17 November 2016

Me & Ma

Here We are...

Hampir semua anak perempuan senang bila dikatakan mirip dengan ibunya, begitu juga denganku. Meski sebenarnya kita gak mirip-mirip banget. 
Nih beberapa ulasannya:

Fakta: mama itu amat suka sekali masak dan pinter banget
Aku :suka masak dan lumayanlah hasilnya :)
Fakta: mama itu kalau kedatangan tamu, selalunya tamu dikasih makan. Ini karena keahliannya memasak. Bisa masak dalam waktu lima belas menit, sudah ready beberapa menu.
Aku: kalau kedatangan tamu, malah gak pengin masak, penginnya nyantai dan si tamu diajak ngobrol melulu. Pas saat makan, maunya praktis, beli makanan dari luar (karena itu untuk pembuktian pandai memasak susah, gak ada saksi ahli :) 
Fakta: mama itu pandai berbisnis, apa saja bisa disulap jadi uang.
Aku: suka berbisnis tapi gak pandai menyulap uang :)
Fakta: mama itu selalu langsing karena sudah pembawaannya.
Aku: langsing kalau lagi diet aj, kalau gak ya melar :(
Fakta: mama itu suka belanja pecah-belah dan menumpuk barang
Aku: suka belanja pernak-pernik dan menumpuk barang, akur :)
Fakta: mama itu amat sangat takut ke dokter (gampang panik/cemas)
Aku: dulu gak takut ke dokter, sejak usia 40 th keatas begini jadi agak takut ke dokter apalagi kalau urusan mamografi dan usg endo 
(terbukti khan kecemasan itu menurun) 
Fakta: mama itu pecinta kopi (very addicted). Pernah nyoba gak minum kopi dua hari langsung kolaps, sampe diinfus segala.
Aku: kalau lagi pengin aja minumnya, itupun secangkir gak habis. Sisanya dimasukin kulkas, besok pagi dipanasin, diminum lagi. Hehe...segitu hematnya ;)
Fakta: mama itu kalau denger anaknya sakit panik, padahal hanya bilang sakit perut.
Aku: samaaaa...setali tiga uang. Kalau anak sakit, rasanya kepala beku, gak bisa mikir. Was-was, khawatir berlebihan. Untung si bapak orangnya tenang and cekatan. Jadi tentang perawatan anak sakit, sudah langsung diserahterimakan.
 
Ada cerita lucu berkaitan dengan turunan was-was ini. Seorang kepanakan (cowok: klas 7) lagi sakit perut. Dia telp ibunya (sekolah di luar kota) dan bilang perutnya sebah dan perih. Si ibu menyuruh minum obat maag. Lima menit kemudian si anak sudah telpon ibunya lagi dan bilang, 
"Ma, kalau aku baca kontraindikasinya, obat ini bahaya lho Ma. Nanti aku bisa meninggal kalau kebanyakan minumnya..."

Hhh....penyakit keturunan...:) Lha iya jangan diminum sebotol tho...Kalau minum sesendok aja masak meninggal?  
 





 Suka sekali difoto :)


Begitulah setiap anak cewek senang bila diasosiasikan dengan ibunya. Setiap hari kita bertiga cewek, menelpon mama sehari 3-4 kali (maklum ibu RT, gak sibuk-sibuk amat. Dari mulai anak masih bayi sampai setua ini) kecuali adik no:dua yang supersibuk (drg. Rima fachir Thalib SpKG, nelponnya seminggu sekali, disesuaikan jadwal liburan ;).   

See you in the next post...

10 November 2016

Tantangan & Urusan domestik..

Hari ini ada yang tertawa, ada yang menangis badai, ada yang terharu. Mungkin Donald Trump lagi senang-senangnya sampai tidurnya pules. Hillary Clinton lagi sedih-sedihnya, pupus harapan menjadi presiden perempuan pertama di Amerika. Sementara  warga dunia lagi bingung-bingungnya, menunggu what' next. Yang jelas, sampai hari ini aku masih tertantang dengan urusan domestik yang susul-menyusul jadi gak sempet mikirin bagaimana prosesnya sampai Amerika punya presiden baru bernama uncle Donald.
Duh, ngapain mikir dunia lain kalau dirumah masih banyak yang harus dipikirkan?
Apa saja sih yang dipikirkan para ibu?
Mungkin list ini dimiliki ibu-ibu yang lain: suami,anak, dan pembantu atau asisten RT (sopir). Kalau suami dan anak masih aman, urusan domestik yang satu lagi, benar-benar bikin tepok jidat n geleng-geleng kepala (barangkali ini juga yang dilakukan para imigran di amerika sekarang. Ternyata masih gak habis pikir juga sama dunia lain  :)
Ditulisan terdahulu, pernah kutulis tentang pembantuku yang punya masa kerja tigabelas tahun, seusia Rana, anak bungsu. Setelah melahirkan anak kedua (hamil sampai melahirkan seminggu masih dirumah) barulah dia hijrah kembali ke desa. Suaminya aja yang masih ikut tapi seiring dengan waktu, ternyata dia juga tidak betah terpisah dari anak-istri, akhirnya ikut drop-out. 
Dalam enam bulan sesudahnya, rumah mirip penampungan, pembantu baru datang keluar-masuk. Ada yang hanya bertahan sebulan, ada juga yang hanya bertahan sehari. Katanya takut tidur sendirian. Duh...
Yang bertahan sebulan, keluar dengan alasan kangen anak. Ada yang keluar karena suami berubah pikiran, melarangnya kerja. Ada lagi sudah ditraining sama mama, dapet label bagus untuk urusan bersih-bersih, untuk masakan masih gak dapet status. Lha koq pas mama lagi repot, ada ngundang penganten baru makan siang dirumah, si bibik ini salah masukin masakan gule kedalam soup kikil. Mama yang ngeliat hasil jerih payahnya, subuh-subuh ke pasar, milih-milih daging, masak sendiri berjam-jam sepertinya jadi sia-sia, langsung marah besar. Bukannya minta maaf, sibibik langsung ngacir hari itu juga.  Speachless... 
Berbagai usaha sudah aku upayakan untuk menahan laju endap keluar-masuk pembantu. Masalah gaji, sudah sesuai permintaan, aku atur lagi rumah supaya mereka nonton tvnya enak, jam istirahat diberlakukan sampai ke iming-iming kasih bonus baju pesta. Ceritanya: pembantuku namanya halimah, berniat pulang karena diminta suaminya berhenti kerja. Sehari sebelumnya dia bertengkar antar pembantu dan berakhir dengan anti klimaks, pembantu seterunya pulang. Lha koq dia besoknya juga mau pulang dengan alasan seperti tersebut diatas. Padahal aku sudah terlanjur cinta, kerjanya cepat dan bersih. Gak bisa masak gpplah, aku sendiri yang masak (meski itu artinya gak bisa pergi kalau belum masak dulu). Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan koleksi gaun pesta yang sudah gak kepake karena kekecilan. Aku bilang kalau dia balik lagi, hari senin (pulangnya jumat) aku kasih gaun ini. Matanya terlihat terbelalak saking senangnya. Dia bilang, "Aku balik bu, jangan khawatir ". 
Ternyata satu lagi keahlian pembantu adalah: pinter ngapusi...Hiks...Senin dia gak balik :( Sebulan kemudian dia, minta balik, eit..tunggu dulu...aku masih keki berat apalagi dapat info dari sopir, si halimah ini sering keluar malam nemui seseorang, entah itu suaminya atau saudaranya. Pantes aja sering aku cari untuk bantu-bantu didapur, kalau pas mau bikin sesuatu tapi dipanggil-panggil, gak ada jawaban. Pikirku dia sudah tidur, meski jam masih menunjukkan jam 20.00. Ya mungkin capek, gpplah, aku buat sendiri (daripada ntar bikin alasan, suka dibangunin tengah malam ma majikannya :( Ohlala baru tahu, kalau ternyata saat itu dia lagi didepan menemuai sesorang yang misterius itu.
Banyaknya kejadian, turn-over pembantu menuntunku untuk introspeksi...introspeksi, mungkin ada yanga salah. Jadilah aku bikin forum curhat pembantu ma temen-temen. Ehm... ternyata mereka punya masalah yang sama (glek, setengah lega tidak seperti tertuduh penganiayaan atau majikan bengis atau majikan pelit setengahnya lagi masih ganjel, mikirin ribetnya)
Keluarnya pembantu sama dengan datangnya musibah, tidak terduga,  waktunya tidak tepat dan tidak bisa ditunda. Tidak segan-segan memakai alasan ada keluarga yang meninggal, dibilang ibunya meninggal atau neneknya (mungkin meninggalnya sudah lama, who knows). Pasnya lagi, istri sopirku juga mengajukan sms resign, bersamaan ditambah lagi dengan istri sopirnya suami mengajukan sms resign (dua-duanya menggunakan istri untuk sekilas infonya). Alamakk...koq kompak merepotkan. Kalau aku anggota partai pasti fokusnya, ada aktor yang menunggangi nih...
diberhentikan oleh istri (part 1)#capek deh
                 diberhentikan oleh istri (part 2)#terlalu sayang


Pak Yono, sopir kesayangan mengajukan resign yang kedua. Yang pertama dulu, istrinya bilang mau berdagang krupuk. Hanya sebulan merugi, kembalilah dia kehabitatnya semula menjadi sopir di daerah tetangga. Sebenarnya dia mengirim signal-signal akan kembali tapi tidak kugubris. Aq masih keki and kesel sama alasannya resign. Kalau kerupuknya sudah jalan, istrinya minta suaminya bantu-bantu karena kewalahan mendapat order, ya gpplah. Merubah nasih menjadi lebih baik. Ikut senang kalau berhasil. Ini enggak koq, baru berniat berdagang krupuk sudah mengajukan resign. Duh... 
Setelah dua tahun, dia mengirimkan lagi signal-signal ingin balik kerja. Pake janji manis segala, disini pelabuhan kerja yang terakhir. Ya..ya...ya, aku terima dengan lapang dada, sudah menguap rasa keselnya. Apalagi  dikompor-komporin sama adikku dan mama yang juga cintaaa ma pak Yono. Finally, resmilah pak Yono menghias rumah. 
Baru setahun kerja, gak ada banjir gak ada badai, sekarang mengajukan resign lagi dengan alasan mau bertani. Hadeww...
Masih mau lho, belum membuahkan hasil. Keki bin kesel banget, double marahnya sampe aku bilang, melarang dia sms-sms, nanya-nanya khabar, mampir-mampir kerumah dll (soalnya, aku gampang tergoda, kasihan...):
Lain pak Yono, lain si Mukidi, pak wahab. Sopir suami ini resign dengan alasan kesehatan. Istrinya juga yang melayangkan sms, pamit. Yalah gpp, dia kolap juga mengikuti ritme kerja suami yang lebih banyak kerja malam hari. Kujawab smsnya merelakan pak Wahab pergi sekalian menutup kemungkinan balik lagi (gak sopir gak pembantu, gampang sekali request minta balik...padahal sepeninggalnya, serasa naik rollercoster). Aslinya ada perasaan senang pak Wahab resign. Bagaimana tidak senang, yang menyebabkan mobil suami sampai kayak gerobak ya si Mukidi ini. Pokoknya dia cuman bisa nyetir tapi gak bisa ngerawat mobil, bahkan sampai yang paling remeh sekalipun seperti mencuci mobil. Gak tahu gimana caranya dia mencuci mobil, hasilnya cat mobil beret dan belang merata. Untung aja mobil sudah diasuransikan. Selama masih pak Wahab sopirnya, hopeless deh punya mobil cantik dan bersih.  
Koq masih dipertahankan sih?
Yang lebih tepat kita yang bertahan, karena gak tega aja. Sebenarnya dia juga banyak jasanya (keahliannya bisa bantu-bantu masak, bersih-bersih rumah, pasang pigura dll, pkknya nih supir keahliannya diluar menyetir dan urusan  mobil. Aneh bin ajaib... Cerita tentang pak Wahab, lucunya mirip-mirip si Mukidi itu (setelah resign baru bisa dianggap lucu, pada saat kejadian aduhhh...makan hati ):  Ntar deh kalau ada waktu, aku tulis dengan edisi khusus (update: istri pak wahab baru aja sms lagi, mohon pak Wahab bisa diterima kembali. Lho piye tho?
Ditinggal dua sopir plus pembantu lama, aku rada kolaps. Akupun curhat...Pas curhat itu aku dapet ide melihat rumah temenku yang disulap ala-ala cafe. Ketika kutanya, jawabannya sungguh sangat menginspirasiku melakukan hal yang sama. Katanya, dengan membuat list dan memakai alat-alat modern, hidup dibuat sepraktis dan sesimpel mungkin. Cucian masukin laundry, setrika pake setrika uap yang lebih praktis, masakan, langganan catering, disajikan dimeja dengan pemanas listrik yang selalu on. Sedia aneka frozen food di frezzer. Its simple. 
Do you think its enough? No.....Itu yang coba kubuktikan. Aku rombak dapur supaya nyaman, aman dan tentrem pas lagi masak. Gudang kubongkar, nemulah berbagai harta karun, alhamdulillah. Untung suka nyimpen barang jadi gak kesulitan memenuhi kriteria ini, alasan suka shopping ;)
Tapi...Lama-lama makan ala catering juga bosen, makanan frozen food juga sudah gak bisa ditelan saking dah kebas. Cucian dimasukin laundry, baliknya lama. Lalu gimana dong?
Tidak berputus asa, hunting lagi pembantu n sopir.Telp sana-sini persis kayak petugas marketing lagi masarin produk. Pernah tergoda nyari pembantu lewat internet tapi rasa khawatir mengalahkan keinginan. Pernah kepikiran, enaknya tinggal di apartement, praktis kayaknya tapi karena melihat harganya, nambah dikit bisa dapet rumah, mengurungkan niat. 
Kutebarlah sms ke mantan pembantu, mantan sopir, teman-teman di group Wa sampai buat iklan di radar Bojonegoro. Pertolongan itu datang. 
"Pada setiap kesulitan, pasti ada kemudahan" (surat Al-sharh ayat: 5-6). 
Dalam waktu dua hari, aku mendapatkan sopir (untukku) dan tiga pembantu. Berlebihan sih tapi bagaimana lagi. Aku dapet dua pembantu dari pembantuku yang lama. Dan adikku datang kerumah dengan membawa si bibik, hasil dari pencarian makelar kepercayaannya. Kasihan kalau mau dipulangkan. 
Pak Yono sebelum resign, aku tugaskan untuk mentraining sopir baru ketempat-tempat vital, seperti antar anak sekolah, ketempat les, supermarket, ambil laundry dan pasar.
Untuk pembantu, awalnya aku agak underestimate pada ketiganya terutama si bibik yang baru ketahuan tidak bisa baca tulis dan cuman bisa bahasa madura. Tetapi ternyata.... 
Bisa ngopi di pagi hari

 Bisa baca majalah juga
 Bisa sarapan dengan tenang
Note: Sebelumnya, aku harus turun tangan sendiri mulai memasak, menyiapkan, menghangatkan dan menghidangkan. Keki rasanya kalau sudah ribet masak, e...si mbak saat menghidangkan atau menghangatkan salah prosedur. Sekarang cuman masak saja, urusan goreng-menggoreng dan menyajikan sudah bisa didelegasikan.
Bahagia itu sederhana. 
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
 (QS. Ar-Rahman: 55 )
Lemari rapiii
Note: Hanya pembantu si Timah saja (masa kerja 13 tahun)  yang bisa nyusun lemari rapi begini. Pembantu-pembantu sebelumnya (masa kerja 4 bulan) belum nyampe begini. Kalau mau rapi ya harus turun tangan sendiri. Kalau bersih-bersih kamar, juga sesuai protap, digeser-geser barang-barangnya supaya tidak ada debu yang tertinggal.
                          Bahu-membahu

Note: berinisiatif sendiri, membersihkan sudut rumah yang sulit dijangkau dengan vacum cleaner padahal belum dikasih tahu cara-caranya lho.
 Tiga dara :)
 Masyaallah tabarakallah. Jangan pulang ya...
Note: Masa kerja: 24 hari. Sibibik dengan ekspresi wajah datar.
Tantangan:
Mari kita lihat, bisakah trio ini bertahan untuk gajian yang pertama? Gaji part 2? Seberapa lamakah rasa senang punya pembantu pinter bisa bertahan? 
Sepertinya rasa senang punya pembantu pinter berbanding lurus dengan rasa khawatir  mereka pamit pulang.
Note: saat menulis ini masa kerja sudah 26 hari, pada hari ke 24 si bibik mengeliminasi diri dengan alasan: dapat khabar anaknya didesa sakit panas. 
- "Umur berapa bik?"
- "Duapuluh dua tahun..." 
Speachless... 
Sibibikpun sambil berderai air matanya pamit pulang. Yang bikin rada syok, dia mencium tangan dan memohon bisa balik lagi ...
Ya...ya...ya...Ini didokumentasikan lho bik, balik gak-ya? 
Bagaimana pemirsa, ditunggu ya hari-hari kedepan liputannya.
Tantangan untuk sopir: (masa kerja dua minggu)

Biasanya sopir masa expirednya lebih lama dibanding pembantu. Carinya juga lebih gampang, bisa lewat iklan atau referensi temen Sopirku, kerjanya baru terhitung dua minggu. So far sih baik-baik saja. Kelebihannya: Sopan, tidak terdeteksi sebagai kutu loncat dan yang penting paham tentang mesin mobil. Satu lagi, bisa bantu-bantu dirumah (aku memang mensyaratkan sopir harus multitasking, dengan kata lain tidak pilih-pilih kerjaan, kalau ada yang bisa dibantu, ya harus dibantu. Seperti bersih-bersih area halaman luar, betulin kran air bocor, buang sampah dll). 
Kekurangannya: dari pengamatan selama dua minggu, ada   yang mengganjal. Diantaranya: penampilan kudu dipermak supaya kelihatan lebih resmi, orangnya rada slebor/cuek. Yang kedua, merokok (gimana caranya melarang orang merokok, istri aja gak bisa apalagi hugo boss atau kebalik ya, bossnya aja gak bisa apalagi istri ;). Paling aku beri batasan-batasan saja supaya tidak merokok sewaktu bertugas dll. Diennya? ya...tampak lumayan tapi...Ya itu tadi penampilan luarnya tidak/kurang mendukung. Husnudzon saja, Inshaallah baik-baik seperti penampakannya.
Cerita tentang penampilan luar: ada mantan sopir kita yang sholatnya di masjid lima waktu. Begitu adzan, langsung ke masjid. Hp dioffkan. Biar badai sekalipun kalau waktunya sholat, ngilang selama kurang-lebih tigapuluh menit. Kalau pas bersamaan ada keperluan, rasanya pengin marah kenapa hpnya gak bisa dihubungi jadi ewuh pakewuh. Mau marah gimana wong kebaikan koq dilarang.  
Ternyata oh ternyata dibalik itu ada horornya. Nih sopir suka mengganggu para pembantu. Tahunya ya dari pembantu-pembantu yang drop out itu. Saat mereka telp mau balik, yang ditanyakan pak sopir masih ada gak. Kalau masih ada, mereka gak mau balik, kalau gak ada mereka mau balik. Kenapa ini?  
Setelah ditanya, mereka akhirnya mau cerita. Oh...gitu toh. Akupun bilang aman, sopirnya sudah drop out. Sayang seribu sayang, rencana pembantu balik selalu gak tepat, sama seperti saat mereka mau pulang. Dirumah sudah ada penunggu yang baru meski masih deg-degan juga karena gak tahu kapan expire datenya ;)
Dalam rangka menunggu tantangan mengetahui masa berlakunya SIM Kerja para pembantu, aku punya plan B. Salah-satu itemnya, memanggil balik siTimah. Dia sudah beberapa kali menawarkan diri hanya aku saja yang masih ngeles. 
Gimana ya? Sindrom pembantu lama adalah: kalau cocok berpasangan, sisenior membully yuniornya. Kalau tidak cocok, si senior memakan juniornya. Simalakama :(
Update: masa kerja 30 hari
Semalam habis ngasih gaji yang pertama, deg-degan juga sih khawatir terpaksa mendengarkan si mbak mau pamit pulang...(biasanya ada aja alasannya kalau habis terima gaji). Alhamdulillah berjalan lancar, bahkan gajinya minta dititipkan dan yang sebagian dikirim ke keluarga di desa. Lega ...(part:1)
 Update: masa kerja 37 hari (21/nov)
Lagi di jalan, ditelp si mbak, katanya dia ditelpon mertua mengabarkan suaminya sakit. Si exelent Husnah ijin pulang karena suaminya sakit panas ada di rumah sakit. 
Hua...hua rasanya gak pengin balik kerumah, bayangin ribetnya ditinggal si mb exelent. Langsung cek and ricek ke bu Sup, sipenjaga villa dleyla yang juga. Oh ya, tiga asisten dirumah termasuk dua penjaga villa dleyla di Batu juga saling kenal-mengenal karena mereka bertetangga di kampung. Ada plus minusnya punya asisten RT  bersangkut-paut begini.
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu...
Hasil cek and ricek, suami Husnah memang benar-benar sakit dan ada di Rs. Ditambah lagi si mb, tidak bawa baju dan uang gaji hanya diambil separuh, (lega, part 3) but...Kalau sampai masuk rumah sakit, bukankah butuh waktu agak lama berikut pemulihannya :(  Hanya tinggal siSumay alias Maya dirumah. Semoga keribetan ini cepat berlalu...
Update: masa kerja: 43 hari, tg23- Nov
Saat pulang Husna berjanji rabu sudah akan balik, sementara rabu pagi, aku terbang ke jakarta sampai sabtu malam. Selasa siang aku memastikan ke bu Sup (penjaga villa dleyla sekaligus makelar duo husna and Maya, bahwa Husna akan datang di hari rabu. Aku berangkat ke jakarta dengan perasaan berdebar-debar (karena di rumah cuman ada Maya aja dan si Maya gak bisa masak ): Untung ada mama yang dengan senang hati memasakkan menu-menu istimewa untuk cucunya, si bungsu Rana. Bersyukur banget masih punya orangtua. Nah rupanya si sopir ini melihat ada peluang untuk istrinya kerja menggantikan Husna (nih minusnya punya sopir satu kampung halaman dengan pembantu. Mau talking-talking everything about duo assistent di rumah by hp dengan mama kudu pake bahasa isyarat alias bahasa banjar campur-aduk).
Kembali ke soal sopir, dengan pedenya dia mengabarkan kalau istrinya bersedia menggantikan Husna. Ohlala...
Dengan pede pula aku infokan bahwa Husna bakal balik (padahal saat itu belum yakin).
Mendarat di Jakarta sampai sore n malam gak ada khabar. Huh...capek deh.
Barulah keesokan harinya khabar baik itu datang, si exelent Husna balik kamis pagi. Alhamdulillah... (lega part: 4). Ternyata...Para ipar yang mampir ke rumah mengabarkan bahwa Maya juga exelent sampai katanya mau diculik salah-satu. Hhh... Alhamdulillah :)
Setelah kenyang dengan pengalaman dibantai pembantu keluar-masuk, sepertinya terlalu dini untuk mengatakan mereka akan lama kerja dirumah. Bukan karena gak betah tapi...memang ada saja halangan bagi perempuan untuk bekerja atau berkarier diluar rumah (hukum agama juga menyebutkan beban mencari nafkah jatuh pada laki-laki meski terkadang kesempatan untuk perempuan lebih terbuka) Kalau bukan alasan suami, alasan anak sakit atau mertua atau orangtua yang sakit atau alasan mau dinikahkan, menyebabkan mereka harus quit untuk sementara atau seterusnya. Sampai sejauh mana kemesraan ini akan berlangsung? Wait and see...
TOBE continue

30 October 2016

Review Hotel Azizah Solo, Hotel Tentrem Yogya, Hotel Horizon Semarang dan Hotel Namira Pekalongan

Sudah lama tidak membuat review hotel padahal ada banyak perjalanan yang belum sempat juga dibuat kisahnya. Diantaranya: Tour de Bangka belitung, tour de Purwokerto, tour de Johor baru de-el-el...
Ntar deh, gantian. Beginilah penulis amatir, menulis berdasarkan mood dan kesempatan. Kalau lagi rajin menulis, sampai terbawa mimpi sedang mengarang cerita. Sebaliknya kalau pas lagi  malessss ....gara-gara urusan domestik yang datang silih berganti, sudah duduk berjam-jam didepan layar tetep aja ide cerita gak keluar.  
1. Tour de Solo 
Kota ini menurutku sangat menakjubkan. Kota dagang dengan jalan-jalan satu arah dan tingkat kemacetan yang tinggi ;) Seperti wisatawan lainnya selama di solo, kita berburu batik (kita adalah wisatawan non kuliner, selain alasan diet juga bukan termasuk tipe orang yang suka mencoba menu-menu baru. Kalau soal makanan, dari sabang sampai merauke yang dicari cuman rm bermenu: ikan, misal: RM Cianjur, Mang engking ;) susah diajak berpindah ke lain hati. 
Destinasi utama: mengunjungi kampung batik laweyan, butik gunawan setiawan, toko roti Amira (roti-rotinya enak, lumayan buat oleh-oleh), pasar beteng (cari kain seprei), PGS, pasarTriwindu (cari barang antik, belum kesampaian ): Destinasi yang baru gress,  cari lampu-lampu antik di Aneka Glass, Pak Amin didaerah: Pabelan baru 2. Gelap mata deh kalau kesana.

Diantara pesona lampu antik
Review Hotel Azizah Syariah by Horizon (U/picnya google aja ya)
Dengan adanya nama Horizon yang melekat, tidak perlu diragukan lagi standart kenyamanannya. Rate harga rp: 300 rban, pas aja di kantong. Luas kamar cukup, kebersihan cukup, fasilitas cukup. Hanya saja ada sedikit gangguan, pas mau lihat tv, remote tidak berfungsi.Ya sudahlah mending tidur aj, jam juga sudah menunjukkan pukul 22.00. Kelebihannya lately check out dikasih waktu sampe jam: 14.00. Karena ingin merasakan restonya, kami memesan makanan nasi khabsa. Begini penampakannya:

Rasanya enak, porsinyapun pas. Cuman agak lama ya nunggunya, lebih dari 15 menit. Overal, hotel Azizah syariah not badlah. Tentunya kenyamanan akan berkurang jika satu kamar diisi lebih dari dua orang (walau pake extra bed sekalipun karena ukuran kamarnya sepertinya sudah disetting hanya untuk berdua saja). Hotel ini cocok dipilih jika bepergian dengan teman.
2. Tour de Yogya
Bolak-balik ke Yogya, selalunya tidak melewatkan kunjungan ke pasar Beringharjo. Nemu aja pernak-pernik yang pas untuk menghias villa (villa dleyla) atau beli baju untuk oleh-oleh. Kali ini karena hanya bermalam sehari, terpaksa kunjungan rutin dipangkas. Kita memilih tour de merapi. Tournya seru sekali terutama karena mobil yang dipakai tidak biasa, jeep willys dan medan yang dilewati sangat terjal. Ibu hamil dilarang 100% mengikuti tour de merapi. 




                              Saksi bisu letusan merapi


Review hotel Tentrem, Yogya
Ini baru pertama-kalinya nginep di hotel Tentrem. Kesan pertama masuk, masih baru, mewah, bagus hotelnya. Yalah nih hotel punya jamu Sidomuncul. Kamarnya luas, fasilitas up to date, kamar mandi luas, nyaman deh. Hanya ada sedikit catatan kecil: Yang bikin keki di hotel-hotel mewah begini, masih soal kamar mandinya yang membingungkan. Seringkali kalau muter kran shower, main tebak-tebakan, air mana yang jatuh duluan, atas atau bawah. Gak ada petunjuk jadi trial and error. Pas dibuka,  Byuuur...Air jatuhnya dari shower diatas, bukan dari kran bawah. Basahlah baju :( 
Kalau disuruh milih, prefer milih fasilitas kamar mandi bintang 3, yang pake shower flexibel daripada pake shower fixed gitu.
Tentrem di hotel Tentrem, Yogya
                                         Suasana lobby

Saat breakfast, saat yang special. Beragam jenis makanan tersedia.  




Pilihan menginap di hotel Tentrem sangat cocok bila pergi bersama keluarga ataupun hanya berdua dengan pasangan. Hotelnya benar-benar nyaman dan mewah, sesuai kelasnya.
Btw: Di yogya, kita kesulitan referensi tentang tempat barang-barang antik, unik dan etnik. Atau googlingnya yang kurang ya. Jadi sementara ini kalau ke yogya hanya belanja, jujug di  pasar Beringharjo dan Mirota aja.
3. Tour de Semarang 
Semarang kotanya tenang dengan jalan-jalannya yang lebar. Setelah nyampai semarang baru tahu kalau ini kota biskuit dan kota bandeng juwana. Aku pikir bandeng Juwana itu dari sidoarjo (geleng-geleng kepala). Ini kunjunganku kedua di semarang, kunjungan pertama cuman numpang lewat aja, pantesan gak tahu apa-apa:)
Di Semarang kita mengunjungi: Klenteng Sam Poo Kong, Lawang Sewu yang legendaris, Masjid Agung Jawa tengah, Gereja Blenduk, agrowisata ke kebun karet dan kopi di sragen dan  pusat Oleh-oleh bandeng Juwana. Dari pusat oleh-oleh ini juga kita beli lumpia semarang yang enakkkk banget (list perjalann menyusul).
Catatan: didepan gereja blenduk ada beberapa penjual barang-barang antik. Bagi penghobi barang antik bisa jadi tambahan referensi.
Mampir ke pak Edi
   Beraksi di Lawang Sewu yang legendaris
 Klenteng Sam Poo Kong, gereja blenduk dan Lawang sewu
             Perjalanan menuju kebun karet dan kebun kopi


              Kunjungan ke taman buah sekalian makan siang


Review Hotel Horison di Semarang
Kalau pas ke suatu daerah yang kita tidak tahu harus pilih hotel apa (karena referensi yang kurang) pilih aja hotel Horison. Kita suka karena kamarnya pasti lebih besar dari Ibis atau Aston. 
Kamar mandinya meski terlihat kuno tapi cukup bersih.
Hotel ini terletak di Simpang Lima, pusat keramian di Semarang. Dari dalam hotel juga ada akses menuju mall (apa ya gak tahu namanya) dan mall ciputra. Karena mall yang satu foodcoutnya kecil, kita pilih akses yang nyambung ke mall ciputra, foodcourtnya banyak pilihan dan sekalian bisa shopping batik disini. 
Breakfast: menunya beragam bervariasi, unik dan enakk sekali. tersedia juga jamu-jamu siap minum sekaligus dilayani oleh ibu penjualnya. 
Tour de Pekalongan

Sebenarnya kalau ke Pekalongan selalu saja waktunya mepet jadi gak pernah explore daerah wisatanya, paling cuman shopping batik aja. Untuk menyingkat waktu, kita cuman mengunjungi batik Luza, Khanan (punya Luza juga), batik Qonita dan batik Huza. Sayang sungguh sayang, koleksi baju-baju batik di tiga tempat itu sangat terbatas karena mereka fokus ke Jakarta fashion week yang tengah berlangsung saat itu. Apa boleh buat, akhirnya hanya belanja taplak-taplak, daster dan kain batik saja.
Pekalongan kota kecil yang mulai menggeliat, ditandai banyak cafe -cafe dan hotel baru bermunculan. Dekornya lucu-lucu. Pengin mampir sih, sayang waktunya terbatas, tiba jam 20.00, balik ke sby, kesokkan harinya jam 14.00. Kapan-kapan mesti balik lagi ke Pekalongan terutama explore hotel n cafe-cafenya yang lucu n keren.
Review Hotel Namira Pekalongan
Biasanya kalau ke Pekalongan kita tiga kali menginap di hotel Umaro, syariah. Hotelnya letaknya bagus, strategis, ketempat-tempat batik cuman naik becak aja. Pelayanan okey, sayang kebersihan mengalami degradasi :( Akhirnya diputuskan pindah kelain hati.
Hotel Namira ini mengusung konsep syariah. Suasana religius langsung berasa saat kita membuka pintu. Alunan ayat-ayat al quran langsung menyambut kita di loby. Hotel ini masih baru (paling senang kalau ke hotel baru, closetnya pasti masih bagus, dasar obsessive kompulsif ma kamar mandi, tepok jidat). Masuk ke kamar, sesuai prediksi, kamarnya lumayan kecil. Kebersihan okey. kamar mandi okey, pake shower fixed tetapi ada kran untuk wudhu juga ada shower pump untuk closet. Paling kesel n sebel kalau closetnya gak ada shower jetnya (biasanya malah kamar mandi hotel bintang lima), jadi kesulitan kalau bersuci. Interior kamar  n hotel okey, hanya di kamar cuman ada pendingin bukan kulkas. 
Breakfast: jenis dan ragam makanannya minimalis.Gak ada nasi megono, nasi khas pekalongan juga egg corner :( Tapi lumayanlah ada menu fish and soto.
Breakfast di Namira


 Ada satu hotel, letaknya dekat dengan hotel Namira. Decornya lux dan keren, namanya hotel Siji. Nanti kalau ke Pekalongan lagi, kita pengin nyoba bermalam disana. 

Okey, see you in the next post

 

10 September 2016

Ada Apa dibalik sebuah pernikahaan?

Kalau belum dibuka pintunya hanya bisa ditebak-tebak kalau sudah dibuka baru ngeh...Ternyata ada senang, sedih, gembira, galau, gundah, ada kasus, ada krisis ada macem-macemlah. Yang lagi pengin dishare disini adalah masalah kasus dan krisis. Kalau yang menyenangkan gak usah dibahas deh...Kesedihan itu beda-beda rasanya tiap orang kalau kebahagian rasanya sama.
---------------------
Seperti teori psikologi perkembangan anak, lima tahun pertama adalah sangat penting. Lima tahun awal dimasa perkawinan adalah juga masa penting. Ini adalah tahapan penyesuaian diri dari dua orang dengan dua karakter dan dua pola asuh yang berbeda. Kasus dan krisis (kdk) biasanya berawal dari masa ini.
Kdk bisa melibatkan duo, bisa juga trio atau bahkan bisa multiple kalau masalahnya meluber kemana-mana (ketahuan ortu, mertua, kakak, adik, ipar dll). Bisa kebayang khan semakin banyak yang tahu, semakin ribet penyelesaiannya (apalagi punya ortu atau mertua yang kurang bijaksana (bisa terlalu sayang sama anaknya, terlalu sensitif, terlalu gengsi, terlalu...). Alamak...masalah sepele bisa jadi besar, bisa gak pake tahapan 1,2, 3 dah, langsung masuk keeksekusi :(
Masih keinget pengalaman jadul, habis nikah langsung pindah rumah (kontrak, terpisah dari ortu dan mertua) padahal masih nerusin kuliah, gak bisa masak, gak biasa bikin kopi, teh dll. Ruwet, ribet, capek, pusing, stress de-el-el. Ternyata disinilah seninya. Lambat tapi pasti belajar banyak hal yang berhubungan dengan tanggung-jawab. Juga positipnya: kalau pengin ngambek seharian dikamar gak keluar, gak ada yang tahu...:) Btw: biasalah pasangan baru masih suka ngetes eq masing-masing. Seberapa besar cintanya padaku, de-el-el... Alat tesnya, itu tadi pake: ngambek ;)
Yang masih tinggal sama mertua, pernah gak punya pengalaman diketuk kamarnya? 
"Sayang... Koq gak keluar-keluar dari kamar, gak makan?" 
Yang namanya menantu yang baik khan harus sigap, lompat dari ranjang, buka pintu n pasang senyum.."Enggak ma, lagi diet or lagi puasa or..." What everlah yang penting kasih jawaban.
Yang susah itu, aktingnya. Kalau pernah kebetulan belajar seni peran, mungkin gampang tapi kalau gak pernah, pas bete disuruh pasang wajah cooll n calm....Duh...susahnya...:(
Nah...ketahuan deh. 
Sekarang...konon, mertua bisa dijadiin temen. Setuju? 
Setuju-setuju saja, dalam artian merasa dekat, tidak perlu ditakutin akan menggigit :) tapi tetap ada bedanya. Kalau temen bisa dicuekin, disalahin, kadang dimarahin. Kalau mertua??? Enggak bisalah...!
Jaman bisa berubah, aturan baku tetap berlaku. Mertua harus dihormati dan tidak pernah salah (dalam artian tidak bisa diungkapkan secara asertif, harus bermain halus dan cantik atau melalui perantara). Jadi gak bisa nih kalau ada menantu yang gak suka basa-basi dan dia bangga karena selalu berkata apa adanya, terus tiba-tiba dalam sebuah perbincangan bilang ke mertuanya "Mama salah..." Hmm...Bukan bunda salah mengandung kalau anaknya kepedean begini.
Oh ya dalam rangka tinggal sama mertua dan mertua # teman, jangan terlalu sering curhat ke mertua ya. 
Lho kenapa? kalau sesekali sih gpp, kelihatan lucu. Biasanya tanggapan awal mertua kalau dicurhati tentang tingkah anaknya adalah: tertawa renyah. Tapi kalau hampir setiap ketemu si menantu yang cantik nan manjaaaa ini selalu berkeluh-kesah tentang anaknya, yang suka mendengkur, pake sikat gigi bergantian, yang pakaian dalemnya gak ganti-ganti...Bisa-bisa si mertua tawanya berubah jadi senyum kecut, nyengir dan akhirnya buat laporan gagal paham ke anaknya. Finally, masalah gak selesai malah bisa nambah masalah baru.
Positipnya tinggal di PIM (Pondok Indah Mertua/Mama): enak banget, iriit mikir. Semua tanggung  beres, tinggal nunggu weekend terus jalan-jalan berdua, asikk :)
Pelajaran pertama: Menimbang mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya (dilihat dari segi kecenderungan terjadinya gesekan karena masih dalam tahap penyesuaian diri n masa trial & error. Sebaiknya setelah menikah langsung memisahkan diri dari ortu atau mertua. 
Ada beberapa kondisi yang disepakati hingga terpaksa bergabung dengan ortu atau mertua, sebaiknya ditentukan batas waktunya. Jangan kelamaan ntar keterusan, soalnya enak banget, dari segi irit mikir :) Yang juga harus diingat harus pintar-pintar membawa diri. Sekali waktu berperan sebagai anak (terutama kalau mertua lagi kasih nasehat atau sedang gak enak ati. Seorang anak khan gak boleh musuhan sama ortunya gara-gara ditegur/dimarahin. Konon juga sekarang mertua gak bisa marah-marah sama menantunya, ntar dilaporkan ke polisi, gimana ;) 
Terkadang berperan sebagai teman (teman ngobrol#terkecuali saling curhat, kalau mertua curhat boleh, dengerin aja tapi jangan ikutan curhat juga ntar mertuanya naik tekanan darahnya ketahuan khan habis dicurhatin menantu #gak berani ketemu ipar :(
Bisa berperan sebagai teman shopping atau teman travelling. Atau berperan sebagai menantu (terlibat aktif dalam acara-acara keluarga besar, luwes membawa diri dan membaur, menjaga citra dan nilai-nilai keluarga de-el-el)  
Ada apa dengan lima tahun kedua dalam perkawinan?
Lima tahun pertama adalah masa penyesuaian diri, baik antar pasangan maupun dalam keluarga besar. Dalam lima tahun kedua berbagai kasus sudah mulai muncul dan contoh soal sudah keluar previewnya menanti tahap evaluasi. Bila periode awal, masalah muncul dipicu masalah-masalah sepele, karena salah-paham atau kekurangan uang. Dalam periode lanjutan ini justru kasus muncul karena kelebihan uang atau berkaitan dengan status ekonomi yang mulai membaik. Ibarat pepatah, semakin tinggi pohonnya semakin kencang anginnya. Pohon tidak akan goyah oleh angin bila akarnya kuat. Sebenarnya masalah ini akarnya adalah pada perbedaan pola asuh. Bagaimana dua anak manusia yang berjanji sehidup semati  itu dibesarkan dalam keluarganya masing-masing. Nilai-nilai apa yang sudah ditanamkan sebelumnya, tentang uang dan turunannya (semua masalah yang bisa ditimbulkan oleh dan karena uang), tentang nilai keluarga (apa artinya ibu, ayah, kakak,adik, nenek, kakek, paman, bibi, saudara, de-el-el), tentang nilai kejujuran, kebijaksanaan, dan nilai-nilai baik lainnya (kalau nilai-nilai buruk yang terekam sudah otomatis diduplikasi)
Bila ekonomi keluarga mulai meningkat, siapa yang duluan terimbas? 
Mestinya keluargalah, termasuk didalamnya: ada istri, anak dan orangtua/mertua. Jadi gak salah kalau suami sukses, istri dan anak-anaknya langsung klinong-klinong 'berpendar'. Yang salah yang silau :) Nah benang merahnya disini. Arus pendek kdk, sering terjadi karena ketidakseimbangan cahaya yang berpendar.
Didalam perkawinan, hubungan keluarga bisa terdistraksi oleh kehadiran keluarga baru (baca: istri atau anak). 
Bagaimana bisa?
Bisa saja karena para suami itu seringnya malas mikir dan banyak hal yang diserahkan mentah-mentah ke istri. Jadi selain diserahin bahan masakan mentah, istri juga diserahin bahan bakar mentah (baca: uang). Sampe-sampe ada lho yang dompetnya juga diserahin ke istri ;) Siapa yang gak suka seperti ini, angkat tangan? Pasti pemirsa banyak yang gak angkat tangan :)
Pada dasarnya ini menyenangkan selain menyangkut kepercayaan penuh juga menyangkut citra sang istri: disayang suami, suami yang royal dan suami yang gak neko-neko. Gimana mau neko-neko jika gak ada modal dasar melamar ;) 
Pemirsa yang punya anak laki-laki jangan salahin istrinya (baca: menantu) kalau ntar anaknya punya kasus begini. Mengapa?
Laki-laki itu adalah Imam, istri adalah makmumnya. Sifat dasar makmum adalah mematuhi Imam. Nah kalau yang salah imamnya, jangan nunjuk maknum duluan dong. Ini namanya gak fair and 
lovely :) 
Seorang suami yang males mikir akhirnya terjebak melakukan pembiaran pada istrinya. Kalau istrinya cukup bijak  tidak akan berakhir dengan notice atau sp (surat peringatan). Kalau kebetulan istrinya agak telmi juga, khan bisa berujung somasi :(
Btw: diawal-awal pernikahan biasanya agak susah menjadi bijak bagi kedua belah pihak karenanya justru para orangtua dituntut untuk lebih bijak bila terjadi kdk.
Seorang suami yang melakukan pembiaran pada istrinya, artinya melakukan kesalahan awal yang fatal.  
Contoh soal: suami yang biasa memberikan semua uangnya dikelola istri, apakah tidak boleh? 
Boleh saja asal tahu juga resiko unpredictablenya. Misal nih orangtua sakit (gak pake sakit, ortu sudah seharusnya mendapat bagian dari kemakmuran anak-anaknya), saudara butuh bantuan, teman kena musibah de-el-el. Bagaimana harus bersikap? Siapa yang akan mentransfer uangnya, an siapa pengirimnya? Kalau kita nih jadi orangtua, ilfill gak kalau uang yang ditransfer bukan an anak kita? Gpp khan yang penting uangnya nyampe. Kalau punya mertua yang "gampang" begini, ya memang enak, tapi kalau mertuanya, orang banjar bilang, paharitan (jawa: sungkanan) bisa ngenes, ntar takut lagi ketemu ipar, part 2 :)
Sikap pembiaran imbasnya bisa berkaitan dengan hubungan intern atau ekstern. Bisa sih dikoreksi tetapi khan sudah terjadi gesekan yang tidak mengenakan.
Berkenaan contoh diatas, orangtua khan gak bisa  bisa ngomong: "Nak nanti kalau kamu sudah menikah, kalau kirim uang jangan tahu istrimu ya" Meski esensinya benar tapi bukan contoh yang tepat (bukan karena pamit dan tidak pamit, tidak tepat karena kalimat diatas mengandung "sianida" yaitu: sudah ada prejudice bahwa istri sang anak tidak bakal suka ada rencana kliring oleh keluarga. Sebenarnya belum tentu, bisa setuju bisa tidak. Daripada berprasangka, nambah dosa, better pake aja hak prerogatif suami #hak berbakti pada orangtuanya. Lebih baik untuk semuanya. Kalau anak kita anak sholeh, khan sudah ngerti sendiri cara menangani soal essay model begini.
Notice: beda ya bila yang melakukan anak perempuan yang sumber keuangan semata dari suaminya, semua tindakannya harus seijin suami.
Jadi inga-inga ya ibu-ibu, sebaiknya mempersiapkan setiap anak laki-lakinya atau anak perempuannya untuk menjadi imam/makmum sekaligus menjadi anak sholeh/sholehah bagi keduorangtuanya. 
Menjadi anak yang sholehah untuk orangtua banyak orang yang sudah mahfum (kalau bersikap baik pada orangtua, surga menanti dan sebaliknya, nerakanya menanti). Menjadi sholehah untuk suami meski sulit (karena merasa sama-sama setara dan sederajat saat proses pdkt atau taaruf tiba-tiba setelah akad nikah setara dan sederajad mempunyai makna yang beda) banyak orang yang juga sudah mahfum.
 The next question is bagaimana menjadi sholeh antar saudara?
Jawaban paling tepat adalah: fokus menjadi anak yang sholeh dulu.  Menjadi saudara yang sholeh berkaitan erat dengan ketaatan terhadap orangtua. 
Distraksi dalam perkawinan, imbasnya paling berasa dalam keluarga besar, terutama antar saudara kandung. 
Kenapa? 
Seperti yang sudah disebut diatas, kalau tidak berbakti pada orangtua atau suami, surga nerakanya sudah jelas tapi kalau dengan saudara kandung,eit... wait and see. 
Kita nih kalau ngasih wejangan ke anak-anak tentang "keakuran" , selalunya direpeat  seperti radio rusak, itu lagi-itu lagi. Sebagai orangtua, kita gak akan pernah bosan mengingatkan, walau anak-anak yang dengerin bosen.  Si sulung suka protes "Mama, cerita ini sudah yang ke xx..kalinya Sirin denger.." Untung selalu sama ceritanya...;) kalau gak dia bisa protes lagi :)
Si sulung dan si bungsu (punya anak cuman dua gelintir, tidak ada anak tengah :) bedanya delapan tahun tapi masih ada aja saling cemburu antar saudara. Masih lucu sih, masih ringan cemburunya masalah remeh-temeh tentang hadiah, oleh-oleh atau uang saku. Meski begitu, kita sebagaimana layaknya orangtua lainnya penuh kekhawatiran tentang segala hal yang akan terjadi dengan anak-anak ketika mereka menikah atau sepeninggal kita nanti. 
Salah satu nasehat yang selalu aku ingat dan selalu kurepeat order  adalah:
"Saudara kandungmu itu berada dalam rahim ibu yang sama. Dan jika kamu akan membahagiakan ibu, baik ketika dia hidup atau sudah meninggal adalah dengan cara saling menjaga antar saudara. Jangan yang satu berlebihan dan yang satunya kekurangan. Dan jika muncul perselisihan, selesaikanlah dengan cara yang baik. Ingatlah kakak atau adikmu sebagaimana kalian mengingat ibu"
"Saudara kandungmu itu berada dalam rahim yang sama" Kalimat ini mempunyai makna yang sangat dalam. Seorang ibu berjuang untuk melahirkan anak-anaknya dengan mempertaruhkan nyawa. Secanggih apapun tehnologi persalinan, pertaruhan nyawa tetap ada disetiap kelahiran. Karenanya bagi seorang ibu seorang anak mempunyai nilai yang sama. 
Beda perlakuan bukan karena berat sebelah tapi lebih karena keunikan masing-masing anak yang memerlukan sentuhan beda.  Atau didorong naluri keibuannya yang kuat sudah seharusnya seorang ibu berusaha melindungi/over protective/ lebih sayang (baca:perhatian) pada anaknya yang berbeda, misal: berkebutuhan/perlu perhatian khusus bukan sebaliknya anaknya yang tercantik/tampan atau yang paling sukses yang mendapat perhatian khusus. Biasanya seorang ibu tidak begitu. 
Dari contoh dan uraian diatas, kalau disingkat ada tiga point, yaitu: 
1) Ibu menyanyangi semua anak-anaknya. 
2) Ibu akan bersedih bila ada salah-satu dari anak-anaknya yang menderita atau hidup kekurangan. 
3) Yang mengkaitkan kita dengan saudara adalah rahim ibu yang sama.
Kesimpulannya: 
Kalau ingin menyenangkan ibu sebagai salah satu item menjadi anak sholeh adalah dengan saling menjaga antar saudara kandung.

Teori hanya bisa menjadi pedoman awal pada prakteknya ada banyak variasi kasus yang kadang memerlukan penafsiran beda atau bahkan bersebrangan dengan teorinya.
Contoh kasus:
Kisah dua bersaudara laki-laki. Yang satu hidup berkecukupan (kakak) dan sebagai tulang punggung keluarga (membantu ibunya dan saudara perempuannya, ayahnya sudah meninggal). 

Sementara saudara yang satunya hidup kekurangan dikarenakan akhlaknya yang kurang baik (suka berhutang, malas bekerja, dan kriminal). Setiap kali adiknya berbuat onar, kakaknya mendapat bagian membereskannya. Berulang-ulang begitu. Bertahun-tahun dilakukannya atas permintaan sang ibu. Sampai suatu saat ibunya meninggal dan dalam waktu yang hampir bersamaan adiknya membuat ulah yang mengharuskannya masuk penjara.
 Apa yang dilakukan sang kakak? 
Membebaskannya?

Tidak, dia malah meminta adiknya segera dimasukkan ke penjara.  Mengapa bisa begitu? Bukankah seharusnya sang kakak melakukan hal yang sama seperti saat masih ada mendiang ibunya?
Ketika orang mempertanyakannya, inilah jawaban sang kakak yang mengatakan bagaimana dia harus menahan diri untuk bersikap keras pada adiknya dikarenakan semata-mata tidak ingin membuat ibunya bersedih melihat anaknya tersayang   masuk penjara atau dalam kesulitan.  Dan ketika ibunya sudah tidak ada lagi, sang kakak punya cara sendiri untuk memberi pelajaran  pada adiknya agar adiknya kembali ke jalan yang benar dan menjadi anak yang sholeh (bukan pembiaran atau penelantaran, niatnya beda, hasilnya juga beda). Dengan tindakannya ini sang kakak, justru membantu ibunya menyelesaikan pr, menjadikan adiknya anak yang sholeh dengan caranya. Dan alhamdulillah terbukti, adiknya sekeluar dari penjara berubah menjadi lebih baik.
Ada banyak varian kasus lainnya yang penyelesaiannya tidak bisa mengacu pada teori baku. Kalau mengalami hal ini, pakilah nasehat bijak, diselesaikan dengan cara yang baik. 

Pelajaran yang kedua:
Perbaikan ekonomi dalam keluarga harusnya menjadi sesuatu yang disyukuri bukannya malah menjadi fitnah. Ada yang merasa sesak napas karena gak kebagian sinaran, akibatnya timbul kdk dari keluarga besar yang menganggap, istri adalah pengendali keuangan suami.  
Catatan:Berbaik-baiklah dengan mertua, ipar atau paman atau tante dll karena mereka bisa menjadi supporter dalam kebaikan atau keburukan yang sedang terjadi. 
Kalau suami/istri akan membantu saudaranya, biarkan saja jangan dihalangi. Membantu ngasih masukan boleh tapi bukan yang menentukan. Biarkan keputusan ada ditangan suami/istri itu sendiri. Ikatan mereka lebih kuat, mereka satu rahim, tidak bisa ditalak dan tak punya surat cerai.  Keluhan yang sering terdengar (belum tentu lebih banyak terjadi) seorang suami yang ringan tangan membantu keluarga besar istri sementara sang suami "berat sebelah" terhadap keluarga besarnya.  
Mengapa bisa begitu?  
"Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling wanita"  
Itulah penggalan syair lagu sabda alam yang dipopulerkan kembali oleh Yuni Shara.  
Untuk mengantisipasi distraksi dalam hubungan antar saudara kandung, kita sebagai orangtua punya kiat khusus (terutama bagai orangtua yang punya anak perempuan). Yang utama adalah pembekalan. Ilmu memegang peranan lebih penting daripada materi. Kalau materi (perlu juga dibekali jika memang ada) bila tak pandai mengolah juga akan habis berjalan dengan waktu. 
Dengan ilmu, otomatis materi akan datang sendiri. Itulah yang coba kita tanamkan pada anak-anak. Pemahaman ini direspon dengan baik oleh si bungsu. 
Ada cerita kecil berkenaan dengan topik pembekalan:   
Disekolah si bungsu coba-coba berjualan makanan hasil olahannya bersama teman atau menjualkan makanan ringan, kulakan dari sepupunya. Merepotkan sih karena si ibu harus siap dengan uang receh untuk pengembaliannya.  Belum lagi si ibu harus berdoa keras semoga dagangan si anak laku semua hari itu. Jadi deg-degan juga kalau menunggu si bungsu, pulang sekolah. Ibunya stress...
Si ayah hanya bilang, laku atau tidak laku itu bukan esensinya. Yang terpenting jiwa wirausahanya yang harus dikembangkan. Toh dagangannya laku atau tidak tetap ada yang bisa diambil pelajaran. Alhamdulillah doa si ibu terkabul, dagangan selalu sold out :)
Lain bakat si bungsu lain juga dengan si sulung. Kalau si sulung bakatnya ditarik suara. Bukan menyanyi bukan...tapi cuap-cuap memberi materi atau presentasi. Wah kalau yang ini sudah kelihatan sedari kecil, semua ditanyakan dan didebat :) 
Itulah sebabnya si ibu memberi keleluasaan si sulung eksis dengan bakatnya.
Dari contoh cerita yang panjang lebar diatas, mengisyaratkan pentingnya membekali anak perempuan baik materi atau ilmu terutama sebelum mereka menikah. 
Bila anak perempuan kita sudah menikah, imam dan surganya sudah berpindah. Kekuatan kita hanyalah doa. Doa yang tak putus untuk kebahagian mereka membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Seseorang bisa pada awalnya baik dan berakhir tidak baik atau begitu sebaliknya. Karenanya kita selalu berdoa tetap dalam nikmat iman, Islam dan kesehatan. 
Semua orangtua punya cara tersendiri mendidik anak dalam usahanya menjadikan mereka menjadi anak baik/sholeh. Kita, salah satunya ingin menjadikan anak-anak sholehah pada orangtua, suami dan saudara kandungnya.
Seorang laki-laki  sehebat apapun dia jika berpikiran sempit,  hanya mementingkan diri dan kelnya,  dia tidak akan pernah bisa masuk kerumah kami dengan sambutan sebagai calon menantu, kalau tamu biasa bisalah :)
Pelajaran yang ketiga:
Pelajaran kesatu dan kedua, berhubungan erat dengan faktor eksternal. Pelajaran ketiga ini bisa dibilang menyangkut internal partai, cara mendidik Anak :)  
Point penting dalam berkeluarga adalah mendidik anak. Perbedaan cara dalam mendidik anak antar orangtua atau kel besar bisa menyebabkan kdk dalam perkawinan.
Saat anak masih kecil umumnya menjadi area ibu untuk mendidik dan menjaganya. Saat anak beranjak remaja, banyak permasalahan sehubungan dengan cara mendidik anak, terutama karena kondisi remaja yang labil juga karena sang ayah mulai turun tangan.
Menurut teori psikologi, orangtua harus kompak dalam mendidik anak atau dengan kata lain konsisten. 
Kalau ayah sudah bilang jangan, si ibu seharusnya ikut mendukung. Begitu juga sebaliknya sehingga anak tidak melihat ada celah yang bisa dimanfaatkan yang pada akhirnya bisa menimbulkan pertengkaran diantara ayah dan ibu. 
Teori memang dibuat untuk kondisi sempurna. Pada prakteknya susah mendapatkan kondisi sempurna dengan grade A, ya kurang-kurang dikit gpplah, A- atau B+. 
Salah satu point yang bisa membuat grade anjlok adalah jika sampai terjadi kondisi si ibu tahu segalanya tentang anak sementara si ayah tidak (ada faktor invisible yang ditutup oleh ibu, biasanya memang bagian penutup adalah ibu, mungkin karena secara naluri ibu memang siap melindungi  anak-anaknya). Nah faktor-faktor invisible inilah yang nantinya dapat menjadi katalisator atau muncul sebagai bom waktu. 
Contoh kasus:
Anak melakukan pelanggaran atau kesalahan cukup berat, misal: kecelakaan (menabrak atau ditabrak), berkelahi dengan temannya (biasanya anak laki-laki), prestasi menurun, tidak mau memakai jilbab atau berbaju ketat saat keluar rumah, backstreet-boys dengan calon yang berbeda keyakinan. dll. 
Bagaimana kita bersikap?  
Sebaiknya cukup ibu yang tahu atau ayah juga harus tahu?
Aku memilih ayah juga harus tahu (didelay hanya untuk mencari waktu yang pas untuk bicara, paling sehari-dua hari). Apa yang terjadi pada anak-anak, orangtua harus tahu, tidak ada yang harus ditutup karena khawatir ayah marah atau ibu marah. Pemahaman seperti ini harus ditransformasikan ke anak sedini mungkin. Percayalah, yang begini, lebih banyak manfaatnya dibanding mudharatnya.
Permasalahan anak-anak kalau dirating bisa menempati posisi teratas dalam konflik rumah-tangga. Sebelum terlambat, bicarakan dan sepakatilah bagaimana cara mendidik anak. Apa landasan utamanya?  
Kalau sepakat memakai landasan agama, maka terkadang kita harus bersikap otoriter, tidak bisa selalu demokratis. Kalau pake landasan  demokratis, maka kita harus berbesar hati jika suatu saat anak-anak memilih jalannya sendiri (terutama menyangkut masalah keimanan). 
Bukankah kita tidak mau sampai terjadi ironi, anaknya menikah, orangtuanya malah bercerai. Mudah-mudahan dijauhkan dari hal-hal yang demikian.
Sedikit catatan:
Orangtua yang sempurna hanya ada di text book, semua orang tua punya kekurangan begitu juga dengan anak-anaknya (sambil menulis ini aku berusaha menyakinkan diri bahwa kalimat ini  memang benar adanya soalnya aku memang gampang terintimidasi oleh "gambaran ibu yang sempurna"). 
Inget gak, pada tulisan terdahulu contoh kasus telp bergaya mukidi, pengin nitipkan bayi sebulan di rumah sakit :(
Kita (terutama, aku si ibu) juga contoh sempurna kegagalan bersikap konsisten pada anak. Tapi alhamdulillah, anak-anak tahu si ibu tidak pernah bisa diajak berkongsi menyembunyikan sesuatu dari sang ayah. 
Btw: untuk menekan rasa bersalah atas ketidaksempurnaaku maka aku cukup menyakinkan diri bahwa kelak mereka akan tahu bila semua itu terjadi karena rasa sayang seorang ibu yang tidak biasa :)   
Apa pelajaran keempat?
Upgrade your personality.
Saat menikah, anggap posisi personality kita ngepass banget di angka enam (untuk perumpamaan saja didiskripsikan sebagai angka). Seiring berjalannya waktu (baca: umur dan pengalaman) upgradelah kelevel yang lebih tinggi.  
Dalam hubungan suami/istri yang paling diutamakan adalah keterbukaan /kejujuran dalam segala hal: keuangan, perbuatan, ucapan dll.
Ada banyak contoh kasus masalah keuangan yang kerap menimbulkan konflik. Misalnya: Suami merasa si istri terlalu boros. Suami merasa istrinya tidak jujur sehubungan dengan caranya mengelola keuangan. Atau dari segi istri merasa suami yang rada pelit, tandanya gak mau kasih cash tapi selalu reimbes. Atau istri merasa suami tidak adil kalau belanja keluarga penuh limitasi tapi kalau ngasih kekeluarga besarnya no limit de-el-el. Jujur dalam masalah keuangan hukumnya mutlak, tak ada komanya. Seseorang baru dikatakan baik jika rating kelulusannya dalam uji kejujuran tentang uang, nilainya A. 
Sebagai catatan: pengalaman teman-teman yang bekerja sangat jarang merequest sesuatu pada suami. Kalau mereka pengin, mereka tak segan mengeluarkan uang pribadi, katanya risih mau minta-minta ke suami. He..he...enak bener ya suaminya, mimpinya cuman diganggu nyamuk aj, gak ada request istri yang bikin insomnia ;) 
Btw: meski kita  ibu RT, jangan segan-segan juga untuk mengeluarkan uang pribadi (tabungan) untuk membantu suami disaat yang tepat. Sebaliknya kalau sering-sering minta ganti # rugi, mereka pusing juga lho.  Coba aj buktikan :) 
Upgrade personality bisa juga dalam soal religi, misal: Kalau melihat suami sudah wira-wiri sholat lima waktu ke masjid atau istri pake jilbab syar'i maka sebaiknya pasangannya segera menyesuaikan diri. Idealnya imam duluan tapi untuk mempertebal keimanan siapapun bisa duluan.
Jangan sampai nih, si bapak ada niatan untuk ijab-qobul kali kedua dengan dalih pengin membentuk keluarga yang samara karena merasa keluarganya sekarang tidak sakinah :( 
Atau si ibu sudah anggun berjilbab syar'i, si ayah masih bergaya coolboy :(
Pelajaran kelima, 
keenam dan ...
Monggo pemirsa bisa menambahkan sendiri, tulisan diatas hanya GBHNnya saja.  
Semoga tulisan ini bisa membantu terutama bagi pasangan-pasangan muda yang akan/sedang membina rumah-tangga. Semua dari kita masih belajar menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Insyaallah...Amin YRA

See you in the next post :)