahun. 
Subhanaallah...
Mendadak kemarahan yang tadi membuncah jadi memudar, hilang... leyap, entah tersiram hawa dingin ac mobil atau pandangan mata anakku itu mengandung sihir melemahkan semua aliran horman adrenalin ditubuhku
Aku mencoba bertahan...
"Mama gak mau ngasih maaf..." ujarku dengan bahasa tubuh yang nanggung sambil kedua tanganku kulipat kebelakang.
Sigadis yang cerdas itu dengan mudahnya dapat membaca situasi ini. Dia mendaratkan ciuman ke wajahku dan menarik tanganku, diciumnya juga. 
Apalah arti sebuah kemarahan dibanding godaan makhluk manis dalam mobil...?
Itulah sekelumit kisah aku dan anak gadisku kemarin sore, edisi jumat tg: 24/-8/2018 
Setelah unjuk perasaan mereda, seperti biasa si gadis pandai sekali memanfaatkan situasi. Ganti dia yang balik unjuk perasaan.
"Mama kenapa sih gampang bete, gampang baper...?"


---------------------------------
Aku teringat perbincangan didalam bus antar ibu-ibu yang lagi berdarmawisata ke Malang. Kita cerita seru-seruan tentang masa kritis menjelang menopouse (peserta seluruhnya memang emak-emak menjelang paruh baya..😉) 
Hampir semua mempunyai kisah seru disuatu hari akibat apa yang disebut sindrome pra menapouse ...
Dihari itu aku baru sadar, mungkin aku masuk dalam salah-satu yang terkena sindrome pre menopouse. 
Bete, baper, alay, lebay satu paket ma kecemasan yang meningkat, mudah marah, gampang capek dll terutama yang berkaitan dengan emosi.
Sebelumnya, aku termasuk tipe emak-emak yang sadis (susah diajak nangis) terutama didepan anak. Sekarang sih masih sadis didepan anak-anak tapi dibelakang layar, gampang sekali tersentuh dan menangis tanpa sebab. Kalau masih muda dahulu, sindroma ini disebut baby blues (baca juga kisahku tentang ini). Seusiaku sekarang (48 thn) sindrome ini berevolusi dan mendapat nama baru yang bagi sebagian besar perempuan dirasa lebih menakutkan dari proses melahirkan yaitu MENAPOUSE 🙈 
Apa saja pemicu badmood emak-emak premenopouse ini?
Gejala yang kurasakan: sakit kepala berlebih (terutama bila mens), gampang sakit maag, tidak tahan pedas dan yang paling mencolok adalah perubahan susana hati yang seperti naik rollercoaster (terutama saat means)
Pemicunya bisa berupa benda hidup atau mati, invisible atau visible, unknow atau know, tertulis atau tersirat...Nah khan.
Diantaranya tiga yang terbesar adalah:
1. Dicuekin
Seperti kasus diatas, rasa kangen si ibu yang bertumpuk pada sigadis bertepuk sebelah tangan. Diajak ngedate menelusuri kota malang selalunya ada alasan yang nampak masuk akal untuk menunda. Maunya si ibu disuruh nunggu bae di kos sementara si anak gadis berkegiatan gak selesai-selesai. Setelah lama menahan sabar, akhirnya gak sabar juga maka terjadilah drama di hari jumat kemarin.
2. Pertanyaan yang tak terjawab, kapan mantu?
Kalau para jomblo bete ditanya kapan nikah, begitu juga emak-emak juga bete lho kalau ditanya kapan mantu.
Nantinya pertanyaan ini akan disambungkan pada terdakwa satu, sianak gadis. Kalau anak gadisnya sudah punya calon, posisi aman.  Kalau belum, siemak-emak ini ketiban peran jomblo juga, ini yang membuatnya mudah bete. 
Ada beberapa kisah lucu para emak-emak yang sudah ngebet mantu, dalam usahanya mencari jodoh untuk anak gadisnya.
Ada yang berinisisatif, menjodohkan putrinya dengan anak temannya. Ternyata banyak lho ibu-ibu yang berinisiatif menjodohkan putrinya. Rata-rata mereka menganggap putrinya terlalu pasif, terlalu cuek, terlalu pemalu dan ter yang lainnya (nanti deh dibahas lebih lanjut)

Dalam salah satu reka adegan ulangan, seorang ibu memperagakan perbicangannya dengan seorang teman.  Alkisah ibu sigadis mendekati temannya dengan niat menjodohkan anak-anak mereka. Terlibatlah mereka dalam percakapan seperti ini...
"Mb, si Adi sudah lulus ya, wah sudah mau mantu nih..."
"Oh anak masih baru lulus...Gak mau mantu dulu, biar dia kerja yang mapan dulu baru kawin..." 
Dan ibu sigadispun tersapu bersih tanpa sempat interupsi.  Hhh... Kitapun tertawa bareng apalagi melihat mimik wajah si ibu yang nampak sangat gimana-gimana gitu...🙈
3. Sindroma Sarang Kosong
Saat bertambah usia, kecemasan orangtua akan ditinggalkan anak-anaknya (untuk sekolah diluar kota atau menikah) semakin meningkat terutama orangtua yang punya anak perempuan sepertiku. Kalau saat baperku kambuh, aku bisa menangis sesunggukan memikirkan anak-anakku akan pergi mengikuti suaminya atau lebih fokus pada suaminya dan lalai akan kerinduan ibunya. Terkadang aku suka latihan soal cerita untuk mengetahui reaksi anak-anakku. Awalnya aku mengisahkan sebuah ilustrasi tentang rasa cinta orangtua yang lebih tinggi kastanya dibanding cinta anak pada orangtuanya. Ini karena   bla...bla...
"Sirin atau Rana nanti kalau sudah jadi orangtua akan tahu rasanya bagaimana rasa sayang orangtua pada anaknya lebih besar dibanding rasa sayang anak pada orangtuanya. Makanya saat terbaik berbakti pada orangtua adalah sekarang ini, saat orangtua masih no satu tidak ada saingannya". Kataku sambil mencermati reaksi anak-anakku.
Sibungsu Rana yang masih kelas sebelas langsung menanggapai ceritaku dengan mengatakan,
"Mama lebay ah...gak usah takut Ma... Mama selalu tetep no satu koq... " 
Aku hanya tertawa... 
Anakku yang satu ini memang masih belum sampai pada pemahaman bila menikah kelak, anak perempuan harus mengutamakan suaminya dibanding orangtuanya. 

Apabila ketaatakan kepada suami berseberangan dengan ketaatan kepada orang tua, maka bagi seorang wanita (istri) muslimah wajib mendahulukan ketaatan kepada suaminya. Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang wanita yang memiliki suami dan seorang ibu yang sedang sakit: Ketaatan kepada suaminya lebih wajib atas dirinya daripada mengurusi ibunya, kecuali jika suaminya mengizinkannya." (Syarh Muntaha al-Iradat: 3/47)

Aku melirik mencoba melihat reaksi si sulung yang saling mengerlingkan mata dengan ayahnya.
"Baba..Mama lagi baper..."
Ayah dan sisulung memang sehati. Mereka selalu tahu kapan harus menjawab, kapan harus diam untuk menanggapi latihan soalku. 

---------------------------------------------
Bila kumulai sibuk dengan latihan soal kecemasan, suami sering mengingatkan bahwa hidup itu bukan berjalan seperti rumus matematika tetapi berjalan sesuai rumusan takdir.  
Menyimpan kekhawatiran atau ketakutan itu karena kita menyamakan hidup ini dengan rumus matematika. Tetapi lupa bahwa semua sudah ditakdirkan.Yang dibutuhkan bukan kemudahan menghadapi takdir tapi kekuatan dan kesabaran.  Maka berdoalah untuk meminta kekuatan dan kesabaran. Dan berserahdirilah...
Disetiap sepertiga malam, kulawan kantukku untuk dapat menengadahkan tangan memohon jodoh terbaik untuk anak-anak perempuanku. Seorang laki-laki yang dapat membawanya ke surga dan menyempurnakannya menjadi anak sholeha bagi kedua orangtuanya. Hilang sebuah kekhawatiran...

----------------------------
Singkatnya, sindrome pramenapouse atau pasca menapuse adalah bagian dari siklus kehidupan, tak dapat dihindari. Dukungan dari orang-orang terdekat sangat berarti. Sebuah kalimat sederhana dapat sangat bermakna. Pernah sesekali aku terpergok sedang berlinangan air mata. Entah kenapa aja tiba-tiba jadi kangen berat pada almarhum Abi atau teringat masa kecil bersama orang-orang yang kita cintai yang masih lengkap atau mendadak jadi sentimentil saat melihat prosesi akad nikah. Sebuah pelukan sisulung atau ciuman sibungsu atau sebuah kalimat bijak dari suami, cukup untuk meredam  kegalauan di hati. Dan tentu saja, berserahdiri dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta adalah terapi yang amat manjur.
al-‘Arif billah Hasan al-Bashri pernah ditanya: Apa rahasia zuhudmu di dunia ini? Beliau menjawab: Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain (tertukar), karena itu hatiku selalu tenang. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal shalih. Aku tahu Allah Ta'ala selalu mengawasiku, karena itulah aku malu jika Allah melihatku sedang aku dalam keadaan bermaksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah.

See you inthe next post...







13 July 2018

Belajar Bisnis (Tips membeli rumah)

Berbekal pengalaman yang baru seumur jagung, aku memberanikan diri menulis tips membeli property (kususnya rumah). Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat terutama bagi mereka yang sekarang lagi hunting rumah. 
Rasa ketertarikanku pada property, diilhami dari seringnya menginap di hotel, mengikuti kegiatan suami. Aku suka sekali memperhatikan interior hotel apalagi interior hotel yang bergaya classic atau vintage. Wow...habis deh tuh hotel kufoto tiap sudutnya.
Untuk hotel dengan interior modern meski bintang lima sekalipun, biasanya aku cuman terkagum-kagum saja tanpa berniat lebih. Singkatnya rasa ketertarikanku pada property itu sebenarnya lebih kearah dekor-mendekor...😍
 Rumah Idaman



Bismillahirrohmanirrohim...
Tips membeli Rumah: 1
1 .Tentukan dulu tujuannya, rumah dipake sendiri, untuk jual-beli atau untuk dipake usaha, misal: kos, homestay dll. Beda peruntukan, beda pula dalam menentukan luas minimal, lokasi dan pembagian ruangannya.
2 .Tentukan berapa budgetnya, include: mau dibangun dari awal atau renov. Ini juga untuk menentukan besaran luas rumah
3 .Tentukan cara pembiayaannya, mau cash dari tabungan atau kredit inhouse (antara pembeli dan developer). 
4. Tentukan lokasi area pencarian, dekat dengan tempat kerja atau dekat dengan sekolah anak kelak atau berdasarkan wilayah kenyamanan, misal: surabaya timur, surabaya barat,dll5.Tentukan areanya, dalam perumahan, cluster atau perkampungan.
6.Tentukan statusnya: Shm, surat ijo, YKP, milik pelabuhan dll (usahakan untuk membeli rumah berstatus shm). 
Rumah bersertifikat surat ijo memang menggiurkan karena posisinya yang ditengah kota dan harga terbilang murah tapi ini seperti enak didepan, ribet dibelakang. Tergantung sih, ada teman yang senang berburu rumah surat ijo untuk dibikin usaha kos2an dan kebetulan usahanya memang maju. Seorang notaris pernah bilang, rumah surat ijo lebih aman dibanding rumah shm (khawatir penggadaan sertifikat) atau tanah pelabuhan (bisa diambil sewaktu-waktu jika pelabuhan membutuhkan). Mungkin surat ijo cocok untuk rumah yang sekaligus usaha tapi kita masih menahan diri untuk yang spekulatif begini.

Tips Membeli Rumah : 2 
1. Apapun tujuan pembelian rumah, yang pertama harus dilihat adalah lokasi...lokasi...lokasi...
Hal yang mempengaruhi lokasi ini termasuk, di pinggiran kota, dalam gang, dalam perumahan ataukah dekat dengan pemakaman, dekat dengan tempat akhir pembuangan sampah dll.
Bila budget terbatas, saran sih jangan pilih rumah di perumahan. Selain lebih mahal juga biaya-biaya yang mengikuti biasanya juga cukup mahal menguras kantong, seperti iuran keamanan dan kebersihan, pbb dll. 
Siasati pilih aja yang diperkampungan yang terdekat dengan perumahan yang ada disekitar itu. Tidak semua rumah non perumahan tidak aman dan nyaman. Kita harus jeli nanya-nanya atau mengamati daerah sekitarnya. Kita beli rumah daerah medayu, rungkut-Surabaya, alhamdulillah aman koq. Ditinggal berbulan-bulan dengan perabot lengkap, aman-aman saja. Enaknya lagi daerah non perumahan guyup dengan tetangga, sekalian bisa nitip-nitip kunci :)
Termasuk dalam ranah lokasi adalah, usahakan membeli rumah diposisi yang tidak terlalu jauh dari jalan keluar jadi gampang mobilitasnya. Kalau kita, berdasarkan pengalaman rumahnya dah cocok, letaknya jauh dari jalan keluar, mending gak diambil deh (ini karena kita selalu berpikiran rumah tempat tinggal sekalian dibuat usaha atau supaya gampang terjualnya)
2. Pilih yang hook atau yang ditengah?
Kalau tanahnya luas (diatas 200 m) kita bisa pilih hook. Kalau tanahnya terbatas, kita pilih yang ditengah karena bisa memaksimalkan space. Nah kalau lt 90 m, dapet hooks khan rugi tuh, gak bisa maksimal bangunannya. 
3. Pilih rumah yang kotak (panjang x lebarnya sesuai) atau yang trapesium? 
Selama model trapesiumnya tidak terlalu extrem sih gpp. Kita pernah melihat iklan rumah yang dijual murah padahal luas tanah dan daerahnya cocok dengan yang kita cari. Ketika cek ke lokasi, barulah kita mengerti kenapa rumah ini ditawarkan dengan harga miring. Dengan lt 450an, rumah itu hanya menyisakan satu garasi tanpa carport. Bentuk trapesiumnya parah banget. Mungkin dulu pemiliknya tergiur dengan harga murahnya. Dibeli dan dibangun mewah  dengan maksud tak akan dijual, mau dipake sendiri. Apa daya, dunia berputar, rencana juga ikut berubah. Sampai saat ini aku lihat rumah itu masih tegak berdiri dengan tulisan dijual yang menempel sudah bertahun-tahun.  
4. Hati-hati dengan tawaran rumah murah. Lihat konstruksi bangunannya atau lihat denah pembagian ruangannya. Konstruksi bangunan yang salah atau pengaturan denah yang terkesan asal, memang membuat harga rumah jatuh nilainya.  Atau lihat lokasinya.
Apakah dekat dengan area pemakaman atau area tempat akhir pembuangan sampah atau area pasar atau bentuknya seperti kisah diatas?
Pernah kita tergiur untuk membeli rumah yang dijual sangat murah sekali. Lokasinya sangat bagus ditengah kota dengan lt yang gedhe, 500 mtr.  Harga yang ditawarkan sepertiga dari harga normal. Dari awal aku tahu rumah itu hanya berjarak 100 mtr dari pemakaman umum.  Dan yang parahnya tidak bersekat jadi kita bisa melihat iring-iringan keranda jenasah memasuki makam. Karena aku sangat ingin membuka homestay atau kos2an, hampir saja kita putuskan membeli rumah tersebut. Sudah murah, gedhe, vintage lagi rumahnya. Duh hampir gelap mata deh ... Untung saja, celotehan anak sulung yang membatalkan niat bulat kita. 
"Kalau mama jadi beli rumah kuburan itu, Sirin tetap ngekos lho ya. Selain ngeri juga sumpeklah ma, ngeliat iring-iringan orang meninggal khan juga ngaruh, ikutan sedih "
Aku mikir juga, "Jangan-jangan yang berpikiran seperti Sirin banyak..." Iya-ya bener juga.
Bagaimana kalau dekat dengan TPA? Seorang teman mengingatkan kalau kuburan gak bakalan dipindah tapi kalau TPA, masih memungkinkan pindah. Bener juga. Seorang saudara membeli rumah hanya berjarak 100 mtr dari TPA. Lokasi sebenarnya bagus karena selain ggnya lebar juga letak rumahnya dekat dengan jalan raya. Eit beli rumah gak nyampe lima tahun, TPAnya dipindah...Harga jual rumah di lokasi tersebut langsung melambung berlipat-lipat. Itu namanya rezki yang tidak terduga-duga... 
Bagaimana dengan rumah yang dekat pasar tradisional?
Asal tidak berada tepat didepan atau disampingnya masih okelah. Pasar identik dengan ketidaknyamanan. Pemandangan yang semrawut, kotor dan bising.
5. Rumah menghadap timur adalah yang favourite. Kalau kita, rumah boleh menghadap mana saja asal cocok lokasi dan harganya. Karena sebetulnya hadap rumah yang kurang fav (misal hadap barat ) bisa disiasati dengan tanaman vertikal atau kanopi (kain atau kerey)
Kita juga tidak terpengaruh dengan fengshui...mau tusuk sate, mau belakang besar/kecil gpp deh yang penting point utama cocok. 
6. Perhatikan tampak depan rumah
Aku paling suka dengan rumah yang punya halaman depan (ada space antara teras depan dan pagar). Istimewa kalau punya halaman depan maupun belakang. Halaman belakang bisa dinafikan karena jika ukuran rumah kecil biasanya dibelakang akan dibuat full bangunan. Tampak depan ini juga jadi pertimbangan saat awal memilih rumah.
Bagian rumah yang mana yang jadi daya tarik?
Yang jadi daya tarik sebuah rumah adalah garasi (carport) dan dapur. 
Kenapa garasi? Karena garasi biasanya berhubungan dengan struktur rumah. Jadi kalau garasinya terlampau kecil atau tidak cocok, renovnya besar. Aku pernah melihat sebuah rumah, sebenarnya rumahnya agak aneh penataannya tapi gpplah bisa direnov (sedikit maksa karena semata-mata lokasinya istimewa). Pas ngukur garasinya, alamak, sempit sekali (mobil masuk tapi buka pintunya cuman bisa sepertiga aja). Atau pernah juga ketemu rumah yang garasinya beratap pendek (akibat perhitungan yang salah, tidak direnov dari awal, jalan depan rumah ditinggikan developer,  pemilik rumah terpaksa meninggikan lantai rumah supaya tidak banjir tapi bagian garasi  sudah gak bisa ditinggikan lagi karena diatasnya  didak, ada bangunan). Ini sih fatal, mending mundur deh...
Kenapa dapur?
Karena dapur itu ibarat nadi sebuah rumah. Kesehatan penghuni rumah terletak dari apa yang diolah dari dapur. Tata letak dapur harus oke sehingga memudahkan dalam pengolahan dan pembersihannya.Menurutku dapur yang bagus itu yang bersambung dengan garasi. Ini memudahkan bila situan rumah ada hajatan yang memerlukan tambahan ruang (mungkin karena aku suka masak ya).  Kalau ada pantry lebih bagus lagi. Dan selalunya renovku terbesar dari rumah adalah bagian dapur. Jadi kalau ngeliat rumah dapurnya oke, bisa langsung meleleh :)
Selain garasi dan dapur, bagian yang dapat perhatian adalah kamar tidur utama. Pernah ngeliat rumah, kamarnya banyak hanya yang rada aneh semua kamarnya kecil-kecil dan tidak memenuhi syarat sebagai kamar utama. Bisanya kamar utama menempati ruang yang lebih luas, syukur kalau ditunjang dengan kamar mandi dalam atau tambahan balkon. 
----------------------
Pilih mana rumah tangan pertama, tanah atau rumahsecond?
Kalau kita akan pilih yang rumah second. Kenapa? Karena rumah second, rumahnya sudah terpampang didepan mata dengan segala daya tariknya.
Kalau ada pameran perumahan hampir dipastikan kita cuman jadi penggembira saja (paling suka ambil brosur untuk lihat sketsa pembagian ruangan).
Aku susah sekali memahami gambar. Keahlian dimensiku minim, susah memahami rumah dari sketsanya saja, gak deh. Lihat rumah yang sudah jadi didepan mata lebih menarik. Apalagi ada banyak cerita tentang pengembang nakal. Biar lebih mahal gpp daripada ada kemungkinan uang hilang. Begitu juga beli tanah untuk dibangun rumah sesuai keinginan, rasanya koq kurang menarik. Nunggu jadinya kelamaan, gak tahan 🙈

Pilih mana rumah dekat masjid atau dekat sekolahan?
Aku pilih rumah dekat masjid karena bisa meningkatkan ibadah (termasuk memudahkan bapak-bapak sholat di masjid). Sebaiknya rumah yang dekat sekolahan (include disamping atau depannya) gak deh. Ini menyangkut masalah parkir yang semrawut dan juga bikin macet. 
Pilih rumah pertama dengan luas berapa?
Harus disesuaikan dengan budget (termasuk untuk renovnya). Sekarang rumah dengan lt kecil (36,45, 60, 90, 130) bisa dihias lucu dan cantik. Untuk pasangan muda bisa dijadikan referensi ig: babydinata, ig pietarosari, ig rhanikurniawan, ig@nunudellon dll. Mereka kreatif sekali mendekor rumah kecilnya. 
Pilih rumah sempit, lokasi ditengah kota atau rumah luas lokasi dipinggiran kota? 
Kalau aku pilih rumah luas tapi dipinggiran kota. Kalau rumahnya luas, bisa dibuat ngapa-ngapain, jadi tempat tinggal okey, dibuat usaha juga okey. Untuk mensiasati budget, aku pilih lokasi yang bukan dijalan utama, tapi cabang dari jalan utama, lumayan harga permetrnya sudah beda. Dan jangan lupa, meski didalam gg, letaknya jangan terlalu masuk kedalam tapi pilih yang dekat dengan akses keluar supaya gampang mobilitasnya.
Hmm...karena prinsip ini kita belum tertarik dengan tawaran apartemen. Tambah dikit sudah dapat rumah berikut tanahnya, shm lagi :) 
Pilih rumah lt 1 atau rumah yang bertingkat? 
Aku pilih rumah yang bertingkat, minimal ada lt 2nya. Kenapa? Selain masalah dana renov, juga ada tambahan space, at least untuk ruang service (plus Kt dan Km Art) better ada di lt 2. Lumayan lt 1nya bisa full untuk memaksimalkan penataan ruang. Apalagi aku lebih suka kamar tidur plus kamar madi dalam.  
Catatan:
-Perhatikan konstruksi rumah yang akan dibeli. Apakah tidak memerlukan renov berat berkaitan dengan struktur rumah atau hanya perlu renov ringan berkaitan dengan penampakan (interior). Kalau anda tidak mengerti masalah konstruksi, panggil saudara, teman atau tukang untuk melihat dan membuat perhitungan renovnya. Kita kalau berniat beli rumah, sekeluarga besar plus temen deket tahu semua. Bukannya berniat pamer tapi minta pertolongan pertimbangan. Terutama kalau ada kontradiksi, sebagian bilang bagus, sebagian yang lain bilang gak bagus. Wah pulsa telp dipastikan melonjak saking banyaknya saudara yang ditelp, mulai dari sepupu sampai Ami (om)...🙈  Alhamdulillah punya banyak teman baik yg notaris, arsitek juga pengusaha properti. 
Kendala-kendala yang dijumpai dalam pembelian rumah 
1. Keuangan/pembiayaan
Hitung dulu dana yang ready berapa. Persiapkan sesuai dana yang tersedia. Jangan melebihi karena akan menjadi beban dan pengelolaan keuangan menjadi kacau. Termasuk disini kalau uang hanya cukup untuk membeli tanah, beli tanah aja dulu ntar bangunnya kalau sudah ada dananya.  Ingat, kita tidak bisa menghindar dari pengeluaran tak terduga (misal: musibah dll)
2. Pajak.
Ada penjual yang mensyaratkan terima bersih, itu artinya beban biaya notaris dan pajak semuanya menjadi tanggungan pembeli. Kalau ketemu model penjual yang begini, kita harus jeli dan bermain cantik. Kalau memang rumah plus pajaknya jatuhnya murah, ya gpp deh ngalah dikit tapi kalau rumahnya sudah dirasa mahal ya ditolak aja. Kadang ada penjual yang menggunakan persyaratan terima bersih ini untuk membatalkan jual-beli (mungkin gelo karena merasa harganya terlalu murah). Cirinya, persyaratan ini diajukan menyusul.     
3.  Property (rumah) milik ahli waris
Alamak...ampun deh prosesnya lama dan bertele-tele, apalagi kalau ada ahli waris yang tidak setuju atau ada yang meninggal, kudu sabarrrr. kalau harganya murah boleh deh diambil, masih worthed. Kalau harganya standart atau mahal better gak usah, pilih yang gampang-gampang saja. 
Kita pernah beli rumah berhubungan dengan ahli waris model begini. Sudah dikasih dp, uang gak kembali, ditagih malah kucing-kucingan. Rumahnya batal dijual (padahal bukan kita yang membatalkan tapi karena ada salah satu ahli waris yang berkecukupan menolak menjual rumah warisan ortunya. Ditawarkan suruh beli ma saudara-saudara yang lain (kebetulan ada yang minim penghidupannya, sedulurnya itu kagak mau...Ampun deh ketemu orang model antik )  
4. Rumah dalam pembagian gono-gini

Urusannya juga sebelas dua belas ma kasus yang ahli waris. Ribet n bertele-tele.  Meski ada juga yang sampai terbeli, ada juga yang batal padahal kita sudah dp lho (kali ini dpnya kembali 100% karena pembatalan dilakukan oleh dua orang yang masih bertikai dan saling menyebut mantan ) 
5. Rumah diserang rayap 
Dari depan bangunan tampak kokoh ternyata rumahnya rapuh didalam, termakan rayap, kutu kecil yang bisa membuat kerugian besar. 
6. Perhatikan lingkungan sekitar rumah. 
Bagaimana keamanannya dan apakah lingkungannya nyaman. Apalagi kalau tetangganya baik, ini namanya rizki.
7. Harga yang belum deal.
Perlu diingat dalam negosiasi pembelian beda dengan negosiasi sewa. Kalau pembelian melibatkan nominal harga yang  lebih besar dibanding sewa. Sehingga rate negonya bisa lebih besar. Tapi kalau sewa biasanya rate negonya hanya turun sedikit. Untuk pengajuan penawaran harga biasanya kita sudah melakukan survey sebelumnya jadi kita sudah punya standart rate beberapa rumah/tanah didaerah tersebut. Dalam beberapa kasus, harga yang belum deal itu disebabkan karena beda harga yang tidak seberapa. Malah ada satu kasus, yang beda harga penawarannya hanya rp: 25 jt saja. Kalau ini sih masalah sebenarnya bukan harga tapi lebih kearah belum sreg aja sama rumahnya. Disamping rumah yang kita tawar itu ada tanah kosong. Karena pernah punya pengalaman jelek dengan tanah kosong disamping rumah jadinya aku rada galau waktu tawaranku diterima dengan syarat nambah uang rp: 25 jt. Untung penjualnya masih ngasih syarat :). 
Lain masalahnya kalau sudah sreg ma rumahnya, beda harga dikit, dicari win-win solution biar sama-sama enak waktu pengukuhan akad di notaris. Alhamdulillah selama ini baik-baik saja sewaktu akad di notaris.

8. Penjual tidak jujur atau kredibilitasnya meragukan
Bila berhubungan dengan penjual/pembeli yang rada aneh dari penampakan pertamanya, mending berhati-hati meski properti yang ditawarkan harganya miring. Aku pernah berhubungan dengan penjual/pembeli bertipe aneh begini. Omongan penjualnya berubah-ubah, pertama mengenai luas tanah dari 250 menjadi 160, kedua masalah sertifikat, dari shm menjadi surat ijo. Ketika diminta untuk menunjukkan sertifikatnya, dia berdalih segala macam. terakhir, dia mengakui sertifikatnya ada di bank dijadikan agunan peminjaman modal usaha. Ohlala...gak jujur dari awal. Untung punya bodyguard, saudara laki-laki yang siap membantu. Kalau menyerahkan urusan silang-sengketa begini ke suami, hasil akhirnya diminta mengikhlaskan saja...😑
9. Penjual/pembeli yang terkesan over 
Ini juga berhubungan dengan kejujuran. Biasanya terkesan over dengan memuji-muji propertinya atau menggiring opini bahwa rumahnya banyak peminat sehingga kita terdesak untuk deal dan memberi dp.
Kita pernah menemui dua kasus. Yang pertama adalah: kita didesak untuk segera memberi dp padahal ternyata terbukti kemudian surat-surat rumah mereka ternyata masih ada masalah dan dititipkan di notaris. Mana harga yang sudah disepakti ma mantan istrinya dinaikkan lagi. Karena sudah jatuh hati ma rumahnya, langsung aja aku transfer dp tanpa pikir panjang. Toh sepertinya penjualnya orang terpercaya (teman haji temanku, lha khan baru haji pula ), kalau ada apa-apa tinggal didatangin aja dikantornya, begitu pikirku. Ternyata....Batal !!!
Alhamdulillah rezki yang lebih baik datang, dengan harga yang jauh lebih murah, dapat rumah tepat dijalan rayanya. Sementara rumah yang batal  berada dibelakang jalan raya.
Kasus yang kedua: pembatalan sepihak setelah sebelumnya sangat menyakinkan
Tanah kita disewa oleh pengusaha muda yang cukup tenar. Sudah deal harga (meski rada-rada alot dealnya karena mereka nawarnya luar biasa ketat, akhirnya kita yang nyerah bukan karena posisi kita lemah tapi karena ya sudahlah kurang-lebih aja, Inshaallah diganti rezki ditempat yang lain) Lalu ddidp, sudah dikirim maket, sudah dibuatkan hitung-hitungan kapan pelunasannya. Seminggu  menjelang pembayaran di telpon, jangka waktu sewanya direduksi. okey gpp, aslinya kita lebih suka waktu sewa diperpendek. Tiga hari menjelang pembayaran, ditelpon dibatalkan. 
Hah...?!!
Koq ini seperti orang ditalaq lewat telpon ya. Jadi bisa ngerasain sakit hatinya...🙈 Masih belum berakhir, diminta dpnya dikembalikan...Aduh...!!!
Melalui pendekatan kekeluargaan, suami meminta sipengusaha datang kerumah, bicara lebih jelas dan terbuka. Ternyata lebih sadis lagi, ketahuan kalau dibatalkan karena mereka punya cadangan lokasi yang lebih baik di surabaya (tanah kita berada di jalan raya Lawang-Malang). Mereka bilang, khawatir saja kalau diteruskan proyeknya di lawang akan rugi. Duh...Mereka khawatir rugi, artinya belum merugi tapi bagaimana dengan pihak lain (kita)?

Catatan: Membeli/menyewa properti tidak seperti membeli baju atau sepatu yang bisa dikembalikan atau bisa ditukar. Malah ditoko-toko aja sudah ada keterangan, barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan. 
Bagi pengusaha muslim, hati-hati bertindak begini ya. Baik bagi pemilik/pembeli. Ini juga kita jadikan pelajaran berharga. Pengusaha muslim tidak sama dengan pengusaha pada umumnya yang memakai prinsip ekonomi. Pengeluaran yang sedikit untuk  mendapatkan penghasilan yang besar. Karena sebagai pengusaha muslim kita punya acuan jual-beli menurut syariat. Diantaranya: pengusaha dilarang menumpuk barang. Dilarang menjual dengan harga yang berlipat-lipat. Dilarang terlibat riba. Dianjurkan membayar upah bahkan sebelum keringatnya kering dll. 
Apa pelajaran berharga yang bisa diambil?
Kebetulan kita sedang menyiapkan sebuah proyek berkaitan dengan pemanfaatan salah-satu properti. Begitu tanah kita deal sewa, kita langsung memulai proyek  tersebut. Termasuk rencana didalamnya menggunakan setengah dari uang sewa.  Disinilah letak simpul masalahnya. Kalau mereka membatalkan proyeknya karena khawatir rugi, kita malah terlanjur rugi karena sudah memulainya. Kita yang sudah berniat hijrah menghindari bank dan segala turunannya, akhirnya terlilit hutang. Alhamdulillah bukan hutang bank, yang jelas gak ada ribanya
Tapi namanya hutang ya tetap harus dibayar. Nah kalau yang begini jatuhnya dholim gak ya...😟  
Pelajaran yang didapat dalam kasus ini:
-Naikkan dp ketingkat maksimal. 
-Ikrarkan secara lesan bahwa pembatalan sepihak menghanguskan dp (ditambah lagi secara tertulis dan bermaterai). 
-Jangan memulai sesuatu kalau kepastian belum ditangan (pelunasan sudah dilakukan, kalau dp mah bisa lewat).  
-Jangan khawatir tentang rizki.  Ingatlah ini:


Demikianlah ulasan singkat tentang beberapa tips dalam seluk-beluk membeli rumah. Semoga bermanfaat...

NB: Hello dear, Kalau ada yang butuh rumah didaerah surabaya timur, mungkin  rumah ini bisa jadi pertimbangan.