18 January 2015

Bahagia Itu Sederhana...

Peran menentukan kebahagian seseorang. Mengapa? 
Karena peran berkaitan dengan hak dan kewajiban. Seseorang yang berlaku sesuai perannya, berarti dia sudah menunaikan hak dan kewajibannya sebagai pribadi. Sementara bahagia itu artinya: suatu kondisi yang menyenangkan atau menentramkan. Kalau digabungkan dan diartikan secara bebas maka terbentuklah kalimat ini,  orang yang berhasil menjalankan perannya adalah orang yang berbahagia. Sesederhana itu. Pengertian bahagia menjadi complicated karena penafsiran hak dan kewajiban yang kabur. Ada yang menuntut hak tinggi tapi kewajiban yang dijalankan rendah. Begitu sebaliknya sehingga menimbulkan kekaburan peran.  Setuju? 

Anak-anak adalah contoh paling tepat dari statement, bahagia itu sederhana. 

Tulisan ini tidak khusus dibuat untuk membahas anak-anak dan permasalahannya but sebagai tanda simpati untuk berita terhangat minggu ini, Bripda Taufik. Membaca judul tentang seorang polisi yang hidup disebuah tempat yang tidak layak, sebenarnya tidak terlalu menyentuh (karena hidup tidak layak masih banyak bertebaran diseantero negeri ini) tapi ketika berita itu dihubungkan dengan bagaimana si bripda melakukannya sebagai pertanggung jawaban terhadap keluarganya, berita ini mengundang simpati. Terlebih saat bripda Taufik difoto dengan kedua adiknya yang masih kecil (duh terharu sekali...)
Bahagia itu sederhana
Tampak dalam foto, si bripda begitu sayang sama kedua adiknya yang beda usia terpaut jauh. Si bripda bukan saja menjalankan perannya sebagai anak tapi juga merangkap sebagai orangtua bagi kedua adiknya dan penanggung-jawab bagi keluarganya (terjadi kekaburan peran tapi koq kelihatan bahagia ya, makanya tuh statement diatas rada kacau, siapa yang sudah setuju duluan). 
Bahagia itu kedamaian hati. Bahagia lebih tepatnya ditentukan oleh usahanya sendiri. Berperan apa saja, seseorang bisa berbahagia asal dia mau bahagia (baca: bersyukur). Sesederhana itu? Ya bagi orang yang mau bersyukur, bagi yang susah bersyukur, semuanya tampak complicated.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim ayat 7)
Dalam ayat lain Allah Swt berfirman “Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml ayat 40)
Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278)
Bagaimana dengan si Bripda? 
Insyaallah dia menjadi contoh yang paling baik dari seseorang yang bersyukur.
Menurutku (bener-bener pendapat pribadi lho) kalau si Bripda berada ditangan yang tepat, berjalan dijalur lurus dan tetap rendah hati, dia akan tumbuh menjadi salah-satu orang yang cemerlang. Mengapa? Banyak orang yang sukses mempunyai kehidupan yang keras sebelumnya yang akan menempa kepribadiannya menjadi sosok yang tidak takut akan kesulitan atau kegagalan. Dan ini adalah salah-satu kunci sukses kehidupan. Kunci yang lain, meningkatkan ketakwaan.
Btw: tampak si Bripda sangat menyayangi kedua adiknya, apakah nanti kedua adiknya akan menyayanginya di saat si kakak sudah menua?  
Seharusnya begitu...!!!

15 January 2015

Warisan Pembelajaran...

Sadarkah kita ada bagian dari yang kita ajarkan ke anak-anak adalah hasil dari pembelajaran menurun (warisan) orangtua? Tidak selalu menyangkut hal besar seperti norma atau nilai-nilai kehidupan yang sangat bermanfaat, tapi juga merasuki a little things, for example: kebiasaan. Ada satu kebiasaan yang membuat aku mengerti kenapa aku tidak pernah menyukai telor rebus. Pada saat lampau dikala kecil, kalau ada anak yang sakit maka mom mengharuskan  kita menghabiskan waktu seharian dikamar, berbungkus selimut, minum teh panas dan makan telur rebus dengan kuning yang masih meleleh, setengah matang. Ohhh...
Atau saat abi (panggilan untuk ayah), mengantarkanku kuliah di hari pertama, nasehat yang selalu kuingat adalah: jangan pernah menerima permen (saat itu lagi marak permen bius) dari teman laki-laki. Ohh...
Dua contoh diatas sepertinya ajaran yang over tapi daripada berbuntut panjang, aku terpaksa menurut. Believe it or not, oops I did it...!!! Again.
 
Sewaktu Sirin masih berumur dua tahun, berbekal ide warisan yang telah dikreasikan, aku mencampurkan telur setengah matang ke botol susunya. Sirin yang terbiasa dengan susu  kedelai (yang mungkin rasanya lebih gak enak) meminumnya tanpa protes. Warisan pembelajaran ini terpaksa kuhentikan ketika putri sulungku menderita alergi yang lumayan parah. Dari anamnesa, dokterpun tahu apa yang kulakukan. Dengan geleng-geleng kepala sang dokter bertanya "Ibu dapat ide darimana mencampurkan susu dengan telor setengah matang?" 
Bila ada dalam persidangan maka terdakwanya adalah Mom... ;)
Masih dengan korban yang sama (sepertinya syndroma anak pertama) ketika melepas Sirin tinggal di kos, aku wanti-wanti menasehatinya panjang-lebar tentang keselamatan. Salah-satunya ya soal permen warisan itu. Mau tahu jawaban putri sulung? "Aduh... mama koq lebay banget sih...memangnya Sirin anak kecil !''
Aku hanya bisa berdehem-dehem...Bener juga ya, sayang waktu itu aku hanya diam saja. Coba dijawab, bisa gak pernah kuliah...!
Selain kedua hal sepele diatas, warisan pembelajaran juga menjadi alibi kenapa aku tidak pernah bisa bersikap konsisten. 
Untuk urusan konsisten, bersikap aj susah apalagi mendidik. Saat melakukan kesalahan, abi tidak pernah bisa menghukumku lebih dari satu jam. Setelah itu, keadaan berbalik, aku yang semula pesakitan, menjelma seketika menjadi penuntut, meminta sejumlah hadiah penebus. Aku pandai bermain memanfaatkan rasa bersalah abi yang sudah menghukum anak kecil imut berusia sepuluh tahun...! 
Untuk kedua putriku, mereka sudah hapal. Habis marah, tidak sampai setengah jam (bukan saja ajarannya yang ditop up tapi waktunya juga, oops...) aku akan mengentuk pintu kamar dan seditik kemudian tampak kedua putriku saling berpandangan dan mengerling...then, too much hug & kiss. Suami sering mengingatkan panjang-lebar tentang keburukan inkonsistensi Tapi...masuk telinga kanan-lolos lagi ditelinga kiri. Aku hanya berharap suatu saat kedua putriku itu menyadari ditengah ketidakkonsistenan ibunya bersikap, ditengah kemarahan dan pelukan, ada kasih  sepanjang jalan dan cinta ibu tanpa syarat untuk mereka.  
Tak cukup hanya berharap, sebagai orangtua, aku juga menambah segala kebaikan untuk mereka melalui doa-doa disepertiga malam. Semoga mereka menjadi anak yang sholehah dan pribadi yang kuat. Dengan doaku, aku berharap Allah SWT, melemahkan semua keburukan dalam caraku mendidik anak dan menggantikannya dengan semua kebaikan. Amin YRA.
Dan pesan khusus untuk kedua putriku,  semoga warisan pembelajaran ini tidak dibiarkan menetes turun-temurun, cukup hanya sampai di ibu dan anak saja. 
Dan terdakwa untuk sikap inkonsistensi adalah: abi... ;)
Bagaimana dengan anda...?
See you in next topic...

08 January 2015

Jalan-jalan ke KL & Singapore (part:2)

Travelling berdua beda iramanya dengan travelling bareng anak-anak. Kalau travelling berdua hampir dapat dipastikan sesuai jadwal keinginan dan kebutuhan tapi bila bersama anak-anak, agenda yang dibuat 50% terpenuhi sudah bagus. Penyebabnya tentu saja, beda fokus...;). Si ibu fokusnya gak mau rugi, on track sementara anak-anak kalau capek, maunya stay di kamar (whew...).
Tg: 23 des kita menuju Sing pake Malindo air. Sebenarnya ada tiga alternatif perjalanan darat, pake bus, sewa van atau kereta (tiket sebaiknya beli online). Tapi setelah diperhitungkan dengan cermat, kita memilih pake jalur udara. Maklum bawa mama, khawatir capek, khan ada jeda antara saat sampai Sing dengan waktu chek in hotelnya. Koper memang bisa ditaruh di concierge, istirahatnya yang bingung karena chek in hotel baru jam: 12.00 sementara by bus atau kereta nyampenya sekitar jam: 05.00. 
Keluar dari Changi airport (jangan lupa cari kartu telpon Sing atau bisa juga cari di gerai seven eleven) kita langsung naik MRT menuju Swissotel The Stamford. Uh...hotelnya koq beda ya dengan di gambar.
Ini khan gambarnya pada malam hari, kita nyampenya siang. Saat malam hari ternyata persis ma gambarnya.

Ditambah lagi saat chek in, agak ribet karena awalnya namaku tidak ditemukan dalam daftar tamu hari ini, terpaksa bongkar koper yang sudah di wrap untuk mencari bukti kwitansi dari travel (kata suami, yang salah bukan petugasnya, tapi salah sendiri kenapa ditaruhnya didalam koper bukan di handbag (gleg...) Setelah menunggu dua puluh menit baru bisa masuk kamar dan...ampun, closed bermasalah. Duh bete banget ma nih hotel. Tapi semua masalah beres dengan cepat dan esoknya baru nyadar, hotel ini sangat recomended bangeeetttt. Apalagi hotel ini juga menjadi jujugan maskapai Emirates. Sayang seribu sayang tidak free wifi. Hanya ini bisa diatasi jika kita jadi membernya, gratis untuk jadi member. 
Satu lagi keistimewaan Swissotel The Stamford yang membuat hotel ini berbeda:
(hehe mirip villa dleyla ya, kalau villa dleyla judulnya: dreamy bed sheets: A La Carte sleeping ;)
Buat pengalaman juga, kalau ke Sing gak harus pilih hotel daerah Orchard (sampai migrain ngeliat tarif hotel di Orchard di bulan desember, hotel sebelumnya Grand Park n Mandarin gak terjangkau deh, tarifnya melambung ke awan) daerah dimanapun yang satu area ma MRT maka tempatnya strategis kemana-mana)
Saat mencari makan, saat dimulai berpetualang di negeri merlion ini. Karena dibawah hotel ada pertokoan, langsung saja kita menuju foodcourtnya. Alamak...semua tidak ada lisensi halal...pasti hubby kagak mau makan nih. Suami memang paling ati-ati soal makanan halal. Saat di Eropah, kita makannya atun (tuna) melulu. Waktu ke HK, malah lebih ribet lagi, kita bawa rice cooker mini plus sembako (beras, mie instan, telur beli disupermarket sekitar). Makan ice cream, coklat atau permen harus diterjemahkan dulu ingrediantnya...untuk kehati-hatian mending gak usah aja deh padahal aslinya pengin banget ngerasain ice cream, sipenggoda diet.Tapi bener juga sih, makanan halal sangat berpengaruh terhadap keberkahan hidup, kudu ati-ati banget.Untung saja ada ibu-ibu berjilbab di sebuah resto masakan Thai. Setelah myhubby melakukan investigasi singkat untuk menyakinkan makanan halal, makanlah kita disana. Ternyata label halal tidak ada bukan berarti masakannya tidak halal tapi karena resto itu juga menjual minuman keras. Oh gitu tho... 
Pengalaman hari pertama, makan dengan tarif sejuta dollar (yang pertama!) alias selangit. Ya sudahlah gpp, asal selamat dan halal. Esoknya setelah kita mengitari sekitar hotel barulah ngeh disebelah hotel persis ada MCDonald. Oh...senangnya hatiku, paling tidak kalau kepepet kelaperan bisa makan burger. 
Breakfast di hotel ini juga istimewa, apa saja yang tersedia.
Saking lengkapnya menu sampai bingung mau milih makan apa. Nasi ada berbagai jenis (japan rice, fried rice, yellow rice, etc), bubur ada, mie ada, kue-kuenya juga beraneka. Yang detil ada juga penganan yang gluten free, siplah. Seperti biasa yang paling aman, makan ikan...i love fish..;)
Yang keren lagi, kelebihan breakfast satu orang  FREE Lho...


Berfoto di area pertokoan Raflfles City yang gabung dengan Swissotel Hotel
Di Sing, tujuan jalan-jalannya lebih beragam dibanding di Malay but I still prefer Malay than Sing, soalnya di Malay lebih murah belanjanya...:) Ketika anak-anak diamankan di USS dan pulau Sentosa (Sirin, si putri sulung anaknya pede banget ma Sing so dia yang mengawal adiknya selama disana) kita melalangbuana di Orchard plus IKEA. Karena lagi hangat berita penipuan turis di Singapore, kita jadi alergi ma Lucky Plaza, padahal sebelumnya LP menjadi semacam tujuan wisata untuk membeli parfum murah-meriah, lumayan untuk oleh-oleh :)
Menuju IKEA, bukannya mudah karena transportasinya harus berpindah ke bus dan letaknya lumayan jauh. Sesampainya disana, ternyata oh ternyata...mirip-mirip Informalah. Seperti biasa, disana aku hunting barang belah-pecah n lampu. Setelah berpusing-pusing, aku naksir satu lampu yang sayang-disayang, setelah diukur-ukur gak bisa masuk di tas kabin. Oh...*tear* tetapi mom berhasil mendapatkan piring satu lusin berbahan tempered glass...(kita saling mengedipkan mata, minta persetujuan hubby bisa gak packingnya, ternyata bisa lho...!) 
 Nyampe juga ke IKEA
naksir lampu ini, bagai kasih tak sampai..:(
Oh ya satu tip dari teman yang sangat berguna, kalau pergi ke LN, jangan lupa bawa tas dua roda yang bisa untuk ngangkut belanjaan.
Lumayan sangat berguna, apalagi kalau berniat membeli pernak-pernik dapur daripada tenteng2 tangan selain resiko pecah juga beratlah...
Juga jangan lupa selalu membawa payung. Prediksinya tidak hujan tapi ternyata hujan (desember gitu lho) Mending beli payung n selalu dibawa, ribet sedikit gpplah daripada tiap jalan beli payung, jadilah kolektor payung Sing, seperti kita :(
Tret..tret selanjutnya menuju Clarke Quay...(makan sejuta dollar part: 2)
Diam-diam ternyata Sirin, si putri sulung punya agenda terselubung selama di Sing. Agendanya lebih detil dibanding punya ibunya. Oh...Jadilah selama di Sing, kita mengikuti tour deSirin ;)
Acara selanjutnya dinner di Clarke Quay. Kita belum pernah kesana so waktu diajak putri sulung melihat CQ, seneng juga pemandangan dimalam hari sangat attraktif. Langsung saja kita berfoto-foto ria galeria.

 Swissotel The Stamford CQ
Tibalah saat perut memanggil, putar kanan-kiri, lirik sana-sini, sepertinya...Alamak hubby mengeluarkan travel warning, dilarang makan. Sirin tidak kurang akal, diajaklah kita ke resto bernuansa Midle East tapi sayang menunya gak cocok jadilah kita berputar balik. Tidak menyerah, Sirin mengajak kita ke resto Bayang, Indonesia cuisine.
Makanannya enak sih dengan nuansa balinese but tarifnya selangit...
Selanjutnya tour deSirin, lanjut menuju ke permainan ekstrem...sebelumnya Sirin ke Sing bersama teman-temannya, dia main games ini tapi bersama kami, gak bakalan ijin permit keluar. Gak deh, punya jantung cuman satu koq diajak uji nyali :(
Ekspresi Sirin yang bete ketika dilarang naik permainan ekstrem :(
Malam itu kita balik hotel jam: 23.00, capek sekali...
Esoknya kita mengunjungi Singapore Flyer, Marina Bay Sands (MBS) dan Garden by the Bay (ini wajib sekali dikunjungi, bagus bangett...ala-ala Avatar gitu). Sayang karena cuaca tidak mendukung, akhirnya gak bisa berfoto-foto ria.
Foto-foto dari Google hampir seindah warna aslinya...Amazing Place


Siangnya sebelum ke tiga area diatas, kita mampir ke icon Singapore yang lain, Mustafa centre. Awalnya kita mengira MC itu ada di Little india atau Bugis junction, ternyata...Salah! Padahal kita sudah beberapa kali kesana sebelumnya tapi ya tetap salah tuh...Setelah muter-muter dengan membawa koper persiapan memborong coklat...akhirnya sampailah kita di area MC. Makan siang dulu ala india, lanjut masuk ke pertokoan yang penuh sesak sepanjang jaman. Satu jam tersekap didalam, kita memutuskan keluar dengan keranjang belanja yang masih sepertiga penuh. Isinya sebagian besar, Sirin's chocalate for herfriends...and sugar free chocalate for myfather. Di MC kita juga mengambil banyak cookies yang sugar free, nyari di Surabaya yang sugarfree begini agak-agak susah, rasanya juga itu-itu saja. Disini banyak variannya. meski begitu, sebagai catatan, mending beli coklat atau oleh-oleh ditempat lain deh, selain transportasi yang sulit ke MC juga crowded didalam yang bikin belanja gak nyaman...Juga nilai rupiah yang anjlok (hampir mencapai level rp: 10 rb) yang membuat barang-barang di MC gak berasa murah lagi seperti dulu. btw: Menurutku juga, Singapore bukan surga belanja murah tapi mungkin surga belanja bagi barang-barang branded. Yang disale memang barang-barang branded, misal handbag, fashion, sepatu dll tapi dasar barang branded, disale 50% harganya juga masih menggantung di awan (sebelum disale, menggantung di langit ;) so masih menurutku lagi, mending kalau ke Sing fokusnya ke berbagai tempat icon Sing yang menakjubkan dibanding belanja. Selain hemat uang, juga hemat waktu. Soalnya kalau sudah masuk pertokoan di Sing, apalagi mampir ke Vivo, Wow...lupa waktu, lupa makan n lupa diri hehe...
Yang Sephora minded, coba mensiasati dengan keluar-masuk Watson, duh seneng betul ngeliat drugstore product yang murah meriah. Disini dapet lipstik LA matte (amethyst n sugar brown, cool colour)
Catatan: untuk tas-tas koper (atau barang lain semisal: handbag yang tidak bermerk), harga di Sing memang lumayan murah. Sebuah koper roda dua, buatan Italy disale dengan harga rp: 1.2 jt. Padahal sebelum berangkat, aku sempat survey harga koper bermerk-(standart2 aj) mencapai 1,2 jt & ukurannya jauh lebih kecil.
Hari itu kita kembali ke hotel sekitar jam: 23.00 dan bersiap-siap pagi harinya balik ke KL.
Ternyata bukan saja di Indo yang terkena pesawat delay, di Malay dengan Malindo Air juga delay, tiba di KLIA2 sekitar jam: 14.00 padahal harusnya jam: 11.00. Kita menyewa van yang juga ngantar kita ke bandara sebelumnya, tarifnya R130 dengan tip jadi R150 (dari hotel GM menuju KLIA2). Disini terkena kasus karena sebetulnya tidak boleh mengambil taxi luar masuk bandara (kita sudah berusaha keluar lewat exit lantai 2 tapi tetap saja ketahuan). Masalah beres, diselesaikan oleh sopir van, amanlah kita.
Hari terakhir di KL, kita check in di Traders Hotel,KLCC. Perhitungannya sih, hari terakhir sudah stop shopping tinggal windowshopping di KLCC Suriah Mall. 
Review singkat tentang hotel Traders, Kl. Service bagus, kamarnya oke, view bagus, free wifi, breakfast top but kelebihan satu orang kena charge :(
Bicara soal belanja, hari terakhir malah dapat cangkir plus soucer 2 lusin di Parkson..! (me selusin, mom selusin ;). Setelah magrib, aku ajak mom ngeliat atraksi air mancur di area bundaran KLCC. Seneng sekali ngeliat mama takjub n berfoto-foto ria (kesenangan difoto ini menurun sampai ke aku saja, si sulung Sirin n si bungsu Rana, alergi difoto, apalagi disuruh foto narsis, ogah banget (whew...)
Gambar-gambar sesuai dengan warna aslinya


Okey, see you in next post


04 January 2015

Jalan-Jalan ke KL & Singapore (part:1)

Lama gak nulis baru nyadar kalau nulis itu seperti olahraga. Sekali aja didelay, banyak gangguan lain yang datang menyergap. Setelah vakum hampir satu bulan, rasanya pengin nulis banyaaak sekali. Tarik napas dulu...
Okey, sharing sedikit tentang acara jalan-jalan ke KL dan Singapore, liburan yang tidak direncanakan.


Sebenarnya bukan murni tidak direncanakan, hanya saja yang tidak masuk dalam list available bepergian adalah putri sulung dan her king. Alhamdulillah, akhirnya kesampean juga liburan bareng meski terbagi dalam dua kloter. kloter pertama, aku and mom berangkat tg: 19 des dan kloter kedua, dad and anak-anak berangkat tg: 20 des. Semuanya pake Air Asia (AA), tujuan Sby-KL. Bukan karena kita ngefans sama AA tapi karena gak ada pilihan lain, penerbangan jurusan Sby-KL hanya dilayani AA. Alhamdulillah perjalanan lancar. Masih di area airport, kita segera mencari kartu telpon. Ini penting banget. Mending ngantri deh daripada nyari di luaran yang gak jelas tempatnya dimana. 
Hari pertama, kita menginap di Metro In, di Kajang (foto menyusul ya, masih males upload foto, speedy lagi lemot). Ceritanya liburan ini sambil menyelam. minum air, selain berlibur juga menghadiri perkawinan sepupu yang sudah menjadi warga Malay. Acara diadakan di Perbadanan (gak tahu artinya apa tp perkiraan sih, artinya gedung, kali ya?) Putra Jaya sementara rumah penganten ada di Tasik Semenyeh. Daerah tengahnya ada di Kajang. Dari bandara, menuju Metro in, kita naik taksi (gak pake argo) sampai di hotel, dikenakan tarif R130 plus tip jadinya R150. Ternyata oh ternyata...suami memakai argo hanya kena R60. Ya gpplah itung-itung amal. Oh ya kalau bepergian jangan lupa beramal tetap lanjut ya. Salah-satu keutamaan beramal itu dapat menolak bala' (malapetaka). Selain beramal, kita juga melengkapinya dengan asuransi perjalanan, kali ini memilih Allianz, totally kena US$ 99. 
Kamar at Metro IN
Pertokoan Metro, Kajang, dibelakang Hotel
Hotel ini, cukup lumayan, setara bintang dua (atau tiga?) karena berada di area pertokoan. Kita booking lewat agoda plus breakfast. Sebenarnya makanannya lumayan enak tapi kalau telat turun, ya dapetnya seadanya. Pagi itu kami dapat kentang goreng plus nasi goreng sahaja. Esoknya kami turun lebih awal, baru bisa merasakan masakan lain-lainnya, lumayan enak. Kalau mau room only juga boleh, nasi lemak dan nasi curry bertebaran di pertokoan belakang hotel.
Dari hotel kami harus riwa-riwi kekediaman penganten perempuan karena ada acara penganten pacar. untuk dicatat, di KL(daerah lain sepertinya sama juga, asal judulnya masih sama di LN) susah sekali mencari taksi. Untung banyak sepupu yang pernah sekolah disini jadilah mereka menghubungi kenalan-kenalan untuk sewa van. Satu diantaranya, bernama: Zul, hp:+60173089600 (harga menyusul ya, harus dikonfirm dulu karena gak ikut bayar...:). Asli penduduk jakarta yang lagi ambil S3 di KL. Dia masih akan tinggal di malay sampai lima tahun kedepan so yang mau ke KL rombongan, segera aja kontak, orangnya baik banget dan amaaannn hehe namanya juga saudara setanah air.
Cantiknya penganten 

Formasi lengkap di Persebadanan Putra Jaya
Kumpul-kumpul di rumah penganten
Setelah acara penganten selesai, tg: 21des jam 15.00 kita menuju KL, tepatnya ke Hotel Grand Millenium (GM) di Bukit Bintang (BB). sebelumnya, kita ke KL menginap di Grand Royal, depan sungei wang persis. Hotelnya juga recomeded. 

 Pemandangan dari jendela kamar
Review singkat tentang hotel GM. Seperti standar hotel bintang lima, service memuaskan, cek in cepat dan pelayanan ramah. Hanya saja connecting doornya agak bermasalah, dibuka bisa ditutup agak susah. Masalah selesai dengan  perbaikan singkat. Sedikit catatan juga karena kita berlima, maka satu orang terkena charge saat breakfast (hehe pelit juga ya hotelnya ): meski kita ambil dua kamar plus breakfast). Makanannya banyak ragamnya...semua ada dan halal, asyikkk...ini yang membedakan Malay dengan negara lain. Gak pake was-was soal makanan, maklum huby and anak-anak hobynya makan melulu...:) Setelah istirahat sejenak, tarik napas dulu terus lanjut menjelajah BB. Wow...dasar ibu-ibu selalu senang melihat area BB. 
Langkah pertama menuju Sephora...
Supaya tidak mengganggu kenyamanan, anak-anak dibelokkan masuk Uniqlo :).Begitu masuk, mata tak mau berkedip rasanya seperti melihat pemandangan bawah laut di Bunaken (Ohlala khabarnya kalau bunaken sudah gak seindah warna aslinya. Yang lagi ngetrend sekarang Raja Ampat, malah belum pernah kesana (whew...). Wow, betapa indahnya, hhh...hanya ibu-ibu yang bisa merasakan medan magnit Sephora, bapak-bapak mah kebanyakan alergi. Sayang disayang,  masuk cuman lima menit, barang yang dicari gak ada. Daripada membiarkan diri terkena pusaran medan magnit mending gabung ma anak-anak deh. 
Btw: ini barang yang dicari-cari di Sephora KL tapi gak ada. Ketemunya ntar di Sephora Sing. Gara-gara nyobain sample product dari indomakeup.com, kulit wajah jadi cerah akhirnya masuklah ke daftar whislist, skincare must have.
Malam itu kita makan dengan lahap di Ayam penyet Ria, sungei Wang. Masuk hotel kembali jam: 23.00. Lumayan capeknya.
Petualangan hari kedua di Kl...
Sabar ya pemirsa...nih laptop akan segera diambil pemiliknya, bertugas ke Bojonegoro. Seperti lagi protes, disuruh kerja terus, dua laptop plus satu notebook rusak berturut-turut. Alamak...
Hallo pemirsa, Selamat pagi...
Jumpa lagi masih dengan laptop pinjaman berjangka lunak 
Lanjut...
Menginjak hari kedua, kita tidak punya acara khusus di KL. Mau ke Genting, masih begitu-begitu saja (khabarnya seluruh permainan baru akan dibuka tahun 2016), mau ke batu Chaves, My Mom belum-belum sudah menolak sewaktu disodori gambarnya saja. Mau ke Sunway Lagoon sudah pernah, jadinya...hari kedua kita masih bekutat diarea BB. 
Me and Mom dengan semangat 45 meyidak Vinci dan membongkar semua koleksi sepatu dan sunglases disana. Juga yang paling favourite, toko-toko di Sungei Wang, serasa masuk Pasar Atum di Surabaya. Bedanya, di Sungei Wang harganya pas tak pake tawar-menawar. Asyiik jadi orang seperti aku yang gak bisa nawar, gak perlu khawatir kemahalan. Sementara kita sibuk menjajah Sungei Wang, anak-anak with their King menjelajah Pavilion.
Selepas shalat magrib (di KL, magrib sekitar jam:19.00), anak-anak stay di kamar, kita bertiga lanjut ke Pavilion. Eit ternyata banyak ketemu rombongan saudara disana, jadilah kita menggelar reuni kecil-kecilan sambil berfoto ria. Khawatir Parkson tutup, aku and Mom segera bergegas. Tujuan utama, mencari oleh-oleh untuk mertua. Kadang suka bingung, dikasih apa ya? Setelah melalui perenungan yang dalam sepertinya sih, oleh-oleh terbaik untuk mertua adalah handbag dan terbukti ! Setelah yang wajib terselesaikan, giliran berikutnya, hunting peralatan rumah tangga terutama barang belah pecah ;).
Semarak Pavilion menyambut Natal
Lagi terobsesi dengan pernak-pernik rumah tangga yang bernuansa shabi. Hehehe habis kenalan ma rumah cantik shabi di jakarta terus deh racunnya melekat sampe ke hati. Untungnya, suami bersedia mengeluarkan keahliannya mem-packaging pernak-pernik belah pecah (bersyukur...).
TOBE CONTINUE
JALAN-JALAN KE SINGAPORE (part:2)

17 November 2014

review: Apakah Kita punya Sahabat?

Siapakah Sahabat itu?
Sahabat dalam pengertian yang populer adalah teman disaat suka dan duka. Teman disaat suka mungkin banyaklah tapi teman dikala duka, adakah?  Pengertian ini menjadi klise ketika hanya tertulis diatas kertas. Teman dikala duka, bermakna kita berempati terhadap kesulitan yang dihadapinya dan dengan semampu kita berusaha menolongnya. Semampu kita bermakna mengambang karena tidak ada batasan yang jelas kemampuan seseorang dalam menolong seseorang yang lain. Sebagaimana sulit membedakan keinginan dan kebutuhan, sulit juga untuk membedakan kemampuan dan ketidakmampuan dalam membantu seseorang.  Kadang diantara kita tidak ingin terlibat terlalu dalam sebuah drama keluarga karena menyangkut ranah pribadi (meski sebetulnya lakon dalam drama tersebut adalah teman terbaik atau bahkan saudara kita sendiri). Makna yang tepat semampu kita adalah: batas yang dapat membawa kebaikan pada sahabat yang ditolong dan kita sebagai pihak yang berempati.
Manakah arti sahabat menurut kita?
Ini..(no:1)
 Atau yang ini...(no:2)
 Atau yang ini...(no:3)
Apakah kita punya sahabat?
Pertanyaan ini aku lontarkan pada dato di suatu kesempatan pas lagi nonton film drama bareng (kesempatan langka karena selera film yang berbeza. Aku, seperti kebanyakan selera ibu-ibu sejuta umat, lebih senang nonton drama sementara dato lebih senang film tembak-tembakan alias action, whew...).Sambil melontarkan pertanyaan, aku juga berpikir, aku punya-gak ya? Kalau merasa punya, siapa hayoo, sebutkan, satu....dua...tiga...???
Sambil melirik dato, telingaku bersiap-siap mendengarkan siapa nama teman yang dianggapnya sebagai sahabat. Satu...dua...tiga...??? Koq diam aj sih, apa gak denger pertanyaanku, maka kuulangi lagi kalimatku sambil semakin menajamkan pendengaranku. Finally, terdengar suaranya...
"Apa yang dimaksud dengan sahabat?" katanya. 
Kembali lagi ke topik awal, iya-ya,apa yang dimaksud dengan sahabat??? Kita harus menyamakan persepsi dulu.
Kalau pengertian sahabat sekedar teman-teman minum kopi atau teman jalan bareng ngemall atau teman perkumpulan pengajian, rasanya kita sudah punya ya, bahkan beberapa. Tapi sekali lagi  kalau pengertian sahabat seperti yang baru saja kita saksikan di film, dimana kita bisa menitipkan anak, menunggui teman di rumah sakit atau menampungnya di rumah, sepertinya peran ini disini(maksudnya di Indonesia) masih dimainkan oleh saudara atau orangtua. Di belahan dunia lain, peran ini tergantikan oleh seseorang yang dipanggil best friend. Apakah kita punya? atau pertanyaan lanjutan apakah kita bersedia jadi sahabat?
Arti sahabat bagi seseorang mengalami pertumbuhan seiring dengan pertambahan usia. Saat kecil, seorang sahabat adalah teman bermain terdekat, ketika remaja, sahabat adalah teman yang masuk dalam peer groupnya. Ketika kuliah, sahabat adalah bagian dari teman curhat dan kongkow. Saat kerja dan belum menikah, sahabat adalah teman seide dan seperjuangan dalam karier dan mendapatkan pasangan. 
Saat berkeluarga, apa makna seorang sahabat? 
Sulit untuk mendapatkan arti yang tepat, apa arti sahabat bagi para ibu atau bapak. Bagi para ibu, bukankah sudah cukup menjadikan suami sebagai teman curhat sekaligus dewa penolong dan anak-anak sebagai penghibur hati? Begitu juga bagi para suami? Cukuplah istri dan anak sebagai pendukung sukses story mereka.
Jadi apakah kita masih memerlukan seorang (atau beberapa) teman baik yang bisa disebut sahabat?
So Pastilah...
Sahabat itu seperti ban serep, tidak selalu terlihat tapi sewaktu kita butuhkan dia ada (ban serep selalu ada dibagian tersembunyi dalam bagasi dan bila kita butuh kita tahu harus menemukannya dimana). Sahabat itu seperti alarm, selalu mengingatkan. Sahabat itu seperti  doa, memberi kebaikan.
Apakah kita punya teman-teman yang bisa berperan sebagai sahabat? Kulontarkan sekali lagi pertanyaan inti ke dato.
"Oh..kalau begitu, Insyaallah ada" kata-kata dato meluncur begitu saja.
Pertanyaan selanjutnya, Siapakah dia?
Ketika dato menyebut beberapa nama, diantaranya teman kerjanya, seide seperjuangan. Alhamdulillah, sebagai istri tentu kita senang mendengarnya. Tidak ada sesuatu yang lebih baik selain mendengar orang yang kita cintai berada ditempat aman bersama teman-teman terbaiknya, saling mendukung dan mengingatkan.
Dan ketika pertanyaannya dibalik, aku sudah siap dengan jawabannya.
"Alhamdulillah ada..." kataku mantab.  
Diusia madya begini, kita tidak memerlukan seorang sahabat dengan kriteria seperti no: 3 atau no: 1 tapi mungkin yang lebih tepat adalah kriteria no: 2. Nah, kalau kita sudah punya sahabat, berikutnya, apakah kita bersedia menjadi sahabat bagi teman-teman kita?
YES I WILL or YES I DO...Bagaimana dengan anda...?
SEE YOU in the next post. Minggu depan dilanjut dengan topik baru ya,  karena penulisnya mau jalan-jalan dulu...:)


04 November 2014

review:Kisah Kasih Tak Sampai...

Membaca kisah kasih Risnawati dan Rais dan melihat videonya yang mengharukan, sebagai ibu dari dua anak perempuan rasanya gimana gitu (antara tersentuh dan mencoba berempati) . Adegan Rais yang mengusap-usap kepala Risna, pelukan spontan Risna dan istri Rais yang ikut terharu melihat keduanya, rasanya seperti sedang menonton film true story (kalau pelakunya artis sih pemirsanya mungkin tidak terharu, soalnya lagi musim adegan settingan untuk menaikkan pamor artis n rating sinetron (whew...) Karena bukan sinetron itulah yang membuat kisahnya heboh. Kisah ini akan kehilangan bobot jika kemudian Rais membatalkan pernikahannya dan menikahi Risnawati, sang tambatan hati atau jika Rais menikahi Risnawati atas ijin istrinya. Wah...penonton pasti kecewa. Biarlah kisahnya seperti itu dan endingnya Risnawati menemukan laki-laki lain yang baik yang dapat menjadi imamnya dan membawa kedamaian dunia-akhirat. Amin YRA.
Apa ada yang salah dalam kisah kasih tak sampai ini?
Segala sesuatu yang belum terjadi masih bisa diusahakan hasilnya berbeda, tapi yang sudah terjadi tidak terlepas dari suratan takdir. Dalam hal ini, tidak ada yang patut disalahkan selain uang panai (mahar). Kisah kasih Risna dan Rais memang jalannya harus seperti itu sesuai dengan takdir kehidupan mereka. Uang panai hanya berperan sebagai obyek pelengkap sahaja.

Jadi bolehkah uang mahar dijadikan alasan untuk menolak lamaran sang pujaan hati? 
Eit...tunggu dulu...!!!
Sedari dulu uang mahar berpotensi menimbulkan konflik. India, mungkin bisa disebut sebagai negara yang terkenal dengan kisah-kisah tragis tentang uang mahar.  
Seberapa pentingnya peran uang mahar dalam sebuah kebahagian membangun rumah-tangga?
Pastinya sih gak ada hubungan langsung antara besarnya uang mahar dengan kebahagian yang bakal diraih dalam perkawinan (malah dalam sebuah hadis disebutkan bahwa yang paling kecil maharnya yang paling baik). Kalau hubungan tidak langsung, dihubung-hubungkan bisa saja, misalnya KDRT (korban kdrt seringnya berasal dari ketimpangan psikis- sosial-ekonomi pelaku dan korban, de-el-el) . 
Tambahan lagi, sepertinya sekarang uang mahar mengalami perluasan nilai karena diasosiasikan dengan seserahan (seperti sahabat yang gak bisa dipisahkan...(Ups...) Jadi maharnya tetap kecil tapi seserahannya harus gedhe (seperti top-up gitu) Kalau yang begini lain lagi episodenya, yang pasti judulnya: Kehormatan keluarga (cant talk...)
Ada beberapa cerita lain yang mungkin bisa dikaitkan dengan topik diatas. 
Seorang teman (anonim satu, bapak2, teman yang cuman ketemu sekali seumur hidup, mungkin dari hasil pengamatan dan analisanya) mengatakan: bila kita punya anak perempuan dan tidak cantik akan susah terutama susah dalam mencarikan jodohnya). OMG...!!! Sampai segitu pikirannya?!
Seorang teman (anonim dua masih bapak2, yang juga ketemunya sekali seumur hidup, dikesempatan yang berbeda) mengatakan: Bukan saja anak-anak muda yang terjebak dengan gaya hidup matre, orangtuapun juga. Lalu katanya, misal, kita punya dua anak perempuan, yang pertama cantik yang kedua tidak/kurang cantik. Orang tua cenderung menjadikan anak yang cantik sebagai komoditi (duh...nih orang, vulgar sekali ya). Tanpa ditanya lebih lanjut, dia menjelaskan. "Kita akan memperlakukan kedua anak ini dengan berbeda. Yang cantik akan semakin dilebih-lebihkan dengan kemudahan sementara yang tidak/kurang cantik disederhanakan". 
"Contohnya dalam pemilihan jodoh. Untuk putrinya yang cantik pasti orangtua njelimet sekali kriteria menerima calon menantunya tapi untuk putrinya yang tidak/kurang cantik, kriterianya lebih sederhana". 
Aku jadi deg-degan (kalau aku punya asma pasti sudah kena serangan...) Bener-gak sih ulasan "vulgar"si anonim dua ini? Atau ulasannya sesuai dengan hukum alam? Kalau punya "barang" bagus harganya pasti mahal tapi kalau "barang"nya kurang bagus harganya pasti lebih rendah??? 
Tapiiiiiiii khan anak perempuan kita bukan "barang"??? Anak perempuan khan anugrah & pasti cantik baca disini ya 
 Sungguh Mulia...
Aku jadi kueselllll & pegellll (coba dikatakan dengan intonasi logat jatim) Gimana sih bapak anonim dua ini??? 
Atau jangan-jangan sebenarnya nih bapak sedang menyindir ibu-ibu atau justru diri sendiri???
Cerita lain lagi, masih dari bapak-bapak, sebut saja anonim tiga. Dia mengutip sebuah cerita (kurang jelas dari hadis atau kisah nyata yang ditemuinya).
Katanya ada sebuah keluarga sederhana yang mempunyai dua anak perempuan. Yang sulung sangat cantik sementara yang bungsu, mempunyai cacat pada matanya (juling). Sementara itu si bapak mendengar saudara jauhnya sedang mencari menantu bagi anak laki-lakinya yang gagah dan tampan. Singkat cerita, si bapak  berusaha mendatangi keluarga jauhnya itu dan meminang putra mereka yang tampan & gagah untuk putri bungsunya. Tentu saja keluarga yang jauh itu bertanya-tanya. Mengapa justru untuk putri bungsunya, bukan untuk putrinya yang sulung? Bukankah lebih serasi si cantik bertemu dengan si tampan?
Si bapak yang arif ini berkata ( gak inget kata-katanya, cuman mirip2 aj tanpa mengubah makna): "Saya tidak perlu risau mencarikan jodoh putriku yang sulung, tapi untuk putriku yang bungsu jika bukan keluarga, siapa lagi yang akan menolongnya". Dan akhirnya si putri bungsu menikah dengan putra saudaranya yang tampan dan gagah.
Pertanyaannya, persepsi kita bertengger di posisi yang mana ya, sependapat dengan anonim satu, sejalan dengan anonim dua atau seide dengan anonim tiga?  
Kalau belum bisa menjawabnya, dibuat pr deh...
Kembali ke topik awal...

Kalau uang mahar dan seserahan bukan syarat utama, apa yang seharusnya menjadi syarat utama seorang laki-laki dalam meminang kekasih hatinya?
K O M I T ME N

Laki-laki yang berkomitmen itu masuk dalam kriteria laki-laki yang  baik.  Siapakah laki-laki yang baik itu?
Sebelum menjawabnya ada baiknya membaca tulisan di sini ya. Atau melihat contoh kasus ini. Sedang ngikutin drama korea, the woman who married thrice? Aslinya aku bukan penggemar drama korea tapi pas ada waktu nonton tv koq adegannya menyentuh sekali. Ini contoh percakapan yang mengharukan antara seorang ayah dan menantu laki-lakinya yang berniat menceraikan anaknya (yang notabene adalah istri dari laki-laki tersebut).
Sang anak menyerahkan hp pada suaminya krn ayahnya berniat bicara pada suaminya (sebelumnya sang anak sudah sempat curhat pada ayahnya bahwa suaminya berniat menceraikannya, untuk lebih jelasnya nonton sendiri ya ...:)
Ini sebagian percakapan yang berhasil diingat (paling tidak miriplah, tidak mengubah makna)
Ayah: "Apa kamu benar akan menceraikan istrimu karena dia  melakukan kesalahan kecil? Saya menerimamu sebagai menantu karena saya mempercayaimu dapat mendidik anak saya.
Saya tahu, dia terkadang kekanak-kanakan karena salah didikan ibunya yang terlalu memanjakan tapi sebagai suami kamu harusnya dapat mendidiknya. Dia akan menurut kalau kamu didik. Saya berharap kamu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu dan hiduplah bahagia bersamanya". Monolog diakhiri dengan keheningan (atau kebingungan...ya?) sang menantu. 
Monolog ini sesuai dengan pendapat seorang teman, anonim yang lain (kalau yang ini sih teman sehati alias sejawat yang sama-sama ibu dari anak-anak perempuan...:).Dia mengatakan kalau kita menikahkan anak perempuan itu artinya kita menitipkan anak pada laki-laki yang menjadi suaminya. 
Dia menambahkan (dengan gaya sebagai pengamat...)Katanya: dalam beberapa prosesi pinangan, dia banyak menjumpai ketimpangan seperti ini. Ibu dari anak laki-laki akan memuji-muji anaknya sebagai anak yang baik, patuh dan taat pada orangtuanya (sisi kebanggaan seorang ibu yang punya anak laki-laki yang baik. Ini juga bisa jadi indikasi, pujian tulus seorang ibu pada anak laki-lakinya adalah doa yang terkabul tapi bila tidak sesuai dengan fakta, berarti sang ibu sudah melakukan kebohongan publik (kalau begini speechless deh...).Sementara di prosesi unduh mantu, si ibu dari anak perempuan selalu memulai kata-kata perpisahan dengan anak perempuan dan besannya dengan kalimat low profile. Intinya: menitipkan anaknya pada si menantu laki-laki dan keluarganya dengan mengatakan, tolong anak saya diajarkan dan dididik untuk menjadi istri yang baik".
Benarkah seperti itu?

Kalau benar begitu... Duhai adinda, anak-anakku yang cantik, pilihlah calon suamimu yang menyintaimu dan  dicintai orangtua terutama ibumu karena doa mereka tidak pernah putus untuk kebahagianmu dan doa-doa mereka tidak berhijab.
Drama diatas (The Woman who married thrice) mengisahkan tentang seorang ibu dan kakak ipar yang sangat berkuasa atas anak laki-lakinya (padahal anak laki-lakinya baik tapi tidak kuasa mengayomi istrinya dari kekuasaan sang ibu dan sang kakak ipar ) sehingga si istri merasa terintimidasi dan tertekan.
Laki-laki yang baik itu sangat sederhana diskripsinya tapi luas penerapannya. Laki-laki yang baik itu yang agamanya baik. Hanya ada satu versi tapi berefek pada kedua belah-pihak, istri dan keluarganya (keluarga istri dan keluarga si laki-laki). Kalau dipadatkan, laki-laki yang baik itu yang hablum minallah dan hablum minnasnya sejalan. Tidak bisa disebut laki-laki yang baik, jika hablum minallah nilainya 8,5 tapi pelit dan kasar dalam keseharian dengan (keluarga terutama istrinya karena kadang-adang seorang suami bisa baikkk sekali dengan anak-anaknya tapi kasar dengan istrinya, aneh..!!??). Singkatnya lagi, laki-laki yang baik itu tidak sekedar baik pekerjaannya, baik intelektualnya tapi juga baik psikisnya, dengan kata lain harus: BIJAKSANA. Orang yang baik dan bijaksana itu, dia tidak bisa DZALIM atau berbuat aniaya.
Dan bila kita (berperan orangtua sebagai calon mertua atau anak perempuan) sudah bertemu dengan orang yang bijaksana, itulah kekayaan yang sesungguhnya. 
Duhai laki-laki yang baik, kutitipkan anak-anak perempuan kami padamu untuk mendapatkan kebahagian dunia & akhirat. Muliakanlah mereka sebagaimana kodratnya.
Bagaimana pendapat anda...?
Semoga kita semua termasuk orang-orang selalu berada dalam lindunganNya. Amin YRA.
SEE YOU in NEXT POST...  
Note: Tulisan ini sedang tidak meyindir siapa-siapa. Kita tidak bisa mengjudge sebuah kisah dari sebuah berita saja. Komen kita hanya sebatas tersentuh & mencoba berempati saja.