05 January 2012

Yang (tak) Tergantikan...


WindaAdakah sebuah dunia baru tanpa ada tangis duka? Hanya ada gelak tawa dan senyum kebahagian. Hanya ada peri dan bidadari? Dapatkah kau membawaku kesana? Aku adalah mempelaimu. Kita akan bersanding lagi meretas kasih yang tak selesai. Aku akan meminta matahari menunjukkan arahnya, purnama menerangi jalanku dan pelangi menjemputku. Akan kuukir namamu diatas awan dan kuperlihatkan pada dunia betapa besar cintaku padamu.
-------------------------------------
Tanganku menengadah keatas, ingin menjangkau langit dan mengetuk pintuNya. Katakan, doa yang bagaimana lagi yang harus kurangkai, tentang sebuah keluarga bahagia dengan anak-anak yang lucu, berlari melesak kesana-kemari? Semua doa-doa baik sudah kupanjatkan. Mengapa tak ada satupun yang terjawab?
Kenapa aku yang Kau pilih?
Ada berjuta-juta makhluk di dunia ini kenapa Engkau memilihku untuk menanggung beban yang tak kuat kusandang?
----------------------------------------
Aku bergidik menyadari betapa banyak orang yang kukenal dan tidak kukenal memenuhi seisi rumah. Tatapan mata itu sungguh aku tak menyukainya. Sangat kasar sekali jika aku mengatakan membencinya. Tapi itulah yang kurasakan. Aku benci sekali tatapan mata mereka yang diarahkan padaku. Aku tak butuh belas kasihan. Aku tak butuh apapun.
Sekarang aku hanya ingin tidur dan tak ingin membuka mata. Biarkan senandung mimpi membungkus rasa sedihku. Apa kalian tak ingin pulang?
Aku lelah..
“Berhentilah berduka Win, Gi tak akan suka melihatmu luluh lantak begini”.
Kalimat simpati yang terus didengungkan bagai tumpahan air dari ketinggian.Mereka sungguh baik hati berniat menghiburku. Tapi bisakah mereka mengatakan itu jika semua kesedihan ini menimpanya? Aku ingin berteriak…memaki…melolong…tapi yang bisa kulakukan hanya menelungkupkan wajahku lebih dalam kebawah bantal.
Diluar sana, kehidupan terus bergerak. Matahari masih menjalankan tugasnya terbit dan terbenam, kemacetan masih berlangsung di jalan-jalan, antrian orang mengular di bank. Hanya aku yang diam, membeku dikamar, membiarkan kelima indraku mati rasa. Ingin rasanya membunuh waktu, mencengkeramnya erat untuk menghentikan detakannya atau mungkin memaksanya berputar lebih cepat dari yang seharusnya. Diriku seolah sebuah titik yang terjebak dalam sebuah kumparan. Hanya waktu yang mampu menghentikan kedukaan ini, waktu jugalah yang dapat membunuhku.
------------------------------------------
Dia datang lagi…lagi dan lagi. Setiap minggu, di waktu yang sama. Sade, kegetiran masa lalu melekat di sosoknya. Mestinya aku mengusirnya atau lebih sopan menyuruhnya pergi tapi aku membukakan pintu dan menyuruhnya duduk di ruang tamuku yang nyaman.
Kenapa dia datang?
“Aku siap membantu apa saja. Kamu bisa mengandalkanku” katanya dengan penekanan pada kata apa saja. Kelak, kalimat ini selalu diulang-ulangnya tiap kali dia datang, diikuti dengan sebuah amplop putih tipis yang digelungkan kehadapanku.

Sebetulnya aku ingin sekali menghardik dan menampar kesombongannya. Tapi, selalu saja kegamangan menyergapku. Semua kata yang berada diujung lidahku tertelan kembali. Akhirnya kupaksa mulutku bersuara.
“Kamu tidak perlu melakukan ini. Aku tidak kekurangan apapun. Simpanlah untuk keluargamu”.
Kutelusuri wajahnya, laki-laki ini berusaha menyakinkanku bahwa dia adalah sebuah pelukan, dada yang bidang dan tangan yang kokoh untukku. Seakan dia dapat membaca diriku. Kupalingkan wajah berusaha meredam pesonanya yang liar menguasai rasa cemasku.
Sade berdiri dengan gelisah. Sesekali irama napasnya terdengar seperti gumam suara dan gerakan tangannya yang meremas-remas pertanda ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Duduklah…!”
Rupanya dia tak biasa mengalami penolakan juga sebuah perintah. Dia terlihat jengah begitu menyadari aku melakukan keduanya.
Mengapa dia datang? Apakah dia datang dengan membawa rasa iba? Kedukaanku terekspos dalam berbagai ekspresi di media beberapa waktu yang lalu.
Apakah sebaiknya kutanyakan?
Ah! Aku tak ingin menahannya lebih lama diruang tamu.
“Pulanglah” sekali lagi aku menyerunya dengan kalimat perintah. Aku sudah mulai bangun dari tempat dudukku dan menunggunya melakukan hal yang sama.
“Aku tak akan pulang sebelum mendengar jawaban darimu” katanya kokoh tak beranjak dari sofa, tempatnya duduk.
“Apa yang ingin kaudengar?”
“Dengan cara apa aku bisa menebus kesalahan sehingga kau mau memaafkanku?
Aku mendehem, berusaha meregang waktu.
Oh...Kalau saja pertanyaan ini diajukan sebelum aku sempat mengenal Gi, mungkin aku memilih untuk lebih lama menyiksanya dengan perasaan bersalah. Tapi setelah bertemu Gi, kusadari, ketidaksetiaan Sade adalah pintu masuk kebahagianku bersama Gi.
Haruskah kukatakan apa yang kurasakan?
Tidak! aku hanya ingin secepatnya menutup pintu. Maka sebuah kalimat klise meluncur dari bibirku, “Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya. Sekarang, pulanglah! Aku lelah…”
Kuelungkan kembali amplop putih kehadapannya. Aku tak perlu lagi membukanya. Saat pertama dia memaksaku menerimanya, kurasakan darah mengalir lebih cepat dibawah lapisan kulitku. Apalagi setelah kutahu nilai nominal yang tertera, terlalu berlebihan untuk sebuah ucapan belasungkawa. Akupun mengembalikannya.
“Terimakasih…Kau baik sekali memikirkanku tapi ini terlalu berlebihan”
Diwaktu lain aku mengatakan
“Terimakasih…Aku tak akan bisa membalas kebaikanmu”
Sejujurnya bagiku, jauh lebih mudah untuk menyerah, bersekutu dengan kecemasanku daripada bertarung dengan bisikan hati nurani. Kehilangan ini membawa serta begitu banyak ketakutan. Apa sulitnya menerima dan mengucapkan terimakasih?
“Win…Win…! serunya kesal.“Sudah kukatakan berulang-ulang, kau tak perlu membalasnya”. Dia tampak kehilangan kesabaran. Mungkin dimatanya aku terlihat angkuh, mengabaikan semua kebaikannya. Sebenarnya tidak, hanya saja aku terlanjur meyakini amplop putih itu bagai nada sumbang yang keluar dari sebuah piano antik. Melumat nilai artistiknya ketitik nadir.
Sade pergi dengan membawa semua kemarahannya. Sosoknya melesat menjauh dan hilang dikegelapan malam. Kuyakin, laki-laki ini tak akan kembali. Sedikit kesadaran menuntunku, Sade hanyalah sebuah fatamorgana.
---------------------------------------------------
Aku muntah lagi untuk yang kesekian kalinya. Tak ada isi makanan dalam perutku kecuali sebentuk berudu yang meringkuk aman didalamnya. Seandainya aku bisa mengeluarkannya semudah aku mengeluarkan kupu-kupu yang terperangkap dalam gelas kaca. Aku mengusap-usapnya, sebentuk berudu itu seolah menghisap semua kekuatan yang tersisa. Badanku semakin lemah…
--------------------------------------------
Aku akan bercerita tentang Gi. Gi adalah seorang pilot. Kami baru menikah tiga bulan ketika pesawat yang dikemudikannya jatuh dalam penerbangan rute Malang-Jakarta. Aku tidak tahu siapa yang patut disalahkan. Human error, cuaca buruk atau takdir. Bagiku alasan tak penting terkecuali bisa membuatnya kembali hidup.
Kematian,tak menunggu waktu. Andai saja ada waktu yang tepat…! Terlebih dulu aku akan belajar kekuatan pada akar pohon yang kokoh menyanggah apapun yang tumbuh diatasnya. Belajar kesabaran pada embun yang semalaman menggantung diujung daun, mengintip fajar. Belajar ketabahan pada tanah yang selalu menerima apapun yang dilakukan diatasnya.
Ah…! Aku tak tahu kapan saatnya aku siap membolehkan kematian menjemputnya. Bukankah lebih mudah begini?
Kematian selalu menyisakan janji-janji yang tak terpenuhi. Janjinya untuk menghitung jumlah uban yang mewarnai rambutku atau menandai setiap kerutan diwajahku sama dengan janjiku untuk menghitung helai rambut yang mulai berjatuhan dari kepalanya atau mengira-ngira ketebalan kacamata minusnya. Tak akan ada lagi sebuah pelukan, ucapan selamat datang atau kado kejutan. Reka wajahnya tak mampu kubingkai disaat ultah perkawinan kami yang pertama, yang kelima atau pada ultah perkawinan emas kami nanti. Yang masih tertinggal hanyalah kenangan masa-masa indah yang terlalu singkat dilalui.
---------------------------------------
Aku selalu menyebutnya berudu karena aku tak henti berpikir bahwa keberadaannya menggantikan Gi. Bagiku ,Gi tak tergantikan. Selama pikiran itu hinggap dikepalaku, aku tak pernah merasa dia bagian dari diriku. Bukankah si berudu ini juga bagian dari Gi, laki-laki terkasih dalam hidupku? Tuhan menitipkan seorang anak dalam sebuah kantong dirahimku. Sebuah karunia yang memungkinkan catatan kehidupanku dengan Gi berlangsung terus mengikuti putaran waktu yang tak pernah berhenti.
Aku mulai memikirkan untuk mengganti kata berudu dengan kata buah hati seiring dengan rasa cinta yang menjalar menguasai hatiku. Rasa cinta itu mendesak untuk membelai perutku, melindunginya dan mempertaruhkan nyawaku untuknya.
-------------------------------------
“Bumil cantik deh…Sudah berapa bulan Win?”
“Masuk bulan keempat”
Kami berdua, aku dan Maia sedang menikmati makan siang di mall. Sebenarnya aku tidak suka makan dikeramaian, melihat orang berlalu-lalang tapi membosankan juga makan seorang diri di rumah. Suasananya terlalu hening untuk sebuah ritual yang kulakukan lebih dari tiga kali dalam sehari.
Sudah sepekan ini aku bangun pagi dengan perasaan berbeda. Seolah apa yang kulihat adalah keindahan yang baru terbaca. Apa yang terjadi pada tubuhku? Kusadari, serangan mual yang tak henti menyergapku sudah tak ada. Kurasakan sumbatan di otak kecilku mulai membuka. Ah... Sebentuk harapan terbingkai, kehidupan yang sedang berlangsung pada sebuah kantong diperutku mulai mengajak berdamai. Lembayung merah di ufuk timur siap menyambut pagi bersama gairah dalam diriku yang mulai tumbuh.
--------------------------------------------
VionaSebuah ruang tampak penuh sesak dengan orang-orang yang berusaha melihat informasi yang ditempel di papan pengumuman. Sementara diluar ruangan, orang-orang berwajah sendu berlalu-lalang dengan gelisah. Dari tempatnya berdiri, Viona dapat melihat burung-burung besar parkir berjajar, sayapnya yang bergaris-garis terlihat gagah, siap menukik membelah awan.
Viona berteriak-teriak kegirangan. Dia melompat-lompat riang seakan tak terganggu dengan keberadaan ayahnya yang memandang dengan tatapan kosong. Raut ayah terlihat keruh, kedua tangan menyanggah dagunya. Kedukaannya kontras dengan Viona. Gadis kecilnya itu bersuka ria, menemukan sebuah permainan baru yang terbangun dalam imaginasinya. Viona memiliki keterbatasan untuk menghubungkan satu fakta terdahulu dengan fakta berikutnya yang sedang dilihat. Dia tak bisa mereka-reka apa yang sedang terjadi. Dia juga tak sepenuhnya mengerti topik apa yang sedang ramai dibicarakan orang-orang dewasa disekitarnya.
Pesona burung-burung besar itu menuntunnya untuk bergerak mendekat. Disaat yang sama, ayah berdiri, menarik erat tangannya dan mencoba membuatnya sedikit tenang. Ayah mengeluarkan stiker dari tas kecil yang diapitnya. Stiker dan buku gambar adalah permainan favoritnya. Tak sampai lima menit,Viona sudah asyik menempel-nempelkan stiker dengan jari-jarinya. Ayah memandanginya dengan haru. Dia menahan diri untuk tidak menyampaikan sebuah kabar buruk tentang bunda. Pesawat yang ditumpangi bunda jatuh karena cuaca buruk. Sedianya bunda akan mengikuti seminar tentang anak berkebutuhan khusus yang digelar siang ini disebuah hotel diJakarta. Bagi Viona butuh waktu untuk memahami penjelasan ayah dan menghubungkan alur cerita itu dengan dirinya. Viona tak pernah khawatir bunda pergi meninggalkannya. Dalam rekaman Viona, apa yang terjadi hari ini adalah sebuah kesempatan mempelajari hal baru tentang burung-burung besar yang baginya sangat menakjubkan.
------------------------------------------
Lima bulan kemudian…Diantara botol-botol minuman warna-warni yang berjajar mengepungnya, pandangan Viona tertumbuk pada segunduk tonjolan setengah lingkaran yang ada didepannya. Pemikiran spontan yang melintas dibenaknya, mengarahkan tangannya terulur, berusaha meraba perut yang membentang berjarak setengah inci darinya. Dia menekannya untuk mengetahui apa yang bersarang disana. Winda dengan sigap memegang tangan kecil yang menempel kuat di perutnya. Kata-kata kekesalannya hendak meluncur ketika pandangannya menangkap sosok wajah tak berdosa. Winda menaksir, gadis cilik ini berumur lima tahunan. Dia bermaksud menanyakan nama tapi sepertinya gadis cilik ini tak mengindahkan sedikitpun kecuali perut buncitnya yang begitu menarik perhatiannya.
Sebentar…Dia melihat emblem melekat didada kirinya, tertulis nama Viona dan sebuah nomer handphone.
“Viona ingin punya adik ya?”. Winda berusaha mengalihkan perhatian si gadis cilik.
Sedari tadi dilihatnya Viona tak mengeluarkan sepatah katapun dan sepertinya gadis cilik ini memiliki pemikiran yang tidak biasa mengenai perut buncitnya. Dia terlihat sangat ingin meraba dan bilaWinda tak waspada, dia pasti meremasnya. Winda mengulangi kalimat larangannya, tetap saja reaksi Viona seakan tak menggubrisnya. Winda menyangka Viona bermasalah dengan pendengaran karena itu dia mengajaknya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat sederhana. Cara ini agak berhasil, meski masih sulit meminta sedikit perhatian darinya. Viona menurunkan tangannya. Mulutnya menggumam pelan, “Bunnndaa…Bundaa…”
Pandangan Winda menyusur sekeliling melihat kemungkinan ada seorang Ibu yang kebingungan mencari anaknya. Tak dilihatnya seorangpun di area supermarket yang sedang mencari seorang anak. Winda terus memegang tangan Viona, dia khawatir tangan itu akan meremas perutnya seperti yang dipikirkannya. Viona terus meronta berusaha membebaskan tangannya, Winda tak melepasnya. Setelah menunggu lebih dari lima belas menit dan tak ada tanda-tanda Viona akan ditemukan , Winda mulai kewalahan. Dia berinisiatif menelpon nomer handphone yang tertera di emblem Viona. Segera jarinya menekan tuts sepuluh angka dihandphonenya, tak menunggu lama dia terhubung dengan siempunya nomer.
--------------------------------------------
Menurut perkiraan dokter, rentang hari kelahiran bayiku sudah dekat, tinggal menghitung hari. Semua perlengkapan yang dibutuhkan telah rapi kususun dalam tas. Menurut hasil USG, jenis kelamin bayi yang kukandung, laki-laki. Ada beberapa kandidat nama yang sudah kusiapkan tapi belum kupilih, juga sebuah nama panggilan “Gi” untuknya.
Aku mengibas-ibaskan rambutku yang basah. Pagi ini aku bersiap-siap menerima kunjungan tamu kecilku yang sangat suka mengamati ikan menari-nari dalam akuarium. Dia bisa duduk tenang selama satu jam didepan ikan-ikan itu, seolah sedang mengajaknya berbicara dari hati kehati. Dia juga suka dibacakan sebuah cerita. Didalam tas berlogo tokoh-tokoh Disney yang dibawa pengasuhnya, selain berisi aneka camilan bebas gluten, ada banyak stiker dan buku cerita bergambar didalamnya.
Tiiit…tiiit…Sebuah pesan masuk, dari Maia di bbm.
• Tahu gak siapa Hera Pambudi?
Keningku berkerut. Aku sempat bercerita padanya tentang Viona, gadis kecil penderita autis yang setiap pekan kerap mengunjungiku. Segera kubalas bbmnya,
 Gak tahu banyak…
 Yang kutahu, dia ayah Viona.
 Memang kamu kenal?
Segera kubaca pesan Mira berikutnya.
• Kliping koran tentang kecelakaan itu masih ada?
Kurasakan jantungku luruh berada diantara kedua kakiku ketika kubaca pesan Mira. Kira-kira apa hubungan kecelakaan itu dan Hera Pambudi?
Pesan Mira berikutnya,
• Coba buka kliping korannya, disitu ada foto si Hera Pambudi.
• Betul-tidak dia orangnya?
Kurang dari dua menit, kliping koran yang dimaksud sudah kutemukan. Ketika menariknya dari tumpukan map dilemari, bukan saja tangan tapi hampir seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku hamparkan koran yang memuat peristiwa kecelakaan itu. Terbaca headline dihalaman pertamanya dengan huruf dan gambar yang langsung dapat kukenali.
“Istri pengusaha ternama, Hera Pambudi termasuk dalam salah-satu korban jatuhnya pesawat Rajawali Airlines”Foto Viona, ayah dan ibunya terpampang disana. Aku masih mengingat senyumnya ketika bertemu disupermarket dan dia mengenalkan dirinya sebagai ayah Viona.
Hamburan pesan masuk dari Maia kubiarkan tak terjawab ketika sebuah ketukan bik Yam di pintu membawa pesan dari seseorang yang sedang menunggu diruang tamu. Viona datang bersama ayahnya!

06 June 2011

Bersanding dengan Bidadari …

Manusia adalah sebuah Masterpiece (Mahakarya) Tuhan yang paling sempurna dari seluruh ciptaanNya yang lain.
Fakta-fakta dibawah ini membuktikan…
Setiap tubuh manusia dewasa terdiri atas delapan milyar sel darah dan seratus triliun sel yang terbentuk menjadi dua ratus jenis sel berbeda di dalam tubuh. Setiap detik, delapan juta sel manusia normal mati dan siap digantikan oleh sel baru.
Disetiap sel mengandung Inti sel yang didalamnya tersimpan DNA sebagai blue print pembawa sifat. Berat sebuah DNA: 1/200 milyar gram. Tubuh orang dewasa mengandung 60 trilliun sel yang jika direntangkan panjangnya mencapai 2x jarak bumi-bulan. Jika seluruh DNA manusia di muka bumi ini dikumpulkan maka beratnya sama dengan hanya sebiji beras. Subhanallah…
Tubuh kita juga terdiri atas:
200 bentuk tulang yang berbeda yang terangkai dan tersusun secara sempurna, dibungkus dengan milyaran serat otot dan dikoordinasikan oleh jaringan syaraf yang panjangnya tidak kurang dari 10 kilometer.
Jantung kita seperti sebuah pompa mekanik yang berdenyut rata-rata 36 juta kali setiap tahunnya, sepanjang hayat dikandung badan, tanpa pernah beristirahat.
Paru-Paru adalah organ berbentuk spons yang rata-rata menghirup dan menghembus sebanyak 20.000 kali dalam sehari. Kantong-kantong udara dalam paru-paru, jika dijadikan lembaran, akan menjadi bidang seluas 1100 kaki persegi.
Liver atau yang populer disebut Hati merupakan salah-satu organ detoks dalam tubuh kita yang bertugas mencuci darah 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari setahun, NONSTOP.
Sedangkan otak kita melebihi komputer tercanggih
yang pernah ada, mengoperasikan lebih dari seratus tugas secara bersamaan.
Suatu bentuk penciptaan yang luar biasa…Allahuakbar…Allah Maha Besar…
Sementara itu…
”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari)

Sementara itu…
Derajat manusia yang tertinggi, jika mereka berperan sesuai fitrahnya, sebagai khalifah di muka bumi.
Sementara itu…
Allah menjanjikan surga untuk orang-orang yang menebar kebaikan dalam kehidupannya…
Surga, yang dalam bahasa Al-Quran disebut Jannah.
Sebuah tempat yang dilukiskan secara sempurna hanya ada keindahan dan kebaikan disana… Istana yang dijanjikan untuk orang-orang shaleh…
Surga yang digambarkan sebagai sebuah tempat yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dengan air yang jernih. Di dalamnya, ada bidadari-bidadari laksana mutiara. yang cantik jelita dan elok rupawan…Surga juga digambarkan seperti sebuah istana kerajaan yang megah. Penghuninya bergelimang kemewahan. Seperti disebut dalam al-Kahfi: 31 dalam surga itu, mereka (penghuni) dihiasi dengan gelang emas, dan memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah.
Sementara itu…
Jika manusia melupakan perannya sebagai khalifah
, dia membiarkan satu organ penting di tubuhnya, hati nurani sebagai penyeru kebaikan, tidak berfungsi dengan baik maka menjelmalah ia menjadi Si Jelaga yang keberadaannya identik dengan hitam, kotor dan jelek.
Sementara itu…
Di Negeri ini, banyak sekali kandidat yang dapat dinobatkan dengan gelar kehormatan tersebut.
Hakim yang merangkap mafia peradilan…Ilmuwan yang menggadaikan ilmunya…Politisi yang menjual suaranya…Pejabat yang bermain mata dengan kekuasaan… Koruptor yang loyal melakoni profesinya…atau bisa juga gelar itu menempel pada seseorang pengidap waham, merasa dirinyalah yang paling benar…
Indonesia termasuk salah satu dari sedikit negara yang atmosphere kekuasaannya menjauh dari hukum dikotomis kesalahan. Siapa yang bersalah atau sebaliknya siapa yang tidak bersalah…tidak akan pernah jelas.
Disini lebih populer hukum Relativitas atau orang Madura menyebutnya “Hukum tak tentoh…” Segala sesuatunya bersifat relatif atau nisbi, tergantung dengan obyek pembandingnya.
Jadi meski Nazaruddin dalam testimoninya mengatakan apa yang disebutnya sebagai sebuah fakta kebenaran…. Kita juga tidak akan pernah tahu apakah itu sebuah kebenaran atau sebuah pembenaran…Tergantung... Makhfud MD mestinya mahfum akan hal ini…Apalagi…Yang lain-lain…
Sementara itu…
Siapa yang ingin bersanding dengan Bidadari….?
"Berbuatlah kepada seseorang, sebagaimana anda ingin orang berbuat pada anda. Jangan berbuat pada orang, sebagaimana anda tidak ingin seseorang berbuat terhadap Anda..."
Pemaknaan kalimat majemuk diatas mengacu pada sebaris kalimat tunggal di awal, Manusia adalah sebuah Masterpiece...Save Human with Humanity…

17 March 2011

D E J A V U...

Bagaimana sebaiknya reaksi orang tua jika seorang anak mengatakan ingin menikah dengan bule...?
"Coba lihat ini Ma…" katanya sambil menunjuk gambar pemuda tanggung yang berwajah imut.
Atau yang ini…Namanya: Nick Wheeler…Keren khan…?
Mmm…
Sebuah riset yang tidak melalui penelitian ilmiah berbunyi...Hampir dipastikan semua cewek dalam masa remajanya pernah berangan-angan menikah dengan cowok bule atau seseorang dari planet seberang…
Saat seusianya aku juga mengidap sindroma yang sama, kesengsem berat dengan sang idola Michael Jakcson bahkan bersedia menikah dengannya seandainya diminta... ;)
Bedanya dengan putriku sekarang, aku tidak sampai menyatakan keterbukaan sikap…Mungkin kalau sempat terlontar, hukuman cambuk cemeti bisa diberlakukan… He...he...Aku tersenyum kecut mengingatnya…

“Mama diskriminatif…! Dosa lho Ma…Makhluq Tuhan koq dibeda-bedakan…” Tuduhannya langsung mencecar keluar …begitu rupanya dia mengartikan senyumanku sebagai ejekan. Sebuah larangan…
Ehm.…padahal senyumku juga ditujukan pada figure cowok-cowok di poster tadi yang menurutku biasa-biasa saja.
Diam-diam…dilain kesempatan, aku ambil majalah tadi dan Aku berusaha melihat wajah yang ditunjuk itu melalui matanya…
Iya…benar juga, wajah di poster ini memang keren… :)
Dilain kesempatan, saat putriku merajuk lagi…Tentu saja, aku tidak akan memberlakukan hukuman cambuk… Tapi..
“Boleh ya Ma…”
Aku sudah sangat siap dengan jawabannya…
“Boleh…. Asal syarat dan ketentuan berlaku…!”
“Apa…?”
“Syaratnya, orangnya harus alim, penulis buku-buku religius, merupakan pengajar favorite di Universitas Islam terkemuka dan yang penting lagi bisa membuat anak mama bukan saja pake jilbab tapi juga pake cadar …”
“Hah…! Sadis banget… Mama mirip Taliban...” Mata bundarnya membelalak...
Ha…ha…ha...

Seberapa dekat hubungan seorang anak dan orang tuanya selalu ada beda cara pandang karena perbedaan generasi atau istilah psichologynya: ada Generation Gap.
Ketika seorang anak menjadi orangtua, segala kekhawatiran bermuara dalam pikirannya. Inilah yang mendorong orang tua memberlakukan undang-undang darurat militer dan No Fly Zone alias jam malam…(jadi mirip di Libya… he…he…kalau disana sih karena Khadaffinya lagi kena Waham Zanga-Zanga…)

Terkadang dalam beberapa kasus, rasa khawatir itu begitu ketat menggoda, akibatnya mereka juga harus legowo dituduh sebagai sosok yang otoriter, tidak demokratis dan ketinggalan jaman.

Sebelum dakwaan bertambah berat, ada baiknya menyempatkan perenungan dalam sedetik, ketika suatu hari nanti kalian terbangun sebagai orang tua, kalian akan tahu betapa sebagian besar daya pikir orang tua mengalami kemunduran karena terus-menerus dipakai untuk memikirkan anak-anaknya dan hanya sekitar 5%nya saja yang benar-benar disebabkan oleh Alzheimer.
Kembali ke laptop...
Shakespeare, filosuf terkenal, penulis roman Romeo and Juliet, pernah mengatakan: What is in a name?A rose by any other name would smell as sweet.
Ternyata… Nama memiliki banyak arti.
Aku pernah menyampaikan nota protes pada orangtua, kenapa namaku hanya singkat:
Layla..tanpa tambahan apa-apa. Maka ketika SD, aku nekat menambahkan namaku menjadi :Layla Lilywati, terpengaruh nama teman-teman SD yang bertenis China, kebayakan nama mereka berakhiran Wati.
Ketika SMA, kutambahkan nama menjadi: Layla Khalilov…kali ini terinspirasi dengan nama pejuang Chechnya yang tengah memberontak untuk memisahkan diri dari Soviet. Karena kesadaran yang datang kemudian bahwa seorang keturunan Arab tidak mungkin bernama Khalilov, akhirnya kurubah namanya menjadi: Layla Shaaqiilhaa.
Seorang teman yang pandai berbahasa arab mengutarakan kebingungannya karena nama dengan ejaan dobel seperti itu tidak dia temukan artinya dalam kamus Arab-Indonesia.

Ha…ha… ha… tentu saja tidak ada artinya karena nama itu sengaja dibuat dobel ejaannya hanya agar terlihat keren. Coba dibaca, tetap saja berbuyi SAKILA…Benar khan…? Dan yang lebih dahsyat lagi nama itu dianggap legal oleh sekolah dan tercantum dalam Kartu Pelajar sebagai nama resmiku: Layla Shaaqiilhaa…Top Banget deh...

Setelah menikah, aku belajar cepat dari sejarah maka kutambahkan nama anak-anakku menjadi dua kata, Sirin Salsabila dan Rana Aaliyah.
Kali ini protes datang dari Ayah. Kata beliau…Nama marga akan dituliskan dimana…? (etnis Arab, namanya tersusun dari nama ayah dan nama marga dan tidak lebih dari tiga kata)
Ups…tidak kepikir…Ya sudah …terlanjur tertulis di akte, ribet lagi gantinya.

Nota protes masih berlanjut, kali ini datang lagi dari putriku, kenapa aku dinamai Sirin…?
Sebagai orang tua yang sudah kaya pengalaman, aku punya jawaban jitu. Pemberian nama adalah hak istimewa orangtua, tidak bisa di veto atau dialihkan ke anak. Betul khan…? Lha kalau ngasih nama nunggu nanya anaknya dulu, terus setelah lahir, anaknya mau dipanggil apa hayo…? Nak…Nak…gitu…? Nanti dikira namanya Kuntilanak… :)

Selain keinginan terpendam soal menikah dan perubahan nama, kesamaan yang kami alami juga menyangkut cita-cita masa depan.
Ma…Aku ingin jadi Detektif…!
Hah…?!
Setelah berhasil mengatasi rasa kaget yang luarbiasa, aku tanya balik, Kenapa ingin jadi Detektif…?
Selidik punya selidik ternyata putriku itu lagi keranjingan baca buku serial Detektif Conan & nonton film CSI dalam serial Fox Crime.
Sama lagi…!
Dahulu kala, aku juga pernah ingin jadi Detektif dengan alasan kepengin seperti si Bionoic Woman alias si cantik Lindsay Wagner…
Oh lala…
Aku jadi bertanya-tanya…Ini Hukum karma atau Dejavu…;)

Ditulis oleh: Layla F Thalib

11 March 2011

Sebuah Rumus Kimia &Turunannya…

Breaking News….!!! Ternyata bos penjahat curanmor adalah cewek berumur 16 tahun.
Begitu salah satu headline sebuah koran.
Atau…
Mami ayam-ayam kampus digerebek petugas…
Huft…Dengan judul seperti ini sulit sekali memperkirakan tulisan tersebut mengandung nilai-nilai positip.

Kalau kita rajin melihat trending topic televisi, pastinya bergulir dari satu debat ke debat yang lain. Mengagumkan…! Ternyata banyak ya orang pintar di negeri ini dan juga begitu banyak orang yang menyintai negeri ini dan yang lebih hebat lagi, banyak juga orang yang peduli dinegeri ini. Benarkah…? Ya…Benar sih cuman…

Kita tidak bisa mengharapkan kejujuran dari sebuah pertunjukan. Tidak bisa mengharap kesungguhan dari suatu pemaksaan. Kita tidak bisa mengharap kebaikan dari sebuah kemarahan.

Media berperan dalam membentuk opini dan opini dapat mempengaruhi alur bertingkah-laku seseorang. Sayangnya pembentukan opini yang berbobot terkendala oleh media yang membatasi pembacanya. Semakin tinggi level pembacanya biasanya semakin mahal harga medianya. Kebanyakan media berhaluan kiri (jangan tergesa diartikan komunis ah…untuk memperjelas yang tersirat, kata kanan: berkonotasi positip) hanya terbaca oleh masyarakat menengah ke bawah…Sayang sekali potensi pemikiran mereka terus-menerus digerus hal-hal buruk yang membuat segala hal baik menjauh dari kehidupannya.
Saat ini pelajaran matematika sedang mati-matian naik daun. Mendadak semua orang ribut berhitung. Televisi terpaksa berpacu dengan rating, koran berkejaran dengan oplah dan ternyata kegelisahan mereka menular pada pejabat. Mereka sensitif sekali dengan suara dukungan sampai-sampai kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi teman. Lucu ya… :)

Eit…Masih ada yang lebih lucu…Tengok saja… Pejabat yang rela turun ranjang...e...turun kursi...atau turun tingkat dari jabatannya semula (baca: menjadi wakil) demi tetap dapat mencalonkan diri sebagai pelayan masyarakat. Mereka juga membentuk dinasti. Sungguh mengharukan… Semangat pengabdiannya luar biasa. Benarkah…? Ya… Benar sih cuman…
Hanya uang yang bisa diwariskan, sayangnya demokrasi tidak bisa diwariskan. Jabatan adalah amanah yang nantinya harus dipertanggung-jawabkan, bukan untuk dilanggengkan atau diwariskan secara turun-temurun kepada istri, anak atau kerabat.
Bangsa ini mempunyai semua yang diinginkan oleh suatu bangsa. Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, sering kita mendengar para guru berkata bahwa negara kita, Indonesia adalah negara gemah ripo loh jinawi atau tanah impian atau mutiara Khatulistiwa…Benarkah…? Ya… Benar sih cuman…
Kalau bangsa-bangsa lain di dunia punya banyak kendala kita hanya punya satu kendala, yaitu: kita punya cadangan kebohongan yang terlalu besar sehingga tidak muat untuk disimpan.
Kebohongan itu turunan dari rumus kimia satu kata yang sangat nikmat diteguk bahkan lebih nikmat dari tegukan secangkir cappuccino. Kata itu tersusun dari tujuh huruf, yaitu: K O R U P S I...
Budaya membentuk peradaban…
Untuk merubah budaya yang tidak mendukung peradaban yang lebih baik, perlu waktu yang panjang dan usaha yang terus-menerus. Salah satu caranya dengan: Memperbanyak guru berkualitas. Sebelum memperbanyak jumlah guru, tingkatkan dulu kesejahteraannya. Kalau perlu, naikkan gaji guru sejajar dengan gaji anggota dewan… :) Kenapa Tidak…?
Perbanyak penulis skenario film yang idealis dan bermartabat jadi tak akan pernah ada lagi film dengan judul “terlalu kreatif” seperti ini: Hantu Puncak Datang Bulan atau Rintihan Kuntilanak Perawan atau Air terjun Pengantin…Uft…
Tingkatkan kepedulian terhadap kesejahteraan, pemberdayaan, dan potensi perempuan…
Mengapa perempuan…? Karena perempuanlah yang melahirkan sebuah peradaban …
Benar sih Indonesia negara elok nan kaya tapi rakyatnya masih banyak yang hidup didera kemiskinan. Kemiskinan tidak bisa diselesaikan dengan undang-undang, sihir ataupun sulap.
Greg Mortenson dalam bukunya Three Cup of Tea, mengatakan: Untuk mengerti kemiskinan, Anda harus merabanya, menciumnya, dan merasakan itu. Para anggota dewan dan pejabat dalam lingkar kekuasaan tidak akan dapat mengubah kemiskinan karena mereka sendiri belum pernah berada di sana. Nah khan...

KORUPSI terbentuk tidak saja dari sebuah kemiskinan materi tapi juga kemiskinan pemikiran dan kemiskinan hati nurani. Jadi kalau mau memberantas korupsi, berantas dulu kemiskinan dan semua turunannya…

Ditulis Oleh: Layla F Thalib


05 March 2011

Pinangan & Perjodohan


Sebuah lagu mengalun dengan syair yang begitu populer beberapa waktu yang lalu. Inilah kata hati seorang jejaka,
“Ibu-ibu bapak-bapak
Siapa yang punya anak
Bilang aku
aku yang tengah malu
Sama teman-temanku
karena cuma diriku yang tak laku-laku
Pengumuman-Pengumuman
Siapa yang mau bantu

Tolong aku kasiani aku
Tolong cari diriku kekasih hatiku
Siapa yang mau…”
Sementara disisi yang lain, ada lagu yang dipopulerkan oleh Oppie Andariesta.
“Im single and very happy…” Benarkah…? Mungkin benar mungkin juga cuman sindiran si penyanyi.
Saat menghadiri walimah saudara sepupu beberapa waktu yang lalu, sang ustad yang memberikan khotbah nikah menyampaikan pesan yang menurutku inspiring sekali sebagai orangtua yang memiliki anak perempuan.
Dikisahkan tentang pinangan Umar kepada Saidina Abu Bakar untuk anaknya Siti Habsah.

Kisah yang lain, dikutip dari sebuah hadis yang diriwayatkan Anas berkata:
“Ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah! Apakah kau memerlukan aku?” Puteri Anas yang hadir ketika mendengar perkataan wanita itu mencelanya dengan mengatakan dia tidak punya harga diri dan rasa malu. “Sungguh memalukan dan betapa buruknya…!” Anas berkata kepada puterinya itu: “Dia lebih baik daripadamu! Wanita itu senang kepada Nabi dan menawarkan dirinya!” (Riwayat Bukhari)

Kedua kisah tadi ingin menggugah para orang tua yang memiliki anak perempuan untuk tidak segan mencarikan jodoh bagi anak gadisnya. Meminang seorang laki-laki yang baik dan layak untuk anak gadisnya adalah bukan sesuatu yang memalukan atau tabu. Diterima atau tidak, itu mah soal lain, karena masalah jodoh adalah rahasia Allah. Seperti kisah diatas, pinangan Umar ditolak, namun selepas itu Siti Habsah mendapat calon yang lebih baik ketika Rasulullah memperistrinya.
Ehm…tugas yang tidak ringan melawan pemikiran yang sudah berurat berakar, bahwa pihak perempuan seharusnya pasif menunggu pinangan dan bukan sebagai pihak yang meminang.
Seperti halnya tehnologi yang semakin berkembang dan semakin canggih, mencari jodoh juga mengalami fase yang sama. Kalau dulu karena terbatasnya komunikasi dan masalah adat budaya yang masih kolot, mencari jodoh adalah hak preogatif orang-tua yang bisanya tidak mempan interferensi. Yang biasa dilakukan saat itu adalah: Perjodohan. Pilihan yang sederhana dan mudah bagi orang tua untuk mendapatkan menantu idaman.
Saat ini perjodohan dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan menggelikan. Bagaimana bisa…? Ya tentu saja karena era digital dewasa ini sangat memanjakan. Tidak ada kesulitan bagi seorang gadis atau jejaka untuk saling berkenalan atau menjalin hubungan meski terbentang jarak jauh diantara mereka.
Kemajuan ini di satu sisi memudahkan sementara disisi lain justru menyulitkan. Menyulitkan terutama dalam menentukan pilihan. Dari banyak calon, siapakah yang terpilih…?
Masalah jodoh adalah masalah yang kompleks, saling bertaut antara harapan, keinginan, realita juga situasi dan kondisi baik personal maupun orang-orang terdekat (baca: orangtua).
Semuanya tidak terlepas dari hukum alam atau Sunnatullah. Siapa yang “terlihat” dialah yang dilihat, siapa yang invisible maka tak satupun orang yang bisa melihat maka buatlah diri anda always available. Jangan kuatir, sepanjang anda perempuan maka anda cantik, dengan kata lain perempuan harus merasa dirinya cantik. Jadi kalau kamu belum terpilih, itu tidak berarti kamu tidak cantik tapi semata karena kamu memilih untuk tidak terlihat.

Perjodohan, adalah suatu cara sederhana yang mudah dan dapat dipertanggung-jawabkan. Untuk buah hati yang meringkuk didalam rahim selama sembilan purnama, tentunya kita tidak akan pernah segan memberikan yang terbaik. Pinanglah laki-laki yang baik untuk anak gadis kita atau pinanglah seorang gadis baik-baik untuk anak lelaki kita. Kalau ada yang mudah…Kenapa cari yang sulit…?

Pasangan hidup adalah teman yang akan bersama-sama membentuk keluarga dalam menjalani ibadat sebagai hamba Allah di atas muka bumi ini. Berawal dari keluarga barulah terbentuknya sebuah masyarakat, negara dan ummat. Dengan berpasangan banyak hal buruk yang dapat dicegah. Sebuah tugas yang mulia tapi tidak ringan. Karenanya jangan sampai salah memilih pasangan. Bersegeralah...Dan kenapa mesti malu...?
Allah tidak akan mengecewakan hamba yang bersungguh-sungguh melaksanakan syariat-Nya.

Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain. Kamu bisa lho menolong Wali dan Oppie atau Wali dan Oppie yang lain mencari jodoh yang cocok.

Sudah siap dijodohkan…? Ah… jadi pengin cari menantu…ha…ha…ha….:)
Ditulis oleh: layla F Thalib

03 March 2011

Mother and Doughter

Miris rasanya melihat seorang Ibu yang berusaha mencari keadilan, berjuang untuk bertemu anak gadisnya yang sedang “diamankan” karena sang Ibu dianggap “berbahaya” bagi si anak.
Bila anda yang menjadi Ibu tersebut, bagaimana perasaan anda…?

“Bisa disebutkan nama Ibu kandung…?” begitu biasanya pertanyaan yang diajukan sebagai kelengkapan data kalau kita akan membuka rekening atau sedang membuat SIM atau sedang mendaftar sesuatu.
Dari pertanyaan yang sederhana ini sudah cukup kuat untuk mengindikasikan bagaimana bentuk hubungan antara Ibu dan anak. Tak dapat disangkal, tak dapat dimanipulasi dan tak dapat diputus.

Bisa saja seorang anak tidak pernah tahu bapaknya tapi seorang anak pasti tahu ibunya karena selama sembilan bulan dia memulai kehidupan dalam rahim ibunya, mengenal dan mewarnai kehidupan berkat asuhan ibunya. Pendek kata, keistimewaan seorang Ibu dapat dengan tepat dijabarkan melalui sebuah ungkapan, surga dibawah telapak kaki Ibu.
Lantas kenapa peristiwa seperti diatas dapat terjadi….?

Di dunia ini apa saja dapat terjadi, semua kemungkinan selalu dapat dipertimbangkan. Hal ini tidak terlepas dari yang namanya: KEPENTINGAN. Bagaimana sang Ibu berkepentingan untuk menyelamatkan anak gadisnya dan bagaimana si “Pelindung” berkepentingan untuk menyelamatkan gadis muda tersebut. Sama-sama berkepentingan untuk menyelamatkan tetapi dengan kepentingan jalan yang berbeda.
Lalu…? Bagaimana cara menyikapinya sejalan dengan bagaimana sebuah kebenaran tidak dapat disembunyikan. Kebenarannya adalah: seorang Ibu akan selalu melindungi anaknya. Ini naluri, insting atau apa sajalah istilahnya. Dalam batasan normal, seorang Ibu tidak akan pernah mencelakakan anaknya.
Lantas kenapa sih mau repot-repot melindungi seseorang yang berada dalam naungan seseorang yang bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkannya kedunia...?

Panggil saksi-saksi, kumpulkan bukti-bukti, gunakan parameter reputasi dan keahlian. Bukankah sang Ibu punya kerabat dan teman yang lebih dari cukup untuk menjadi saksi…? Pastinya mereka bersedia dengan senang hati menjadi bagian dari sebuah lingkaran kebenaran.

Bila tenaga ahli akhirnya dapat membuktikan bahwa sang Ibu tidak dalam kondisi normal, maka drama yang disuguhkan melalui sebuah berita mother Vs doughter sungguh ironis sekali. Tapi sebaliknya jika nantinya para tenaga ahli itu dapat membuktikan bahwa sang Ibu dalam kondisi normal-normal saja maka…drama yang disuguhkan benar-benar bertabur pemain-pemain berbakat… KPAI...Jangan keterlaluan ah...

07 November 2010

Tarian Ballerina

Tuscany...April 2010

"Apa yang anda pikirkan tentang Italy? Mencicipi masakan Italy seperti Julia Roberts dalam film Eat, Pray, Love...? Atau melongok pabrik Ferrari di Ducati...? Menikmati seni dan arsitekturnya...? Atau berbelanja barang-barang branded di Milan...? Tambahkan satu lagi dalam agenda, kunjungan ke Tuscany. Sebuah daerah wisata dengan pemandangan menawan dari kota-kota bersejarah diatas bukit. Ibukota Tuscany adalah Florence, tempat lahirnya kesenian Renaissance yang melahirkan berbagai patung dan lukisan seniman-seniman dunia. Florence adalah sebuah Masterpiece...

Aku meletakkan kacamata minusku ke atas meja sembari menyandarkan bahu, mengusir penat dan kejenuhan yang tiba-tiba melanda. Sebagai reporter yang tengah diundang oleh Air Frances, salah-satu maskapai penerbangan Perancis untuk meliput keelokkan wisata negara-negara Mediterran, ada tugas menanti untuk membuat laporan perjalanan selayang pandang. Dengan bantuan kamera andalan, Nikon D70, tak ada halangan bagiku untuk memindahkan eksotika Mediterran ke dalam foto-foto yang kubidik.