27 February 2014

Review: Pelayanan Instansi Swasta Vs Pemerintah

Pernahkah kita mendapat masalah ketika menyampaikan masalah? Hehe ini bukan iklan pegadaian yang mempromokan menyelesaikan masalah tanpa masalah. Kalau kita akan menyampaikan keluhan (terutama di bank) kita akan dipersilahkan mengambil no antrian untuk customer service terlebih dulu.  
Yang paling menjengkelkan (lebih dari masakan gosong)  tapi tetap harus dimakan (baca:dilakukan) adalah: ANTRI. Yang paling bisa ditolerir dari antri adalah HASILnya. Jadi apa boleh buat harus sabar mengantri.
Kalau kita pergi ke bank terlebih di hari Senin...Alamak, antrian sudah mengular dimulai dari jam buka bank. Karena itu wajah-wajah di bank adalah wajah-wajah bete..:( unless pegawai banknya yang diharuskan senyum up to 8 hours.
Sehubungan dengan pelayanan, kayaknya gak ada yang ngalahin BCA deh...apalagi sekarang BCA tengah gencar-gencarnya berbenah dalam meningkatkan pelayanannya ke pelanggan. Aku sih paling senang ke BCA Darmo (pusat), dibanding dengan cabang, BCA pusat pelayanannya lebih cepat dan sigap karena petugasnya lebih banyak. Begitu datang kita langsung disambut sapaan, diambilin no antrian, dipersilahkan duduk de-el-el pokoknya keren banget deh. Beda banget ma BCA yang dulu...hehe soalnya pernah punya pengalaman buruk. Saat itu (old BCA) mungkin kerasa one man show, gak punya saingan. Untuk problem solving semisal: atm tertelan, didebet uang gak keluar tapi saldo terkoreksi, alhamdulillah dapat terselesaikan cuman yang rada mengganjal adalah: lamanya nunggu antrian orang yang lagi ganti buku. Kayaknya semua bank punya prosedur a-z deh dalam hal ini, nunggunya lama banget....(hampir semua bank, kecuali layanan di BCA Darmo yang oke semuanya).
Update: Nih fasilitas terayar di BCA darmo (ck...ck...:)
Selanjutnya pengalaman dengan pelayanan customer service Xl,  friendly banget, helpfull but don't have a problem solving skills alias hanya menampung keluhan tanpa ada solusi penyelesaian masalahnya. Sudah tiga kali datang, keluhan hanya dicatat-catat saja tapi problem solvingnya gak ada, hiks...:(
Kemarin sewaktu nulis ini, entah kebetulan or gak, cust service xl telpon menanyakan apakah masalahnya sudah terselesaikan. Bak gayung bersambut, aku langsung bilang beluuuummm. Dan untuk keempat kalinya datang ke xl...plong masalah selesai. Ternyata sepele saja penyelesaiannya, mungkin karena itu jadi terlewatkan. Tapi karena sudah empat kali datang baru terselesaikan jadi ketika ada sms survey, aku lebih memilih angka 4 untuk menunjukkan kepuasaan dibanding angka 5 (sangat puas).



Pengalaman ketiga dengan Imigrasi. OhhhhMyGod....!
Di era perubahan, kantor-kantor pemerintah tidak mau kalah dengan swasta dalam memberikan pelayanan. Coba tengok apa yang dilakukan PT KAI dengan telpon 121, apa yang dilakukan telkom dengan quickly service dan pesan "Jangan memberikan tip dalam bentuk apapun ke petugas kami", apa yang dilakukan PDAM dengan telpon 123. Dan apa yang dilakukan kantor Imigrasi...? Ketika memasuki kantor imigrasi kita akan disambut spanduk besar bertuliskan "daerah bebas calo". Spanduk-spanduk yang bertebaran di area kantor imigrasi mengindikasikan kantor inipun tak luput dari perbaikan pelayanan. Benarkah...? Biasanya untuk pembuatan atau perpanjangan paspor, agar tidak repot, aku serahkan aja ma biro travel. Tapi karena tergiur ajakan teman, katanya sekarang perpanjangan paspor hanya dua kali kedatangan saja (kedatangan pertama ambil berkas dan melengkapi, kedatangan kedua antri foto dan pasporpun segera diproses) akupun mencoba mengurus sendiri. Alamak...tempat parkir penuh sesak. Ketika masuk bertemu petugas informasi untuk ambil berkas, petugasnya nampak bete, apalagi aku nanya-nanya terus (gak mau rugi, sudah datang jauh-jauh jangan sampai bolak-balik gara-gara info yang kurang atau salah). Pas kebetulan ada survey dari mahasiswa UNAIR (lupa jurusan apa...) tentang pelayanan di kantor imigrasi. Ya aku jawab aja, cukup informatif (spanduknya aj kaleee...:) kurang friendly and tidak helpfull. Bedanya jauhhhhh bangeeeeeet ma yang dua diatas. Setelah ambil berkas, aku datang yang kedua kalinya, e...ketika aku tanya di bag informasi, dimana mengambil no antrian  ( hehe... dasar aku tuh orangnya praktis alias gak mau repot, lebih suka nanya daripada harus cari-cari sendiri:) Ternyata...Aku kesiangan (sekitar jam: 11.00an aku kesana, waktu mau berangkat memang sudah gambling antara berhasil atau tidak tapi nothing to loose, dicoba aj) Kata petugasnya (beda dengan yang kemarin tapi betenya masih sama, kayaknya semua petugas imigrasi bagian depan bete semua deh, sampai-sampai aku minta ijin dulu, "Nanya-nanya gak boleh tha pak?" Petugas yang kerasa kesindir gak menjawab tapi bahasa tubuhnya langsung dibenahi). Katanya, pertama yang harus dilakukan adalah mengambil no antrian pagi-pagi sekali dan katanya lagi no antrian sudah habis dari jam: 07.00 Ck...ck...ck...geleng-geleng kepala. Nyerah deh....pulang kerumah langsung ikut saran teman untuk mendaftar online. Dicoba...coba lagi... lagi...coba...lagi...lagi...gak berhasil. Gak ada keterangan apa-apa tapi gak bisa tembus. Mulai ask for help...minta tolong adik ipar untuk daftarkan online...gak berhasil juga meski sudah tiga hari bertururt-turut...:( Nyerah deh...Minta tolong agen perjalanan aja, khan bukan calo...jadi legal..;) Memang kriterianya calo itu apaan sih? Sebenarnya terobosan imigrasi dengan layanan online ini seperti SIM drive thru (yang ini punya pengalaman bagus), idenya brilliant tapi pelaksanaannya, gak janji yaaaa. Imigrasi...Oh imigrasi, riwayatmu dulu hingga kini...
Berhubungan ma birokrasi kayaknya membuat banyak orang tiba-tiba mendadak alergi, mulai dari mengurus ktp, kk, akte, apalagi masalah pajak de-el-el. Ampun..!
Sebenarnya birokrasi itu dibuat untuk mempermudah. Disetiap kemudahan selalu ada celah untuk berbuat salah dan untuk mengantisipasinya maka ditutuplah celah tersebut dengan peraturan-peraturan yang pada akhirnya bagai pedang bermata dua, satu untuk pencegahan dan satunya lagi malah mempersulit...hiks 
Sehubungan dengan pajak, ada kisah sedih tentangnya. ceritanya bermula dari beli rumah di daerah Songgokerto, Batu, jatim. Semua urusan sudah aman ditangani notaris, tinggal masalah PBB aja yang mengganjal. Di PBB tertera luas rumah lebih besar dari aslinya sehingga kita harus bayar PBB lebih besar dari seharusnya dan ternyata ketambahan lagi harus bayar tunggakan PBB pemilik rumah lama selama empat tahun...:( Padahal pembelian rumahnya di tahun 2013, tunggakan pajaknya di tahun 1998-2002. Urus punya urus sampailah aku didepan kepala dinas pendapatan daerah (orangnya ramah dan baik but still dont have idea for solving our problem). Bincang-berbincang, e...kepala dinasnya cerita, katanya kota Batu harus memenuhi target pajak sebesar berapa M gitu... dan karenanya beban itu dikenakan pada pembeli rumah. Alamak...tepok jidat dua kali....Gak habis pikir, Gimana bisa ada tunggakan PBB? Bukankah seharusnya setiap bayar PBB, bila ada tunggakan akan langsung tertera di komputer dan langsung ngeblok tak bisa bayar tahun ini sebelum dilunasi lebih dulu tunggakannya. Tapi ternyata komputer milik Dinas Pendapatan Daerah di Batu ini masih jadul kale. Jadilah kita yang ketiban sampur...So be carefull..!
Judulnya kalau melawan birokrasi pemerintah lebih baik sabarrr aja, percuma gak mungkin menang kecuali kalau berniat eksodus atau sanggup ribet mpe kasasi-kasasi segala (duh jangan sampai deh, masih mau hidup tenang dan damai...:)

SEE YOU on The next Post. Salam Hangat...:D

11 February 2014

Review : Jalan-Jalan ke Solo ( review: Hotel Novotel dan Amarello)

Ketika mendengar kata Solo, pikiran kita langsung tertuju ke batik. Bagi yang suka shopping batik, jalan-jalan ke Pasar Klewer, Pasar Beteng dan PGS pasti sangat mengasyikkan. Kali ini perjalananku ke Solo entah yang keberapa kalinya. Dan yang mengasyikkan, tujuan perjalanannya, menghadiri undangan perkawinan saudara (bayangin akan ketemu banyak kerabat wah bakal seru kisah nostalgia) dan naik kereta...:). Memang lebih menyenangkan melakukan perjalanan dengan kereta dibanding pesawat, jarang delay, lebih nyantai dan tetap bisa browsing..;) 
Kali ini pergi berdua with Mom...
Suasana menunggu kereta Sancaka di stasiun Gubeng. Surabaya.

Di dalam taxi menuju Hotel Novotel, Jl. Slamet Riyadi No 272 Solo. dibelakangnya adalah: stasiun Solo Balapan.
Keluar dari stasiun kita sudah disambut tawaran beraneka taxi. Mereka menawarkan rp: 30 rb nyampe di tempat. Padahal kalau pake taxi, ke satu tujuan di Solo, hanya kena tarif minimal rp: 20 rb. Selain kotanya kecil juga bebas macet, paling tidak tiga hari klinong-klinong di Solo gak pernah ketemu macet.
Sebelum masuk kamar, mejeng dulu ah...

Ini penampakan kamarnya:
Ini kamar mandinya:

Untuk kamar semuanya oke, sementara untuk kamar mandinya, ehm...sebenarnya sudah oke juga karena ada dua shower. Yang satu tempel, yang lebih kecil, shower gerak. Masalahnya adalah: tidak ada petunjuk di sekitar knobnya, mana yang untuk shower tempel, mana yang untuk shower gerak. Jadi begitu knob diputar, mengalirlah air dari shower tempel. Byuuuur....basah deh semua, padahal niatnya cuman mau membasuh kaki untuk wudhu. 
Hehehe ternyata mama dan adikku dikamar sebelah juga kena guyur padahal sudah diperingati sebelumnya, "Hati-hati muter knobnya..."
Ternyata Novotel sangat memperhatikan kepuasan tamu-tamunya. Begitu pulang, aku langsung mendapat angket by email tentang customer satisfaction. Nih jawaban atas keluhan yang aku tulis diangket. Angkat topi deh buat Manajemen Novotel Solo.

   Foto-foto di ruang makan


Makanannya cukup bervariasi, sayang tidak ada menu ikan...:(


Area kolam renangnya nampak asri, diapit oleh hotel yang masih satu naungan manajemen dengan group Accor, yaitu: Hotel Novotel dan hotel Ibis disebelah kiri. Hotel Riyadi (?) letaknya terpisah, nampak sebagai latar-belakang.
Selama tinggal di Solo, oke juga menginap di Novotel karena pelayanannya yang ramah, fasilitasnya oke juga letaknya yang ditengah kota. Bandingkan ma Lor-In Solo, yang meski hotelnya buaguss tapi letaknya jauh dipinggir kota (lebih kurang 45 menit menuju kota tapi dekat dengan bandara).
Ada acara apa di Solo?
Undangan kawinan saudara (akan ditulis lengkap perkawinan adat arab, ditunggu ya...) Kebetulan mempelai perempuan masih sepupu dengan mempelai pria jadi undangan yang hadir sebagian besar dipenuhi oleh kerabat. Ada yang dari Pasuruan, Bangil, Malang, Surabaya, Pekalongan, Jakarta bahkan sampai Abu dhabi dan Riyadh, KSA (asal ibu mempelai perempuan). Jadinya semacam reuni akbar...:)


Salah-satua kerabat dari Jakarta.
Kembali ke review Hotel, kali ini Hotel Amarelo. Ada beberapa  kerabat yang menginap disini jadi sekalian aja aku review hotelnya.
Ini penampakan luarnya:
Ruang lobby:
Ruang makan ada dilantai 5 (paling atas) dan untuk tamu luar agak susah  naik langsung menuju kamar karena harus pake card.
Ini penampakan kamarnya:
 Hehehe gak bisa foto  room only soalnya selalu dikerubuti.
Hotel ini letaknya strategis, didepan Matahari Mall, gak jauh juga dari Novotel, pake taxi, argo berhenti di harga Rp: 8000 sahaja. Ukuran kamar dan kamar-mandinya memang lebih kecil dari Novotel, klasnya juga beda. Ini dikisaran hotel bintang tiga sedang Novotel bintang empat (tarifnya dikisaran IDR: 350 K, include breakfast). Aturan kamar-mandinya juga oke (dasar kamar-mandi mania, pertimbangan pertama pilih hotel, pasti dilihat kamar-mandinya, maklum sudah lama jadi freelancer pengamat sekaligus penasehat kamar-mandi...:).Yang membuat perbedaan adalah fasilitas tambahan seperti: free antar-jemput ke bandara, dan free pijat selama sepuluh menit untuk satu orang tiap booking satu kamar. Woww...boleh juga tuh.
Apa saja souvenir atau buah tangan yang bisa didapat di Solo?
Serundeng dan abon manis Mesran Solo. Rasanya enak banget. Nih alamat lengkapnya: Toko Oleh-Oleh Pak Mesran. Jalan Kalilarangan no.71 Solo. Telp. 0271-647033/9167205. Harganya untuk abon satu pak rp: 34.500 dan untuk serundeng rp: 9000.00
Ada juga roti dan kue-kue di Amira bakery, alamatnya di Jl Bogowonto 39 Solo. Di daerah Pasar Kliwon. Enak banget roti-rotinya (terutama roti bolunya) Harganya juga lumayan murah, berkisar rp: 20 rban (lupa pastinya karena belinya banyak, satu kotak pas buat oleh-oleh. Maaf lupa di foto...keburu habis...:)
Tapi ini ada gambarnya, salah-satu jenis roti favourite, ngambil dari blog phe:
 
Selama di Solo, kita makan-makan di Orange cafe, alamatnya: Jl. Cendrawasih H-11 Solo Selatan/Solo Baru. Menunya ala italia n Mexican. Rasanya lumayan juga hanya saja menu nasinya hanya satu, menu yang lain kurang mengenyangkan untuk orang yang habis klinong-klinong seharian di pasar-pasar di Solo. Namanya juga cafe...:)
Setelah acara selesai tibalah waktu pulang, dengan naik Sancaka kelas bisnis (kehabisan tiket yang kelas eksekutif). Ternyata kelas bisnis enak juga hanya saja kalau melihat perbedaan antara kelas bisnis (rp: 130 rb) dan eksekutif (rp: 160 rb) yang hanya rp: 30 rb, mending ambil kelas eksekutif deh. Selain beda fasilitas (tempat duduknya dengan sandaran tegak, ruang untuk kaki selonjor juga kurang luas) yang paling melas dikelas bisnis adalah tidak didatangi porlap (porter lapangan). Duh...mana bawaan barangnya setumpuk lagi :(

 Tempat koper terbuka, rawan kejatuhan barang...:)
Akhirnya Home Sweet Home.
See you in the next trip...

05 February 2014

Seandainya saja saya jadi First lady...


Ilustrasi Sakitnya bersalin!

Tubuh manusia hanya bisa tahan sampai 45 del (unit) rasa sakit. Tapi saat seorang ibu melahirkan, tubuhnya merasakan sampai 57 del (unit) rasa sakit. Ini sama dengan merasakan ada 20 tulang yang patah disaat bersamaan. Subhanallah...!!!


Duh...Ketika membaca berita-berita tentang pelecehan perempuan, mulai dari camat, bupati  walikota, kdrt artis, pemerkosaan de-el-el...saya jadi gak tahan pengin nulis ini. Terutama ditujukan yang menjadi pejabat publik.

Seandainya saja... seandainya saja, saya adalah first lady (istri dari pejabat publik tapi tidak mengurangi rasa syukur saya meski suami saya bukan pejabat publik) saya akan mengawal sendiri proses pengadilan untuk menghukum para pecundang seperti ini. Seorang pejabat publik seharusnya adalah seorang pemimpin, seorang yang punya kapabilitas untuk mempunyai pengikut. Dan pastilah harus orang baik-baik yang terpilih. Jika ada pejabat publik yang karena secuil jabatannya menyebabkan dia sewenang-wenang terhadap makhluk hidup terutama yang berjenis kelamin perempuan, harusnya orang seperti ini langsung mendapatkan hukuman awalnya, yaitu: dicopot dari jabatannya atau dikebiri kekuasaannya biar dia punya waktu untuk merenung. Didunia yang beradab ini sudah tidak ada lagi tempat bagi orang yang sewenang-wenang terhadap perempuan yang notabene pembuat peradaban.

Itu bupati, walikota, mentri de-el-el khan lahir dari rahim seorang ibu...?
Sadar-gak sih mereka itu kalau melahirkan itu mempertaruhkan nyawa...? Terus kira-kira apa ada ibu didunia ini yang rela anaknya dilecehkan seperti itu?
Pastinya jangan heran kalau tindakan sewenang-wenang terhadap perempuan akan memicu gelombang protes dari ratusaan, ribuan atau bahkan jutaan perempuan. Gerakan ini harusnya selalu ada manakala kasus ketidakadilan terhadap perempuan mencuat. Alangkah baiknya disetiap surat kabar lokal tersedia kolom untuk melaporkan adanya ketdiakadilan terhadap perempuan. Dan setiap tingkatan first lady, mulai dari first lady lurah, camat, bupati de-el-el mengambil peran yang nyata untuk mendedikasikan perannya membela perempuan. 
Sebagai contoh yang baik, bukan lagi first lady tapi walikota surabaya, bu Risma mengambil tindakan nyata untuk memerangi traffcking diwilayahnya dan terbukti beliau terpilih sebagai walikota teladan. Siapapun dia, jika pemimpin itu menjaga harkat dan martabat perempuan, dia adalah pemimpin yang baik begitu juga sebaliknya.  Ingatlah  kebenaran akan menemukan jalannya sendiri jadi tidak perlu digembar-gemborkan.
So...

Ada tugas moral untuk media karena media mempunyai kekuatan untuk menggalang opini dan melakukan tindakan nyata.  Ini juga selaras dengan sebaris pepatah bijak yang mengatakan : Kejahatan terjadi ketika orang-orang baik berhenti bertindak. Menggalang opini untuk menggalang solidaritas adalah sebuah tindakan baik yang nyata untuk menghukum para pecundang...!
Ada tugas moral untuk para first lady:
Ada pepatah klasik yang sangat populer: disetiap kekuatan laki-laki selalu ada peran perempuan. Entah itu perempuan didalam lingkaran atau perempuan diluar lingkaran. Siapapun anda, jika anda memegang peran tersebut sebaiknya anda bersyukur dan wujudkanlah rasa syukur itu dengan berbuat baik terhadap sesama terlebih terhadap sesama perempuan. Bukannya salting, dengan pamer kekuatan sana-sini atau sibuk membantu menyanggah suatu perbuatan yang hanya pelaku, korban dan Tuhan yang tahu.  
Perempuan...Oh perempuan...! Terkadang, kejahatan terhadap seorang perempuan terjadi  karena didukung oleh seorang perempuan yang lain.
Sosok perempuan itu bisa invisible atau visible...! Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang dholim.
Note: tulisan ini pernah dimuat di rubrik Perempuan Bercerita Jawa pos, edisi: Januari 2013