30 July 2019

Warisan

Dalam banyak kesempatan bertemu teman dan memperkenalkan kedua anak perempuanku, seringnya mereka mengatakan kalau kedua putriku mirip sekali dengan ayahnya. Terutama dari ciri fisik wajah, gaya bicara, cara berjalannya dll. 
Awalnya  aku sih nyantai aja tapi lama-kelamaan terusik juga. Masa iya sih dua-duanya mirip banget ma ayahnya gak ada gen maknya? Maka mulailah aku melakukan pengamatan non ilmiah. Sample termudah  yang terdekat dulu, para ponakan. 
Hasilnya: para ponakan mengikuti hukum alam, anak-anak perempuan mengcloning ciri-ciri fisik ayahnya dan anak laki-laki mengcloning ciri-ciri fisik ibunya.  Dan akupun lega dan legowo mengetahui hasilnya. Takkada masalah...:)
Kalaupun ada masalah yang timbul, datang dari diriku: aku ingin kedua anak perempuanku mengcloning sifat-sifat ayahnya yang amat sangat cool bangettttt (terutama jika menghadapi permasalahan, beda dengan maknya yang panik duluan) dan yang paling beratnya lagi, aku ingin mengcloning seseorang yang seperti ayahnya untuk calon suami anak-anaku kelak...👀 😏
--------------------------------------

Tidak ada yang bisa menyanggah kedekatan seorang ayah dengan anak perempuannya. Ini seperti pergantian musim, pergantian siang dan malam, terjadinya bulan purnama, natural sekali. Ayah adalah sosok penting bagi anak perempuan, sebagai pahlawan pelindung, sebagai sahabat sejati dan sebagai guru yang hebat. 
Itulah yang terekam dalam benakku tentang sosok ayah, begitu pula yang aku tanamkan pada kedua anak perempuanku. Hasilnya, aku harus berbesar hati, kedua anak perempuanku lebih dekat dengan ayahnya. Mereka bisa curhat, bercerita, bercanda dan bertukar-pikiran lebih nyaman dengan ayahnya. Sementara aku hanya menyaksikan atau merekam (diam-diam dengan kamera) semuanya dengan sesekali menimpali supaya gak ketahuan kalau sedang in action. Entah kenapa aku suka merekam kebersamaan anak-anak dengan ayahnya, tidak untuk dishare disosmed (gak memungkinkan juga), betul-betul hanya untuk disimpan saja sebagai dokumen. Menurutku ini adalah moment terindah seorang anak perempuan dengan ayahnya. Saat ayahnya memeluk, mencium kening, mengusap rambut atau tatapan matanya yang antusias saat mendengarkan cerita anak-anaknya. Aku yakin, kelak foto-foto ini akan sangat berharga bagi kedua anakku. 
Aku lebih menikmati kebersamaan itu dengan hanya melihat atau mendengarkan dibanding ikut nimbrung terlibat. Soalnya tiap kali nimbrung seringnya malah "mengubah atmosphere..."
"Mama gak asyik ah...kita nyantai aja koq dianggap serius ..."
atau 
"Mama lebay ah..."
atau
"Ya...Mama gaptek sih..." 
Nah kalau sudah keluar celetukan-celetukan seperti ini, giliran si ayah yang "gerah" dan akhirnya atmosphere kebersamaan jadi seperti kultum sehabis sholat. Dan terdakwanya siapa lagi kalau bukan aku. Ini bisa terekam ketika sudut mata anak-anak melirik kearahku...Oh No, I did it again...🙈

Aku semakin jadi terdakwa, karena akhir-akhir ini si ayah memang suka baper (saingan deh ma siemak). Celetukan-celutakan kecil yang dirasa vulgar bisa menggiring anak-anak untuk "dihukum" sungkem mencium kaki siemak. Duh...khan risih banget jadinya. Payahnya si emak malah gak sadar lagi mengadu padahal niatnya cuman bercanda. 
Kenapa sih jadi baperan begini...? 
Alkisah pada suatu kesempatan si emak bercerita (kisah fiktif yang sudah terdaftar dalam kumpulan dongeng si emak ) tentang dua orangtua yang hidup berdua saja sementara anak-anaknya tinggal terpisah. Pada suatu malam, si ayah terkena serangan jantung. Si ibupun dengan paniknya langsung menelpon anaknya. Sampai disini cerita terhenti oleh komentar si sulung. " Lho kenapa koq gak telpon IGD...? bla..bla...sebagai orang medis, segala argumen rasionalnya keluar.
Aku yang kesal dengan reaksi si sulung yang terlalu rasional, menimpali, "Mana hapal telpnya IGD,  yang hapal malah telp 911, ntar malah kesambung ke Amrik..."🙈 
Nah tanggapan si sulung inilah yang kubawa ke ayah dengan niat bercanda. Maka kuceritakanlah dengan versiku...
"Ba..kata sirin, bila-bila masa nanti kita  sakit tengah malam,  gak boleh nelpon Sirin atau suaminya (ceritanya nih sisulung sudah berkeluarga dan tinggal terpisah) ntar mereka terganggu. Seharusnya yang ditelp pertama adalah: IGD... " 
Ini niatnya becanda lho...E...respon si ayah ternyata diluar dugaan. 
Si ayah marah, panjanggggg dan lebarrrr....Akunya tertuduh lagi...😌
"Ma, kalau mama suka baper, katanya kena sindrom pre menapouse. Lha kalau baba kenapa ?" sisulung yang merasa jadi sasaran tembak langsung melancarkan protes.

"Ya... karena baba sudah tua, orang tua khan suka baper..."jawabku sekenanya. Aku juga bingung kenapa akhir-akhir ini si ayah baperan.
"Ah...Enggak ah...baba masih muda koq" si bungsu menimpali. Si bungsu ini memang selalu mengcounter setiap ada perkataan mama dan baba sudah tua. Dia sepertinya penganut paham age is just a number. Dia tidak mau menerima baba dan mamanya bertambah tahun bertambah tua.
Daripada menebak-nebak, langsung aj aku tanya si ayah, kenapa sih suka marah untuk hal-hal yang kecil gitu dan kenapa suka menghukum anak dengan sungkem mencium kakiku, aku khan risih ntar dipikir anak-anak aku yang pengin disungkemin. Bukankah anak-anak terbiasa sungkem hanya pas lebaran saja..?"

----------------------------------------------

Warisan...!
Dari penjelasannya yang panjang lebar, terkuaklah rahasianya. Ternyata si ayah lagi galau. Aku juga kaget dengan pengakuannya. Oh nih orang bisa galau juga, soalnya yang beginian biasanya malah tabiatku, siayah yang kebagian menenangkan. Si ayah ini aslinya tipe flat, emosinya datar...datar aja...gak bisa ketebak, lagi senang, sedih atau marah. Terus apa yang menyebabkannya galau?
Ini berkaitan dengan warisan. 
Eit..tunggu dulu bukan warisan harta tapi warisan nilai-nilai baik. Si ayah merasa dia terlalu lemah pada dua anak perempuannya dan dia khawatir berkelanjutan. Dan siayahpun melanjutkan penjelasannya...
Apa yang terekam dibenakku, benar juga kata-katanya. Aku tahu betul, didikan keras tidak selalu berakibat jelek. Mertuaku mendidik anak laki-lakinya dengan keras dan hasilnya adalah si ayah yang berhati lembut (masyaallah tabarakallah). Alllahyarham abi mendidik anak-anaknya dengan keras dan hasilnya tidak ada dendam, malah rasa cintaku pada allahyarham abi yang tak pernah padam. Meski Allahyarham abi memanjakanku tapi aku tahu batasannya dan tidak berani sedikitpun melampaui lingkaran yang sudah  digariskan. 
Dan sekarang apa yang coba dilampaui kedua putriku?
Sebelum menjawab pertanyaan ini...Aku flashback penjelasan si ayah.
Dia menyuruh anak-anak sungkem padaku sebagai praktek teori kebiasaan. Dia berharap, anak-anak akan merekam dalam benaknya, kalau salah tidak cukup minta maaf tapi harus dibiasakan juga sungkem. Pengertian salah disini tidak saja meliputi perbuatan tapi perkataan yang bernada melecehkan orangtua juga tidak diperbolehkan. Seperti kata-kata yang tersebut diatas itu. 
Rupanya si ayah bete juga dengan kebiasaan anak-anak yang sangat mudah mengucapkan maaf tapi kesalahan yang sama masih diulang-ulang (kalau aku sih bukan bete lagi tapi sudah tidak berdaya...begitu anak minta maaf, otomatis tangan terulur menyambut. Ntar kalau gak dikasih maaf, malah khawatirnya si anak gak mau minta maaf lagi khan berabe...). 
Si ayah melihat sungkem adalah tradisi yang sangat luhur, melambangkan penghormatan anak pada orangtuanya. Tapi kenapa koq ke maknya saja ? Ya karena menurutnya si ibu harus dihormati tiga kali lebih besar dan menurut si ayah, anak-anak sering lengah pada ibunya. Meski terdengar sepele, sekedar celotehan saja, tidak seharusnya anak-anak membully ibunya. Menurutnya, dalam sungkeman itu ada permintaan maaf dan rasa hormat pada orangtuanya. Alhamdulillah jadi senang dengarnya...
Sesungguhnya si ibu sering merasa dibully oleh kedua anaknya. Seperti kalimat, "Mama pelit..."(kata ini dilontarkan saat mereka  kesal karena permintaannya ditolak ) dll
Lha kalau ada si ayah, kata-kata seperti ini bakal kesensor...
"Coba ulangi pake kalimat yang baik...gak boleh ngomong gitu ke mama..."  
Hehe...jadi seperti pelajaran berbahasa indonesia yang baik dan benar...👀
So..Apa yang coba dilampui batasnya oleh kedua putriku?
Semua bermula dari pertanyaan sederhana pada si anak sulung. 
Kira-kira setelah lulus dan internship, sirin mau ambil spesialis apa?
Ketika si sulung menyebutkan, aku lihat raut muka si ayah berubah dan akupun terkejut. Aku terkejut karena tidak banyak mengerti sementara si ayah terkejut karena mengerti lebih banyak. Setelah coba diterangkanpun, aku yang selalu merasa harus membela anak-anak perempuanku tidak sependapat dengan ayahnya. Sampai suatu kejadian mencoba menyadarkanku bahwa apa yang akan dihadapi anak perempuanku itu tidaklah mudah (terutama dalam budaya arab yang masih keukeuh memberikan batasan laki-laki dan perempuan).

Kini si ayah lebih ketat mendekati sisulung (makanya jadi baperan). Saking tidak setujunya sampai si ayah membawa si sulung konsultasi kebeberapa teman sejawatnya. Sementara ini hasilnya melunak meski masih belum mencapai win-win solution. 

Ada hal tak terduga yang mengubah kesetujuanku menjadi ketidaksetujuan, yang pertama tidak untuk diceritakan disini (mungkin dilain tema) yang kedua kejadian yang bisa diceritakan. 
Ceritanya si ayah berniat membawa kita keteman sejawat yang sejurusan dengan yang diminati si anak sulung. Si teman masih praktek dan supaya lebih longgar maka kita memilih jadi px yang terakhir. Pas lagi duduk-duduk begini, aku membaca papan nama si teman sejawat ini yang menuliskan beberapa keahliannya. 
Aku membaca satu kata yang dalam benakku seperti kebijaksanaan publik yang sangat tidak populer yang bisa menimbulkan kontroversi. Samar-samar kubaca, "I.......A"
Aku memincingkan mata dan segera mengambil kacamata dalam tasku untuk memperjelas. Seketika susunan huruf itu terbaca dengan sempurna.
Aku adalah tipe emak-emak yang spontan mengatakan isi hati. Langsung saja kupandang  wajah si sulung dengan alis berkerut dan kucecar  dengan kalimat-kalimat awam yang terasa menggelikan. Melihat reaksi sisulung yang tersipu-sipu seperti es pinky @dokterkoki, entah malu atau malah marah, reaksiku justru kontras. Aku malah tertawa terbahak-bahak...(jadi ikutan malu, baru ngeh kalau aku membahas hal-hal diluar kebiasaan) 
Mengertilah aku kenapa si ayah bersikeras melarang. Setelah didalam, si teman sejawatpun menyarankan hal yang sama. Sebaiknya pilih yang lain saja... 
Oh lala nduk..nduk...🙈 
Lain anak sulung, lain pulak anak bungsu. Si bontot Rana mendadak ijin mendaftarkan pilihannya kuliah di Yogya. Bukan saja si ayah yang kaget tapi aku juga kelimpungan, belum siap  menghadapi pemberontakannya.  
Bagaimana  bisa Rana, yang setiap jam selalu telp atau chat, Mama dimana...? Mama ngapain...? Mama kapan pulang...? tiba-tiba berniat memisahkan diri. Apalagi requestnya diikuti dengan mata-mata berkaca-kaca dan argumen yang menyakinkan.. :(
Si Ayah mendengarkan dengan sabar untuk mendapatkan solusi. Sementara aku, ibunya gemes aja dengernya. Sekalian aja kugoda, kalau Rana kuliah di Yogya, mama juga pindah ke Yogya jadi ntar kita ngekos ditempat yang sama. Rana mendengarkan dengan cemberut...
Selidik punya selidik, ternyata dia pengin mandiri. Si Rana ini memang ngefans berat sama kakaknya. Dia ngeliat kakaknya sangat mandiri dan hapy-hapy aja tinggal di kos dan tinggal terpisah, diluar kota. Dia juga bilang, kalau tinggal sekota ma ortu di surabaya, dia gak bakalan bisa mandiri. 
Apa gak gemes aku dengernya...Duh gayanya dik...dik..😕 (tentunya dalam hati saja)
Akhirnya disepakati (aslinya diaku masih ganjel) kalau Rana kuliah di surabaya aja dan untuk belajar mandiri diperbolehkan ngekos, syarat dan ketentuan berlaku. Ya sudahlah yang penting diakomodasi dulu, ntar waktulah yang akan membuktikan.
--------------------------------

Kita adalah contoh guru terburuk dalam mendidik anak dibidang mata pelajaran konsistensi. Kita tidak pernah menerapkan aturan yang benar-benar baku pada dua anak perempuanku. Apa orangtua yang hanya punya  anak perempuan sering lengah seperti kita juga ya...? Jangan...jangan... Kita the one and only...😢
Kalau si ayah melarang, aku malah mensuport anak. Kalau aku melarang, si ayah malah mengajari si anak untuk bisa meluluhkan hatiku. Kalau si ayah berniat marah, aku malah menasehati ayah untuk tidak marah.  "Jangan dimarahi lagi, aku khan sudah marah tadi.  Anak perempuan tidak boleh dimarahi ayahnya nanti dia jadi terbiasa dimarahi suaminya " (anehnya si 

ayah percaya betul teori ngasal siibu, mungkin karena dibelakangku ada tiga huruf sakti, PSi...😉)  Atau kalau si ayah sudah terlanjur marah pada anak-anak, malah aku yang bete dan kubangkitkan rasa bersalahnya.  "Kasihan anak-anak sudah ketemu babanya cuman sabtu dan minggu, e...ketemunya langsung dimarahi "
Parah ...Ya...Kita berdua..!
Bersambung masalah warisan, siayah galau kedua putrinya tidak mewarisi nilai-nilai yang seharusnya (terutama keberatan atas pilihan putri sulungnya). Dia merasa sebagai orangtua tidak seharusnya merasa kesulitan mempengaruhi putrinya. Aku juga sebagai maknya sering galau bin baper bin bete bin kesel bin gemes bin pegel bila pendapatku  diacuhkan oleh dua putri dewiku. Apalagi si ayah sebagai ketua majlis tertinggi dalam keluarga. 
Kesepakatan win-win solution tentang pilihan Sp putriku, diberlakukan dengan catatan mendapat persetujuan suaminya kelak.  Sebenarnya ini wacana yang hampir mustahil (terutama dalam budaya arab, dimana seorang istri yang bekerja ratingnya turun dari angka tertinggi menuju terendah. Ibu rumah tangga adalah status tertinggi dengan rating 10 grade A, predicate summa cum laude).

Pembagian kriteria istri idaman dalam budaya arab, menurut teori Layla Fachir Thalib Psi, adalah: (tidak berlaku untuk umum ya ;)
Istri lulusan S1 tidak bekerja/bekerja dirumah: summa cum laude
Istri lulusan SMA/setingkat, bekerja di rumah :magna cum laude
Istri lulusan SMA/setingkat, tidak bekerja  :  cum laude
Istri lulusan S1, bekerja sesuai profesi : tanpa catatan  
Istri lulusan S2/setingkat, bekerja sesuai profesi : dengan catatan
Istri lulusan S2/setingkat/S3, bekerja sesuai profesi di lingkungan laki-laki : minus 12.
Dan...
Pilihan siputri sulung menempatkannya di rating minus 12 (rasanya seperti kena migren sekaligus vertigo). Ini mungkin salah-satu penyebab rambut si ayah berguguran helai demi helai... 😯
Duh...
Percakapan panjangpun dimulai. Si ayah menguraikan semua kegalauannya dan aku mencoba menjadi pendengar yang baik meski berkali-kali menghela napas tak sabar pengin nyela. 
Intinya si ayah mempersoalkan sikap keukeuh si sulung akan pilihannya. Menurutnya ini akan berefek sambung-menyambung nantinya. Bila dengan ayahnya aja masih tak patuh, bagaimana dengan suaminya kelak...?
Aha...Bagaimanapun juga genku ada di aliran darah putriku itu jadi aku mahfum pilihannya dan akupun tahu bagaimana mengendalikannya. Aku merasa ini bukan persoalan besar khan masih wacana, belum terjadi.   Masih bisalah dibelokkan ke jurusan yang lebih aman.
Aku ingat seorang saudara yang juga mengeluhkan anak gadisnya yang keras kepala, kalau sudah berpendapat susah diubah. E...begitu menikah, berubah wujudnya dari es batu menjadi es puter ;)
Menilik dari pengalaman pribadi, akupun begitu. Jadi aku bilang pada si ayah, ini karena si putri sulung kita belum bertemu dengan orang yang tepat. Beberapa orang yang berusaha kita kenalkan, tereliminir atau mengeliminir diri karena pilihannya itu (Inilah sumber kegaulan si ayah dan asal muasalnya baperan) Begitu dia bertemu dengan orang yang tepat, yakinlah aku kalau dia akan berkompromi dengan keinginannya.
Pernahkah kita merasa menjadi orangtua yang buruk?
Mungkin diantara kita sering terintimidasi dengan gambaran ideal seorang ibu, ayah atau gambaran ideal keduanya. Kalau disurvey, mungkin sebagian besar anak menganggap orangtuanya tidak ideal dan hanya beberapa diantaranya yang memuja orangtuanya. Bagi yang tereliminasi dari gambaran orangtua ideal jangan berkecil hati dulu.Waktulah yang akan membuktikan, seorang anak akan sampai pada pemahaman orangtuanya adalah hadiah terbaik yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Aku berkaca dari pengalaman masa kecilku, ketika allahyarham abi memukulkan sabuknya atau ketika allahyarham abi memarahiku karena hal yang sangat sepele atau saat mama terlalu sabar, aku merasa kedua orangtuaku adalah bukan gambaran orangtua ideal. Mungkin kalau ada yang tanya saat itu, aku memilih bertukar tempat dengan teman atau saudara yang lain dimana menurutku orangtua saudara atau temanku itu lebih ideal. Mungkin itu juga yang ada dibenak anak-anakku saat ini, kita (baca: terutama aku, ibunya) adalah gambaran orangtua yang tidak ideal alias orangtua yang buruk. Tetapi satu hal yang harus diingat, apa yang diyakini saat ini pada anak-anak kita tergantung dari warisan nilai-nilai apa yang sudah kita tinggalkan. Warisan perbuatan baik apa yang sudah kita contohkan bukan sekedar warisan kata-kata baik saja. Hanya masalah waktu saja yang akan membuktikan. 
Dan itu terbukti, inilah  yang sekarang menjadi sumber kegalauanku (gantian yang galau). Anak sulungku selalu membandingkan figur laki-laki dengan figur ayahnya. 
"Kalau baba gak mungkin gitu khan ma..."
"Kalau baba, pasti begini..."
"Kalau baba ...." dll
Duh...Ayahnya adalah figur idealnya, sementara ibunya belum disebut-sebut.  
Ya gpplah, bila anak-anak masih belum menyadarinya sekarang, suatu saat nanti akan tiba waktunya mereka melihatnya dengan cara pandang yang beda. Waktulah yang akan membuktikan kekuatan warisan. Apa yang sudah kita ajarkan pada mereka tidak akan pernah sia-sia karena pada dasarnya cinta dan sayang orangtua pada anaka-anaknya adalah rasa yang tulus-ikhlas dan tidak mengharap imbalan apapun kecuali ridhoNya. 

See you in the next post...:)



02 April 2019

Berburu barang Vintage berburu kenangan...

Aku senang ketika aku suka barang vintage dibilang mirip almarhum abi...
Aku senang ketika aku suka menata rumah dibilang mirip almarhum abi...
Aku senang ketika hidung bengkokku dibilang mirip abi...
Aku senang ketika masakanku dibilang mirip mama...
tapi  belum ada yang bilang...😏
Aku senang ketika aku sabar dibilang mirip mama...
tapi belum ada yang bilang...🙈
Aku senang ketika aku kurus dibilang mirip mama...
tapi belum ada yang bilang... 😉

--------------------------
Ketika pulang ke pasuruan beberapa waktu yang lalu, aku menyempatkan diri bergumul dengan debu, mengintip gudang. Tak ada emas batangan atau barang mewah digudang gelap yang asalnya adalah garasi. Yang terlihat hanya tumpukan kayu-kayu, pipa bekas, kaca-kaca, meja-kursi yang sekilas tidak berharga. Tapi dimataku, tumpukan barang-barang usang yang sudah tak terpakai lagi itu seperti memantulkan film pendek tentang kebahagian masa kecil bersama almarhum abi. Bagiku semua itu sangatttt berharga...
Bangku ini dipake saat mengaji dan sering dipake permainan sekolah-sekolahan.
Abi suka sidak, "Sampai dimana ngajinya?" Atau sudah hapal berapa surah?" Guru ngajiku namanya bu Fatimah, orangnya amattt sabarrrrrr bangeeettt. Tiap kali, bu Fatimah datang, bukannya mengaji tapi aku memintanya untuk berdongeng. Kisahnya tentu saja surga-neraka, firaun, kisah nabi-nabi dll. Meski sering sidak, abi tidak sampai ngecek. Setiap abi datang, aku langsung membaca surah favouritku, surah yasin....haha...akhirnya aku hapal surah yasin diusia dini :)

 Ornamen kayu yang artistrik

Hadiah pigura bergambar burung betet, dari almarhum abi untuk menghias kamarku
 Gambar awal view rumah daroessalam


Mama ternyata juga tertarik menyaksikan acara ngintip gudang :)

Dan setelah dipoles...


                             Kursi merak yang legendaris...
Aku berburu kursi merak sampai jakarta dan yogya demi sebuah kenangan. Kalau duduk dikursi ini, aku berasa jadi putri Raja. Dan tentu saja yang jadi raja dihatiku, almarhum abi...

                                Mesin jahit mama...
Hiasan kristik mama



Aku juga menemukan tiga lemari jadul yang masih dipoles, siap dikirim ke surabaya. Meski masih bingung mau ditaruh dimana (yang jelas bukan dikamar putri sulung yang menolak keras barang-barang jadul masuk kamarnya...😏)  aku siap menggeser furniture di rumah untuk menampungnya. Gak papa deh demi sebuah kenangan dan kesenangan...
 lemari hadiah ultah almarhum abi, semasa gadis

lemari jadul dikamar mama


See you in the next post 💗💗💗

24 March 2019

Anak Menantu

Ada anak yang didapat dari dikandung dan dilahirkan. Ada anak yang didapat dari perkawinan, ada pula anak yang didapat dari diangkat. Bagaimana proses mendapatkan anak tidak dibahas disini. Yang jadi titik poin tulisan ini, coba kita lihat foto menyentuh dibawah ini.
ibu Mertua & anak Menantu 1

 ibu Mertua & anak Menantu 2
Masyaallah Tabarakallah...
Anak yang baik adalah hasil dari didikan orangtuanya.
Dan semoga ibu Ani diberikan kesembuhan yang sempurna. لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.  Amin Ya Robbal Alamin.

-----------------------------
Anak adalah sebuah karunia, apakah itu laki-laki atau perempuan. Anak perempuan memiliki kelebihan atas anak laki-laki begitu juga sebaliknya. Misalnya: Perbedaan dari segi kecintaannya pada orangtua. Kelebihan anak perempuan adalah memainkan perasaannya atau lebih berempati terhadap orangtuanya. Sementara anak laki-laki kecintaan pada orangtuanya ditunjukkan dengan sikap mengayomi.
Seorang teman (yang hanya punya anak laki-laki) menginfokan,  anak laki-laki itu jika menawarkan sesuatu berlaku hanya satu kali saja  jadi sebagai orangtua jangan coba-coba jaim. Mereka terlalu logis bernalar...🙈 Beda dengan anak perempuan yang suka "memaksa". Orangtua(baca: ibu) membaca pemaksaan ini adalah tanda kesungguhan. Misal: memaksa orangtuanya untuk nambah berlibur dirumahnya atau mengajak untuk tinggal bersamanya.
-------------------------
Anak-Menantu
Menantu perempuan dan ibu mertua mempunyai potensi konflik lebih besar dibanding dengan menantu laki-laki dengan ibu/bapak mertua. Mengapa? Karena perempuan lebih memainkan perasaannya dibanding logika. Salah-paham dalam sebuah hubungan menantu-mertua, adalah hal biasa yang akan menjadi luarbiasa jika terekam oleh orang yang tidak tepat.

Menantu itu juga manusia biasa meski dipilih melalui proses seleksi yang berlapis-lapis. Lolos seleksi, restu turun bukan berarti langsung dapet award menantu idaman...😏
Seorang teman memuji menantu perempuannya , baik, sabar, cantik dll. Seorang teman yang lain memuji menantunya sebagai pribadi yang humble, friendly, patient dll...Teman yang lain memuji menantunya sabar, santun dan apa adanya.
Aku yang kepo berusaha mengamati menantu-menantunya itu saat bertemu. Dari melihat bahasa tubuhnya dan bahasa lisannya  ada satu kesamaan diantara mereka, sama-sama sabar...!
Sebagai orang yang tidak sabaran, aku sangat mengapresiasi orang sabar. Menurutku, orang sabar memang layak mendapat award...✌
Selain mengamini pujian mereka, aku juga kepo (maklum emak-emak) menanyakan kira-kira menantu yang tidak menyenangkan itu seperti apa?
Tidak ada contoh, tapi mereka koor mengatakan kalau yang termasuk kategori ini adalah menantu yang cuek. Ai...tambah kepo ini...Cuek yang gimana ya?
Setelah dijelaskan, akupun mahfum...ternyata cuek yang dimaksud, yang tak bisa jadi lidah penyambung antara perasaan dan logika. Cuek tak mau/mampu meterjemahkan gelombang logika menjadi getaran perasaan.
Misalnya nih jika, si ibu lagi kesal sama anaknya (biasalah mak-mak suka baper dan penyebabnya juga bisa apa saja). Selalunya anak laki-laki khan gak peka, gak ngerti kalau si ibu lagi kesal jadi sikapnya cuek-cuek saja. Nah disinilah peran menantu perempuan diharapkan sebagai penyambung lidah. Jangan ikut-ikutan cuek dong...ambil peran. Pada umumnya, nanti hukum kembali keasal berlaku. Rasa sayang si ibu pada anaknya mendorong dia menjatuhkan kesalahan pada menantunya...Ya itu tadi dianggap: salahnya, simenantu yang cuek. Masih untung dianggap cuek, kalau dianggap provokator, gimana...? Bakalan ada drama berseri...😟

Menantu itu seperti anak. Mertua itu seperti orangtua, benarkah?
Pembahasan ini kayaknya lebih tepat ditujukan untuk menantu perempuan dibanding menantu laki. Sepanjang dan selebar pengamatanku, menantu laki hampir tidak bermasalah dengan para mertuanya. Lebih tepatnya kalau sampai menantu laki bermasalah dengan mertuanya, seringnya sih malah gak lama menyandang status menantu. Gesekan yang terjadi pastinya bukan masalah remeh-temeh yang main perasaan tapi sudah masuk kategori big mistake. Kalau begini, eliminasi bisa terjadi dengan sendirinya. 

Ada dua hal yang bisa menyebabkan menantu dapat berperan  seperti anak dan mertua dianggap seperti orangtua sendiri.

Yang pertama adalah: sikap suami dan yang kedua adalah didikan yang baik dari orangtuanya. Sementara sikap mertua itu sendiri adalah katalisator. Mertua yang bijaksana, semakin disayang menantu.
Sikap suami yang shalih dan bijaksana akan mendorong istri untuk hormat dan sayang pada mertuanya.  Dari segi didikan orangtua, ini semacam kredit point yang tersimpan dalam bentuk sikap tidak pendendam, sikap sabar, hormat dan patuh pada orangtua, dll. 
Mertua itu adalah ibu dari suami. Harusnya mertua memang dianggap seperti orangtua sendiri. Hubungan baik antara mertua-menantu itu bukan berarti zero konflik. Dengan ibu sendiri aja terkadang ada kesalahpahaman atau ketidaksepahaman apalagi dengan mertua (terutama diawal-awal perkawinan)
Apakah kita akan berbalas-balasan  jika dengan orangtua kita?
Tentu tidak khan...

Ada kisah lucu sehubungan bisakah mertua dianggap seperti orangtua sendiri. Seorang teman yang sudah menjadi mertua menceritakan kisahnya pada suatu hari. Setiap pagi si menantu laki (kebetulan masih tinggal serumah) bersalaman padanya saat pamit mau berangkat kerja. Biasanya sih standart saja, salaman dengan cium tangan. Nah pagi itu kebetulan si ibu mertua lagi didapur, cuci-cuci piring dan tangannya masih belepotan sabun. Alhasil saat mau bersalaman pamit kerja, si menantu tidak bisa menjabat tangan si ibu mertua, meski si ibu sudah memberi signal dengan anggukan ternyata si menantu melakukan terobosan baru dengan cipika-cipiki... Deg...langsung temanku mau pingsan saking kagetnya. Dan ketika dia meloparkan keanaknya, sang anak cuman ketawa cekikan...
Dan ketika kuceritakan kisah ini ke putri sulungku, jawabannya..."Mama jangan genit ah..." 😶😄🙈

Lain teman, lain cerita versiku. Dari beberapa tahun yang lalu, aku selalu membujuk suami untuk mau cipika-cipiki pada mama (kalau sama almarhum abi sih sudah biasa). Biasanya sih suami bila bertemu mama, hanya salaman takzim, cium tangan saja. Ini yamg bikin aku keki soalnya aku melihat sepupu-sepupuku yang lain, suaminya cium pipi kiri dan kanan bahkan ada yang kening pada mertuanya. Dibujuk gak mau, katanya belum terbiasa...🙈. Alamak...kalau gak dimulai kapan jadi kebiasaan.
Sampailah kemarin, suami yang mau berangkat umroh berniat pamit pada mama. Sebelumnya aku sudah membujuk manis untuk cipika-cipiki pada mama dan finally.... dia setuju. Masak sih mertua sudah berumur tujuhpuluh tahun hanya dicium tangannya saja, kurang takzimlah...
Aku sudah senang dengan perubahan sikapnya dan aku menunggunya untuk mengabadikan moment tersebut...
Pada saat kita berjalan mendekat ke mama, eit ...tiba-tiba adikku memanggilku kedalam. Mendengar panggilan yang diulang-ulang maka aku bergegas masuk kedalam dan membiarkan suami sendiri bertemu mama. Lima belas menit kemudian, aku sudah diatas mobil mengantar suami menuju airport (suami pergi umroh bersama ibu dan saudara-saudaranya). Pas aku tanya...." Tadi sudah belum...?" 
Suami menggeleng sambil tersipu...
Lha koq gitu sih, aku kesel masih saja belum berhasil membujuknya. Ternyata jawabannya membuatku tergelak...
"Janjinya khan didampingi...koq tadi ditinggal (aku pas masuk dipanggil adikku) Tadi pas salaman ma mama ada Adam (kkk sulung) ya aku gak beranilah...Ntar adam atau mamanya yang pingsan, gimana? "
Duh...nemu aja alasannya. Tapi akupun tak menyerah, dalam waktu dekat inshaallah, dicoba lagi...😊  
 masih begini...tak sesuai SOP..😞

Semoga kita bisa menjadi anak - menantu - mertua yang baik. Amin.
See you in the next post...😍


27 February 2019

Melampaui Batas...


Seorang anak yang akan terus mengingat apa yang menimpa dirinya selama bertahun-tahun setelah banyak orang tidak akan mengingatnya dari lima menit setelah membaca kisahnya.

Anak adalah Qurrouta a'yun. Dan inilah penyejuk jiwa yang sebenarnya. Seorang anak yang inshaallah dapat membawa orangtuanya ke surga terbaik. 



Dan ketika manusia berkawan dengan hawa nafsunya dan syaitan tertawa melihat hasil kerjanya yang sangat memuaskan. 

Bersambung....

31 December 2018

Cowok Vs Cewek


Siapa yang sudah melihat video kedua anak kreatif ini? Kalau belum lihat disini ya: lihat


Lagi cari inspirasi buka instagram, nemu video ini, ngakak, lucu banget. Meski (seperti biasa...🙈) aku gak langsung ngeh isinya tapi lihat mimik si cewek @daraarafah yang hayati bener jadi kagum ma aktingnya. Memang pernah ngalamin atau sekedar berempati ma para korban cowok, si daraarafah ini memang kreatif pembuatan videonya terlepas juga isinya menurutku (ukuran emak-emak) agak sarkas.  
Hhh...namanya juga video gokil, satire dan parodi. 

Para cewek dan emak-emak yang punya anak cewek, gimana apa sudah merasa terwakili? 
Begitu juga dengan video tandingan yang dibuat oleh Ikram Att, bagaimana para cowok atau emak-emak yang punya anak cowok apakah sudah terwakili?

Apakah anak mewakili orangtuanya?
Bisa ya bisa juga tidak.
Ada ungkapan Like mother like daughter atau like father like son, yang menandakan anak replika orangtuanya. Tapi bagaimana dengan badboy atau badgirl padahal orangtuanya terkesan shaleh?
Bukankah ini menandakan kelakuan anak bertolak-belakang dengan kelakuan orangtuanya?
Penelitian yang sudah terbukti, mengatakan gen kecerdasan anak diturunkan dari gen ibunya. Sementara penelitian yang tidak memerlukan bukti mengatakan, anak polah bapak kepradah...🙈

Kesimpulannya: Terwakili atau tidak, orangtua akan terseret dengan ulah anak-anaknya.  

Kenapa ada cowok yang membully cewek? Atau kebalikannya, cewek yang membully cowok?
Jawabannya seratus persen berkaitan dengan pola asuh, bukan gen. Kalau ditarik lebih jauh lagi, statement diatas bertalian darah dengan konsisitensi orangtua dalam menerapkan pola asuh. Menjadi orangtua yang konsisten terhadap anak, tampak seperti pekara kecil yang berefek maha berat. 
Rasa sayang alamiah orangtua terhadap anak, menghalangi banyak hal buruk/baik yang akan terjadi pada anak. 
Suami suka mengingatkan, menyintai anak adalah termasuk pekara hubbud dunya. Masak sih...?
Iya, ini lanjutannya: Banyak orangtua yang bersedia melakukan apa saja untuk membahagiakan anak-anaknya. Termasuk didalam perbuatan ini adalah: membiarkan, mendiamkan, membela,  atas nama anak. Saking hebatnya membela anak sampai tak disadari menjauhkan diri sendiri  dari tuntunan agama.
Hmm...Bener juga ya...😟
Kadang petuah ini masuk, kadang lewat begitu saja. Dalihku, enak memang bapak-bapak ini, mereka memikirkan anaknya hanya sampai kulit ari saja, sementara para ibu memikirkan anaknya sampai ke sumsum tulang. 
Suami menimpali: Makanya itu ibu punya kedudukan tiga kali lebih tinggi dari ayah. Bukakah ini sebuah kehormatan bagi seorang ibu? 
Bener juga ya...
Pola asuh dalam keluarga sangat mempengaruhi pandangan (nilai-nilai yang dianut) anak. Orang tua yang memiliki anak ganda campuran (anak cewek dan cowok) seharusnya dapat bersikap lebih konsisten dibanding orangtua yang hanya punya anak cewek atau cowok saja. Mengapa?
Orang tua adalah role model pertama bagi anak dalam kehidupannya. Ketika orangtua tidak bersikap konsisten  dalam menerapkan nilai-nilai antara anak cewek dan cowok, maka nilai-nilai itu akan dirasa membingungkan dan tak akan dipakai. 
Contoh kecil: 1
Ortu yang menerapkan aturan jam malam pada anak perempuannya dan tidak membatasi jam malam pada anak lelakinya maka aturan itu dianggap sebagai sebuah ketidakadilan. Sang anak perempuan akan mengabaikan hal baik dibalik aturan itu dibuat.
Contoh kecil: 2
Banyak ortu menerapkan aturan double standart (sepengetahuan saya, khususnya dalam budaya arab) pada anak perempuan dan menantu perempuannya (notobene istri dari anak lelakinya) . Pada anak perempuannya diberikan kesempatan yang luas untuk menuntut ilmu dan kebebasan-kebebasan yang lain sementara pada menantu perempuannya (khususnya mertua yang masih beraliran retro-pop.. 🙈 ) dibatasi nilai-nilai dengan dalih kasihan suaminya. Kisahnya: ada teman yang curhat, anaknya putus dengan calonnya karena si ibu sang calon tidak setuju punya mantu yang bekerja di luar rumah (dokter). Sang ibu khawatir, anak lelakinya tidak terurus. Yang menggelikan adalah, saudara perempuan si calon adalah juga seorang dokter..😶 (speechless deh, mana bisa calon besan didebat ). Maka kuhibur teman yang sedang galau itu dengan kalimat, "Itu artinya sedang dipersiapkan jodoh yang lebih baik buat Nina" 
Dalam hal ini, nilai-nilai yang tidak konsisten si ibu akan membuat anak lelakinya tidak bisa bersikap sebagaimana seharusnya (akhirnya terjadilah pembullian hubungan alias pemutusan hubungan sepihak)

Singkat kata, pola asuh ortu yang tidak konsisten memberikan sumbangsih dari pembentukan kepribadian anak yang labil. Penampakannya dalam bentuk pembulian atau pelecehan terhadap lawan jenis. Jelasnya lagi anak cewek atau anak cowok yang baik adalah murni hasil pola asuh yang baik dari orangtua yang baik tetapi badboy atau badgirl adalah hasil persilangan pola asuh yang tidak konsisten dengan lingkungan yang tercemar. 

Berkaitan dengan video satire diatas, kelihatan sekali kalau kelahirannya didasari oleh rasa empati women to women atau man to man. Hhh ...sepertinya keduanya memang berniat menyentil dan bukan pelaku. Maka berterimakasihlah kita pada @daraarafah. Bagaimana emak-emak yang punya anak cowok apa sudah terwakili oleh  @ikram_afro_attamimi...? 😉

See you in the next post...






 

21 September 2018

Perjodohan Dalam budaya Arab


Bagi anak sekarang perjodohan adalah kata yang tabu, sebaiknya sebisanya, dihindari atau seharusnya dihapuskan (mungkin disamakan juga dengan perbudakan 🙈). Sebaliknya bagi ibu-ibu ini adalah topik favourite 😉 Entah kenapa aku ketiban sampur sering diminta teman/saudara untuk jadi agen non property ini. Aku sih senang-senang saja, selain pahalanya gedhe, ikut senang juga kalau berhasil. Hanya sepanjang pengalaman jadi agent 001 ini, ada kendala tetap yang stabil menghambat, yaitu: action. Niatnya kuat tapi actionnya kurang, hasilnya: nihil..😥
Paling sering dimintai tolong oleh ibu-ibu untuk mencarikan jodoh anak perempuannya. Ada juga sih yang untuk mencari jodoh anak lelakinya meski amat jarang sekali. Ini mungkin disebabkan karena anak perempuan secara budaya ada diposisi dipinang (pasif, menunggu) bukan meminang (aktif, mencari). Meski tidak selalu berhasil, tetapi aku gak kapok tuh. Bahkan pada sisulung, aku selalu kasih woro-woro, kalau ada diantara teman-temannya yang belum punya calon untuk dikenalin ma anak temanku. Sisulung langsung angkat tangan...Mungkin dia khawatir mamanya keterusan jadi agen spionase..😄


Perjodohon dalam budaya Arab
Perjodohan sudah menjadi tradisi dalam budaya arab, bukan ssesuatu yang tabu atau menakutkan. Jaman mengalami kemajuan, sosial media menjadi acuan baru cara berkomunikasi, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat otomatis tatacara pencarian jodohpun mengalami perubahan. 
Dalam budaya arab,  perjodohan tetap berlaku hanya saja tatacaranya yang mengalami kemajuan, disesuaikan dengan kemajuan jaman.Yang paling favourite perjodohan antar sepupu atau antar kerabat, disusul dengan perjodohan antar teman. Ceritanya dulu, aku juga gak lepas dari perjodohan. Jidah (ibunya abi/nenek) menghitung jumlah cucu laki dan cucu perempuan dan ponakan sepupu. Ternyata didapat jumlah cucu perempuan berimbang dengan cucu laki maka secara samar, dijodohkanlah si A dengan si B, si C dengan si D dsb (haha...nostalgia jadul) Ternyata dari yang dijodohkan itu tak satupun menikah dengan jodoh bayangannya, yang tidak dijodohkan malah menikah juga dengan sepupunya 😍
----------------------
Ibu berperan penting dalam mencari jodoh bagi anak laki-laki sementara ayah berperan penting mencarikan jodoh bagi anak perempuannya. Kalau budaya Jawa, ada bibit, bobot, bebet. Kalau dibudaya arab mungkin yang lebih difokuskan adalah: bibit (asal-usul, malah saking percayanya ma point yang satu ini, kalau yang melamar dari keluarga baik-baik maka biasanya sianak yang melamar langsung mendapat status lolos seleksi meski personality sipelamar belum tahu betul). Silahkan baca
Merunut asal-usul adalah bagian terpenting dari budaya Arab. Untuk amannya mereka lebih senang menjodohkan anak-anaknya dengan keluarga sendiri (antar sepupu, anaknya hall/ami, halati/amati, tante/paman). Apalagi kalau dalam satu keluarga ada gen bibit unggul, wah...jarang yang sampe lolos ke gen yang lain. 
Terkadang saking cocoknya antar keluarga besan, mereka melakukan perjodohan dua tingkat, pake sistem silang. Jadi kakak-adik dari keluarga A, dapet juga kakak-adik dari keluarga B. Bahkan dari keluarga Abi (kkk-adik), persilangannya sampai tiga tingkat, ha...ha...saking dah sehatinya antar keluarga besan.
Meski begitu banyak juga yang memilih menjodohkan anaknya dengan orang lain diluar sepupu. 

Kenapa perjodohan dalam budaya Arab menjadi warisan tradisi yang masih lestari)
Ada beberapa alasan yang mungkin jadi penyebabnya, al:
1.Terbatasnya akses bertemunya antara anak laki-laki dan perempuan sehingga masing-masing pihak merasa kesulitan untuk menemukan calon yang cocok dan menyerahkan mandat pada orangtua.
2.Akses yang terbatas menyebabkan mereka tak segan jatuh cinta pada sepupu 😏 
3. Ketaatan pada orangtua (terutama ibu) menyebabkan si anak (laki) tidak menolak calon yang disodorkan ibunya. Begitu pula bagi anak perempuan biasanya setuju saja dengan calon yang disodorkan ayahnya.
4. Ibu yang mendapat mandat akan bergerak menjalankan perannya sebelum si anak merequest minta kawin. Lha siapa yang gak seneng dapet bonus calon pendamping.  Umumnya di suku Arab, menikahkan anak lebih cepat lebih baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan. Konsekwensinya, para orangtua masih menanggung secara finasial kebutuhan anaknya yang telah menikah (terutama laki-laki) sampai mereka mandiri. 
5.Pentingnya masalah asal-usul yang membuat orangtua mengambil peran aktif. Sebelum si anak terlanjur keluar jalur (mencari calon pendamping secara mandiri dimana ada kemungkinan tidak memenuhi kriteria si ibu/ayah) mereka lebih dulu mengambil langkah menjodohkan anak-anaknya.
6.Adanya supply and demand yang masih tinggi. Artinya, perjodohan masih menjadi alternatif pilihan favourite keluarga :)

Terlibat dalam beberapa scene perjodohan, aku sedikit memahami lika-liku prosesi penghalalan ini. Ada beberapa point, diantaranya:
1.Sosok ibu berperan strategis dalam memilih siapa yang akan menjadi miss universe dalam keluarga. 
Untuk calon suami bagi anak perempuannya, ayahlah yang dominan. Selain menyeleksi, ayah juga berperan sebagai explorer. Seorang ayah bertanggung-jawab mencarikan jodoh untuk anak perempuannya. Karenanya seorang ayah bisa sangat tegas (cenderung kaku) dalam menyeleksi calon pendamping anak perempuannya.
Sebagai contoh, dulu bila ada orang yang datang melamarku, bila almarhum abi tidak setuju maka  calon itu tanpa ampun, bakal terdelete  dalam direktori.  Meski sangat tegas pada anak laki-laki, almarhum abi sangat lembut pada anak perempuan bahkan siapapun calon yang dibawa anak laki-lakinya abi setuju saja hanya mama tentu saja tidak mau hak prerogatifnya terkoreksi. Abi yang sangat dominan bisa dibuat tak berkutik ketika mama menggeleng dengan calon yang disodorkan untuk anak lelakinya. Ketika mama mengangguk tanda setuju... Ups, langsung ada penghuni baru dalam keluarga 😊

2. Biasanya akses mencari jodoh/perjodohan terjadi saat kondangan pengantin karena disanalah para umi akan bertemu dengan para gadis yang akan menjadi calon untuk anaknya. Bisa dikatakan acara kondangan pengantin seperti gebyar bca gitu atau semacam pesta tahunan yang sangat dinanti-nantikan. Para gadis cantik yang bak miss universe berseliweran dengan gaya dan senyum yang menawan. 
Sebagai ibu, terkadang aku dibuat keki ma sisulung. Jarang bisa ikut (sebenarnya dimaklumi sih masih kuliah dan diluar kota pula) padahal si ibu terikat misi, ada sedulur, kerabat, teman yang mau ngenalkan anaknya. Akhirnya... Jadilah mission not working...😉
Kalau bisa ikut kepaksa banget facenya, terlihat bete. Baru aja nyampe udah request kapan pulang...😕
Tanpa diusutpun aku tahu darimana wajah bete itu berasal. Si sulung sepertiku dulu, merasa asing dengan suasananya 🙈  Tapi kalau ada kondangan pengantin dikalangan habitat temannya, wah...seru ceritanya gak habis-habis... Percis banget profil mamanya tempo doeloe.
3. Seringnya punya daftar nama perempuan lebih banyak dari yang laki. Bukan karena anak perempuan susah jodohnya tapi lebih karena mencarikan jodoh anak perempuan itu harus benar-benar berhati-hati. Gak main-main lho, ceritanya ini khan nyari surga pengganti. Jadi mikir...
Ini mungkin penyebab banyak ibu-ibu yang berusaha menjodohkan anaknya dengan anak teman/ kerabat/saudara.  Mereka merasa aman kalau menyerahkan anaknya ke tangan keluarga yang sudah mereka kenal baik. Paling tidak meski tidak bergaransi, trackrecordnya tidak masuk dalam daftar hitam. Rasa sayang orangtua pada anak perempuannya menuntut rasa aman. Kalau menurutku, faktor inilah yang no satu bukan karena bobot dan bebetnya. Itu sebabnya perjodohan tak lekang oleh kemodernan jaman sekalipun.
Sebagai ibu yang merasa sudah kuliah di era modern, mengeyam segala fasilitas modern dan memakan modern food (kfc, pizzaa, mc donald dll) aku rasa cara berpikirku sudah modern. Tapi ternyata belummmmm....Terutama dikedua mata buah hatiku...:( Contohnya ya tentang teori perjodohan ini.
Sebaliknya kalau pas ngobrol ma ibu-ibu, ngomongin topik perjodohan jadi gayeng alias rame. Ibu yang punya anak laki dan anak perempuan adalah dua kubu yang berbeda...:)

"Pokoknya mb, ibu yang punya anak laki itu menang dhisik, iso milih.... kene iki menang kari, iso nolak..."ujar seorang ibu yang keki habis diphp oleh temannya.
Maksudnya, ibu-ibu yang punya anak laki berada diatas angin karena bisa milih dulu calon mantunya. Sementara ibu-ibu yang punya anak perempuan, menangnya kemudian, karena hanya bisa nolak tapi gak bisa milih. Fenomena ini, berdasar pada anak perempuan atau orangtua yang punya anak perempuan secara adat dan budaya diposisikan pasive, menerima/menolak lamaran bukan pihak yang melamar. 
Seorang ibu yang lain nyeletuk, "Jangan khawatirlah...khan lakone biasanya menang terakhir "
Hhh...😏😊
4. Untuk menghindari niat baik yang berakhir salah, dalam perjodohan sudah seharusnya pihak laki-laki dulu yang dihubungi baru kemudian yang perempuannya.
Banyak orang yang menggunakan foto untuk menunjukkan profile calonnya sementara. Padahal sih personality seseorang tidak bisa diwakilkan dalam sebuah gambar cetak. Selembar foto itu hanya membawa pesan singkat kerangka jasmani untuk memenuhi hasrat akan keindahan. 
Khan sekarang sudah canggih, ada medsos. Masing-masing orang punya akun medsosnya sendiri. Lihat dong medsosnya tanpa pihak perempuan tahu. Nah disinilah peran pembantu diperlukan untuk bermain cantik. 
Sehubungan hal ini, ada contoh menggelitik. Dalam sebuah kesempatan datang ke kondangan pengantin, sisulung yang beberapa saat terpisah, menghampiriku. Dia terlihat agak bingung dan bertanya kepadaku, mengapa ada seseorang (umi-umi) yang minta ijin padanya untuk mengambil foto.
Buat apa fotonya? tanyanya masih keheranan.. Dia heran, bukan artis atau publik figure koq tiba-tiba ada yang mengajak foto bareng. Hmm...Aku yang mahfum, hanya menjawabnya dengan  senyum tersungging. Anakku ini memang masih asing dengan beberapa tradisi dalam budaya Arab.

5. Tidak semua orang mau membawa pesan. Seberapa besar kita berniat menjodohkan seseorang, kita tidak bisa bekerja senyap, butuh rantai untuk menjadi penghubungnya. Inilah yang kumaksud dengan action. Dalam action, ada yang dengan senang hati membantu, ada yang php dan ada juga yang abstain. Jarang sih yang langsung frontal nolak...Mungkin yang nolak sungkan, khan ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan...:) Kalau rantainya tidak terhubung dengan baik bisa dipastikan hasilnya tidak seperti yang diharapkan.  Kendala inilah yang sering kujumpai dilapangan tembak :(
Tapi ini semua kembali pada takdir. Kalau jodoh, semuanya jadi lebih mudah tapi kalau belum jodoh, ketemu aja kendalanya, yang no action, yang gak cocok, yang PHP, dll. Disinilah harus percaya takdir. Masing-masing pihak harus berbesar hati.
6. Sekufu
Inilah point of interest dari sebuah kisah perjodohan dalam budaya Arab. Umumnya pihak perempuan yang menemui kendala dalam makna kata sekufu. Seabad yang lalu, dalam salah-satu warisan tradisi  suku Arab, perempuan mempunyai akses yang terbatas dalam hal pendidikan sehingga tidak masalah jika terjadi ketimpangan pendidikan antara suami-istri. Seabad berlalu, ternyata tradisi/kebiasaan seperti ini masih  berlaku ;)
Bukan hal yang aneh kalau ada perbedaan umur, tingkat pendidikan atau strata sosial-ekonomi antara pasangan suami-istri dalam sebuah keluarga dari suku Arab. 
Inilah efek calon pilihan mami...🙈 yang bisa saja jadi blunder bagi anak perempuannya kelak. Seorang ibu pastinya menginginkan calon bagi anak lelakinya yang looks like Barbie or Cinderella (komplit, pintar masak, cantik dan baik hati).

Itu sebabnya bagi anak perempuan yang berpendidikan tinggi agak susah mencari yang sekufu. Semakin pintar, semakin sukses semakin menakutkan...Hhh mungkin umi-umi yang masih kolot aja yang berpikiran begini...Khawatir anaknya invisible. Mungkin  👀
Memang tidak bisa digeneralisasi sih tapi yang model begini masih punya tempat dan survive 😑

Pada kenyataannya, selama bumi masih berputar mengelilingi matahari, hal-hal yang kontradiktif akan selalu ada dan langgeng. Seperti yang dipaparkan dalam sebuah penelitian, banyak lelaki yang ketika beperan menjadi suami, mereka menginginkan istrinya  tidak bekerja dan semata dirumah mengurus rumah tangga saja.  Tetapi ketika silelaki itu menyublim menjadi Ayah, banyak ayah yang menginginkan anak perempuannya mandiri dengan bekerja. 
Nah khan...
-------------------
Apa yang kutulis diatas, bandingkan dengan ini...
Seorang teman (dari suku Jawa) mengisahkan anak lelakinya minta dicarikan calon. Dan ketika temanku itu spontan menawarkan anak temannya yang sekolah di pondok, si anak lelakinya langsung menolak karena tidak sekufu katanya. 
Tidak sekufu gimana? tanyaku
"Anak temanku yang dipondok itu anaknya baik, kalem tapi masih SMA, ntar jomplang cara berpikirnya. Umurnya juga beda jauh, susah diajak diskusi, kata anakku. Aku pikir-pikir betul juga.." ujar temanku, Aishah.
Hhh...aku langsung ketawa...
Aku nanya temanku itu, apa anaknya sadar betul akan ucapannya?
"Maksudnya..?'' temenku balik bertanya
"Apa anakmu sadar betul, pengin istri yang diajak diskusi tentang apa saja. Beli mobil tanya istrinya dulu, jenis dan catnya warna apa? Mau beli rumah nanya istrinya dulu. Mau ngasih uang ke ibunya, nanya istrinya dulu dll...Apa yakin, mau begitu..? Jangan-jangan anakmu cuman latah aj ma ungkapan manis bisa jadi teman diskusi" kataku menggoda.
Akhirnya temanku, Aishah ketawa juga...

Bolehkah suku Arab menikah dengan suku non Arab?
Aku bukan pemerhati budaya, jadi cerita ini ditulis semata-mata hasil dari pengalaman langsung bukan dari pengamatan ilmiah atau sejenisnya. Karenanya jawaban dari pertanyaan ini, akan kujawab sebagai bagian dari proses metamorfosa-ku.
Pertanyaan ini sering diajukan mulai dari aku masih SD. Dan biasanya aku tidak menjawab karena memang tidak tahu. Ketika menginjak SMP, pertanyaan ini tak kujawab, juga aku tidak tahu alasan sebenarnya kecuali almarhum abi melarang. Ketika menginjak hari pertama di SMA, aku sudah mulai dapat merasakan itu bukan pelarangan tapi undang-undang, seperti NKRI harga mati...🙈.
Saat itu kalau aku ditanya, aku tetap tidak menjawab hanya aku sudah mulai bisa menebak alasannya. Saat aku kuliah, aku sudah mulai bisa menjawab dengan nalar. Saat aku menikah dan mempunyai anak perempuan diusia balita, aku adalah calon pemberontak. Saat anak perempuanku memasuki usia dewasa, aku adalah prototipe almarhum abi, sangat protective terhadap anak perempuanku.

Kembali ke pertanyaan asal, apakah boleh suku arab menikah dengan suku non arab?
Jawabannya adalah boleh. 
Tidak haram? Tidak...
Tapi memang tidak mudah terutama bagi anak perempuan. 
Mengapa Tidak mudah? Apakah karena nama keluarga akan hilang jika mereka menikah dengan laki-laki dari suku non arab?
Jawabannya memang benar nama keluarga (fam) akan hilang tapi sebenarnya faktor fam bukannya yang utama.
Kalau begitu, faktor apa yang menyebabkan tidak mudah?
Setiap orangtua mempunyai harapan tersendiri pada masing-masing anak. Harapan yang membawa doa-doa terbaiknya. Sedangkan kenyataan adalah:  fakta yang ada saat ini. Antara harapan dan kenyataan adalah dua faktor yang berbeda. Bila ada gap antara harapan dan fakta itulah yang dinamakan masalah. Adanya masalah inilah yang disebut dengan tidak mudah. 
Sebenarnya gap antara harapan dan kenyataan tidak saja terjadi pada suku arab dan non arab tapi bisa juga terjadi pada suku jawa dan non jawa, suku batak dan non batak dll. 
Gap harapan dan kenyataan bisa juga merambah ke status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, profesi dll. Misalnya: keluarga dari kalangan militer cenderung menginginkan anak/mantunya punya lat-bel militer juga. Atau keluarga dari kalangan akademik cenderung menginginkan anak/mantu dari kalangan yang sama juga.
Dalam hal ini, orangtua cenderung punya harapan agar anak-anaknya menikah dengan lat-bel keluarga yang sekufu. Hal ini bukan suatu keanehan,keburukan atau kejahatan. Mereka hanya ingin memastikan anak-anak perempuannya terlindungi dan aman menurut nilai-nilai yang sudah mereka kenal bertahun-tahun. Itu sebabnya seperti uraian diatas perjodohan dikalangan suku Arab amat sangat populer.
Hanya saja, gap ini yang menjadikan perkawinan  tak sekufu itu menjadi tidak mudah terutama bagi anak-anak perempuan, utamanya lagi dari suku Arab.

Untuk anak laki-laki sebetulnya gap itu dapat lebih mudah diatasi. Mengapa?
Karena secara sosial dan agama, anak laki-laki berada dalam garda depan (punya tanggung jawab lebih) dalam menyandang nama dan kehormatan keluarga. Selain keabsahan membawa nama marga (fam), laki-laki punya hak talak dan anak laki-laki akan selalu menjadi anak ibunya (artinya: seorang anak laki-laki surganya ada pada ibunya) Karenanya ibu yang punya anak laki-laki sudah seharusnya punya tingkat kekhawatiran yang lebih rendah dibanding anak perempuan .Mungkin satu-satunya kekhawatiran seorang ibu jika anak lelakinya adalah termasuk golongan suami-suami takut istri...🙈


--------------------
Harapan hanyalah harapan. Dia tidak bisa melampaui takdir. Kalau memang jodoh, tak ada kekuatan yang dapat menolaknya. Hanya saja sesuatu yang baik, seharusnya diperjuangkan dengan baik bukan dengan pemaksaan atau sampai kawin lari segala.
Banyak kisah love story disekitarku. Diantaranya, kisah adikku.


Ketika adikku, Rima mengajukan calonnya Nova, dari suku jawa maka gegerlah dunia Al Thalib. Memang adikku bukan yang pertama, tapi dari jalur abi dan mama, Rima adalah anak perempuan yang pertama. 
Fase pertama adalah fase yang paling berat dan tidak mudah, cenderung uji nyali alias menakutkan. Almarhum abi dengan tegas menolak mentah-mentah. Fase kedua, adikku menggalang dukungan dari mama: mental-tertolak. Fase ketiga, tak kurang akal, adikku menggunakan saudara menjalin solidaritas. Dukungan  mulai terpetakan. Fase keempat, Rima mulai menebar simpati, Nova mulai dilibatkan untuk berbicara denganku dan saudara-saudara yang lain. Nova datang berusaha menemui almarhum abi: tertolak. Fase kelima,   almarhum abi mulai melunak, meminta wali hakim. Tahu ada peluang, Rima masih menebar dan menggalang simpati, terutama ke mama dan aku, sebagai penerus lidah ke saudara laki-laki. Fase keenam, almarhum abi memerintahkan aku dan anak laki-lakinya plus adiknya mama  (laki-laki) berangkat mewakili almarhum abi menikahkan Rima di mataram (tempat rima bermukim, mengikuti program PTT drg). Ketika kita sudah siap-siap berangkat, giliran Rima yang tidak mau menikah tanpa restu almarhum abi. Fase ketujuh, fase reses, rundingan melibatkan keluarga besar.  Fase kedelapan, almarhum abi mengangkat bendera, menerima Nova sebagai menantu tanpa syarat. Meski masih ada yang keberatan tetapi ketika almarhum abi sebagai garda depan, memberikan restunya, otomatis semua saudara langsung berubah haluan, ikut mendukung. Fase kesembilan, keluarga Nova berkunjung kerumah bertemu keluarga besar Al Thalib melalui tahap lamaran. Fase kesepuluh, akad nikah, langsung almarhum abi sendiri yang menikahkan Rima  Sebelum akad nikah, almarhum abi mensyaratkan akad dibaca dengan menggunakan bahasa Arab, jadilah sebelumnya Nova belajar menghafal lyrik akad berbahasa Arab. Alhamdulillah lancar :)
Ada kisah lucu dalam perkawinan campuran ini. Dalam rangka belajar menyesuaikan diri, hal pertama yang diajarkan Rima pada Nova adalah belajar bersalaman, siapa yang harus diajak bersalaman dan siapa yang tidak. Saat-saat awal masuk dalam keluarga, Nova bersalaman pada semua orang yang malah bikin kita saling pandang-memandang: terkaget, terkekeh dan meleleh 🙈



Apakah adakah alasan lain kenapa seorang perempuan dari suku Arab susah menikah dengan laki-laki non Arab?
Ada beberapa (meski sekarang jumlahnya semakin sedikit) yang beranggapan, alasan sulitnya perempuan dari suku Arab menikah dengan lelaki non Arab dikarenakan masalah rasis. Tentu saja ini adalah anggapan yang paling koyol. 
Mengapa?
Yang pertama: fakta bahwa laki-laki Arab lebih mudah menikah dengan perempuan suku non Arab ini menandakan statement diatas tidak terbukti. Kalau ada masalah rasis, mengapa mereka mempercayakan anak-anaknya lahir dan diasuh dari seorang ibu yang mereka rendahkan sukunya ?
Yang kedua: fakta bahwa laki-laki arab lebih mudah menikah dengan perempuan non arab membawa pada fakta berikutnya, kelak bisa saja pasangan ini (terutama si ibu yang non arab) akan menjadi mertua dari menantu perempuannya yang arab. Dan si menantu sebagaimana layaknya menantu-menantu arab yang lain harus hormat dan taat pada ibu mertuanya selain suaminya. Seorang menantu perempuan arab yang tidak hormat dan taat pada ibu mertuanya (apapun sukunya), dia tahu kemana perkawinan itu akan berujung. 
-----------------------------------

Apa perempuan Arab yang menikah dengan laki-laki non Arab akan terkucil dari keluarga? 
Jawaban logisnya ada dibawah ini: 
Keturunan Arab, aku  bagi kedalam tiga golongan secara sederhana.
Golongan Satu: Konservatif cenderung kolot. Ditandai dengan banyaknya tradisi yang masih mengakar kuat. Umumnya perempuannya berhijab, dan pendidikannya lebih condong memilih pendidikan agama daripada pendidikan umum. 
Golongan Dua: Moderate. Tidak banyak memegang tradisi, umumnya perempuannya berjilbab dan memilih pendidikan umum. Bisa sekolah sampai SI dan S2. Ada yang bekerja, ada yang tidak. 
Golongan Tiga: Modern. Tidak banyak memegang tradisi, biasanya kaum perempuannya tidak berjilbab dan menempuh pendidikan umum. Bisa sekolah sampai SI, S2 atau bahkan S3 dan bekerja sesuai bidangnya. 
Ini memang bukan penggolongan yang ilmiah karena hanya didasarkan dengan ukuran yang sederhana, pakai jilbab atau belum pake jilbab. Hehe..kalau di keturunan arab, kalau ada perempuan yang sudah kuliah atau menikah atau sudah berumur belum memakai jilbab sering digolongkan dengan sebutan Arab modern...🙈 
Menjawab pertanyaan diatas, biasanya yang terlibat pernikahan dengan non Arab adalah digolongan moderate dan modern.  Biasanya perempuan Arab yang menikah dengan laki-laki non Arab adalah  teman sekuliah atau teman sekerja. Mereka eksis dalam karier atau pekerjaannya sehingga mereka tidak punya banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar arabnya. Beda dengan perempuan arab pada umumnya yang setelah menikah tidak bekerja. Mereka seakan selalu exis dalam acara gathering keluarga. Jadi terkucil atau dikucilkan itu dalam artian berkaitan dengan cara pandang baru. Dengan keterbatasan waktu, bagaimana mereka mau memaksa diri untuk tetap terikat dengan keluarga besarnya atau mereka hanya merasa perlu terikat dengan keluarga kecilnya yang baru. 

---------------------------------------------
Bagaimana apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?
Semoga ada sesuatu yang baik yang bisa diambil manfaatnya.
See you inthe next post...
Salam hangat 😍