02 April 2019

Berburu barang Vintage berburu kenangan...

Aku senang ketika aku suka barang vintage dibilang mirip almarhum abi...
Aku senang ketika aku suka menata rumah dibilang mirip almarhum abi...
Aku senang ketika hidung bengkokku dibilang mirip abi...
Aku senang ketika masakanku dibilang mirip mama...
tapi  belum ada yang bilang...😏
Aku senang ketika aku sabar dibilang mirip mama...
tapi belum ada yang bilang...πŸ™ˆ
Aku senang ketika aku kurus dibilang mirip mama...
tapi belum ada yang bilang... πŸ˜‰

--------------------------
Ketika pulang ke pasuruan beberapa waktu yang lalu, aku menyempatkan diri bergumul dengan debu, mengintip gudang. Tak ada emas batangan atau barang mewah digudang gelap yang asalnya adalah garasi. Yang terlihat hanya tumpukan kayu-kayu, pipa bekas, kaca-kaca, meja-kursi yang sekilas tidak berharga. Tapi dimataku, tumpukan barang-barang usang yang sudah tak terpakai lagi itu seperti memantulkan film pendek tentang kebahagian masa kecil bersama almarhum abi. Bagiku semua itu sangatttt berharga...
Bangku ini dipake saat mengaji dan sering dipake permainan sekolah-sekolahan.
Abi suka sidak, "Sampai dimana ngajinya?" Atau sudah hapal berapa surah?" Guru ngajiku namanya bu Fatimah, orangnya amattt sabarrrrrr bangeeettt. Tiap kali, bu Fatimah datang, bukannya mengaji tapi aku memintanya untuk berdongeng. Kisahnya tentu saja surga-neraka, firaun, kisah nabi-nabi dll. Meski sering sidak, abi tidak sampai ngecek. Setiap abi datang, aku langsung membaca surah favouritku, surah yasin....haha...akhirnya aku hapal surah yasin diusia dini :)

 Ornamen kayu yang artistrik

Hadiah pigura bergambar burung betet, dari almarhum abi untuk menghias kamarku
 Gambar awal view rumah daroessalam


Mama ternyata juga tertarik menyaksikan acara ngintip gudang :)

Dan setelah dipoles...


                             Kursi merak yang legendaris...
Aku berburu kursi merak sampai jakarta dan yogya demi sebuah kenangan. Kalau duduk dikursi ini, aku berasa jadi putri Raja. Dan tentu saja yang jadi raja dihatiku, almarhum abi...

                                Mesin jahit mama...
Hiasan kristik mama



Aku juga menemukan tiga lemari jadul yang masih dipoles, siap dikirim ke surabaya. Meski masih bingung mau ditaruh dimana (yang jelas bukan dikamar putri sulung yang menolak keras barang-barang jadul masuk kamarnya...😏)  aku siap menggeser furniture di rumah untuk menampungnya. Gak papa deh demi sebuah kenangan dan kesenangan...
 lemari hadiah ultah almarhum abi, semasa gadis

lemari jadul dikamar mama


See you in the next post πŸ’—πŸ’—πŸ’—

24 March 2019

Anak Menantu

Ada anak yang didapat dari dikandung dan dilahirkan. Ada anak yang didapat dari perkawinan, ada pula anak yang didapat dari diangkat. Bagaimana proses mendapatkan anak tidak dibahas disini. Yang jadi titik poin tulisan ini, coba kita lihat foto menyentuh dibawah ini.
ibu Mertua & anak Menantu 1

 ibu Mertua & anak Menantu 2
Masyaallah Tabarakallah...
Anak yang baik adalah hasil dari didikan orangtuanya.
Dan semoga ibu Ani diberikan kesembuhan yang sempurna. Ω„َΨ§ Ψ¨َΨ£ْΨ³َ Ψ·َΩ‡ُوْΨ±ٌ Ψ₯ِΩ†ْ Ψ΄َΨ§Ψ‘َ Ψ§Ω„Ω„Ω‡ُ.  Amin Ya Robbal Alamin.

-----------------------------
Anak adalah sebuah karunia, apakah itu laki-laki atau perempuan. Anak perempuan memiliki kelebihan atas anak laki-laki begitu juga sebaliknya. Misalnya: Perbedaan dari segi kecintaannya pada orangtua. Kelebihan anak perempuan adalah memainkan perasaannya atau lebih berempati terhadap orangtuanya. Sementara anak laki-laki kecintaan pada orangtuanya ditunjukkan dengan sikap mengayomi.
Seorang teman (yang hanya punya anak laki-laki) menginfokan,  anak laki-laki itu jika menawarkan sesuatu berlaku hanya satu kali saja  jadi sebagai orangtua jangan coba-coba jaim. Mereka terlalu logis bernalar...πŸ™ˆ Beda dengan anak perempuan yang suka "memaksa". Orangtua(baca: ibu) membaca pemaksaan ini adalah tanda kesungguhan. Misal: memaksa orangtuanya untuk nambah berlibur dirumahnya atau mengajak untuk tinggal bersamanya.
-------------------------
Anak-Menantu
Menantu perempuan dan ibu mertua mempunyai potensi konflik lebih besar dibanding dengan menantu laki-laki dengan ibu/bapak mertua. Mengapa? Karena perempuan lebih memainkan perasaannya dibanding logika. Salah-paham dalam sebuah hubungan menantu-mertua, adalah hal biasa yang akan menjadi luarbiasa jika terekam oleh orang yang tidak tepat.

Menantu itu juga manusia biasa meski dipilih melalui proses seleksi yang berlapis-lapis. Lolos seleksi, restu turun bukan berarti langsung dapet award menantu idaman...😏
Seorang teman memuji menantu perempuannya , baik, sabar, cantik dll. Seorang teman yang lain memuji menantunya sebagai pribadi yang humble, friendly, patient dll...Teman yang lain memuji menantunya sabar, santun dan apa adanya.
Aku yang kepo berusaha mengamati menantu-menantunya itu saat bertemu. Dari melihat bahasa tubuhnya dan bahasa lisannya  ada satu kesamaan diantara mereka, sama-sama sabar...!
Sebagai orang yang tidak sabaran, aku sangat mengapresiasi orang sabar. Menurutku, orang sabar memang layak mendapat award...✌
Selain mengamini pujian mereka, aku juga kepo (maklum emak-emak) menanyakan kira-kira menantu yang tidak menyenangkan itu seperti apa?
Tidak ada contoh, tapi mereka koor mengatakan kalau yang termasuk kategori ini adalah menantu yang cuek. Ai...tambah kepo ini...Cuek yang gimana ya?
Setelah dijelaskan, akupun mahfum...ternyata cuek yang dimaksud, yang tak bisa jadi lidah penyambung antara perasaan dan logika. Cuek tak mau/mampu meterjemahkan gelombang logika menjadi getaran perasaan.
Misalnya nih jika, si ibu lagi kesal sama anaknya (biasalah mak-mak suka baper dan penyebabnya juga bisa apa saja). Selalunya anak laki-laki khan gak peka, gak ngerti kalau si ibu lagi kesal jadi sikapnya cuek-cuek saja. Nah disinilah peran menantu perempuan diharapkan sebagai penyambung lidah. Jangan ikut-ikutan cuek dong...ambil peran. Pada umumnya, nanti hukum kembali keasal berlaku. Rasa sayang si ibu pada anaknya mendorong dia menjatuhkan kesalahan pada menantunya...Ya itu tadi dianggap: salahnya, simenantu yang cuek. Masih untung dianggap cuek, kalau dianggap provokator, gimana...? Bakalan ada drama berseri...😟

Menantu itu seperti anak. Mertua itu seperti orangtua, benarkah?
Pembahasan ini kayaknya lebih tepat ditujukan untuk menantu perempuan dibanding menantu laki. Sepanjang dan selebar pengamatanku, menantu laki hampir tidak bermasalah dengan para mertuanya. Lebih tepatnya kalau sampai menantu laki bermasalah dengan mertuanya, seringnya sih malah gak lama menyandang status menantu. Gesekan yang terjadi pastinya bukan masalah remeh-temeh yang main perasaan tapi sudah masuk kategori big mistake. Kalau begini, eliminasi bisa terjadi dengan sendirinya. 

Ada dua hal yang bisa menyebabkan menantu dapat berperan  seperti anak dan mertua dianggap seperti orangtua sendiri.

Yang pertama adalah: sikap suami dan yang kedua adalah didikan yang baik dari orangtuanya. Sementara sikap mertua itu sendiri adalah katalisator. Mertua yang bijaksana, semakin disayang menantu.
Sikap suami yang shalih dan bijaksana akan mendorong istri untuk hormat dan sayang pada mertuanya.  Dari segi didikan orangtua, ini semacam kredit point yang tersimpan dalam bentuk sikap tidak pendendam, sikap sabar, hormat dan patuh pada orangtua, dll. 
Mertua itu adalah ibu dari suami. Harusnya mertua memang dianggap seperti orangtua sendiri. Hubungan baik antara mertua-menantu itu bukan berarti zero konflik. Dengan ibu sendiri aja terkadang ada kesalahpahaman atau ketidaksepahaman apalagi dengan mertua (terutama diawal-awal perkawinan)
Apakah kita akan berbalas-balasan  jika dengan orangtua kita?
Tentu tidak khan...

Ada kisah lucu sehubungan bisakah mertua dianggap seperti orangtua sendiri. Seorang teman yang sudah menjadi mertua menceritakan kisahnya pada suatu hari. Setiap pagi si menantu laki (kebetulan masih tinggal serumah) bersalaman padanya saat pamit mau berangkat kerja. Biasanya sih standart saja, salaman dengan cium tangan. Nah pagi itu kebetulan si ibu mertua lagi didapur, cuci-cuci piring dan tangannya masih belepotan sabun. Alhasil saat mau bersalaman pamit kerja, si menantu tidak bisa menjabat tangan si ibu mertua, meski si ibu sudah memberi signal dengan anggukan ternyata si menantu melakukan terobosan baru dengan cipika-cipiki... Deg...langsung temanku mau pingsan saking kagetnya. Dan ketika dia meloparkan keanaknya, sang anak cuman ketawa cekikan...
Dan ketika kuceritakan kisah ini ke putri sulungku, jawabannya..."Mama jangan genit ah..." πŸ˜ΆπŸ˜„πŸ™ˆ

Lain teman, lain cerita versiku. Dari beberapa tahun yang lalu, aku selalu membujuk suami untuk mau cipika-cipiki pada mama (kalau sama almarhum abi sih sudah biasa). Biasanya sih suami bila bertemu mama, hanya salaman takzim, cium tangan saja. Ini yamg bikin aku keki soalnya aku melihat sepupu-sepupuku yang lain, suaminya cium pipi kiri dan kanan bahkan ada yang kening pada mertuanya. Dibujuk gak mau, katanya belum terbiasa...πŸ™ˆ. Alamak...kalau gak dimulai kapan jadi kebiasaan.
Sampailah kemarin, suami yang mau berangkat umroh berniat pamit pada mama. Sebelumnya aku sudah membujuk manis untuk cipika-cipiki pada mama dan finally.... dia setuju. Masak sih mertua sudah berumur tujuhpuluh tahun hanya dicium tangannya saja, kurang takzimlah...
Aku sudah senang dengan perubahan sikapnya dan aku menunggunya untuk mengabadikan moment tersebut...
Pada saat kita berjalan mendekat ke mama, eit ...tiba-tiba adikku memanggilku kedalam. Mendengar panggilan yang diulang-ulang maka aku bergegas masuk kedalam dan membiarkan suami sendiri bertemu mama. Lima belas menit kemudian, aku sudah diatas mobil mengantar suami menuju airport (suami pergi umroh bersama ibu dan saudara-saudaranya). Pas aku tanya...." Tadi sudah belum...?" 
Suami menggeleng sambil tersipu...
Lha koq gitu sih, aku kesel masih saja belum berhasil membujuknya. Ternyata jawabannya membuatku tergelak...
"Janjinya khan didampingi...koq tadi ditinggal (aku pas masuk dipanggil adikku) Tadi pas salaman ma mama ada Adam (kkk sulung) ya aku gak beranilah...Ntar adam atau mamanya yang pingsan, gimana? "
Duh...nemu aja alasannya. Tapi akupun tak menyerah, dalam waktu dekat inshaallah, dicoba lagi...😊  
 masih begini...tak sesuai SOP..😞

Semoga kita bisa menjadi anak - menantu - mertua yang baik. Amin.
See you in the next post...😍


27 February 2019

Melampaui Batas...


Seorang anak yang akan terus mengingat apa yang menimpa dirinya selama bertahun-tahun setelah banyak orang tidak akan mengingatnya dari lima menit setelah membaca kisahnya.

Anak adalah Qurrouta a'yun. Dan inilah penyejuk jiwa yang sebenarnya. Seorang anak yang inshaallah dapat membawa orangtuanya ke surga terbaik. 



Dan ketika manusia berkawan dengan hawa nafsunya dan syaitan tertawa melihat hasil kerjanya yang sangat memuaskan. 

Bersambung....

31 December 2018

Cowok Vs Cewek


Siapa yang sudah melihat video kedua anak kreatif ini? Kalau belum lihat disini ya: lihat


Lagi cari inspirasi buka instagram, nemu video ini, ngakak, lucu banget. Meski (seperti biasa...πŸ™ˆ) aku gak langsung ngeh isinya tapi lihat mimik si cewek @daraarafah yang hayati bener jadi kagum ma aktingnya. Memang pernah ngalamin atau sekedar berempati ma para korban cowok, si daraarafah ini memang kreatif pembuatan videonya terlepas juga isinya menurutku (ukuran emak-emak) agak sarkas.  
Hhh...namanya juga video gokil, satire dan parodi. 

Para cewek dan emak-emak yang punya anak cewek, gimana apa sudah merasa terwakili? 
Begitu juga dengan video tandingan yang dibuat oleh Ikram Att, bagaimana para cowok atau emak-emak yang punya anak cowok apakah sudah terwakili?

Apakah anak mewakili orangtuanya?
Bisa ya bisa juga tidak.
Ada ungkapan Like mother like daughter atau like father like son, yang menandakan anak replika orangtuanya. Tapi bagaimana dengan badboy atau badgirl padahal orangtuanya terkesan shaleh?
Bukankah ini menandakan kelakuan anak bertolak-belakang dengan kelakuan orangtuanya?
Penelitian yang sudah terbukti, mengatakan gen kecerdasan anak diturunkan dari gen ibunya. Sementara penelitian yang tidak memerlukan bukti mengatakan, anak polah bapak kepradah...πŸ™ˆ

Kesimpulannya: Terwakili atau tidak, orangtua akan terseret dengan ulah anak-anaknya.  

Kenapa ada cowok yang membully cewek? Atau kebalikannya, cewek yang membully cowok?
Jawabannya seratus persen berkaitan dengan pola asuh, bukan gen. Kalau ditarik lebih jauh lagi, statement diatas bertalian darah dengan konsisitensi orangtua dalam menerapkan pola asuh. Menjadi orangtua yang konsisten terhadap anak, tampak seperti pekara kecil yang berefek maha berat. 
Rasa sayang alamiah orangtua terhadap anak, menghalangi banyak hal buruk/baik yang akan terjadi pada anak. 
Suami suka mengingatkan, menyintai anak adalah termasuk pekara hubbud dunya. Masak sih...?
Iya, ini lanjutannya: Banyak orangtua yang bersedia melakukan apa saja untuk membahagiakan anak-anaknya. Termasuk didalam perbuatan ini adalah: membiarkan, mendiamkan, membela,  atas nama anak. Saking hebatnya membela anak sampai tak disadari menjauhkan diri sendiri  dari tuntunan agama.
Hmm...Bener juga ya...😟
Kadang petuah ini masuk, kadang lewat begitu saja. Dalihku, enak memang bapak-bapak ini, mereka memikirkan anaknya hanya sampai kulit ari saja, sementara para ibu memikirkan anaknya sampai ke sumsum tulang. 
Suami menimpali: Makanya itu ibu punya kedudukan tiga kali lebih tinggi dari ayah. Bukakah ini sebuah kehormatan bagi seorang ibu? 
Bener juga ya...
Pola asuh dalam keluarga sangat mempengaruhi pandangan (nilai-nilai yang dianut) anak. Orang tua yang memiliki anak ganda campuran (anak cewek dan cowok) seharusnya dapat bersikap lebih konsisten dibanding orangtua yang hanya punya anak cewek atau cowok saja. Mengapa?
Orang tua adalah role model pertama bagi anak dalam kehidupannya. Ketika orangtua tidak bersikap konsisten  dalam menerapkan nilai-nilai antara anak cewek dan cowok, maka nilai-nilai itu akan dirasa membingungkan dan tak akan dipakai. 
Contoh kecil: 1
Ortu yang menerapkan aturan jam malam pada anak perempuannya dan tidak membatasi jam malam pada anak lelakinya maka aturan itu dianggap sebagai sebuah ketidakadilan. Sang anak perempuan akan mengabaikan hal baik dibalik aturan itu dibuat.
Contoh kecil: 2
Banyak ortu menerapkan aturan double standart (sepengetahuan saya, khususnya dalam budaya arab) pada anak perempuan dan menantu perempuannya (notobene istri dari anak lelakinya) . Pada anak perempuannya diberikan kesempatan yang luas untuk menuntut ilmu dan kebebasan-kebebasan yang lain sementara pada menantu perempuannya (khususnya mertua yang masih beraliran retro-pop.. πŸ™ˆ ) dibatasi nilai-nilai dengan dalih kasihan suaminya. Kisahnya: ada teman yang curhat, anaknya putus dengan calonnya karena si ibu sang calon tidak setuju punya mantu yang bekerja di luar rumah (dokter). Sang ibu khawatir, anak lelakinya tidak terurus. Yang menggelikan adalah, saudara perempuan si calon adalah juga seorang dokter..😢 (speechless deh, mana bisa calon besan didebat ). Maka kuhibur teman yang sedang galau itu dengan kalimat, "Itu artinya sedang dipersiapkan jodoh yang lebih baik buat Nina" 
Dalam hal ini, nilai-nilai yang tidak konsisten si ibu akan membuat anak lelakinya tidak bisa bersikap sebagaimana seharusnya (akhirnya terjadilah pembullian hubungan alias pemutusan hubungan sepihak)

Singkat kata, pola asuh ortu yang tidak konsisten memberikan sumbangsih dari pembentukan kepribadian anak yang labil. Penampakannya dalam bentuk pembulian atau pelecehan terhadap lawan jenis. Jelasnya lagi anak cewek atau anak cowok yang baik adalah murni hasil pola asuh yang baik dari orangtua yang baik tetapi badboy atau badgirl adalah hasil persilangan pola asuh yang tidak konsisten dengan lingkungan yang tercemar. 

Berkaitan dengan video satire diatas, kelihatan sekali kalau kelahirannya didasari oleh rasa empati women to women atau man to man. Hhh ...sepertinya keduanya memang berniat menyentil dan bukan pelaku. Maka berterimakasihlah kita pada @daraarafah. Bagaimana emak-emak yang punya anak cowok apa sudah terwakili oleh  @ikram_afro_attamimi...? πŸ˜‰

See you in the next post...






 

21 September 2018

Perjodohan Dalam budaya Arab


Bagi anak sekarang perjodohan adalah kata yang tabu, sebaiknya sebisanya, dihindari atau seharusnya dihapuskan (mungkin disamakan juga dengan perbudakan πŸ™ˆ). Sebaliknya bagi ibu-ibu ini adalah topik favourite πŸ˜‰ Entah kenapa aku ketiban sampur sering diminta teman/saudara untuk jadi agen non property ini. Aku sih senang-senang saja, selain pahalanya gedhe, ikut senang juga kalau berhasil. Hanya sepanjang pengalaman jadi agent 001 ini, ada kendala tetap yang stabil menghambat, yaitu: action. Niatnya kuat tapi actionnya kurang, hasilnya: nihil..πŸ˜₯
Paling sering dimintai tolong oleh ibu-ibu untuk mencarikan jodoh anak perempuannya. Ada juga sih yang untuk mencari jodoh anak lelakinya meski amat jarang sekali. Ini mungkin disebabkan karena anak perempuan secara budaya ada diposisi dipinang (pasif, menunggu) bukan meminang (aktif, mencari). Meski tidak selalu berhasil, tetapi aku gak kapok tuh. Bahkan pada sisulung, aku selalu kasih woro-woro, kalau ada diantara teman-temannya yang belum punya calon untuk dikenalin ma anak temanku. Sisulung langsung angkat tangan...Mungkin dia khawatir mamanya keterusan jadi agen spionase..πŸ˜„


Perjodohon dalam budaya Arab
Perjodohan sudah menjadi tradisi dalam budaya arab, bukan ssesuatu yang tabu atau menakutkan. Jaman mengalami kemajuan, sosial media menjadi acuan baru cara berkomunikasi, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat otomatis tatacara pencarian jodohpun mengalami perubahan. 
Dalam budaya arab,  perjodohan tetap berlaku hanya saja tatacaranya yang mengalami kemajuan, disesuaikan dengan kemajuan jaman.Yang paling favourite perjodohan antar sepupu atau antar kerabat, disusul dengan perjodohan antar teman. Ceritanya dulu, aku juga gak lepas dari perjodohan. Jidah (ibunya abi/nenek) menghitung jumlah cucu laki dan cucu perempuan dan ponakan sepupu. Ternyata didapat jumlah cucu perempuan berimbang dengan cucu laki maka secara samar, dijodohkanlah si A dengan si B, si C dengan si D dsb (haha...nostalgia jadul) Ternyata dari yang dijodohkan itu tak satupun menikah dengan jodoh bayangannya, yang tidak dijodohkan malah menikah juga dengan sepupunya 😍
----------------------
Ibu berperan penting dalam mencari jodoh bagi anak laki-laki sementara ayah berperan penting mencarikan jodoh bagi anak perempuannya. Kalau budaya Jawa, ada bibit, bobot, bebet. Kalau dibudaya arab mungkin yang lebih difokuskan adalah: bibit (asal-usul, malah saking percayanya ma point yang satu ini, kalau yang melamar dari keluarga baik-baik maka biasanya sianak yang melamar langsung mendapat status lolos seleksi meski personality sipelamar belum tahu betul). Silahkan baca
Merunut asal-usul adalah bagian terpenting dari budaya Arab. Untuk amannya mereka lebih senang menjodohkan anak-anaknya dengan keluarga sendiri (antar sepupu, anaknya hall/ami, halati/amati, tante/paman). Apalagi kalau dalam satu keluarga ada gen bibit unggul, wah...jarang yang sampe lolos ke gen yang lain. 
Terkadang saking cocoknya antar keluarga besan, mereka melakukan perjodohan dua tingkat, pake sistem silang. Jadi kakak-adik dari keluarga A, dapet juga kakak-adik dari keluarga B. Bahkan dari keluarga Abi (kkk-adik), persilangannya sampai tiga tingkat, ha...ha...saking dah sehatinya antar keluarga besan.
Meski begitu banyak juga yang memilih menjodohkan anaknya dengan orang lain diluar sepupu. 

Kenapa perjodohan dalam budaya Arab menjadi warisan tradisi yang masih lestari)
Ada beberapa alasan yang mungkin jadi penyebabnya, al:
1.Terbatasnya akses bertemunya antara anak laki-laki dan perempuan sehingga masing-masing pihak merasa kesulitan untuk menemukan calon yang cocok dan menyerahkan mandat pada orangtua.
2.Akses yang terbatas menyebabkan mereka tak segan jatuh cinta pada sepupu 😏 
3. Ketaatan pada orangtua (terutama ibu) menyebabkan si anak (laki) tidak menolak calon yang disodorkan ibunya. Begitu pula bagi anak perempuan biasanya setuju saja dengan calon yang disodorkan ayahnya.
4. Ibu yang mendapat mandat akan bergerak menjalankan perannya sebelum si anak merequest minta kawin. Lha siapa yang gak seneng dapet bonus calon pendamping.  Umumnya di suku Arab, menikahkan anak lebih cepat lebih baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan. Konsekwensinya, para orangtua masih menanggung secara finasial kebutuhan anaknya yang telah menikah (terutama laki-laki) sampai mereka mandiri. 
5.Pentingnya masalah asal-usul yang membuat orangtua mengambil peran aktif. Sebelum si anak terlanjur keluar jalur (mencari calon pendamping secara mandiri dimana ada kemungkinan tidak memenuhi kriteria si ibu/ayah) mereka lebih dulu mengambil langkah menjodohkan anak-anaknya.
6.Adanya supply and demand yang masih tinggi. Artinya, perjodohan masih menjadi alternatif pilihan favourite keluarga :)

Terlibat dalam beberapa scene perjodohan, aku sedikit memahami lika-liku prosesi penghalalan ini. Ada beberapa point, diantaranya:
1.Sosok ibu berperan strategis dalam memilih siapa yang akan menjadi miss universe dalam keluarga. 
Untuk calon suami bagi anak perempuannya, ayahlah yang dominan. Selain menyeleksi, ayah juga berperan sebagai explorer. Seorang ayah bertanggung-jawab mencarikan jodoh untuk anak perempuannya. Karenanya seorang ayah bisa sangat tegas (cenderung kaku) dalam menyeleksi calon pendamping anak perempuannya.
Sebagai contoh, dulu bila ada orang yang datang melamarku, bila almarhum abi tidak setuju maka  calon itu tanpa ampun, bakal terdelete  dalam direktori.  Meski sangat tegas pada anak laki-laki, almarhum abi sangat lembut pada anak perempuan bahkan siapapun calon yang dibawa anak laki-lakinya abi setuju saja hanya mama tentu saja tidak mau hak prerogatifnya terkoreksi. Abi yang sangat dominan bisa dibuat tak berkutik ketika mama menggeleng dengan calon yang disodorkan untuk anak lelakinya. Ketika mama mengangguk tanda setuju... Ups, langsung ada penghuni baru dalam keluarga 😊

2. Biasanya akses mencari jodoh/perjodohan terjadi saat kondangan pengantin karena disanalah para umi akan bertemu dengan para gadis yang akan menjadi calon untuk anaknya. Bisa dikatakan acara kondangan pengantin seperti gebyar bca gitu atau semacam pesta tahunan yang sangat dinanti-nantikan. Para gadis cantik yang bak miss universe berseliweran dengan gaya dan senyum yang menawan. 
Sebagai ibu, terkadang aku dibuat keki ma sisulung. Jarang bisa ikut (sebenarnya dimaklumi sih masih kuliah dan diluar kota pula) padahal si ibu terikat misi, ada sedulur, kerabat, teman yang mau ngenalkan anaknya. Akhirnya... Jadilah mission not working...πŸ˜‰
Kalau bisa ikut kepaksa banget facenya, terlihat bete. Baru aja nyampe udah request kapan pulang...πŸ˜•
Tanpa diusutpun aku tahu darimana wajah bete itu berasal. Si sulung sepertiku dulu, merasa asing dengan suasananya πŸ™ˆ  Tapi kalau ada kondangan pengantin dikalangan habitat temannya, wah...seru ceritanya gak habis-habis... Percis banget profil mamanya tempo doeloe.
3. Seringnya punya daftar nama perempuan lebih banyak dari yang laki. Bukan karena anak perempuan susah jodohnya tapi lebih karena mencarikan jodoh anak perempuan itu harus benar-benar berhati-hati. Gak main-main lho, ceritanya ini khan nyari surga pengganti. Jadi mikir...
Ini mungkin penyebab banyak ibu-ibu yang berusaha menjodohkan anaknya dengan anak teman/ kerabat/saudara.  Mereka merasa aman kalau menyerahkan anaknya ke tangan keluarga yang sudah mereka kenal baik. Paling tidak meski tidak bergaransi, trackrecordnya tidak masuk dalam daftar hitam. Rasa sayang orangtua pada anak perempuannya menuntut rasa aman. Kalau menurutku, faktor inilah yang no satu bukan karena bobot dan bebetnya. Itu sebabnya perjodohan tak lekang oleh kemodernan jaman sekalipun.
Sebagai ibu yang merasa sudah kuliah di era modern, mengeyam segala fasilitas modern dan memakan modern food (kfc, pizzaa, mc donald dll) aku rasa cara berpikirku sudah modern. Tapi ternyata belummmmm....Terutama dikedua mata buah hatiku...:( Contohnya ya tentang teori perjodohan ini.
Sebaliknya kalau pas ngobrol ma ibu-ibu, ngomongin topik perjodohan jadi gayeng alias rame. Ibu yang punya anak laki dan anak perempuan adalah dua kubu yang berbeda...:)

"Pokoknya mb, ibu yang punya anak laki itu menang dhisik, iso milih.... kene iki menang kari, iso nolak..."ujar seorang ibu yang keki habis diphp oleh temannya.
Maksudnya, ibu-ibu yang punya anak laki berada diatas angin karena bisa milih dulu calon mantunya. Sementara ibu-ibu yang punya anak perempuan, menangnya kemudian, karena hanya bisa nolak tapi gak bisa milih. Fenomena ini, berdasar pada anak perempuan atau orangtua yang punya anak perempuan secara adat dan budaya diposisikan pasive, menerima/menolak lamaran bukan pihak yang melamar. 
Seorang ibu yang lain nyeletuk, "Jangan khawatirlah...khan lakone biasanya menang terakhir "
Hhh...😏😊
4. Untuk menghindari niat baik yang berakhir salah, dalam perjodohan sudah seharusnya pihak laki-laki dulu yang dihubungi baru kemudian yang perempuannya.
Banyak orang yang menggunakan foto untuk menunjukkan profile calonnya sementara. Padahal sih personality seseorang tidak bisa diwakilkan dalam sebuah gambar cetak. Selembar foto itu hanya membawa pesan singkat kerangka jasmani untuk memenuhi hasrat akan keindahan. 
Khan sekarang sudah canggih, ada medsos. Masing-masing orang punya akun medsosnya sendiri. Lihat dong medsosnya tanpa pihak perempuan tahu. Nah disinilah peran pembantu diperlukan untuk bermain cantik. 
Sehubungan hal ini, ada contoh menggelitik. Dalam sebuah kesempatan datang ke kondangan pengantin, sisulung yang beberapa saat terpisah, menghampiriku. Dia terlihat agak bingung dan bertanya kepadaku, mengapa ada seseorang (umi-umi) yang minta ijin padanya untuk mengambil foto.
Buat apa fotonya? tanyanya masih keheranan.. Dia heran, bukan artis atau publik figure koq tiba-tiba ada yang mengajak foto bareng. Hmm...Aku yang mahfum, hanya menjawabnya dengan  senyum tersungging. Anakku ini memang masih asing dengan beberapa tradisi dalam budaya Arab.

5. Tidak semua orang mau membawa pesan. Seberapa besar kita berniat menjodohkan seseorang, kita tidak bisa bekerja senyap, butuh rantai untuk menjadi penghubungnya. Inilah yang kumaksud dengan action. Dalam action, ada yang dengan senang hati membantu, ada yang php dan ada juga yang abstain. Jarang sih yang langsung frontal nolak...Mungkin yang nolak sungkan, khan ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan...:) Kalau rantainya tidak terhubung dengan baik bisa dipastikan hasilnya tidak seperti yang diharapkan.  Kendala inilah yang sering kujumpai dilapangan tembak :(
Tapi ini semua kembali pada takdir. Kalau jodoh, semuanya jadi lebih mudah tapi kalau belum jodoh, ketemu aja kendalanya, yang no action, yang gak cocok, yang PHP, dll. Disinilah harus percaya takdir. Masing-masing pihak harus berbesar hati.
6. Sekufu
Inilah point of interest dari sebuah kisah perjodohan dalam budaya Arab. Umumnya pihak perempuan yang menemui kendala dalam makna kata sekufu. Seabad yang lalu, dalam salah-satu warisan tradisi  suku Arab, perempuan mempunyai akses yang terbatas dalam hal pendidikan sehingga tidak masalah jika terjadi ketimpangan pendidikan antara suami-istri. Seabad berlalu, ternyata tradisi/kebiasaan seperti ini masih  berlaku ;)
Bukan hal yang aneh kalau ada perbedaan umur, tingkat pendidikan atau strata sosial-ekonomi antara pasangan suami-istri dalam sebuah keluarga dari suku Arab. 
Inilah efek calon pilihan mami...πŸ™ˆ yang bisa saja jadi blunder bagi anak perempuannya kelak. Seorang ibu pastinya menginginkan calon bagi anak lelakinya yang looks like Barbie or Cinderella (komplit, pintar masak, cantik dan baik hati).

Itu sebabnya bagi anak perempuan yang berpendidikan tinggi agak susah mencari yang sekufu. Semakin pintar, semakin sukses semakin menakutkan...Hhh mungkin umi-umi yang masih kolot aja yang berpikiran begini...Khawatir anaknya invisible. Mungkin  πŸ‘€
Memang tidak bisa digeneralisasi sih tapi yang model begini masih punya tempat dan survive πŸ˜‘

Pada kenyataannya, selama bumi masih berputar mengelilingi matahari, hal-hal yang kontradiktif akan selalu ada dan langgeng. Seperti yang dipaparkan dalam sebuah penelitian, banyak lelaki yang ketika beperan menjadi suami, mereka menginginkan istrinya  tidak bekerja dan semata dirumah mengurus rumah tangga saja.  Tetapi ketika silelaki itu menyublim menjadi Ayah, banyak ayah yang menginginkan anak perempuannya mandiri dengan bekerja. 
Nah khan...
-------------------
Apa yang kutulis diatas, bandingkan dengan ini...
Seorang teman (dari suku Jawa) mengisahkan anak lelakinya minta dicarikan calon. Dan ketika temanku itu spontan menawarkan anak temannya yang sekolah di pondok, si anak lelakinya langsung menolak karena tidak sekufu katanya. 
Tidak sekufu gimana? tanyaku
"Anak temanku yang dipondok itu anaknya baik, kalem tapi masih SMA, ntar jomplang cara berpikirnya. Umurnya juga beda jauh, susah diajak diskusi, kata anakku. Aku pikir-pikir betul juga.." ujar temanku, Aishah.
Hhh...aku langsung ketawa...
Aku nanya temanku itu, apa anaknya sadar betul akan ucapannya?
"Maksudnya..?'' temenku balik bertanya
"Apa anakmu sadar betul, pengin istri yang diajak diskusi tentang apa saja. Beli mobil tanya istrinya dulu, jenis dan catnya warna apa? Mau beli rumah nanya istrinya dulu. Mau ngasih uang ke ibunya, nanya istrinya dulu dll...Apa yakin, mau begitu..? Jangan-jangan anakmu cuman latah aj ma ungkapan manis bisa jadi teman diskusi" kataku menggoda.
Akhirnya temanku, Aishah ketawa juga...

Bolehkah suku Arab menikah dengan suku non Arab?
Aku bukan pemerhati budaya, jadi cerita ini ditulis semata-mata hasil dari pengalaman langsung bukan dari pengamatan ilmiah atau sejenisnya. Karenanya jawaban dari pertanyaan ini, akan kujawab sebagai bagian dari proses metamorfosa-ku.
Pertanyaan ini sering diajukan mulai dari aku masih SD. Dan biasanya aku tidak menjawab karena memang tidak tahu. Ketika menginjak SMP, pertanyaan ini tak kujawab, juga aku tidak tahu alasan sebenarnya kecuali almarhum abi melarang. Ketika menginjak hari pertama di SMA, aku sudah mulai dapat merasakan itu bukan pelarangan tapi undang-undang, seperti NKRI harga mati...πŸ™ˆ.
Saat itu kalau aku ditanya, aku tetap tidak menjawab hanya aku sudah mulai bisa menebak alasannya. Saat aku kuliah, aku sudah mulai bisa menjawab dengan nalar. Saat aku menikah dan mempunyai anak perempuan diusia balita, aku adalah calon pemberontak. Saat anak perempuanku memasuki usia dewasa, aku adalah prototipe almarhum abi, sangat protective terhadap anak perempuanku.

Kembali ke pertanyaan asal, apakah boleh suku arab menikah dengan suku non arab?
Jawabannya adalah boleh. 
Tidak haram? Tidak...
Tapi memang tidak mudah terutama bagi anak perempuan. 
Mengapa Tidak mudah? Apakah karena nama keluarga akan hilang jika mereka menikah dengan laki-laki dari suku non arab?
Jawabannya memang benar nama keluarga (fam) akan hilang tapi sebenarnya faktor fam bukannya yang utama.
Kalau begitu, faktor apa yang menyebabkan tidak mudah?
Setiap orangtua mempunyai harapan tersendiri pada masing-masing anak. Harapan yang membawa doa-doa terbaiknya. Sedangkan kenyataan adalah:  fakta yang ada saat ini. Antara harapan dan kenyataan adalah dua faktor yang berbeda. Bila ada gap antara harapan dan fakta itulah yang dinamakan masalah. Adanya masalah inilah yang disebut dengan tidak mudah. 
Sebenarnya gap antara harapan dan kenyataan tidak saja terjadi pada suku arab dan non arab tapi bisa juga terjadi pada suku jawa dan non jawa, suku batak dan non batak dll. 
Gap harapan dan kenyataan bisa juga merambah ke status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, profesi dll. Misalnya: keluarga dari kalangan militer cenderung menginginkan anak/mantunya punya lat-bel militer juga. Atau keluarga dari kalangan akademik cenderung menginginkan anak/mantu dari kalangan yang sama juga.
Dalam hal ini, orangtua cenderung punya harapan agar anak-anaknya menikah dengan lat-bel keluarga yang sekufu. Hal ini bukan suatu keanehan,keburukan atau kejahatan. Mereka hanya ingin memastikan anak-anak perempuannya terlindungi dan aman menurut nilai-nilai yang sudah mereka kenal bertahun-tahun. Itu sebabnya seperti uraian diatas perjodohan dikalangan suku Arab amat sangat populer.
Hanya saja, gap ini yang menjadikan perkawinan  tak sekufu itu menjadi tidak mudah terutama bagi anak-anak perempuan, utamanya lagi dari suku Arab.

Untuk anak laki-laki sebetulnya gap itu dapat lebih mudah diatasi. Mengapa?
Karena secara sosial dan agama, anak laki-laki berada dalam garda depan (punya tanggung jawab lebih) dalam menyandang nama dan kehormatan keluarga. Selain keabsahan membawa nama marga (fam), laki-laki punya hak talak dan anak laki-laki akan selalu menjadi anak ibunya (artinya: seorang anak laki-laki surganya ada pada ibunya) Karenanya ibu yang punya anak laki-laki sudah seharusnya punya tingkat kekhawatiran yang lebih rendah dibanding anak perempuan .Mungkin satu-satunya kekhawatiran seorang ibu jika anak lelakinya adalah termasuk golongan suami-suami takut istri...πŸ™ˆ


--------------------
Harapan hanyalah harapan. Dia tidak bisa melampaui takdir. Kalau memang jodoh, tak ada kekuatan yang dapat menolaknya. Hanya saja sesuatu yang baik, seharusnya diperjuangkan dengan baik bukan dengan pemaksaan atau sampai kawin lari segala.
Banyak kisah love story disekitarku. Diantaranya, kisah adikku.


Ketika adikku, Rima mengajukan calonnya Nova, dari suku jawa maka gegerlah dunia Al Thalib. Memang adikku bukan yang pertama, tapi dari jalur abi dan mama, Rima adalah anak perempuan yang pertama. 
Fase pertama adalah fase yang paling berat dan tidak mudah, cenderung uji nyali alias menakutkan. Almarhum abi dengan tegas menolak mentah-mentah. Fase kedua, adikku menggalang dukungan dari mama: mental-tertolak. Fase ketiga, tak kurang akal, adikku menggunakan saudara menjalin solidaritas. Dukungan  mulai terpetakan. Fase keempat, Rima mulai menebar simpati, Nova mulai dilibatkan untuk berbicara denganku dan saudara-saudara yang lain. Nova datang berusaha menemui almarhum abi: tertolak. Fase kelima,   almarhum abi mulai melunak, meminta wali hakim. Tahu ada peluang, Rima masih menebar dan menggalang simpati, terutama ke mama dan aku, sebagai penerus lidah ke saudara laki-laki. Fase keenam, almarhum abi memerintahkan aku dan anak laki-lakinya plus adiknya mama  (laki-laki) berangkat mewakili almarhum abi menikahkan Rima di mataram (tempat rima bermukim, mengikuti program PTT drg). Ketika kita sudah siap-siap berangkat, giliran Rima yang tidak mau menikah tanpa restu almarhum abi. Fase ketujuh, fase reses, rundingan melibatkan keluarga besar.  Fase kedelapan, almarhum abi mengangkat bendera, menerima Nova sebagai menantu tanpa syarat. Meski masih ada yang keberatan tetapi ketika almarhum abi sebagai garda depan, memberikan restunya, otomatis semua saudara langsung berubah haluan, ikut mendukung. Fase kesembilan, keluarga Nova berkunjung kerumah bertemu keluarga besar Al Thalib melalui tahap lamaran. Fase kesepuluh, akad nikah, langsung almarhum abi sendiri yang menikahkan Rima  Sebelum akad nikah, almarhum abi mensyaratkan akad dibaca dengan menggunakan bahasa Arab, jadilah sebelumnya Nova belajar menghafal lyrik akad berbahasa Arab. Alhamdulillah lancar :)
Ada kisah lucu dalam perkawinan campuran ini. Dalam rangka belajar menyesuaikan diri, hal pertama yang diajarkan Rima pada Nova adalah belajar bersalaman, siapa yang harus diajak bersalaman dan siapa yang tidak. Saat-saat awal masuk dalam keluarga, Nova bersalaman pada semua orang yang malah bikin kita saling pandang-memandang: terkaget, terkekeh dan meleleh πŸ™ˆ



Apakah adakah alasan lain kenapa seorang perempuan dari suku Arab susah menikah dengan laki-laki non Arab?
Ada beberapa (meski sekarang jumlahnya semakin sedikit) yang beranggapan, alasan sulitnya perempuan dari suku Arab menikah dengan lelaki non Arab dikarenakan masalah rasis. Tentu saja ini adalah anggapan yang paling koyol. 
Mengapa?
Yang pertama: fakta bahwa laki-laki Arab lebih mudah menikah dengan perempuan suku non Arab ini menandakan statement diatas tidak terbukti. Kalau ada masalah rasis, mengapa mereka mempercayakan anak-anaknya lahir dan diasuh dari seorang ibu yang mereka rendahkan sukunya ?
Yang kedua: fakta bahwa laki-laki arab lebih mudah menikah dengan perempuan non arab membawa pada fakta berikutnya, kelak bisa saja pasangan ini (terutama si ibu yang non arab) akan menjadi mertua dari menantu perempuannya yang arab. Dan si menantu sebagaimana layaknya menantu-menantu arab yang lain harus hormat dan taat pada ibu mertuanya selain suaminya. Seorang menantu perempuan arab yang tidak hormat dan taat pada ibu mertuanya (apapun sukunya), dia tahu kemana perkawinan itu akan berujung. 
-----------------------------------

Apa perempuan Arab yang menikah dengan laki-laki non Arab akan terkucil dari keluarga? 
Jawaban logisnya ada dibawah ini: 
Keturunan Arab, aku  bagi kedalam tiga golongan secara sederhana.
Golongan Satu: Konservatif cenderung kolot. Ditandai dengan banyaknya tradisi yang masih mengakar kuat. Umumnya perempuannya berhijab, dan pendidikannya lebih condong memilih pendidikan agama daripada pendidikan umum. 
Golongan Dua: Moderate. Tidak banyak memegang tradisi, umumnya perempuannya berjilbab dan memilih pendidikan umum. Bisa sekolah sampai SI dan S2. Ada yang bekerja, ada yang tidak. 
Golongan Tiga: Modern. Tidak banyak memegang tradisi, biasanya kaum perempuannya tidak berjilbab dan menempuh pendidikan umum. Bisa sekolah sampai SI, S2 atau bahkan S3 dan bekerja sesuai bidangnya. 
Ini memang bukan penggolongan yang ilmiah karena hanya didasarkan dengan ukuran yang sederhana, pakai jilbab atau belum pake jilbab. Hehe..kalau di keturunan arab, kalau ada perempuan yang sudah kuliah atau menikah atau sudah berumur belum memakai jilbab sering digolongkan dengan sebutan Arab modern...πŸ™ˆ 
Menjawab pertanyaan diatas, biasanya yang terlibat pernikahan dengan non Arab adalah digolongan moderate dan modern.  Biasanya perempuan Arab yang menikah dengan laki-laki non Arab adalah  teman sekuliah atau teman sekerja. Mereka eksis dalam karier atau pekerjaannya sehingga mereka tidak punya banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar arabnya. Beda dengan perempuan arab pada umumnya yang setelah menikah tidak bekerja. Mereka seakan selalu exis dalam acara gathering keluarga. Jadi terkucil atau dikucilkan itu dalam artian berkaitan dengan cara pandang baru. Dengan keterbatasan waktu, bagaimana mereka mau memaksa diri untuk tetap terikat dengan keluarga besarnya atau mereka hanya merasa perlu terikat dengan keluarga kecilnya yang baru. 

---------------------------------------------
Bagaimana apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?
Semoga ada sesuatu yang baik yang bisa diambil manfaatnya.
See you inthe next post...
Salam hangat 😍







18 September 2018

Umi dan Abi


Setelah menjalani operasi ganti panggul, umi agak kesulitan dalam mobilitasnya. Kesulitan gerak bukan dikarenakan efek operasi tapi lebih karena trauma rasa sakit yang menyebabkan terlambatnya umi menjalani fisioterapi. Efek samping dari kesulitan gerak ini merubah ritual keseharian umi yang terbiasa didapur duapuluh empat jam (saking senangnya masak...πŸ˜‰) menjadi hanya terbatas dikamar.


Menoleh kebelakang ketika terdengar suara klik kamera πŸ˜‰



Karenanya Umi senang sekali kalau diajak jalan-jalan. Kemana saja, biar hanya menjemput Rana sekolah, ke bank atau  belanja ke supermarket (sayang gak ada fotonya karena umi gak suka difoto πŸ™ˆ). Selama di Surabaya Umi sudah ikut ke stasiun pasar Turi, ITC, pasar Atom, Grandcity, Plaza surabaya, LandMark, PTC dll...Terkadang kalau memungkinkan Umi turun pake kursi roda kalau lagi capek, Umi nunggu aj di mobil (yang jelas gak sendirian, ditemenin). Segitu aja Umi sudah senang...
Hal ini mengingatkaku pada almarhum Abi. Bedanya kalau Abi merequest tempat-tempat yang ingin dikunjungi, kalau Umi, ngikut aja tanpa request. Mungkin karena Abi suka sekali mengunjungi sesuatu yang baru terutama rumah makan (padahal seharusnya diet ketat). Kalau pas arisan, mencoba rumah makan baru dan ada menu yang enak, aku langsung teringat Abi...
Bagi Umi dan almarhum Abi bahagia itu tampak sederhana. Dimasa tuanya mereka hanya ingin ditemanin, diajak berbincang, diajak jalan-jalan, diajak silahturahmi, dinulyakan. Tidak dicuekin, tidak dibiarkan sendirian, tidak dikasihani, tidak dijadikan benda antik. 
Betapa beruntungnya kalau kita masih punya orangtua. Kunci surga terlihat lebih nyata. Kalau kangen kita tinggal peluk dan cium. Kalau salah-satu dari mereka sudah tiada baru kita sadar betapa sangat berharganya mereka. Semoga kita bisa menjadi anak shaleh/shalihah. Amin Ya Robbal Alamin...