23 December 2017

Mengintip Cantiknya Kota Davos, Swiss...(Review Hotel St Gotthard Zurich & Arabella Waldhuus Davos)


Baru kali ini diajak suami jalan-jalan (aslinya ada pelatihan) ke LN, persiapanku tidak maksimal bahkan bisa dibilang saltum...! Bulan nov-des adalah bulan terbangku. Setiap wek-end selalu ada acara, terbanyak adalah kondangan pengantin diluar kota. Karenanya sewaktu ada acara di Aceh (padahal pengin tahu banget kota serambi mekkah ini seperti apa pasca tsunami ). Sayang disayang  aku tidak bisa ikut selain kasihan sibungsu, Rana ini juga masih rewelll banget kalau ditinggal pergi (nanti akan dikisahkan lebih lanjut) Ditambah masalah pekerjaan masih menggantung. (hehe..kerja sikit-sikit untuk nambah uang saku ibu RT:)
Hubungan LDR (suami tugas di bojonegoro dan si ibu tinggal di sby) terkadang menyebabkan komunikasi  tidak nyambung (apalagi kalau yang satu di LN ya :( 
Karena akan bepergian, maka tugas kewajiban antrian px operasi diselesaikan dulu. Jadilah suami yang biasanya sehari bisa telp tiga-empatkali, kini jadi minus sekali aj itupun cuman perdetik. Akibatnya fatal, ya itu tadi saltum, terjebak udara dingin, minus 13ᐤC dinegeri orang. 

 Suhu extrem, pucat kedinginan...
Beku di Jacobshorn


Saltum, rangkap empat ;)
Sehari sebelum berangkat, suami minta ditemani beli peralatan perang melawan hawa dingin. Aku masih terkaget-kaget dengan harganya yang mencapai tujuh digit. Lalu biasalah emak-emak, sayang duit dan ketika ditanya suami, apakah persiapanku sudah lengkap, aku jawab aja sudah ada. Toh, aku juga sudah pernah kesana, pikirku (masih tenang...) Bahkan sewaktu suami menawarkan untuk menambah long-john, dengan bijaksana kutolak :(
Setelah berkeliling dari jam 13.00 sampai menjelang magrib, maka pulanglah kita menuju rumah. Ketika melakukan sentuhan terakhir, mendadak aku sadar, baju-baju yang tertata adalah baju jalan-jalan musim semi bukan baju musim dingin, apalagi menghadapi suhu minus derajad. Baju-bajuku pada melambai saat dilipat bukan menggumpal layaknya baju tebal musim dingin. Maka bertanyalah aku pada sang suami. 
Jawabannya sungguh mengagetkan, katanya ketika aku ke Zurich itu bulan mei bukan desember, dimana suhu mencapai minus derajad. Aku lirik jam, sudah menunjukkan pukul 20.45. Panic Attack...
Lima belas menit kemudian, aku sudah digerai Max&Spencer. Karena tidak berhasil mendapatkan jaket sesuai selera, dengan cepat aku ke bagian pakaian dalam. Aku memilih long john, perkiraanku, hawa dingin bisa kulawan dengan memilih long john yang tepat. Dibantu pramuniaga, aku mendapatkan longjohn yang tidak tebal tetapi menurutnya bisa tahan sampai minus sepuluh. Sebenarnya aku masih sangsi tapi karena pramuniaga itu menyakinkan maka akupun memilihnya. Terbukti kelak, jangankan minus sepuluh, minus satu aja gak nahan :(

---------------
Setelah transit di Dubai beberapa jam, kami melanjutkan perjalanan menuju Zurich. Sesampainya di airport Zurich, aku masih merasa aman-aman saja. Dan ketika selesai urusan pengambilan bagasi dll, tibalah kami harus keluar area airport menuju penjemputan bus. Disinilah aku terkaget-kaget dengan udara dingin yang menembus longjohn dan jaket. Alamak...hidung dan tanganku serasa beku. Untuk mengambil syal didalem koper, rasanya sudah gak kuat. Untung ada teman yang meminjamkan satu syalnya, lumayan untuk menutup hidung yang sebagian mati rasa. Didalam bus, kondisi aman karena memakai pemanas. Eit...rombongan diajak berhenti berfoto-foto ria saat citytour. Jadilah foto-fotonya pucet kedinginan... :) Ini masih stadium satu, dinginnya mencapai minus 3, bagaimana kalau minus 13 ya :(
Malam itu kita menginap di hotel St Gotthard, Zurich.
Review Hotel St Gotthard, Zurich
Hotelnya tidak terlalu besar (masuk bintang 4) tapi kelebihannya adalah lokasi hotel ini paling siip, seperti Orchard di Singapore atau Bukit Bintang di Kuala Lumpur. Kamarnya bersih dan pakai pemanas, kamar mandinya juga bersih-sihhh (mungkin karena gak ada debu n lumut, inilah kelebihan tinggal di negara yang punya musim dingin)
Breakfastnya:lumayan enak dan bisa dimakan :) terutama olahan potatonya dan yogurtnya. Oh ya di Swiss ini semua yoghurtnya istimewa, rasanya enak sekali bahkan yang plainpun bisa dimakan (biasanya kalau plain, belum makan sudah enek duluan).
Keluar dari hotel, langsung disambut dengan shopping centre, Zara, HnM, LongChamp, ada juga toko parfum dan toko acecoris murah di dekat Globus Mall. Kalau di Globus, aku selalu sempatkan naik kebagian pernak-pernik home decor. Seneng aja nemu barang yang unik atau antik.  Nyampe diatas, keliling... gak tahunya ketemu kotak kaca tempat perhiasan dari Solo, persis buatan pak Amin, langgananku yang juga jual lampu-lampu antik. Untung sudah borong dari pak Amin jadi tahu betul harga aslinya berapa. 

 Kotak perhiasan kaca
Lampu Cantik

Kesemsem sama lampu-lampu ini, kalau dirupiahkan sekitar 8 jutaan...Wah mahal bener ya, ntar pelan-pelan nyari disekitaran jalan surabaya, jakarta atau jalan padmosusastro, surabaya. Siapa tahu bisa dapat harga supermurah :)
Hari kedua, menuju Davos
Disinilah rasa dingin yang sesungguhnya berasa. Sebelum tiba di hotel Arabella, kita diajak singgah dulu di Jacobshorn, tempat peristirahatan yang dinginnya mencapai minus 13. Aku merasa bener-bener saltum, aduh kapok deh pergi dengan persiapan minimalis begini. Pemandangannya memang luar biasa indah padahal kalau dipikir semuanya diselimuti putih koq masih kelihatan indahnya ya. 
Setiap negara punya kelebihan keindahan pemandangan alamnya sendiri-sendiri. Indonesia pemegang rekor, punya Sembalun di Lombok, punya batu-batu excotic di Belitung, punya Bali dan segala keindahan didalamnya, punya RajaAmpat de-el-el-el..
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan... ?
Btw: Sayang di Indonesia banyak pelakornya (pelaku korupsi plus pencuri laki orang yang ratingnya lagi naik viral) Dan disadari atau tidak, para pelakor itu termasuk golongan yang mendustakan nikmat Tuhan :(
Review Arabella Waldhus Hotel
 Hotel yang cantik


Baru kali ini, pergi ke LN tapi lebih betah di hotel dibanding searching something diluar. Di Davos kita nginap di Arabella Waldhus Hotel.Sebetulnya sih hotelnya enak banget, bersih, kamar mandinya bersih-siiihh. Breakfastnya keren (ada banyak varian yang bisa dimakan juga  yogurt yang rasanya istimewa banget), pegawainya ramah. Hanya saja limitasinya: lokasi yang agak menjorok kedalam, tidak bisa dicapai angkutan umum (bus). Jadi dari pemberhentian bus atau train menuju hotel harus berjalan kaki kurang lebih lima belas menit. Kalau tidak terpapar salju yang turun atau hujan, ya gpplah jalan lima belas menit sih sipil banget tapi ya itu tadi. Berjalan lima menit saja ditengah salju turun dan jalan yang licin sudah merupakan siksaan bagiku :(
Sebenarnya disediakan shuttle car tapi terbatas dengan jadwal yang seringnya tidak pas dengan saat kita mau keluar. Kalau yang lokasinya enak, hotel Hilton. Letaknya persis dipinggir jalan jadi dekat ma bus station atau train station. Hanya saja tidak bisa ngereview lebih jauh soalnya kita tidak menginap disana :)

Hari kedua di Davos, kita seperti sosialita, ngerumpi di Migros. Hhh....bukan ngegosip orang ya tapi beginilah bila emak-emak ngerumpi, masalah anak, suami, pekerjaan dan  politik. Kalau yang ini mah, gosip atau faktanya kagak ketahuan  soalnya sumbernya banyak yang sama :)  
Kalau bukan di Davos mana bisa kek begini. Selalunya pengin bergerak, mengikuti alur rute shopping.  Tapi karena hari kedua salju turun jadilah kita ngendon di Migros dan toko-toko kecil sekitarnya.  
Ada sedikit catatan, karena persiapanku menghadapi salju yang minim, suami mewanti-wanti untuk segera beli perlengkapan perang menghadapi hujan salju. Maka sekalianlah aku searching and belanja oleh-oleh di Migros, lumayan khan harganya murah meriah. Seneng banget bisa menghemat ;)
Ternyata, semua yang didapat di Migros tidak mempan menghadang suhu dingin menusuk tulang terutama bagian hidung yang seperti mati rasa. Rupanya berlaku, ada rupa ada harga juga di Davos ini :( Terpaksalah mulai melirik butik-butik disamping Migros yang  pada pandangan pertama dihindari. Sejak awal suami sudah mengingatkan, beli yang bisa menahan dingin bukan yang murah, nanti bisa hipotermi, katanya. Aku yang yang masih mencoba bertahan menjawab, mending hipotermi deh daripada beli penutup hidung doang seharga sejutaan.
Hmm....pikiran pelit bertahan cuman lima detik langsung diralat, begitu keluar dari toko...
Push...salju dingin menerpa...Beku...! Gaklah, balik kucing masuk toko lagi. Merem deh ngambil penutup hidung yang harganya bikin aku nyesel (bayangin bisa dituker satu lampu di Informa. Dasar obsesif ma lampu..)
Maklum, ibu-ibu (apa cuman aku aja ya ;) Sering antara pikiran dan harapan gak sinkron. Disatu sisi, yang penting maunya dihemat tapi belanja yang gak penting sering lolos...(efek lengah ma diskon, promo dll) 
Kita kalau bepergian dalam satu team. Ketua team kita yang paling canggih peralatan perangnya and paling maksimal pengalaman travellingnya, namanya dr Inggrid C Mahama Spog. Sedang aku mungkin yang paling gaptek ;) Suami sudah sering berkali-kali mengingatkan untuk belajar membaca peta baik di google maupun di brosur. Tapi akunya aja yang dasarnya males mikir selalu punya alasan untuk menghindar tugas pak dosen ;) Lagian ngapain susah-susah mikir khan kalau bepergian, gak pernah pergi sendiri :)  Kalau sampai terpaksa pergi sendiri, aku lebih senang nanya orang, pake bahasa isyarat juga oke, nanya sampai sepuluh kali juga gpp daripada nyasar.
Pernah tuh pake google map, aku bilangnya ke sopir, Bank A letaknya didepan Toko B, ternyata setelah ditelusuri, Bank A tadi letaknya disampingnya toko B. Sungguh terlalu ya kemampuan dimensiku...:(
Hari ke 3 di Davos kita menjadwalkan mengunjungi fashion outlet di Landquartz. 
Lumayanlah Fonya tidak terlalu branded, dalam artian, barang-barangnya masih bisa kebelilah. Gak tahu ya semakin umur menanjak koq gak lagi tergula-gula ma barang branded. Kata suami "Alhamdulillah sudah mendekati Zuhud..." (ceritanya nyindir nih..;)
Otw Lanquart fashion Outlet


Hari keempat di davos, mengunjungi St Morirz 
Disini tempatnya barang-barang branded...Jadilah kita cuman berpose-pose ria saja, gak belanja (soalnya belanjanya cuman souvenir aja ;)
Berpose di St Moritz, berasa jadi SYR ;)


 Lagi belajar membaca map sebelum ke Davos Lake yang kedua

 Davos lake, danau yang cantiknya over load...:)
Kita mengunjungi Davos lake dua kali saking cantiknya pemandangan  disana untuk foto-foto. Yang pertama berjalan mulus karena perginya bareng ketua team yang canggih. Periode yang kedua, dihari terakhir kita di Davos, ada kendala tehnis. Saking asyiknya berfoto-foto di hari terakhir kita di davos, sampe gak sadar kita sudah memutar jalan yang berlawanan arah dengan jalan kedatangan. Sudah kepalang tanggung akhirnya kita berniat mengitari seluruh danau dan naik bus diujung danau yang menjorok keatas. Ternyata...danaunya luas sekali sementara kita diburu waktu untuk segera kembali ke hotel, prepare nanti malam pulang ke Jakarta. Ohlala....
Setelah jalan yang tak mengenal lelah, keliling danau selama dua jam tibalah kita ditempat pemberhentian bus (padahal jalan lima belas menit aja aku sudah mengeluh apalagi dua jam...) Bebacaan sepanjang jalan terutama bacaan doa nabi Yunus ketika didalam perut ikan paus. Alhamdulillah berjalan lancar...
Nyampe diatas ditempat pemberhentian bus, kendala tehnologi terlihat. Kita tidak bisa membaca google map kapan bus akan tiba (ternyata bukan aku saja ya, kasus gaptek ini hampir merata melekat pada ibu-ibu RT ;)  
Jadilah tunggu-menunggu bus yang tak muncul-muncul jua.  Akhirnya diputuskan jalan kaki menuju pemberhentian bus berikutnya. E... Baru sepuluh menit jalan, ada bus yang lewat. Kalau di Indonesia khan tinggal melambaikan tangan, naiklah kita kedalam bus. Tapi disini ya gak bisa, terpaksa gigit jari meneruskan perjalanan ditengah hawa dingin yang semakin menusuk. Fokusku berjalan cepat, tidak jatuh dan nyampe hotel secepatnya. Alhamdulillah akhirnya kita berhasil mencapai bus stasion.
Finally, kita bisa nyampe hotel at last minute, siap berangkat ke Zurich menuju tanah airku.
 Last day at Davos: The ATeam, siap menuju Zurich...
The last photo session, siap naik bus menuju Zurich...Bye...Bye..Davos
Tiba ditanah air jam: tanggal 09 desember jam 22.10 , chek in hotel, makan di bakmi GM dan siap beristirahat. Esok pagi lanjut penerbangan menuju Surabaya. Perjalanan yang paling menyenangkan adalah pulang ke rumah. 
Baiti Jannati, Home Sweet Home...
See you in the next post...

21 December 2017

Please Stop It...

 Tolak LGBT

"Negara tidak berhak mengatur dengan siapa seseorang tidur..." Ujaran bernada demokratis ini sempat terlontar dalam sebuah forum...
Sepertinya bijak tapi amat sangat tidak betul sekali dan kebablasan...
Mengutip pendapat, anda tidak harus menjadi seorang muslim untuk membela palestina, cukuplah anda seorang manusia. 
Maka bisa dikatakan: Anda tidak harus menjadi orang suci untuk menolak LGBT, cukuplah anda seorang manusia.






Save gaza, Save palestine


Perang atau Krisis selalu melahirkan Pahlawan dan ...








Save Palestine, Save humanity...


13 December 2017

Anaklelakiku...

 Khalid AlRasyid


 Masyaallah tabarakallah...
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna sekaligus complicated. Dan salah satu diantaranya adalah aku...:)  
Ketika hamil anak pertama, keinginan punya anak perempuan sebagai anak pertama sempat muncul kepermukaan. Asumsiku waktu itu, anak pertama adalah kakak yang harus dihormati. Aku pengin anak perempuanku tidak harus takut pada saudara-saudaranya yang laki yang notabene adalah adik-adiknya (dalam budaya keturunan arab, saudara laki-laki (bahkan adik yang paling kecil sekalipun) diwajibkan untuk menjaga saudara perempuannya. Menjaga disini dalam arti positip, satu paket dengan efek negatipnya, termasuk   mengatur/membatasi gerak. Nah, kalau sang kakak perempuan, si adik pastilah masih ada rasa segan) 
Selain itu aku merasa anak perempuan lebih cute dibanding anak laki jadi kalau punya anak perempuan berasa punya anak karena bisa diotak-atik dandanannya (masih lugu sekali ya waktu itu :) 
Tetapi alasan ini terkoreksi dengan mudah menjelang saat-saat melahirkan, apalagi kena tindakan induksi (untuk mempercepat proses kelahiran). Ampun deh...
Aku jadi mikir, kasihan sekali anak perempuanku nantinya, mau-tidak mau aku harus melihat dia menderita saat melahirkan (pemikiran jadul pertama;) Mulai saat itu, aku berharap anak keduaku kelak berjenis kelamin laki-laki sehingga aku tidak pernah melihat dia mengeluh saat mens atau mual-mual saat mengandung atau kesakitan saat melahirkan kelak (pemikiran jadul kedua ;) 
Takdir berkata lain, mempunyai anak kedua tidak semudah anak pertama, perlu perjuangan dan perlakuan khusus. Tekad dan keinginan punya anak laki pupus seiring masuknya ide baru, yang penting punya dua anak, laki atau perempuan sama saja. Begitu berhasil hamil yang kedua dan dokter mengatakan janin yang kukandung berjenis kelamin perempuan, aku sih senang-senang saja. 
Bagiku, bahagia itu sederhana, punya dua anak :)
Sampai...Ide baru masuk. Terkadang kebahagian kita bisa tercuri oleh pendapat orang. Mereka mengusung ide keharusan mempunyai anak laki-laki. Saking semangatnya, aku sampai mengusulkan adopsi (rahimku bermasalah dengan endometriosis ): Mulailah mimpi-mimpiku tentang burung bangau yang membawa bayi laki-laki dalam paruhnya. Aku tak sabar menunggu burung bangau itu singgah...
Khabar baik pertama datang. Suami membuat pengakuan, sudah sebulan ini dia membiayai bayi yang ditinggalkan ibunya di rumah sakit. Dan bayi itu berjenis kelamin laki-laki. Aha... pucuk dicinta, ulam tiba. Akupun sibuk berdiskusi tahap awal dengan mama dan abi (almarhum abi masih sehat saat itu). Kalau lolos, maka akan dilanjutkan ketahap negosiasi dengan mertua. Kalau langsung bicara ke mertua, masih belum berani....:)
Khabar baik kedua, mama dan abi setuju, akupun langsung menyusun planing, cara penyampaian ke mertua. Kalimat pembuka masih disusun, suami sudah geleng-geleng kepala.  Katanya, aba (sama dengan abi=panggilan untuk ayah) sudah bilang, kita boleh ambil anak dari ketiga saudara laki-lakinya. Bahkan aba sudah mengamanatkan agar ada cucunya yang laki-laki, salah-satunya dikasihkan ke kita.
Oh...Ini merupakan khabar baik ketiga. Untung aku belum sempat melihat bayi mungil yang ditinggalkan sang ibu di RS. Setiap kali mau melihat, selalu saja suami punya dalih untuk menghindar. Dia tahu betul, kalau aku sudah melihat, susah untuk membendung niatku mengadopsi padahal ijin belum didapat. Akhirnya si bayi mungil itu diadopsi oleh teman suami. Alhamdulillah...kadang aku masih mendengar berita-berita baik tentangnya :)

Khabar baik selanjutnya, saudara-saudara suami tidak berkeberatan memberikan salah-satu anaknya pada kita. Mulailah aku sibuk memperhatikan ipar yang sedang hamil ;) 

Sambil menunggu, kelahiran ponakan laki-laki datanglah sebaik-baiknya khabar baik, aku positip hamil. 
Khabar gembira ini bak gayung bersambut dikeluarga. Bagaimana tidak? Kehamilan tak terduga ini setelah setengah putus asa aku melakukan berbagai macam treatment menyambut anak ketiga. Terkadang ngiri berat kalau melihat ibu-ibu lagi hamil. Mengutip sepupuku yang juga pengin hamil, dia bilang, "Gue (kebetulan sepupuku, penduduk jakarta) kagak ngiri ma orang yang punya berlian segede bola, gue cuman ngiri ma ibu-ibu yang lagi hamil...;)
Hhh...Sama, sampai segitunya :)
Kehamilanku yang ketiga, ternyata bermasalah...(selama kehamilan, mens tetap datang meski hanya sedikit dan tumbuh ruam merah di cuping hidung dan badan. Virus rubella menyerang tanpa ampun :(
Apadaya, manusia berusaha dan berkeinginan, takdir juga yang menentukan. Sebentuk janin yang meringkuk dikandunganku tidak berkembang dan harus dikuret. Meski tak pernah tahu jenis kelamin dan tak pernah dilahirkan, aku sudah menganggapnya anak lelakiku yang pertama. Ini caraku berdamai dengan takdir.  
Kusadari, takdirku memang ibu beranak dua, all girls :) Usiaku saat itu 42 tahun. Sebetulnya aku sudah tidak berharap hamil lagi. Aku sudah mulai surut berangan-angan tentang anak lelaki yang kulahirkan tetapi tidak menyurutkan mimpiku tentang anak lelaki yang menjadi anakku tanpa pernah kulahirkan. Setelah kasus keguguran, kumulai lagi melirik ponakan-ponakan suami. Hal ini menimbulkan pro dan kontra (seperti pansus DPR ya ;). 
Saudara-saudara lelakiku kurang menyetujui dikarenakan, katanya anak dari adik-adik suami (ponakan suami) bukan muhrimku. Sementara saudara-saudara perempuan mendukung bulat-bulat. Dan yang lebih mengejutkan...Ternyata...Oh ternyata...suami dan anak-anak berada dipihak yang kontra. 
Hah...?! Benar-benar diluar dugaan...!
Saat kutanya, begini penjelasannya. Suami tidak setuju dengan dua alasan. Pertama: dia tidak ingin memisahkan seorang anak dengan ibunya apalagi bila sang anak masih menyusu. Alasan yang kedua, dia tidak mau aku terlibat pertikaian dengan saudara-saudaranya. Alasan yang pertama dapat kuterima, aku mengajukan opsi, anak akan kita ambil setelah usia satu tahun keatas. Alasan kedua membuat keningku berkerut, apa maksudnya? 
Jawabannya panjang-lebar, bila diringkas mengerucut pada sifatku yang was-was  dan posesif. Posesif...? Perasaan, aku gak pernah cemburu berlebihan atau yang sejenisnyalah...Jadi apa maksudnya posesif ya?  
Suami mengajukan pertanyaan: Suatu waktu nanti kalau sianak pengin mengunjungi orangtua kandungnya atau pengin kembali bersama orangtua kandungnya atau pengin menetap di kota kelahirannya, apakah aku bersedia? 
Dengan yakin aku mengangguk...Iya tentu saja bersedia. Memangnya kenapa? Aku masih bingung dengan arah pertanyaan yang berbau asap ini.
Suami menggeleng, katanya kurang yakin. Pasti nanti tidak mudah bagiku untuk meluluskan harapan si anak. Akibatnya kelak, dia harus berhadapan dengan keluarga besarnya. Dan diapun menjelaskan lebih detil sisi-sisi posesifku...
Dari menolak dan berusaha mendebat sampai akhirnya...Diam seribu bahasa. Semakin banyak kudengar penjelasannya semakin kusadar, aku memang punya potensi untuk itu. Suami hanya mengingatkan saja. 
Katanya, aku punya harapan berlebihan terhadap seorang anak laki-laki. Kalau mau mengambil anak, aku harus ikhlas karena Allah SWT semata, bukan kerena adanya kepentingan/harapan tertentu...(pusing tujuh keliling, susah banget ikhlas ya)
Aku juga semakin terpojok dengan alasan anak-anak untuk kontra. Si bungsu menolak dengan alasan khawatir aku lebih sayang pada adik barunya nanti. Sementara si sulung menolak dengan dalih, bakal lebih repot dengan dua adik yang pasti dibebankan padanya sebagai kakak untuk menjaga dan memberi teladan. 
Alhasil, voting dilakukan dengan hasil kontra indikasi :(
Pelajaran berharga yang dapat kupetik dari sikap kontra anak-anak perempuanku adalah: Aku terlalu berlebihan...! 
Pas seperti yang diungkapkan suami tersayang. Mereka dengan mudah melihat dan mendengar, bagaimana antusiasnya aku membicarakan bayi laki-laki, hukum adopsi dan segala wacananya. Tanpa sadar, aku mendiskusikannya secara dangkal dengan anak dan suami seolah kedua anak perempuanku terabaikan. Padahal pertimbanganku "memburu" anak lelakiku adalah untuk menjaga dan melindungi kedua anak perempuanku tercinta. Pengalaman tumbuh dalam keluarga besar dengan tiga saudara laki-laki menyebabkan aku tahu betul apa keuntungannya mempunyai saudara laki-laki. Nah, aku ingin anak perempuanku merasakannya juga. 
Ini yang disebut suami dengan pengharapan berlebihan atau tidak ikhlas itu.  Atas kekhilafan ini, dengan sepenuh hati aku meminta maaf pada kedua anak perempuanku itu. Sebelum dan sesudah kesadaran baru masuk, merekapun tahu, aku, ibunya sangat menyintai mereka karena mereka perempuan (pemikiran update 1). 
Aku menjadi sangat protective pada anak-anak perempuanku karena pemikiranku yang dangkal, bahwa pada dasarnya perempuan itu lemah dan harus dilindungi berlapis-lapis. Salah satu perlindungan berlapis itu adalah dengan menghadirkan saudara laki-laki. Setelah rajin mendengarkan kajian agama, mulailah aku dapat melepaskan lilitan tali dikepalaku.
Ternyata doa adalah semua kebaikan untuk anak-anak perempuanku,  lebih dari perlindungan berlapis yang selama ini kucanangkan. Dan kunci yang lain adalah berpasrah diri dengan berprsangka baik atas semua takdirNya (pemikiran update 2)   
Ali bin Abi Thalib berkata:
“Saya meminta sesuatu kepada Allah. Jika Allah mengabulkannya untuk saya maka saya gembira SEKALI saja. Namun, jika Allah tidak memberikannya kepada saya maka saya gembira SEPULUH kali lipat. Sebab, yang pertama itu pilihan saya. Sedangkan yang kedua itu pilihan Allah SWT.”
Anak lelakiku bukan lagi fatamorgana. Kelak aku akan mempunyai dua anak lelakiku yang dipilih dua anak perempuanku. Sekarangpun aku memiliki beberapa anak lelakiku. Mereka bukan salah satu pelindung berlapisku tapi mereka adalah keponakan-keponakan tersayang dan salah satunya adalah Khalid Al-Rasyid. 
See you in the next post...:)

29 October 2017

Rekam Peristiwa 2

Kebaikan mendatangkan Kebaikan...
Innalillahi Wainnailahi Rojiun..





Setelah sakit selama kurang lebih empat bulan, Atim, bibik yang sudah seperti keluarga meninggal di RSKI, Rs Unair Surabaya. Alhamdulillah meski bik Atim tidak punya anak, tidak punya suami dan tidak punya saudara sekandung, kami berempat (berikut mama minus saudara-saudara laki yang tertahan di luar kamar karena menghormati bik Atim yang lagi tidak memakai hijab) dapat mendampingi dan mentalqin bik Atim dengan kalimat tauhid sampai ajal menjemput.
Pengabdian bik Atim tidak bisa dilupakan begitu saja. Kebaikannya pada keluarga melahirkan kebaikan pula. Khusnul khotimah...inshaallah jannah. Amin YRA.


Kelalaian mendatangkan musibah 

Caption apa yang pas ya? 
Sisulung Sirin terbabit kecelakaan tunggal tepat saat Idul Adha, tg:01 September yang lalu. Baru aja kita tiba dirumah mama di pasuruan (dari surabaya), sudah harus berangkat lagi ke Singosari (tempat kejadian) (si sulung Sirin, kuliah dan tinggal di Malang) Untung saja sudah sempat mencicipi hidangan lebaran, kalau belum, bakalan kolap kena maag. Pagi itu sampai malam jam: 22.00 baru sempat makan yang kedua. Khabar yang datang, sangat mengejutkan. Bagaimana gak kaget, baru aja telpon-telponan sama si sulung, dia baik-baik saja, tiba-tiba dikhabarkan, terlibat kecelakaan. Untung si ayah tahu betul cara menyampaikan berita buruk.
Kalimat yang dilontarkan seperti ini:
" Sirin baik-baik saja tapi dia kecelakaan di Singosari" 
Sebetulnya ini bukan kalimat baku, tidak sesuai pedoman EYD. Tapi kalau dikhabarkan kecelakaannya dulu, bakal lain dah ceritanya, dramagramable gitu...
Si ayah memang top deh penanganan emosinya (masyaallah tabarakallah). Biasanya si ayah tidak bisa membiarkan satu kesalahan berlalu begitu saja tanpa diulas. Dia yang selalu negur anak-anak walaupun kesalahannya sepele, misal karena anak-anak salah berucap (aku sih lebih flexibel alias permissif alias lebih mudah memaafkan alias gak mau pusing ;)  
Dalam kasus ini, si ayah lebih banyak diam. Sepanjang perjalanan dibukalah youtube berisikan ceramah-ceramah tentang musibah, kesabaran dan sikap kita menghadapinya. Untuk sementara suasana didalam mobil lebih adem, kondusif.  
Setelah menempuh perjalanan kurang-lebih satu jam, sampailah kita diTKP.
Sejurus mata memandang, aku takjub...Kulihat si ayah menyambut Sirin seperti menyambut anak gadisnya yang baru bepergian jauh. Tidak ada amarah atau nasehat, malah sebuah pelukan hangat  yang diterima Sirin. Dan seperti biasa kalau Sirin berpelukan maka dia punya kebiasaan menepuk-nepuk pundak untuk menenangkan. Dimasa lalu, si ayah selalu pura-pura protes, 
"Mestinya baba yang nepuk-nepuk pundak Sirin, khan baba yang yang orangtua..."
Kali ini si ayah tidak protes. Aku sedikit geli melihat pemandangan ini tapi kutahan saja. Bagaimana tidak? Dimataku, tampak seperti si terdakwa berusaha menenangkan sang hakim...;)
Kalau si ayah berefek menenangkan sebaliknya Sirin terlihat takut melihat aku, ibunya. 
"Maaf ya Ma..."
Hm...Ini tulus khan? Masak sih ditolak...?! Terlebih didepan polisi dan para korban ...?!
(mobil yang ditabrak berisi rombongan keluarga besar yang berniat silahturahmi ke malang sekalian rekreasi). Alhamdulillah, bisa dikatakan tidak ada korban yang cedera berat.
Permintaan maaf mau diterima koq masih ganjel, terlebih tadi sempat melirik kondisi terakhir mantan mobilnya. Tanganku yang terulur, cukup sebagai pertanda awal, si ibu memberikan maafnya. Sementara mulutku masih terkunci. 
Speechless...
Siayah sudah mewanti-wanti untuk tidak mempermasalahkan lebih lanjut, katanya:
"Coba bayangkan, anak kecelakaan, mobilnya rusak, terus anak kita ada di rumah sakit..?! Ini kejadiannya tidak seperti itu. Makanya bersyukur...bersyukur, Alhamdulillah, Sirin baik-baik saja tidak kurang satu apapun..."
"Iya...iya, betul sih... Tapi..."
Aku memang tipikal ibu-ibu yang expresif alias susah sekali menahan-nahan perasaan. Pertanyaan yang menggelayut sejak tadi adalah: 
" Koq bisa ya..." Maksudnya untuk pembelajaran kedepannya supaya tidak mengulangi lagi. Aslinya sih pengin marah. Masak gak boleh marah sama sekali..?!
Lha ini dari tadi ditanya, Ngantuk tha Nak? Sedang nelpon? Pake headset ? Ngebut? Semua dijawab idem dito, Enggak...
Terus koq bisa nabrak?
Padahal juga baru kemarin (bener-bener sehari sebelumnya), pas semobil, aku berusaha memperingatkan Sirin kalau nyetir jangan main rem... Sisulung nih, nyetir didalam kota saja seperti ikut lomba slalom...(tepok jidat). Kalau ditegur, jawabannya enteng, 
"Mama tenang aj...atau "Mama tidur aj..." (kalau perjalanan luar kota). Susah memang  berbicara serius dengan orang bertipe sanguin..
Katanya jadi ortu jaman sekarang tidak boleh terlalu nyinyir jadi ya kadang-kadang coba menahan diri untuk tidak berkomentar panjang-lebar (aslinya berat menahan diri untuk diam). Nah kalau sekarang ketemu saatnya sah-sah saja jadi nyinyir,  kenapa masih disuruh nahan...?! Khan sudah lama ditahan-tahan...
Jadilah suasana kondusif berubah menjadi tidak kondusif dan berlakulah adegan foto seperti 
diatas. Jadi caption yang pas, "Ngelu Aku..." (pusing, aku :)  

Pembelajaran dari kejadian ini, ada beberapa yang bisa jadi self reminder terutama bagi sisulung, Sirin,si ayah dan aku, ibunya. 

Pertama: pada saat kejadian sirin berusaha mencegah polisi atau korban untuk tidak memberitahu kami dikarenakan takut.  Seorang korban (yang sangat bersimpati pada sirin sampai menawarkan bantuan untuk menelpon kami. Dia berkata, anak bapak bilang ke kami supaya dirinci saja berapa kerugiannya nanti dia akan usahakan bayar.... 

Ketika kami tanya darimana dia bisa bayar ganti ruginya, dia jawab, dengan dicicil pake uang bulanan. Oh...so sweet :(
Setelah dibujuk, akhirnya sirin memutuskan menelpon sendiri ayahnya, bukan ibunya. Ini menunjukkan tingkat keterdekatan ayah dan anak, menggeser (sementara) keterdekatan dengan ibunya. 
Dalam mendidik anak, (sadar atau tidak) terkadang kita masih memakai acuan yang diajarkan orangtua. Meski sebetulnya apa yang kita  terapkan sudah seharusnya melalui revisi disana-sini. Pada masa kecilku dulu, sosok mama adalah kontak person pertama untuk semua khabar buruk (misal: kecelakaan, kehilangan, dihukum guru dll). Abi (sebutan untuk ayah) adalah kontak person lanjutan yang sebisa mungkin dihindari jika permasalahan tidak dapat diatasi. Nah, mama hampir selalu disibukkan dengan ketiga saudara laki-lakiku jadi aku merapat ke abi. Dan abi memang welcome banget dengan anak-anak perempuannya. Jadi pas dah...

Tanpa disadari, sejarah berulang. Aku lebih merapatkan anak-anak perempuanku (ditunjang juga tidak punya anak laki) ke ayahnya. Aku juga mengajarkan bahwa apa yang aku ketahui, sang ayah juga harus tahu. Tidak ada yang harus disembunyikan dari ayahnya. Malah kadang-kadang yang nyebelin, anak-anak berpesan pada ayahnya, "Ba, jangan bilang-bilang mama ya" 
Sang ibu memang lebih menakutkan dimata anak-anak, bukan karena lebih galak tapi karena ibunya memang nyinyir ;)
Jadi anak-anaku yang pintar itu :) langsung membangun poros tol sendiri menghubungi ayahnya kalau punya masalah. 
Keterdekatan ayah-anak ini kadang membuatku cemburu sesaat. Tapi ketika sisulung atau sibungsu tiba-tiba mencium atau memeluk atau mengirimkan sms, "Love you Ma..." tidak ada alasan untuk cemburu. Tidak ada yang bisa menggeser ikatan batin ibu dan anak. Meski cerewet, menjengkelkan, pemarah dll, seorang ibu perannya tidak tergantikan.
Pembelajaran kedua (yang ini masih perlu banyak belajar...!):  Kita tidak bisa memilih musibah yang akan menimpa. Musibah bisa menimpa siapa saja dan datang sewaktu-waktu. Kesiapan menghadapai musibah adalah bagian dari penyelesaian masalah. Dan selalu bersyukur adalah poin penting didalamnya.  
Pembelajaran ketiga: Baru aja kemarin menyelesaikan tahap terakhir dari etape kecelakaan, yaitu: penjualan mobil. Kita berjumpa dengan pemilik bengkel "Morojaya" pak Rohman yang beralamat di kepuharjo. Si bapak plus istrinya baeek banget (masyaallah tabarakallah). Kebaikan seperti ini biasanya khas orang-orang yang tinggal dipedesaan tapi mereka tinggal di kota lho bukan di desa. Lagian kita kenalnya juga masih baru dan seputar memperbaiki mobil. 
Seperti juga aku yang masih bingung dengan kebaikan pak Rohman dan istri, kita juga sering bingung kalau ada orang yang sangat baik padahal baru kita kenal. Praduga tak bersalah memulai prosesnya...
Sesuai nalar, kebaikan itu pasti ada sebab akibatnya atau dengan kata lain ada awal mulanya. Tetapi pengalaman membuktikan, ada orang baik yang langka, dalam artian: mereka baiknya tulus tanpa ada kepentingan apapun, semata hanya mengharap ridha dari Allah SWT dan pak Rohman adalah salah satunya.  

Sampai bertemu lagi di topik berikutnya...Salam...penulisnya mau jalan-jalan dulu ntar oleh-olehnya tulisan perjalanan :)



11 May 2017

Rekam Peristiwa...

Hiii, Iam back...:)
Setelah hampir enam bulan atau sama dengan setengah tahun (uft...lamanya) menganggurkan blog, akhirnya mulai sadar menulis adalah salah-satu terapi mengobati diri sendiri. Ya paling tidak daripada menggerutu atau mengomel gak jelas pada siapa mending membagikan sesuatu yang bermanfaatlah. Merasa berguna, adalah terapi bahagia yang paling sederhana :)
Sebenarnya pengin pake alasan sibuk sebagai full housewife atau sibuk diundang jadi pembicara atau sibuk mengurusi bisnis property atau sibuk sebagai pengusaha cafe.Keren khan...! Ternyata alasannya cuman sepele aja karena: kesel gaptek bener masalah internet dan social media (ngerti khan kenapa tulisan-tulisan diblog ini sepertinya gak diedit langsung dipost apa adanya. Padahal sudah diedit tapi gak berhasil merepair malah kelihatan kacau...#angkat tangan #tembak ditempat alias ngambek. Duh...sebegitu keselnya sampe mogok gak nulis setengah tahun :(
Bukannya tanpa usaha untuk menanggulangi kelemahan satu ini yang sangat mengganggu, mulai diajari adik, kakak, sepupu, teman sampai belajar sendiri, tetap aja masih gaptek (paling berubah dikit). Langkah terakhir, daftar kursus private (rela lho diketawain temen) e...koq nyusun jadwal kapan kursus dimulai kebentur ma jadwal shooting (baca: gangguan) yang padat merayap. Mulai dari gangguan belum pasang Wifi, speedy on-off, sampe gangguan kondangan manten (bukan seminar) yang gak berhenti. Alhasil sampe sekarang, basic internet skillsnya pas-pasan banget :( :( :(

Saking banyaknya yang mau dipindahkan ke dalam tulisan sampe bingung mau nulis yang mana dulu. Yang pertama, nulis masalah ringan-ringan dulu deh. 
1) Bahagia itu sederhana...Bahagia itu tidak berlebihan. Apakah sama artinya? Artinya bisa sama bisa juga beda. Sama dalam arti sederhana dapat diartikan sama dengan tidak berlebihan. Tapi bisa juga beda artinya jika bahagia itu sederhana bisa diartikan perasaan bahagia itu bisa muncul dari hal-hal yang sederhana, misal: sarapan berasa nikmat (baca: bahagia) hanya dengan lauk  tempe penyet dan sambal pencit. Untuk arti bahagia itu tidak berlebihan, pas sekiranya dicontohkan dalam kalimat berikut. Saya merasa bahagia ketika membeli tas seharga rp: 300.000 dan bukannya seharga rp: 3 jt. Hehe...Karena bukan ahli bahasa indonesia, terjemahannya personal sekali ya.
Ceritanya sampe pada kesimpulan ini ada kisah tersendiri. Ketika dirumah masih ada tiga asisten, rumah aman-terkendali, masuk kualifikasi A. Ditambah lagi, salah satunya pinter sekali masak (masih inget dengan Husna?) Punya asisten yang pinter masak menyebabkan akunya jadi males ke dapur. Meski Husna tidak pernah  kuajari masak tapi ternyata diam-diam dia selalu memerhatikan ketika aku masak. Hanya dengan sekali lihat  si Husna ini sudah bisa menyontoh dengan taste mendekati. Akibatnya, anak yang suka protes (suami sih malah abstain-abstain saja :) Rupanya protes anak and abstainnya suami, tanpa  kusadari menyublim menjadi guilty feeling. Perasaan ini menjadi jelas ketika, si Husna mengundurkan diri bersama suami yang sudah siap menjemput. Sempat sih kelimpungan, mau kemana-mana ketahan harus masak dulu...Nano-nano  rasanya ditinggal si Husna, kesel kenapa pembantu yang dua lainnya gak mau belajar masak dari Husna. Kenapa sepertinya aku, belain si Maya ketika bertengkar ma Husna, kenapa gak nahan Husna dll...
Gak tega  ngasih anak bekal nuget terus atau ngasih makananan orderan dari resto meski kesukaannya maka mau gak mau turun lagi ke basic training. Memasak, bersih-bersih  dan menata rumah. Hasil berbanding lurus dengan jerih payah. Ketika melihat anak makan dengan lahap udang kesukaannya atau suami tanduk dua kali makannya, nah...disitu aku merasa bahagia :)
Satu lagi contoh ketika hunting sopir yang menginap. Oh...ampun susahnya bikin mati kutu. Sudah dimasukin surat kabar segala yang melamar cuman tiga orang dan tiga-tiganya tidak memenuhi kriteria. Akhirnya dengan sedikit perubahan, dibuatlah iklan lowongan pekerjan driver tanpa ditulis harus menginap. Hasilnya....OMG...diluar perkiraan, sampe sedih bacanya. Gimana tidak, ada yang melamar pake bahasa inggris, ada yang diketik computer rapi, sistematis, complete seperti melamar pekerjaan kantoran. Yang paling bikin sedih, yang diminta hanya lulusan smp atau sma, yang datang rata-rata kuliah, jurusan psikologi, tehnik informatika, ekonomi dll...Padahal jelas-jelas tertulis dibutuhkan sopir pribadi.
Berbekal pengalaman sebelumnya mencari sopir yang pas, saat dilakukan wawancara dan test drive, intuisiku semakin peka, mana yang kira-kira serius kerja. Bukankah semua serius ingin kerja? Eit..tunggu dulu, ternyata meski ada tambahan kalimat cantik: bersedia bekerja lembur, bersedia bekerja keras, bersedia bekerja sesegera mungkin Atau kalimat menghiba, seperi: tlg pak/bu, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, dll...Ternyata-oh ternyata....Itu hanya kalimat fiktif, ketika sesi wawancara (belum masuk ke ranah gaji) kelihatan sekali mereka tidak punya etos kerja seperti yang dituliskan. Ada yang masih terikat kerja, ada yang tidak bisa kalau nyetir ke luar kota, ada yang tidak bersedia bekerja lembur, dll...(Mestinya kalau butuh pekerjaan gak ada excuse ya...tapi ya begitulah...)
Selain pelamar melebihi dari tingkat pendidikan yang disyaratkan juga banyak pelamar mantan sopir taxi. Kalau dari taxi bluebird, keren deh penampilan dan aturan sopan-santunnya, sudah tinggal pakai saja. Setelah melalui proses seleksi akhir, terpilihlah sopir yang cvnya biasa saja sesuai standart. Yang bikin terpilih karena dia bersedia memenuhi syarat tambahan yang aku ajukan, bersedia bekerja lembur, tentunya dengan tambahan gaji). Sebenarnya syarat tambahan yang aku ajukan adalah hasil negosiasi dengan diri sendiri (baca: perenungan) kenapa sih butuh sopir yang standby 24 jam padahal sehari-harinya dipakenya menthok sampe jam 5 sore aja. Paling sekali-sekali keluar kota, sekali-sekali ada keperluan keluar malam, sekali-sekali ada family dari jauh yang menginap dan minta dianter-anter keliling-keliling. Come on, make it easy...Khan sekarang lebih mudah, ada uber, ada gojek dll...
Duh, bersyukur sekali ada penemuan uber, gojek, grab, sangat membantu mempermudah hidup. Bahagia itu tidak berlebihan...:) Btw: dalam rangka bahagia itu tidak berlebihan, kutemukan juga satu frase kalimat majemuk setara. Meski pendapatan bertambah,  terasa lebih nikmat jika list kebutuhan tidak ikutan bertambah...Ha..Ha...Ya iyalah, anak Sd juga tahu ;)
2)  Anak-anak sekarang jauh lebih pintar... 
Biasanya aku jarang sekali menemai anak belajar. Bukannya tidak mau tapi memang jarang diminta. Seingatku, aku berhenti membuat soal-soal try out sejak mulai hamil anak kedua, saat anak pertamaku, Sirin duduk di kelas 3 SD, begitu juga dengan Rana. Wah...sudah lama sekali ya...Alhamdulillah, anak-anak mandiri dalam hal belajar dan tugas-tugas sekolah (supportku lebih kearah, doa yang kupanjatkan setiap shalat, membangunkan mereka shalat tahajud dan menjaga kesehatannya dengan menyediakan makanan kesukaan dan menyediakan vitamin)
Saat membaca status teman-teman yang pada heboh soal unas atau unbk, akupun terdorong untuk menemani si bungsu Rana, menyambut unas SMPnya. 
Mengintip soal-soal unas terdahulu.

Sebenarnya si bungsu Rana, lebih banyak berdiskusi dengan ayahnya dalam belajar khususnya matematika dan IPA. Aku sih cuman denger-denger aj celotehan mereka. 
 serius didepan komputer
 serius but nyantai
 ketahuan belajar tulang-belulang ;)
Ketika aku setengah-hati protes, "Mama koq gak pernah ditanya-tanya nih, dulu mm ranking satu lho waktu SMA"
E...begitu ditunjukin contoh-contoh soalnya..., diam seribu bahasa.  Gak mau kelihatan nyerah, aku asal saja bicara, 
"Coba mm mau lihat soal bahasa indonesia". Lihat sebentar, angkat alis...pass...
"Coba lihat soal bahasa inggris", pening kepala...pass...
"Coba lihat soal matematika", baru baca sebentar sudah mati kutu...pass ...Rana langsung ketawa cekikan...
OMG... ini yang pinter team yang buat soal atau murid-muridnya ya? 
Bener deh susahnya kebangetan. Bedaaaa bagai langit dan bumi ma jamanku sekolah dulu. Kalau ulangan bahasa indonesia, PMP, agama hampir dipastikan belajarnya lumayan nyantai. Untuk matematika dan yang lain memang belajarnya setengah mati-matian. Khusus bahasa inggris, soal-soalnya hanya berkisar tenses dan vacobulary...udah segitu aja. Saat nemenin Rana belajar kemarin, aku baru nyadar, hebatnya Indonesiaku. Pinter-pinter...baik yang senior, pembuat soal-soal unas begitu juga yang junior yang jawab.  
3) Orang yang shaleh, jujur dalam bisnis akan mendapat rezki yang berkah.
Kebiasaan suami kalau pulang shalat dari masjid selalu menenteng sesuatu, entah makanan, alat pijat, senter atau apa saja yang ditemui disepanjang jalan menuju atau dari masjid. Nah suatu ketika suami pulang dengan membawa dua senter. 
"Tahu gak berapa harga dua senter ini?" Kalau ada pertanyaan begini, hampir dapat dipastikan pasti dapetnya murah. Tapi supaya  seru, aku menaksir dengan harga yang tinggi. Lalu katanya:
"Dua ini aslinya cuman rp: 50 rb lho"
"Oh ya ? Murah sekali..." ;) Tapi koq aslinya, memangnya ada sesuatu?
Suami berkisah kalau tadi, senter dua ditawarkan dengan harga 100 rb. Kemudian setelah terbeli, si penjual mengembalikan uang rp 50 rb karena katanya keuntungannya berlebihan. Lalu ganti suami yang mengembalikan lagi uang rp: 50 ribu pada si penjual karena menurutnya dia sudah rela membeli dua senter itu dengan harga rp:100 rb.
Aku mangut-mangut, terkesan sekali. Ternyata ada ya orang yang menolak mendapat keuntungan terlalu banyak. Terbukti dia malah mendapat keuntungan yang sepadan dengan kejujurannya. Rizkinya langsung datang dari Allah, kebetulan saja suami yang jadi alat penghantarnya.
4) Meletakkan sesuatu pada tempat yang tepat.
Hampir sama dengan rekam peristiwa no:1, bahagia itu tidak berlebihan hanya beda kasus. Saat mengantarkan bibik yang sudah kerja selama 30 tahun untuk foto MRI disebuah RS (terdiagnosa ada batu di ginjal), aku ketemu dengan teman suami. Kebetulan dia sedang ada waktu jadi kita ngobrol sebentar.  Biasalah obrolan emak-emak dan bapak-bapak, topik tidak jauh seputar anak dan keluarga. Pertanyaan yang saling terlontar,
"Apakah sudah mantu atau masih persiapan mantu?"
 Hmm... 
Kami terlibat obrolan seru seputar persiapan mantu kelak (padahal dua-duanya, masih belum punya calon mantu, jadi pembicarannya masih seputar wacana ;)  
Sepertinya idenya menarik, aku menyimak penjelasannya. Ternyata, si bapak ini sudah mendeklarasikan pada anak perempuannya bahwa menikah itu cukup akad nikah saja. Resepsi hanya mengundang keluarga dekat yang berasal dari satu kakek saja. 
"Jadi teman-teman sejawat tidak diundang?" Saking tertariknya sampai gak nyadar kalau memotong pembicaraan.
"Tidak...nanti kita hanya kirimkan pemberitahuan saja. Atau kita kirimkan souvenirnya. Khan yang penting doanya "
Pendekatan ini mendasarkan pada pemikiran untuk tidak berlebihan karena esensi dari pernikahan adalah akad nikah bukan resepsinya. Bahagia saat mantu itu karena kita sudah mendapatkan imam dunia-akhirat untuk anak perempuan kita. Bahagia untuk disyukuri  bukan bahagia untuk di wujudkan dengan pesta mewah. 
Wah... Betul juga ya.
Hmm...ide baru, bisa dicoba untuk mulai disosialisasikan di keluarga nih.
Selama ini yang sudah aku sosialisasikan keanak sulung adalah tidak boleh pacaran-pacaran gak jelas, yang boleh taaruf. Itu juga dengan syarat-syarat 1,2,3...(diantaranya yang paling utama: tidak boleh berduaan) Yang kedua, tidak pernah ada kamus foto prewedding berdua. 
"Lho Ma, khan cuman foto aja.." protes sisulung
"Kalau seperti ini boleh..."
Foto prewedding jadul ;)
"Foto sendiri-sendiri aja ntar ditempel berdekatan. Kalau mau foto berdua, ya harus postwedding..." kataku tegas
Aku memang gak pernah setuju dengan foto prewedding dan juga pesta mewah (pesta dengan undangan mencapai 1000 orang) untuk resepsi pernikahan. Kenapa? 
Menurutku yang paling berhak ditampilkan dalam foto prewed adalah: foto cinta pertamanya, foto keterdekatan anak perempuan dengan ayahnya, lebih menyentuh.
Setiap menyaksikan akad nikah, rasanya sekujur tubuh mendadak jadi panas-dingin, bawaannya pengin nangis saja sampe malu kalau kepergok kerabat yang duduk disebelah kiri dan kanan. Kenapa?
Gimana gak pengin nangis, pada saat akad itu kita menyerahkan anak perempuan (yang kita pertaruhkan nyawa waktu melahirkannya, yang kita sayangi dengan segenap hati, yang kita jaga perasaannya, badannya dan segenap jiwanya) pada seseorang yang baru saja dikenalnya atau yang kita kenal. Surga dan nerakanya sudah berpindah ketangan laki-laki yang telah menjadi imamnya itu. Subhanallah...
Aku masih ingat ketika abi berusaha menguji keteguhan hati saat keluarga suami berniat meminang. Abi melakukan serangkaian tanya-jawab yang alhamdulillah dapat kujawab dengan lancar dan tegas. Kemudian kuingat, abi berkata, "Subhanallah... Inshaallah jodoh dunia-akhirat". 
Katanya menjelaskan, aku kenal calon suami baru beberapa bulan saja tapi sudah membela mati-matian...;)
Dengan banyaknya contoh di kehidupan yang nyata yang bisa dengan mudah terakses dari sos-med,  pikiran was-was sering menyergap. Bagaimana kalau anak kita mendapat suami/kita mendapat mantu yang salah? Baru nikah sehari/sebulan/setahun/ dah bubar...
Nah disinilah, aku sependapat dengan teman suami diatas, untuk meletakkan sesuatu ditempat yang tepat. Belum-belum sudah berpesta wah...padahal belum teruji. Nanti waktu dan doa yang akan membuktikannya. 
Semoga semua yang mengucapkan  akad nikah menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Amin Ya Robbal Alamin.   
Ketika sosialisasi pertama aku bicarakan dengan mama, apa reaksinya?
Mama bilang, ntar dipikir orang pelit lho kalau cuman ngundang orang segelintir. Haha...Tantangan pertama sudah ditemui.
5)Pengin masuk ke lorong waktu 
Ada dua alasan yang mendorongku berkhayal tentang lorong waktu. Yang pertama, berkenaan dengan keinginan menjadi ibu yang lebih baik terutama bagi si sulung tersayang, Sirin. Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, nih anak overload dalam mengelola keuangan. Kalau aku masuk lorong waktu, pengin tahu apa sih peristiwa/pola asuh atau sikap yang salah yang menjadi pencetusnya. Ntar kalau sudah tahu, aku akan merubah sikapku. Waktu suami tahu hal ini, dia cuman ketawa aj dan bilang, mestinya yang masuk lorong waktu bukan aku tapi Sirin (ceritanya, dua-duanya saling berkhayal bahwa lorong waktu itu ada ;)
Btw: Lho koq bisa sih? 
Iya karena kalau aku yang masuk ya tetep aja gak bakalan ngerubah dan gak ada yang berubah. Gitu katanya. Aku pikir-pikir lagi bener juga perkataannya. Kesimpulannya: Sirin harus bisa merubah dirinya sendiri, mulai bersikap dewasa dan bertanggung-jawab penuh akan kehidupannya kelak. Karenanya , dia perlu dikasih lagi satu senjata dari tiga senjata kehidupan, selain iman dan kasih-sayang juga kepercayaan.Tapi...
"Ma, boleh gak Sirin exchange sebelum kelulusan"?
"Ha...Lagi...?!" Speechless...Termenung, apakah ini termasuk range kepercayaan atau...? (geleng-geleng kepala... )
Selain masalah intern partai, pengin masuk lorong waktu ketika membaca kisah tepatnya berita: si A bunuh diri karena...si B bunuh diri karena...
Duh...pengin nangis rasanya. 
Siapapun pelakunya, apakah  remaja atau  orang dewasa yang sudah berkeluarga tidak seharusnya mereka memilih jalan pulang menghadap sang Khaliq dengan cara kembali yang paling buruk. Bagaimana perasaan orangtuanya, bagaimana perasaan anak/suami/istrinya? 
Meski begitu, menurutku kita tidak bisa  menghakimi mereka dengan label bunuh diri karena kita tidak pernah tahu, saat-saat terakhir kehidupan seseorang. Mungkin saja, iman yang tersisa menyelamatkan mereka. Hanya saja kesadaran yang tiba-tiba itu tidak bisa merubah kondisi yang sudah sangat terlambat. Penampakannya mereka bunuh diri namun sebenarnya...  Wallahu A'lam Bishawab. Insyaallah kita semua meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, termasuk juga mereka yang sudah dilabeli mati bunuh diri. Amin YRA.
Ada kisah, contoh dari keluarga sendiri. Seorang kel bernama A, dikhabarkan bunuh diri melompat kelaut (kalau tidak salah, dia sedang dalam perjalanan dari banjarmasin ke surabaya). Saat dia melompat, waktunya diatas magrib, pertolongan yang dapat dilakukan juga sangat terbatas. Maka dikhabarkanlah  pada keluarga bahwa, si A bunuh diri. Hebohlah berita ini diseantero keluarga. Subhanallah... Dua hari kemudian si A muncul dirumahnya. Padahal kel si A sudah melakukan shalat gaib karena menganggapnya sudah meninggal (berenang ditengah laut yang luas seperti itu dikegelapan malam lagi, hanya Allah yang menjaganya). 
Ketika ditanya, kenapa dia melompat kelaut, jawabannya juga tidak bisa dipertanggung jawabkan (si A, punya riwayat skizophrenia, mungkin pada saat dia melompat, ada bisikan yang menyuruhnya melompat, entahlah...ajal belum sampai padanya, sampai sekarang dia hidup sehat-walafiat bersama istri dan anak-anaknya). Nah, pasti penumpang yang lain yang tidak mengetahui riwayat si A, akan menceritakan kisah ini dengan versinya, yang intinya si A bunuh diri dengan terjun kelaut.

Orang yang kehilangan harapan dan memilih mengakhiri hidup,   alasan terbanyak yang jadi pemicunya adalah: depresi.
Tidak semua orang bisa melihat jalan keluar dari sebuah persoalan dan tidak semua orang juga tanggap akan persoalan orang lain. Bila anda membutuhkan pertolongan, say HELP...
Alangkah baiknya kalau ada layanan hotline pencegahan bunuh diri (apa sudah ada ya cuman akunya yang gak tahu). 
Bila anda atau seseorang yang anda tahu, punya persoalan yang membuat anda/dia hopeless, dengan segenap hati, saya bersedia membantu. Silahkan dm saya di facebook villa dleyla atau Ig laylafachirthalib. Saya bukan psikolog terkenal atau milyuner yang dapat membantu anda dengan kekuatan uang tapi saya hanya ibu rumah-tangga biasa yang sangat peduli dengan hidup sesama. 
Bersambung...