31 March 2015

Sebuah catatan pagi...

Lama gak nulis bukan berarti kehabisan ide tapi justru terlalu banyak bahan mentah yang pengin dishare jadinya malah bingung mau nulis dengan tema apa (alibi lagi males nulis;) Ada banyak berita trending topic yang terjadi selama bulan maret. Ada berita duka mengenai Lee Kuan Yew sang legenda plus negarawan (kalau disini: siapa ya selain sosok Soekarno(merenung). Yani libels penyayi favorite tempo doeloe yang mengejutkan dengan berita kematiannya yang mendadak. Olga Syahputra, artis yang banyak penggemar tetapi meninggal dalam keterasingan orang-orang terdekatnya. Dan berita-berita politik yang "rame" didalam dan sepi di luar, maksudnya  rame berdebat sepi tindakan (whew #capek dehh)
Saat terindah untuk menulis adalah saat sesudah shalat subuh. Kalau disuruh milih antara olahraga atau didepan komputer, aku pilih yang kedua. Tetapi sering kali dalam kehidupan kita tidak bisa memilih apa yang disenangi melainkan melakukan apa yang harus dilakukan. Jadi pilihan bijak yang seharusnya dipilih adalah olahraga (investasi untuk kesehatan). Sesudah olahraga, menyiapkan sarapan untuk keluarga baru menulis sambil menyeruput secangkir kopi dan cokies non fat . Ai...Nikmatnya hari...! 
Masalah baru dan bisa muncul setelah kita mendengar khabar dari: tv, koran, internet, atau orangtua, saudara, teman de-el-el.
Bagi pebisnis berita pagi yang sangat dinantikan adalah: berapa kurs dollar hari ini? Bagi karyawan, berita yang dinantikan adalah instruksi dari atasan, bagi profesional berita yang dinantikan adalah: apresiasi terhadap hasil kerjanya, bagi ibu rumah tangga yang paling penting adalah: hiburan ;)
Acara debat tralala-lala, A, B, C, del-el yang menunjukkan betapa banyaknya manusia-manusia cerdas di negara ini (tapi anehnya koq gak ngaruh ya, sepertinya gak ada perubahan signifikan tuh terhadap kondisi negara tercinta, tanah air beta) juga berita elpiji naik, bbm naik, jelas bukan berita yang menghibur. Jadi makin males nonton acara tv, kecuali nonton pilem drama...;)
Pas saat arisan, seorang teman menceritakan betapa bagusnya drama-drama korea. Katanya beda dengan drama disini yang never ending, drama korea endingnya cepat, ujarnya setengah berpromosi. Teracuni omongan teman, aku mencoba nonton sebuah drama korea pas waktu senggang (nontonnya telat, sudah memasuki episode sepertiga akhir), judulnya Good daughter Hana.
Wah....Keren...!!! Sebagai ibu dengan dua anak perempuan, sama seperti dalam drama tersebut, aku sangat tersentuh sekali dan kebetulan, putri bungsu juga suka dengan tokoh utama Jang Hana (hm...sedap,  nih film bisa dipake sebagai pihak ketiga untuk pembelajaran sikap). Ternyata...Oh ternyata drama korea memang sangat menarik, selain Hana, ada lagi Tasty life,yang berkisah tentang seorang bapak dengan ketiga anak perempuannya yang mempunyai problem masing-masing, del-el. Apa bedanya dengan drama disini? Aslinya gak pernah nonton drama lokal sampe selesai paling cuman intip-intip aj jadi gak tahu bedanya. Yang menonjol dari drama korea adalah: sikap anak pada orangtuanya, sangat sopan dan patuh. Juga sikap menantu laki-laki pada ibu mertuanya sangat menyentuh (only my love) atau menantu perempuan pada bapak mertuanya sangat hormat kecuali sikap ibu mertua pada menantu perempuannya sangat tercela (goddess of marriage ). Dalam drama ini ditunjukkan bahwa laki-laki yang baik saja belum cukup dalam mengatasi perselisihan klasik antara mertua dan menantu. Yang dibutuhkan adalah laki-laki yang bijaksana.
Good daughter Hana
 Only my love
Namanya juga drama, masih banyak bagian yang menjual mimpi terutama tentang kisah cinta Cinderela. Meski begitu ada banyak bagian baik yang bisa diambil sebagai pembelajaran. Bahkan ada beberapa dialog yang bisa jadi sumber inspirasi bagi perempuan dalam memahami hak-haknya. Acungin jempol deh buat para pemaian n sutradaranya. 
Apa drama favourite anda?

10 March 2015

Menjadi Orang Kepercayaan...

Kata dasar percaya mempunyai nilai positip dalam setiap kalimat yang dibentuknya. Ditambah dengan awalan, akhiran dan sisipan semuanya merujuk pada sebuah arti yang menyenangkan. Sebaliknya bila kata percaya ada dalam kalimat tanya atau kalimat negatip, artinya bisa membuat seseorang mengeryitkan dahi. Seperti misalnya: Aku tidak mempercayaimu atau Apakah kamu mempercayaiku?
 Trust = Honest


Dalam hubungan suami-istri, kepercayaan adalah satu pilar kokoh yang menyangga pilar-pilar kecil yang lain. Membangun kepercayaan bukan sesuatu yang mudah dan sederhana apalagi diantara dua orang yang berbeda latar-belakang, berbeda gen, berbeda minat de-el-el dan hanya dipersatukan oleh sebuah ikatan ijab-qobul. Rasa saling percaya ini pastinya terbangun didalam jalinan kebersamaan. Nah sudah cukup kalimat pembukaannya, sekarang ke inti persoalan.  
Bila seorang suami tidak mempercayai istrinya atau sebaliknya, siapa yang salah? Sambil beraktivitas pagi, ayo ditebak jawabannya. 
berjanji, saling percaya
Yang salah yang tidak percaya ;) Dalam hubungan suami-istri, saling percaya itu hukumnya wajib. Karena kepercayaan itu tumbuh dan dibina seiring waktu, bagi pasangan muda dan pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tentu saja beda perlakuan. Misal nih, boleh-gak intip-intip hp suami atau istri? Boleh-gak ambil duit langsung dari dompet suami? Boleh-gak bawa-bawa ATM suami?
Hmm..jawabannya tergantung seberapa lama berumah-tangganya. Kalau masih penganten baru ya janganlahhhh. Request saja dilarang apalagi gak ijin langsung done. Alamak...bisa rame ntar acara nonton perang mulut. Pasangan muda, masih tahap pendalaman karakter masing-masing, rawan salah-paham, kudu saling menjaga. Kalau masih The First Five Years of Marriage..Ya bolehlah...Ya janganlah... Tergantung nilai-nilai yang disepakati. Kalau sudah lebih dari itu ya boleh dong. Ada juga lho seorang teman yang sudah dua puluh tahun perkawinannya gak pernah buka-buka dompet suami, tabu katanya. 
Kalau menurut aku sih, sah-sah saja mau intip hp, mau buka dompet atau mau pake ATM sepanjang gak ada yang keberatan n tergantung niatnya juga. Kalau niatnya mau ribut gak pake buka hp juga bisa ribut. Kalau niatnya cuman iseng-iseng berhadiah, ya oke-oke saja. Malah aku banyak dapet cerita-cerita hikmah atau lucu yang bisa dishare dari intip-intip WA hubby ;)
Masalah lain yang erat kaitannya dengan kepercayaan adalah seputar duit. Ada sebuah cerita sendu tentang ini. Seorang teman bercerita:
Alkisah disebuah desa, ada pasangan yang sudah menikah lebih dari tujuh tahun. Si suami mengeluh duitnya hilang hampir setiap hari, tidak dalam jumlah besar tapi cukup menjengkelkan karena terjadi terus-menerus. Terdakwa pertama tentu saja, pegawainya karena satu-satunya orang luar dalam keluarga itu adalah pegawai dan asisten rumah tangga. Ternyata tidak terbukti. Finally...terdakwa sesungguhnya tertangkap, siapakah dia?
Kisah yang kedua, seorang suami mengeluh pada istrinya uangnya di tabungan tersedot dalam jumlah besar. Investigasi singkat, ketahuan tarikan tunai dari ATM. Bagaimana mungkin, ATMnya selalu ada di dompet? Setelah lapor ke bank, didapatlah data yang lebih detil, menunjukkan area ATM tempat penarikan dan tg serta jam penarikan. Finally, terdakwa utama tertangkap, siapakah dia?

Bolehkan seorang istri mengambil uang suaminya (tanpa ijin) untuk diberikan pada keluarganya? Memang tidak boleh... Tetapi sebelum pertanyaan itu diajukan, seorang suami harusnya peduli juga pada keluarga istrinya terutama kedua orangtuanya yang juga mertuanya. Peduli disini bukan dalam artian untuk hidup berlebihan tetapi untuk hidup yang berkecukupan. Jangan ambil anaknya doang donk...Istri itu khan bukan dicabut begitu saja seperti rumput. Dia berasal dari sebuah keluarga. Tidak mudah baginya untuk menutup mata hanya karena dia sudah menikah. Sebaliknya jika ada seorang anak melakukan pembiaran terhadap orangtuanya dengan dalih taat pada suami juga bukan hal yang patut diacungi jempol.
Bagaimana jika pendapatan suami hanya cukup untuk menafkahi keluarganya saja? Bisakah kita mengatakan orangtuamu adalah orangtuaku?Apakah benar status mertua sama dengan orangtua?
Terkadang aku juga bingung koq kalau ada yang bilang mertua itu sama dengan orangtua. Betulkah? Hehehe ternyata memang betul pemirsa...;)
Lantas kenapa kalau ditegur ma mertua lebih gak enak hati dibanding ditegur orangtua ya? Kog seringnya salah paham ya antara menantu dan mertua? Ini mah proses belajar, perlu jam terbang. Semakin lama jadi menantu semakin nyambung jembatannya. Suami juga kudu ngajarin nyusun batanya, campuran semennya, kapan pasang pipanya, kudu sabar n wise pasti jembatannya nyambunglah. 
Kalau pendapatan suami pas-pasan saja, bukan alasan juga untuk tidak peduli pada mertuanya. Bentuk perhatian khan bukan hanya uang saja. Bisa dalam bentuk lain, seperti: kunjungan, sapaan atau dalam bentuk mengijinkan istrinya untuk datang rutin menjenguk orangtuanya. Bagaimanapun juga jika seorang istri sampai melakukan hal-hal yang ilegal dalam rumah tangga, disitu suami harusnya merasa bersalah karena dia pasti ikut andil didalamnya. 
Btw: Seberapa kekurangannya seseorang bila ia membagi rizkinya yang sedikit itu secara ikhlas pada orangtuanya (termasuk mertua) tidak akan pernah menyebabkan dirinya jatuh miskin.
Jadi kalau ada seorang anak (khususnya anak laki-laki) meminta maaf  pada orangtuanya karena tidak bisa membagi sedikit rizkinya, percayalah sejak saat dia meminta maaf, rizkinya tidak akan pernah bertambah longgar.
Wahai para istri (remider to my self) kita seharusnya adalah orang yang paling bisa dipercaya oleh pasangan dalam segala hal bahkan lebih dari anak-anak kita (anak-anak kalau takut masih bisa boong dikit-dikit, dengan meralat kesalahan). Kalau ada seorang anak perempuan yang merasa harus membantu orangtuanya sementara keluarganya sendiri dalam kesulitan janganlah memaksakan diri. Bantulah dengan apa saja yang halal, insyaallah yang sedikit itu akan menjadi berkah daripada banyak dengan cara yang tidak baik. Itu sebabnya alangkah baiknya kalau tiap individu menjadi orang yang lebih berdaya, sekalian baca ini
Wahai para suami, bijak-bijaklah terhadap istrimu karena doa air matanyalah yang akan mengantarkan anak-anakmu menjadi anak yang sholeh. Apa ganjaran yang lebih pantas bagi istrimu selain bersikap bijak padanya dan pada kedua orangtuanya?
Barakallah...
Penulisnya mau jalan-jalan dulu Ya... See you Soon :) 

07 March 2015

Bijak Mengelola Keuangan...

Beberapa waktu lalu seorang teman, mengajak menghadiri preview seminar tentang reksadana dan saham.  Seminarnya cukup menarik, meski mata tinggal lima watt, daun telinga tetap berdiri tegak. Karena kesibukan keseharian, informasi yang sudah masuk belum sempat kutindak lanjuti.
Kemarin, aku sempatkan berkelana di net tentang cara terbaik mengelola uang dan menginvestasikannya. Ada banyak opsi, diantaranya: deposito, reksadana, asuransi, cicil emas, beli sukuk atau saham de-el-el. Semuanya menggiurkan sekaligus membingungkan terutama mengenai hukum syariahnya.
Kalau untuk urusan hitung-menghitung bisnis, ike memang termasuk galure turunan. Tidak berani bermain spekulasi and resiko tinggi, maunya berada di jalur aman.
celengan tradisional, membiasakan menabung
 celengan karakter: menarik anak-anak menabung
Bicara mengenai kelola-mengelola keuangan sepertinya lebih aman diserahkan keahlianya. Setelah googling kesana-kemari, di net banyak ditemukan istilah perencana keuangan yang identik dengan agen asuransi padahal khan asuransi hanya salah-satu cara saja dalam mengelola keuangan. Anehnya meski termasuk asuransi minded (asuransi jiwa, pendidikan, travelling, penyakit kritis semua diikutin) sebenarnya aku kurang mudeng ma hitung-hitungan asuransi. Tahunya deal aja ntar kalau waktu claim baru deh ngeh. Untuk deposito kayaknya juga gak minat, ntar susah narik uangnya kalau pas butuh. Cicil emas? Gak juga karena biarpun kecil cuman 10 gram mending beli cash, ready stock. Reksadana or saham? Rasanya kurang sreg juga. Simpan dollar? Boleh juga dengan niat menabung untuk umroh atau haji. Sukuk? Boleh deh dicoba asal yang dari bank syariah.
Bijak mengelola keuangan didalamnya juga termasuk bijak mengelola hutang. Bila kita masih punya tanggungan hutang, bersegeralah untuk membayar kecuali untuk tanggungan hutang KPR ke bank. Bila ada tanggungan hutang di bank, kalau ada duit mending dilunasin atau uangnya diputar dulu untuk usaha yang lain? Kalau begini better konsultasikan dulu dengan pihak bank. Biasanya kalau sudah melewati batas waktu tertentu pihak bank akan mempersilahkan kita untuk melunasinya.
Bicara soal hutang-piutang. Aku termasuk tipe orang yang lebih suka berhutang (di bank) daripada membeli rumah secara cash. Kenapa?  Ya karena minded ma asuransi tadi. Kalau pake KPR, lebih aman dong semuanya dihandle bank. Bila masih ada sisa uang dari dp rumah bisa dipake untuk pelan-pelan merenov rumahnya. Ini seperti buy one get one, asyik khan ;) 
Meski suka dan sangat menganjurkan untuk berhutang dengan bank (hanya untuk urusan KPR), aku  tidak menganjurkan untuk terlibat hutang piutang dengan teman, sahabat atau kerabat. Kenapa? Karena uang selain sebagai sumber kebaikan, uang juga akar dari segala keburukan dan hutang bukan seperti iklannya pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah.
Jadi harus bagaimana dong kalau lagi butuh duit?
Berhutang bukan mengatasi masalah, hanya mendelay masalah untuk beberapa waktu seperti delaynya lion air gitu, ntar juga akan tiba saatnya gunung esnya meletus dan meluber kemana-mana. Berhutang merupakan signal awal ada yang salah dengan cara kita mengelola keuangan. Ketika signal itu mulai berkedip, kita seharusnya sudah mulai awas untuk mengubah gaya hidup atau pengelolaan uang. Jangan melakukan tehnik berisiko tinggi dengan gali lubang tutup lubang, apalagi jika berhutang menggunakan kartu kredit, alamak dendanya...!
 Bijak menggunakan kk
Pengalaman pribadi, pernah lalai membayar tagihan kartu kredit hanya beberapa hari saja. Dendanya baru ketahuan di cetak tagihan bulan berikutnya. Nominalnya hampir menyamai jumlah tagihan, langsung saja aku minta gunting tuh kk, diamputasi deh penyakitnya daripada menjalar. Seorang teman yang punya disiplin tinggi, dia bisa memanfaatkan empat kk yang dia punya dengan sangat baik. Hasilnya memang menggiurkan, setiap bulan si teman tadi dapat poin reward yang lumayan besar, bila diendapkan dia bisa dapat voucher belanja dengan nilai yang lumayan. Karena menyadari kekurangannku yang sering teledor, aku membatasi tagihan kk dengan nilai sepertiganya. Kalau sudah mencapai limit sepertiga...Prittt...Stop..!!!
Kembali ke soal hutang personal, sampai sejauh mana kita boleh berhutang? Juga sampai sejauh mana kita bisa memberi hutang?
Bersyukurlah kalau kita bisa memberi hutang sama seperti kita harus bersyukur kalau dapat membesuk teman atau kerabat yang sakit. Meski diperbolehkan berhutang atau  memberi hutang, ada aturan yang harus dipatuhi diantara keduanya.
Dengan siapa kita diperbolehkan berhutang? Jawabannya adalah dengan orang yang tidak akan menghakimi kita. Siapa itu? Orangtua, anak atau saudara kandung. Bagaimana dengan teman atau sahabat? Sebaiknya dihindari dengan sekuat hati untuk berhutang pada teman atau bahkan sahabat terbaik kita. Mengapa? Hutang adalah sebuah pendelay-an atau emergency exit, jangan dijadikan sebagai sesuatu yang mudah atau sebuah kebiasaan. Didunia ini tidak ada jaminan yang ada hanyalah kesempatan. Jadi  jangan gunakan kartu truf kita (berhutang) sembarangan, kesempatannya hanya sekali. Lebih baik lagi kalau kita tidak pernah menggunakannya. Sering kali maksud baik memberi hutang akhirnya berakhir dengan jelek karena orang yang berhutang tidak siap mengikuti aturan.
Bijak dalam berhutang adalah itikad baik
Ada cerita lucu tentang seorang teman yang berniat pinjam uang Rp 1 juta dengan dalih harus lewat m-banking supaya mudah mengirim bukti transfernya. Karena dia tidak punya fasilitas tersebut, maka dia berinisiatif pinjam temannya yang punya. Kebetulan teman yang punya fasilitas m banking, saldonya tidak mencukupi jadi secara berantai diapun berinisiatif meminjamkan dari temannya yang lain. Finally, uang rp: 1 juta didapat justru bukan dari transferan m-banking tapi tranfer melalui ATM. Kemudian si bandar arisan diinfokan bahwa uang arisan sudah ditransfer melalui ATM. Apa jawaban si bandar? Ya nanti hari senin baru bisa dicek, transferannya sudah masuk atau belum...Alamak, ternyata uang Rp: 1 juta bisa membuktikan banyak hal. Paling tidak ada tiga orang yang ketahuan, saldo ATMnya tidak nyampai Rp: 1 juta. Hehehe...untung aku  tidak termasuk yang ditelpon juga. Ntar bertambah satu yang ketahuan saldonya tidak nyampe rp: 1 juta...(whew...)
Seorang teman memberi tip, bila ada teman atau kerabat yang akan berhutang, lebih baik kita bersedekah saja dengan memberikan sepertiganya. Daripada sakit hati dihutangi penuh tapi tidak terbayar nanti malah hilang pahala baiknya. Bener juga ya...
Aturan terpenting dalam hutang piutang adalah itikad baik. Pemberi hutang adalah orang yang berniat baik ikut membantu meringankan masalah (bukan mengatasi masalah lho...Karena mengatasi atau menghandle masalah adalah tanggung-jawab individu itu sendiri). Penerima hutang juga seharusnya orang yang beritikad baik untuk bersegera membayar hutangnya sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Jangan pernah mendelay untuk membayar hutang dengan alasan apapun karena hutang-piutang adalah masalah kepercayaan. Sekali saja janji dilangkahi, luruhlah seluruh kepercayaan yang sudah terbina. 
Keutamaan sikap tolong-menolong:
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskannya daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan Qiamat. 
Barangsiapa yang mempermudahkan bagi orang susah, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup ke’aiban seorang muslim, nescaya Allah akan menutup ke’aibannya di dunia dan akhirat. Allah sentiasa bersedia menolong hambaNya selagi mana dia suka menolong saudaranya (HR. Muslim)
Selagi di usia produktif, pandai-pandailah berinvestasi sesuai hati nuraini (kalau nurani ntar dikira caleg hanura:) sehingga di masa tua kita nanti tak lagi disibukkan dengan urusan duniawi saja. Bukankah setiap orang mendambakan masa tua yang bahagia, tidak kekurangan didunia dan banyak bekal untuk akhirat.  Semoga kita termasuk orang-orang yang terjaga. Barakallah...
See you...:) 

24 February 2015

Keahlian Primer...

Setiap perempuan harus pintar masak atau harus bisa masak, mana yang benar ya? Sebelum menjawabnya, kita masukkan satu kalimat lagi. Memasak termasuk salah-satu keahlian primer seperti menyetir dan berenang yang bersifat universal. Seharusnya dimiliki oleh setiap orang dewasa. Masuk akal khan :)
Memasak itu juga seni :
retro style

modern style
Saat arisan dari rumah ke rumah biasanya kita menemukan  masakan lezat warisan keluarga. Dari hasil anamnesa, selalunya  dalang dibalik  resep warisan keluarga: receipe by Mom.
Memang jarang sih mendengar atau melihat bapak-bapak mewariskan resep masakan pada anak-anaknya. Ada beberapa perkecualian kolonel Sanders, pemilik jaringan makanan siap saji KFC. But sang kolonel juga mendapatkan resepnya dari sang nenek ;) Ohlala...
Kalau ada orang yang merasa suka dan berbakat memasak tapi sering diragukan kemampuannya, its Me. Disitu kadang saya merasa sedih ;)
Ketertarikanku dalam hal masak-memasak ini dimulai dari masa kecil sering melihat Mom memasak dan membuat kue. Selama beberapa tahun, di malam hari raya Mom membuat kue bertingkat tiga seorang diri tanpa bantuan. Pagi hari sebelum shalat Ied, kulihat kue tarcis (gak tahu ini dari bahasa belanda atau bahasa inggris ya) dengan anggunya menghias meja ruang tamu. Setiap tamu yang datang bersilaturrahmi idul fitri akan dipersilahkan mencicipi. 
Tarcis lebaran
Selain membuat kue tarcis bersusun tiga, Mom juga membuat aneka hidangan lebaran lengkap satu meja hanya dengan dibantu satu asisten rt yang setia. Tentang rasanya? Jangan ditanya semua memuji kue tarcis and masakan Mom. Darimana mom mendapat semua keahlian itu? Otodidak karena Mom tidak pernah mengambil kursus juga karena didikan abi ;) Setiap hari abi tidak pernah melewatkan mengajak teman/tamu ikut makan saat jam makan siang. Jadi bisa dibayangin gak (pejamkan mata, ambil napas;) betapa Mom sudah terbiasa dengan urusan masak-memasak ini. Kalau sedang makan di resto, hanya sekali merasakan Mom sudah bisa membuat masakan yang sama dengan rasa yang jauh lebih sempurna. Memang Mom luar biasa, masyaaallah tabarakallah. Mempunyai ibu yang jago masak seperti ini, sisi positipnya banyak tapi ada juga sisi negatipnya. Para ipar resah karena belum bisa menandingi masakan mertuanya. Hhh...
Kembali ke warisan gen memasak, banyak sekali yang meragukan kemampuanku memasak soalnya sanksi kuncinya minim, hanya dua. Yang pertama tentu saja suami tercinta dan yang kedua, aba (ayah mertua) alllahyarham.
Ceritanya, pada dahulu kala, saat masih menjadi calon istri, aku ingin membuat surprise di hari ultah dengan membuat tarcis. Semua resep sudah dibaca dari majalah femina (I grow up with this magazine). Konsultasi lewat Mom juga sudah dilakukan, finally... ketika dikeluarkan dari oven, cakenya bantat.!! 
I wish
Dasar pemula, memasak itu selain perlu pengetahuan juga perlu skill, uji coba berkali-kali.  Setelah jadi istri, masih penganten baru. kesalahan memasak masih saja terjadi. Ceritanya pengin pamer keahlian pas mertua datang. Maka dibuatlah sarapan yang paling mudah dan praktis, nasi goreng. Tinggal bikin bumbu nasi goreng, dicampur kecap ditumis, tambahkan nasi. Untuk toping,  telor mata sapi plus abon and irisan timun. Breakfast nasi goreng aku sajikan dengan garnish yang menarik. Dari penampakannya gak kalah ma masakan chef. Dari segi rasa..Ternyata, mertua and suami sih tidak berkomentar apa-apa hanya bahasa tubuh mertua memang  menyiratkan tekanan halus. Adik laki-lakiku yang nyinyir (pas kebetulan singgah) bilang kalau nasi gorengku berasa roti tawar...Glek, baru nyadar kalau belum dicicipin..!! Disitu kadang saya merasa sedih :( lagi...
Waktu berlalu, keahlian memasakku semakin terasah. Saat arisan dirumah, aku sukses menyajikan rawon lengkap dengan grade memuaskan, alhamdulillah. Ibu-ibu pada nanya apa resepnya. Suami juga paling suka rawon made in by me :) 
Bukti kemahiranku memasak juga sudah dirasakan aba. Ketika Aba sering datang ke surabaya tanpa membawa umi, aku sudah pede menyajikan aneka masakan olahanku. Supaya tidak terulang menunya, maka aku susun daftar menu selama keberadaan aba di rumah. No complain... Its mean good. Yeayyy...
Maklum mertua, orang daerah kalau ada yang tidak suka atau mengganjal di hati, susah disembunyikan.
It was along time ago...ketika anak-anak masih kecil. Setelah daya ingat anak-anak di masa terbaiknya, aku malah jarang sekali masak kecuali moment-moment khusus. Kenapa ya?  
Alasannya banyak sekaliiii. Yang pertama karena si Timah, asisten RT pinter masak juga, kedua gak demen ke pasar (berhubungan gak ya ;) ketiga: khawatir mendadak migrain ngeliat barang-barang kesayangan babak belur akibat salah pemakaian. Misal wajan teflon kesayangan sudah coreng-moreng, stelan cangkir ada yang gopel, blender rusak de-el-el. 
 Korban-korban kekerasan di dapur



Keempat punya mertua dan ibu yang jago masak jadi ngeri kalau ke dapur khawatir saingan ;) kelima: punya ritual khusus di dapur yang gak boleh diganggu gugat. Maka dari itu aku punya dapur bersih dengan peralatan masak yang gak boleh dijamah siapapun. Masalahnya adalah: suka kesel sendiri kalau sudah masak, gak ada yang makan. Lho koq? Iya soalnya dirumah penghuninya  minimalis. Hubby di Bjn, anak sulung kuliah di malang, tinggal anak bungsu aja yang ada di rumah plus si Timah sekeluarga. Si Rana makan siang di sekolah, makan pagi bawa bekal sereal. Makan malam jarang, kalau pengin, maunya susu saja atau nasi goreng. Terus masakan ike siapa dong yang makan? Nelangsa rasanya kalau sudah dibela-belain masak, dimakan-makan sendiri. Kadang suka kesel kalau begini, nurun deh gennya. Mom juga sama sering kesel kalau pas datang bawa makanan buanyak and...akunya diet. 
"Nanti Mama kalau datang lagi, gak bawa masakan deh...!" Padahal setiap datang gak pernah kosongan, selalu bawa makanan berseri-seri dan selalu harus habis...Like Mom like doughter :) 
Jadi bingung khan, masak untuk siapa?  Hehe..Nemu alasan seabreg untuk menghindari wajib militer kuliner ;) Kerena itu jejak-jejak keahlianku memasak tidak terlacak padahal sempat sekolah masak n waktu ujian membuat lasagna, nilaiku paling tinggi lho. Langsung saja aku capture ucapan selamat dari temen-temen ke semua orang yang suka ngeledekin ike kagak bisa masak. Tapi koq gaungnya sebentar terus masih muncul lagi keraguan ike kagak bisa masak :( Disitu kadang saya merasa sedih..lagi, part 3( whew...).
Memang sih memasak gak bisa dinilai pakai angka tapi harus sering dilakukan and dishare melalui acara icip-icip or anter-anter or undang-undang. Kalau cuman dapet nilai tertinggi aja mah, masih tetap diragukan. 
Ketika ike nanya ke hubby, kalau dijadiin saksi mau-gak untuk melawan arus pendapat yang meragukan kemampuanku memasak? Hubby dengan cepat mengangguk sambil melirik piring ditanganku. Langsung saja aku sajikan salmon panggang bumbu saus tiram dengan taburan wijen. Hmm harumnya sungguh menggoda...Hubby memakan dengan lahap, tandas seketika. Atau ketika si putri bungsu, Rana berucap: "Makasih Ma...Nasi gorengnya enak sekali. Besok bikin lagi ya..."
Disitu saya sering merasa bahagia :) 
Mau tahu resep unggulan ala Layla Library? Selalu tambahkan rebusan atau tumisan kepala udang. Jadi kalau beli udang, cuci bersih, sisihkan kepalanya, simpan dalam lemari es. Kalau mau masak nasi goreng atau sayur tumis. Keluarkan kepala udang dari lemari es dan langsung taruh di wajan panas. Setelah meleleh, tambahkan mentega n tumis, masukkan dalam masakan. Kalau tidak sempat membuat tumis kepala udang ini, gantikan dengan ebi bubuk, praktis khan n dijamin lezat rasanya. Tips ini khusus untuk masakan ikan n sayuran ya...kalau daging, belum pernah dicoba sih, khawatirnya ntar dagingnya berasa udang.
See you next post, happy cooking...:)

14 February 2015

Perempuan Adalah Peradaban...

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.Why? Because...Tetangganya selalu lebih rajin nyiram rumput daripada kita :) Hehe...tidak selalu ungkapan diatas merupakan penggalan dari sebuah kiasan tapi bisa juga arti yang sesungguhnya. Kasus yang sama, banyak orang juga mengasosiasikan kecantikan dengan kesuksesan dengan keberuntungan dengan kebahagian. Sebaliknya tidak cantik akan diasosiasikan dengan kesulitan dengan kegagalan dengan ketidakbahagian. Benarkah?
Sebelum menjawabnya ada juga satu ungkapan yang mengandung arti sesungguhnya tapi sering diapresiasi sebagai kiasan. Ungkapan itu: 
Perempuan Adalah Peradaban.
Re-post dari fb:Gayatri Wedotami Muthari
Perempuan adalah peradaban mengandung arti yang sesungguhnya. Karena perempuanlah yang mengenalkan, mengajarkan dan mewarnai kehidupan. Sudah sepantasnya perempuan dimuliakan (diambil dari moto villa dleyla, like it :). Tetaaaapiiii...Perempuan juga makhluk yang lemah (kalau yang ini bisa berarti sesungguhnya, bisa juga berarti kiasan).Sehingggaa....seperti hukum alam, yang lemah gampang sekali ditekan#ditindas#dilemahkan#dihilangkan#dikriminalisasi terhadap makhluk bernama perempuan.
Biar gampang, dikasih contoh kasus ya, diambil dari kisah-kisah keseharian.
Seorang teman lama yang sangat cantiik (inget asosiasinya:cantik#beruntung#sukses#bahagia) sebut saja Namia mendadak telpon (surprise karena pas aku keinget pas dia nelpon), mengabarkan bahwa dia merasa tertekan dengan suaminya. Dia bercerita panjang lebar tentang tabiat suaminya yang sekarang berubah setelah masuk aliran syiah (gak ngerti juga syiah aliran yang mana. Menurut mereka, syiah juga punya aliran-aliran ?!). Katanya: suaminya mengancam agar temanku itu mengikuti ajaran syiah sepertinya atau suaminya akan kawin lagi atau kalau tetap membangkang siap-siap diceraikan (duh, gelo masih ada orang seperti ini memperkeruh dunia, huh...)
Satu atau dua atau tiga...dor...!
on target
Pelaku: Inferior cowboy (mirip kali)
Ketika kubilang coba saja minta pertolongan ma ibunya atau mertuanya. Jawabnya lebih bikin gelo lagi, katanya: "Sama kak, suamiku itu anak kesayangan jadi mertua selalu ikut apa kata anaknya itu" "Bagaimana dengan ibu?" tanyaku berharap ada kalimat baik yang akan kudengar.
"Ibu tidak berdaya kak, karena harus merawat ayah yang sakit dan menyerahkan semua keputusan ditanganku. Tapi ibu sempat mengatakan tidak rela jika aku ikut masuk aliran syiah"
"Oh...!" aku inget ibunya, seorang wanita yang cuantiiik juga karena beliau adalah salah-seorang ibu kos sewaktu aku kuliah.
Lalu katanya, "Kak, apakah aku harus cerai?" dia bertanya dengan suara mengambang. Pertanyaan yang membuat aku gelagapan.
Ada yang bisa bantu menjawab? 
Kalau aku bukan kapasitasnya untuk menjawab. Beda dengan pernikahan yang harus melibatkan keluarga besar, perceraian se-Yogyanya harus diputuskan oleh dua orang yang bersangkutan (tentunya dengan segala konsekwensinya). Jangan melibatkan orang lain yang berada "diluar area" (sebagai bahan pertimbangan sih boleh-boleh saja but final decision must be made by her). Begitu juga apakah Syiah itu aliran sesat#kafir, itu juga bukan kapasitas kita untuk menjawab biarlah itu menjadi area Allah, Sang Penguasa ( menyontek Goto, jurnalis jepang. Menghakimi adalah wilayah Tuhan). Tetaapiii...boleh khan kalau  bilang  aku gak seide ma Syiah jadi mending jauh...jauh deh (segala sesuatu yang menyangkut aqidah, dia harus bertanggung-jawab penuh kepada Tuhannya dihari dimana seseorang nantinya hanya akan merisaukan dirinya sendiri. Dihari dimana ibu melupakan anaknya, istri melupakan suaminya, suami melupakan istrinya).
Bagaimana dengan Namia?
Disinilah peran perempuan sebagai pembentuk peradaban bermula. Bila Namia mengikuti ajakan suaminya, dia akan membentuk satu generasi baru yang beraliran sama.  Dan itu menguatkan arti kiasan dari kedudukan perempuan yang lemah. Apakah itu berarti sebaiknya dengan alasan untuk kebaikan dunia dan akhirat, Namia harusnya bercerai saja? Nih jawabannya sedikit berputar, kembali lagi seperti apa Namia sebagai "pembentuk peradaban" dipersiapkan bekalnya oleh keluarga sebelum dia membuka peradaban baru (menikah). Keluarga adalah pembentuk nilai-nilai yang pertama karenanya "bekal" keluarga sangatlah penting untuk menghadapi persoalan dilematis seperti ini. Jawaban penentu bagi Namia, adalah bekal yang sudah didapatnya dari keluarga. Apakah Namia akan membuka peradaban baru ataukah memutuskan balik ke perwalian keluarganya? Depend only on herself
Perempuan adalah makhluk yang kuat sekaligus lemah. Kuat dalam membentuk peradaban sementara lemah bukan karena secara hakekat mereka lemah tapi lebih karena cenderung dilemahkan dalam posisi. Mereka yang mempunyai waham, menganggap perempuan sebagai makhluk yang bisa dibentuk seperti Clay. Juga mereka yang perbendaharaan katanya sempit mengartikan persamaan ini:
Perempuan adalah lambang kesenangan,  memberikan kenikmatan.
Satay (nama plesetan, gak tegaa nyebut nama aslinya) adalah lambang kesesatan, memberikan kenikmatan.
Ketika perempuan memberikan kenikmatan maka dia adalah Satay, lambang kesesatan karenanya mereka harus ditindas#ditekan#dilemahkan#dihilangkan dari penglihatan. Kalau begitu bukankah mereka lahir dari Satay?!
So pasti, orang yang mengasosiasikan persamaan ini nilai bahasa indonesianya di raport membentuk huruf O#nol#merah#gak bisa lulus SD.
Women are Angel
Kembali ke Namia, posisinya sebagai istri dan ibu dilemahkan dengan ancaman cerai (mungkin suaminya merasa posisinya diatas angin makanya masuk angin, keblinger sampai mengancam dengan senapan angin, alih-alih  menjatuhkan thalaq). Intimidasi seperti ini banyak berlaku diseputar keseharian kita. Ada yang istri diancam cerai karena sang istri (yang sudah berjilbab syar'i) masih enggan ketika disuruh memakai cadar. Alangkah tidak eloknya, mengharap sebuah kebaikan dari sebentuk keburukan# ancaman. 
Inilah yang terjadi di dunia yang peradabannya dibentuk oleh perempuan tapi didominasi oleh laki-laki. Jangan serius ah...laki-laki disini adalah contoh laki-laki  yang keblinger koq. Kalau laki-laki dari galur murni#laki-laki sejati#laki-laki yang baik#masyaallah tabarakallah, INSYAALAH tidak akan berlaku dholim seperti itu. Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang hormat#sayang#cinta# pada ibunya Cc istrinya Cc anak perempuannya Cc saudara perempuannya Cc teman perempuannya Cc semua makhluk berjenis kelamin perempuan sebagai pembentuk peradaban. Laki-laki yang baik akan menjadi rahmat, menebar kebaikan disetiap kesempatan tidak menebar teror #ancaman. Makanya bisa dipastikan ISIS-ISIS bukanlah gerombolan laki-laki yang baik...Cut...! Keluar topik, capek deh...
Kembali ke Namia, asosiasi kecantikan #sukses#keberuntungan# kebahagian tidak harus menjadi sebuah rumus. Setiap perempuan adalah cantik dan setiap perempuan mempunyai hak untuk sukses, mujur dan bahagia. Karena dualisme yang dimiliknya (kuat tapi lemah karena cenderung dilemahkan) setiap ibu harus memberdayakan anak perempuannya dan menitipkan buah hati mereka hanya pada laki-laki terpilih saja yaitu: laki-laki yang paling baik akhlaknya. Selamat memilih...Barakallah.



 See you in the next post...

09 February 2015

Dont Do that coz I love you...

Ada banyak teori tentang kejahatan. Salah-satu teori yang paling cucook dengan kondisi saat ini, menurutku adalah: Kejahatan terjadi ketika orang baik berhenti bertindak (kalau gak salah kalimat ini berasal dari Julian Assange, pendiri situs WikiLeak). 
Benarkah? Apa bukan karena lebih banyak orang jahat dibanding orang baik atau karena sebuah kalimat: ada subyek, ada obyek dan keterangan#kesempatan untuk berbuat jahat? 
Kata kunci yang sama dengan semua teori tentang kejahatan adalah: Kejahatan terjadi karena ada yang melintas batas#berbuat jahat.
Sekarang tentang pelakunya, siapa yang lebih banyak prosentasenya berbuat jahat, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan? Hmmm sepertinya belum ada yang pernah survey ya jadi belum jelas alias bisa diabaikan. Kalau yang ini, lebih banyak mana seorang suami yang terlihat sangat baik diluar tetapi buruk rupa bertingkah-laku dengan istrinya? (case no:1) Ataukah seorang suami yang yang sangat baiiik dan bijaksana sekali dengan istrinya tetapi sangat tidak sopan pada dunia luar? (case no:2)
And the Winner is: case Number One. Why?
Because: Its nature. Pelaku kasus pertama adalah; kriminal murni. Kejahatan selalu berusaha disembunyikan dari penampakan dunia luar. Kasus no: 2 adalah perkecualian, dilakukan dengan catatan. Artinya mungkin saja pelakunya pada dasarnya orang baik. Karena suatu dan lain hal dia bisa uncontrol. Tetapi kalau dilakukan terus-menerus ya sama-sama kriminal murni but undercover or undercontrol !?
crime yang jahat :(
 crime yang baik ;)
Sebagai konsumen koran plus televisi plus radio plus internet koq rasa-rasanya miris ya membaca dan mendengar adanya kosmetik palsu, obat palsu, susu palsu bahkan merambah kesaksian palsu, alibi palsu, keahlian palsu...Hadehhh...! 
 Seperti ituuuh Ya ;) 

Pengamat(alih profesi kalau lagi ngumpul bareng) jadi mikir, nih orang kagak punya sanak saudara kali ya, koq berani-beraninya bikin sensasi sesaat memakai atribut boong-boongan (mungkin dipikirnya siapa tahu dapat tawaran bermain sinetron stripping, judulnya mendadak Saksi, eyes rolling)
Seorang laki-laki malaikat penjaganya adalah ibu dan istri. Seorang perempuan, ketika dia belum menikah, malaikat penjaganya adalah: ayah dan saudara laki-lakinya. Ketika sudah menikah, malaikat penjaganya adalah: suaminya. Ketika berstatus janda malaikat penjaganya dikembalikan lagi pada: ayah dan saudara laki-lakinya.  
Itu sebabnya dalam hukum waris Islam, laki-laki dikasih bagian dua kali lebih besar dibanding bagian perempuan. Ini bukan dikarenakan karena saudara laki-laki kita berwajah tampan lho...! Tapi karena mereka mengemban amanah, menjadi malaikat penjaga kita.  Berbahagialah jadi perempuan, selain punya malaikat penjaga kita juga tidak dibebani dengan kewajiban menafkahi (like it...)
Ssstt... Kembali lagi ketopik awal. Ketika seseorang akan berbuat suatu kerusakan di muka bumi#berbuat jahat, berarti dia sedang mengabaikan keberadaan si malaikat penjaga. Untuk mengetahui jati diri asli si pelaku (dalam rangka croscheck) lihat saja bagaimana mereka memperlakukan malaikat penjaganya. Kalau laki-laki bagaimana dia memperlakukan ibu dan istrinya. Kalau perempuan, bagaimana dia memperlakukan suaminya Cc ayah Cc saudara laki-lakinya. Nah kalau ada ketidaksinkronan, bisa jadi bahan pertimbangan tuh...
Bisa bayangin gak (pejamkan mata n tarik napas dulu) gimana perasaan seorang ibu jika anak terkasihnya duduk dengan status terdakwa, atau suami tercinta sedang melakukan kebohongan berjamaah atau seorang anak yang menyaksikan ibunya dengan sukarela membuka aib demi a,b dan bukan demi Moore (Ups..)
Sepertinya sih, para pelaku ketika beraksi mendadak  simpuls otaknya beku, mungkin terserang virus (HINI, ebola atau cuci piring#brainwash)
Kalau begitu sekarang giliran si malaikat penjaga dong yang mesti  bertindak. Sebagai ibu#istri#suami#anak#saudara kita bisa katakan: STOP...! DONT DO THAT COZ I LOVE YOU...
Sebagai keturunan orang baik-baik, Yuk kita kembalikan fitrah mereka ke asalnya. Yang baik kembali baik. Yang tidak baik  menjadi baik. Jangan diterus-terusinlah. Kenakalan remaja aja berakhir di usia dewasa awal, khan gak lucu kalau ada sequelnya?! Ntar kucingnya malu lagi...
Im A good person
SEE You Soon...

06 February 2015

Berhemat, sebuah pilihan atau...?

Kata orang hidup adalah sebuah pilihan. Mulai dari bangun tidur sampai akan tidur kita seharian dihadapkan pada pilihan-pilihan. Apakah  bangun terus mandi? atau bangun terus olahraga? atau bangun terus tidur lagi? Seiring rutinitas maka pilihan-pilihan itu tidak terlalu memusingkan. Lain ceritanya bila diminta memilih antara berhemat atau pilih meningkatkan pendapatan? 
Pilih yang mana?
Saat ngobral bareng ma temen (status memang ibu RT tapi profesinya buanyaaak) Mulai dari pengamat politik, pengamat ekonomi, pengamat hukum sampai yang paling serem pengamat militer, kita pernah melakoninya (ketahuan ibu-ibu kalau ngobrol suka alih profesi whew..) Nah saat membahas masalah ekonomi domestik (maksudnya pengeluaran rumah tangga) seorang teman nyeletuk (dengan nada setengah-setengah, setengah hati atau setengah sadar gitu). "Daripada disuruh berhemat-berhemat, mending meningkatkan pendapatan" Katanya sambil menghembuskan napas dalam-dalam seperti habis lari 10 K.
Aha....!!! Aku sssetuju banget. Satu aliran nih...(punya guilty feelingnya yang sama, senyum kecut)
Kalau diminta baik-baik memilih, pilih hemat atau meningkatkan pendapatan, pilih yang mana? Mana yang lebih mudah? Hmm...Ada gak yang lebih bagus dari dua pilihan tadi Ya? Jawabannya: meniru iklan Hit: Yang lebih mahal banyaaakk#gak bisa jawab#ngeles ;)
Sepertinya mudah... 
 Pengin save atau spend ?
 
Berhemat itu memang susah-susah gampang. Sementara meningkatkan pendapatan (sebelumnya memang sudah ada bidang usahanya) juga gampang-gampang susah, alhasil keduanya memang ganteng-ganteng srigala#gak gampang.
Seorang teman yang lain menimpali, "Ibu RT yang pandai berhemat dan memasak setiap hari sepertinya dia akan masuk surga tanpa dihisab" Hehe kalau ini sih guilty feeling karena gak bisa berhemat Cc gak sempat masak.
Ibu RT yang hanya mengandalkan satu pendapatan (gaji suami) sering dihinggapi rasa bersalah kalau merasa tidak pandai berhemat. Coba deh diamati kalau suami lagi tidur, kelihatan capek bangetttt ya. Melasss lihat suami banting-tulang & sendi (kayak OTC aja, klinik tulang &sendi :) dan hasilnya dipakai untuk keinginan tersier. Nah kalau kita bisa bantu#nyumbang dikit-dikit pasti suami senang n bangga n lebih disayang, yeeeyy..Contoh yang sederhana: beli satu set sofa untuk mengisi  ruangan baru. Budget sudah ditentukan Rp sekian...Pas survey keliling, harga sofa idaman diatas budget, apakah perlu minta tambahan uang ke suami? Boleh-boleh saja seperti ituuhhh...Tapi an cinnntaaa & sayangggg (demi nama baik pula biar gak dicap boros ;) boleh dong ngebantu suami dengan duit sendiri. Lalu duitnya darimana?
Mengutip pendapat yang sederhana, kalau gampang mengeluarkan uang harus pintar cari uang (dengan catatan: bukan uang panas#uang dingin # uang halal). Jadi kalau gak bisa atau capek berhemat, Lets be smart. Be an Entrepreneur alias mulai berwiraswasta. 
Keluar dari comfort zone
work with passion
Sarannya alih profesi, berwirausaha. Syaratnya keluar dari comfort zone. Yang tadinya nyaman di rumah, nyaman dengan lingkungan sosial yang sudah dikenal dll. Sekarang harus mulai mencoba internet explorer#eksplore anything. 
Apa saja keuntungan jadi ibu RT Plus, baca disini ya.
Alih profesi mungkin butuh modal, mungkin besar, mungkin juga tidak. Untuk mensiasatinya, mulai aja dari hobi jadi bisa dibilang sambil menyelam minum air. Yang hobinya tulis-menulis bisa aja buat artikel, kalau kreatif, bisa buat selebaran, brosur dll. Yang hobinya belanja bisa memulai online shopping, yang hobinya fotografi, bisa memulai jeprat-jeprit anything kemudian dicetak dan dibingkai lalu dijual. 
Kayaknya gampang ya...Gak juga karenanya Karen# everybody harus & mau keluar dari comfort zone. Lika-liku laki-laki#perempuan memulai bisnis merupakan seni tersendiri, harus melalui trial n error. Jadi jangan takut salah atau rugi, itu mah sudah satu paket. Yang patut diusahakan, meminimalisasi potensi kesalahan atau kerugian. Caranya dengan harus meng-upgrade diri#belajar#belajar lagi.  
Awalnya: Berusaha kreatif...

Akhirnya...Not bad khan :)
 
Believe or not...! Setelah punya duit sendiri kita jadi reaktif hemat lho. Kondisi ini sama saat kita window shopping n gak punya duit. Rasanya semua barang koq bagus-bagus, bikin migrain..): Begitu kita punya duit, tuh barang yang tadinya kelihatan bagus jadi biasa-biasa saja n kita jadi selektif mau beli barangnya. Betul-gak? Dengan meningkatkan pendapatan seperti buy one get one, dapat duitnya dapat hematnya. Dengan begini,  hemat merupakan sebuah pilihan bukan suatu keharusan. Terasa lebih wise khan :)
Oke selamat berwirausaha. Sukses selalu..!