19 April 2020

Titip Rindu Buat Abi...

Sudah lima tahun, abi pergi
Tak sekalipun aku mengunjungi pusaranya
Aku hanya puas melihatnya dari jauh
Tak apa, hatiku merasa dekat dengannya
Sedekat ketika tanganku menengadah untuknya.
 ------------------- 
Aku adalah anak abiku.
Semua orang mengatakan begitu,  dari kukecil sampai setua ini. Entahlah ...karena bentuk hidungku yang bengkok seperti abi, atau karena sifat kita sama, atau karena  aku begitu dekat dengannya. Kita bagai sebentuk bayangan satu sama lain. 
Aku masih ingat apa-apa yang kulakukan berdua dengan abi. 
Aku masih mengingat ceritanya padaku dan ceritaku padanya.  
Aku masih mengingat semua amarahnya.  
Aku masih mengingat rasa sayangnya.
Aku masih mengingat setiap episodeku berdua dengannya. 
--------------------
Abi, love you more and more...
Aku tak pernah mengatakannya. 
Bukannya tak ingin, aku hanya tak tahu bagaimana memulainya.
Aku tahu abi tahu, besarnya rasa sayangku.

Aku ingin mencium kening abi sesering mungkin tapi aku malu. 
Tidak...aku tak malu, aku hanya tak tahu bagaimana caranya.
Dan setelah kutemukan caranya, kuulangi berkali-kali. 
Aku akan berpura-pura lupa belum pamit dan dengan begitu aku bisa mencium kening abi berulang-kali.
Dan aku akan berpura-pura tak mendengar ketika abi sambil tertawa berucap, tadi khan sudah salaman.
Aku tahu, abi tahu itu hanya dalih. 
--------------------
Aku hanya ingin memeluk abi seperti saat kukecil. 
Abi akan merentangkan tangannya dan aku menyelinap hangat dalam rengkuhannya. 
Aku tak pernah memeluk abi untuk mengucap rasa kangenku, aku hanya memeluknya untuk meminta maaf.  
Bukannya tak berusaha, aku  hanya tak tahu caranya. 
Sekarang aku bisa memelukmu erat dalam setiap doa yang kupanjatkan. 
---------------------
Abi, aku  ingin menebus dosa. 
Dulu, setiap giliranku memijit, aku selalu melancarkan banyak dalih dan abi hanya tertawa saja.
Dan saat abi sakit, mula-mula aku akan duduk disisi ranjang sambil memulai pembicaraan ringan nan receh. Lalu tanganku memulai memijit kaki abi. Ketika abi meledeknya aku hanya pura-pura tak mendengar.  
----------------------
Abi, aku ingin meminta maaf.
Atas sikapku yang mendua
Terkadang kubagi kue kesukaannya
Terkadang kusembunyikan makanan kesukaannya
Aku ingin meminta maaf
Atas sikapku yang lemah.
Aku tak biasa melihatnya bersedih
Aku tak tahan melihatnya mengeryit sakit
Kusembunyikan airmataku
Dan akupun menjauh
Dan akupun mendekat
Seharusnya abi, akulah yang merawatmu.
Aku berhutang pada mama
--------------------------
Abi, aku rindu...
Aku rindu menyuapinya
Aku rindu memapahnya
Aku rindu tertawanya yang reyah
Aku rindu semua cerita masa kecilnya
------------------------
Terngiang dalam ingatan wangi rambutnya
Masih kusimpan baju kesukaannya
Masih terbayang senyumnya tersungging
Aku masih mengingat ketika abi pergi.
Seandainya waktu bisa diputar kembali
Itulah saat-saat yang paling berat.
Saat  seorang anak perempuan kehilangan pahlawannya.
Kehilangan cinta pertamanya.
Ya, abi adalah cinta pertamaku. 
Aku tak ingin mengingatnya. 
Tapi abi, aku selalu mengingatmu dalam setiap sujudku, dalam setiap doaku, dalam setiap ibadahku. 
Abiku sayang, inshaalah husnul khotimah, inshaallah jannah



Till we meet again...
Semoga kita berada dalam surga yang sama.
Segenap cinta untuk Abi...

Marhaban ya Ramadhan... 



10 April 2020

Stay at home & being Supermom

Sewaktu masih duduk di SD,  aku ingat pernah melihat sebuah bilboard  berukuran besar dalam keseharian perjalananku berbecak ke sekolah. Gambarnya berkisah tentang sebuah keluarga yang sedang makan dengan lauk ikan. Terlihat ayah dan anak asyik melahap hidangan yang tersaji sementara siibu tidak ikut makan dan hanya menatap saja hidangan didepannya. Pesan yang samar-samar kutangkap dari tulisan yang tertera, tentang kebiasaan seorang ibu yang membiarkan dirinya kurang gizi asalkan suami dan anaknya bisa makan kenyang dan bergizi. 
Hayo siapa yang masih ingat iklan jadul ini, sekitaran tahun 1979 atau 1980an?  Berarti kita seumuran..😊
--------------------------------
Masih bicara seputar kegiatan ibu-ibu selama menjalani tahanan rumah dikarenakan ulah semena-mena virus covit-19. Aku dan banyak juga ibu yang lain, kegiatan kesehariannya tidak lain dan tidak bukan adalah berkaitan dengan ketrampilan dasar, masak-memasak. 
Nah selama stay at home, aktivitas didepan tungku mengalami perubahan drastis.Yang biasanya acara 3M (mengupas, mengiris dan menumis) dipagi hari sekali doang,  kali ini bisa dua atau bahkan tiga kali. Rutinitas pagi, nyiapin sarapan untuk anak dan suami sekaligus bikin menu untuk makan hari itu. Setelah berkutat dengan uap panas, sekitaran jam 09.00 urusan blebek-blebek didapur sudah beres. Ntar sesudah magrib ketemu acara makan-memakan lagi. Makan siang biasanya seorang diri sambil merenung mencari insipirasi atau  sama teman sambil arisan di mall. 
Dikarantina begini, malah bisa masak dua sampai tiga kali, kenapa? Ya karena kita berdiam dirumah, jadi punya banyak waktu meramu-ramu bahan jadi masakan baru. Kadang si bungsu ikutan juga mencoba resep makanan baru. At least,  menu makanan tampilannya berubah dari breakfast sampai dinner. Itung-itung menikmati jadi supermom. 
Eit... disini artinya supermom, ibu yang masak tiga kali sehari ya, beda ma arti supermom yang ada di wikipedia ...😛
Pemandangan dimeja makan inilah yang mengulik kenangan tentang iklan billboard saat ku SD. Saat itu aku  tak sepenuhnya  mengerti pesan yang termaktub tapi saat ini aku sangat paham pesan yang tersirat. 
Ketika kulihat ayah dan anak makan dengan lahap dan menghabiskan lauk yang ada di piring maka dengan spontan kubagi lauk yang tersisa di piring saji menjadi dua, untuk ayah dan anak. Atau kalau yang makan si ayah saja maka kutumpahkan semuanya ke piringnya begitu juga kalau anak saja yang makan. Ntar kalau masih kurang, masak lagilah...
Bagaimana denganku?
Aku sama dengan berjuta-juta ibu yang lain di dunia ini, menyaksikan pemandangan piring-piring kosong itu dengan hati senang. Dan dengan ringan kukatakan sebuah kebohongan kecil kalau aku sudah makan, sudah kenyang, lagi tidak pengin dan bla-bla...Sebuah dalih yang dibuat masuk akal. Memang tidak sampai membuatku kurang gizi tapi hakekatnya sama. Mendahulukan kepentingan suami dan anak dibanding diri sendiri. Inilah arti supermom yang kedua,  versiku..😊
--------------------
Dulu semasa gadis, aku termasuk pemilih makanan. Kalau makan harus by request, harus nasinya panas, harus digarnish (dihias) dll tapi karena mama jago masak, jadi gak ada masalah. Aku tidak melihat mama mengeluh sedikitpun. Aku hanya tahu, kalau lapar selalu ada makanan yang disiapkan mama dan hebatnya mama, semua anaknya bisa request makanan yang tersaji seperti yang disuka. Yang satu minta nasinya dipulung seperti bola-bola, yang satu minta nasinya dibungkus daun, ada yang minta dagingnya disuwir dll. Mama memang  supermom banget... Masyaallah Tabarakallah. 
Kala itu, aku tidak tahu bagaimana rumitnya proses sebuah makanan sampai terhidang di meja makan. Yang kutahu hanya  mama akan kesel  kalau makanannya gak dihabisin, itu saja. Dan susah untuk tidak menghabiskan karena masakan mama terlalu enak. 
Bagiku, sejak melahirkan anak pertama, runtuhlah nilai kelezatan sebuah makanan. Nilai baru yang menetap, asal kenyang aja. Makanan dingin dari kulkaspun bisa dimakan tanpa dipanasin lebih dulu. Bahkan kalau kehabisan stok masakan di kulkas, makan ma mie polosan jadilah. Tapi kalau untuk suami dan anak, jam 11 malampun dibela-belain masak meski terkadang sama cuman mie tapi wajib diolah lebih spesial dengan ditambahin toping udang, bakso ikan, perkedel dll. Apalagi menghadapi anak yang lagi fokus UTBK, sering lapernya daripada kenyang. Sebelum tidur, kusiapkan nasi plus lauk keringan di wadah, komplit ma teh dan kopi jadi pas laper tengah malam bisa langsung dimakan. Meski sudah rapi, begitu ada deritan suara di luar kamar, aku mesti terbangun. Ya doing somethinglah, nemenin anak biar gak kerasa berjuang sendirian. Pokoknya kalau untuk suami dan anak, apalah yang gak bisa...Inilah arti supermom yang ketiga...😊
----------------
Ibu adalah seorang pembohong. Terkadang terlihat sebagai bad liar dan seringkali menjadi good liar. Kebohongan yang hanya bisa dideteksi dengan hati. Aku melihatnya pada mama. Mama kalau diajak belanja ke mall beli sepatu atau baju atau apa aja, selalu menunjukkan ekspresi dari tertarik menjadi tidak tertarik bila harganya dirasa mahal. Nah kita yang sudah hapal apalagi kita juga menjiwai peran ini tidak menyerah begitu saja. Kita sih sudah punya triknya. Suatu hari sepulang dari mall (sebelum lockdown), adikku tiba-tiba menyodorkan sepatu hushpupies ke mama. Ketika ditanya mama, bagaimana bisa tahu ini sepatu kesukaannya. Adikku menjawab enteng sambil mengerling
"Biasalah mama jual mahal, padahal saat nyoba sepatunya pupil mata sudah melebar..." 
Trik-trik begini biasanya dikuasai anak perempuan, kalau anak laki-laki maunya yang praktis-praktis saja. Contohnya kalau si ayah mau ngasih hadiah ke umi maka kalau ditanya harga, si ayah akan berkongsi denganku dan si mbak, pramuniaga untuk bilang harganya sedang diskon 50%. Maka si umipun akan menerimanya dengan senang dan bahagia..😏
Bad liar dan good liar,  dan anak-anakpun sering melihat kebohongan itu padaku. Dalam kondisi terlockdown, belanja offline memang terbatas tapi belanja online, sangat menggoda dengan diskon besar dan ada juga yang free ongkir. Ngintip-ngintip tutorial makeup, si bungsu request, hunting masker di olshop berasa kek hunting emas, saking mahal dan sulitnya. Finally, pengeluaran justru keluar dari dalam rumah. Aku, sebagai mentri keuangan haruslah pandai-pandai berhemat. Banyak agenda belanja online yang aku putuskan mata rantainya. Cara yang efektif adalah dengan akunya dulu yang harus menahan diri. Dan untuk itu harus memasang mimik seolah-olah (aslinya sih sebaliknya) tidak tertarik sewaktu sisulung atau sibungsu menyodorkan deretan huruf 
S A L E. 
Kalau mimiknya pas bisa good liar tapi kalau gak pas bisa jadi bad liar. Seringnya anak-anak menangkap kebohonganku dan meledek, "Mama pelit..." 
Dibully pelit...Ah, biarlah. Nanti khan mereka tahu juga hakekatnya yang haqiqi.
Anak-anak kadang rancu mengartikan hemat dan pelit.
Misalnya, pas masuk ke gramedia, aku sebisanya membebaskan anak-anak membeli buku kesukaannya. Si sulung dan si bungsu suka kalap kalau melihat buku. Saat di kasir, mereka tahu ada beberapa buku pilihanku yang kucancel. Biasalah emak-emak hemat. Kalau mereka tanya, kenapa dikembalikan aku bilang gak bakal bisa baca buku banyak-banyak, mama lagi repot ntar malah mubazir. Satu aja dulu. Liar...😛 Memang betul tapi hemat bukan pelit. Kalau hemat cuman ditunda aja. Ntar nunggu saat yang tepat, balik lagi ke gramed, diambil 😊
Inilah definisi supermom yang keempat, bad liar sekaligus good liar..😗 
------------------------------
Stay at home mengartikan being supermom yang kelima sebagai role model atau guru. Seharian full bersama anak, bagaimana capeknya...?
Aku tertawa geli membaca keluhan ibu-ibu muda yang terpaksa harus merangkap menjadi guru ketika anak-anaknya belajar dari rumah akibat covit-19 ini. Seperti adikku, dengan tiga anak kecil berurutan, hampir dapat dipastikan waktunya luangnya cuman cukup buat istirahat, menyandarkan kepala doang...😯
Stay at home, anak bisa melihat dengan jelas apa saja kegiatan kita. Gak ada yang invisible semuanya menjadi visible. Susah-susah gampang, apalagi kalau anaknya sudah gedhe, kritikus banget.  Pernah si bungsu Rana, ngucap ntar penginnya jadi ibu rt aja kek mama. Enak  nyantai, bisa pergi-pergi, belanja-belanja dan jalan-jalan...🙈 
Tentu aja aku kelimpungan dengernya.  
Bukan soal ibu rt tapi kesan  yang ditangkap si bungsu, ibu yang tampak bersenang-senang. Akupun galau. 
Jangankan sama anak, sama art aja aku jaim kalau keliatan gak ada kerjaan. Kamar yang sudah rapi, masih kuotak-atik. Ini pindah kesana, itu pindah kesini, biar artku pada ngeliat tuh ibu gak berhenti beberes. Biar ditiru gitu lho. Masak jam 10.00 sudah pada leyeh-leyeh dikamar...😫
Kembali lagi kesoal protes si bungsu. Setelah diskusi berdua, disepakati aku yang menyusun kata-katanya (ini kelebihanku), si ayah yang menyampaikan (ini kelebihan si ayah yang tenang, kalem dan sangat mengedifikasi peran ibu). Kata kuncinya. Sesuatu itu tidak selalu seperti apa yang tampak.   
Alhamdulillah, sepertinya Rana bisa lebih mengerti apalagi dengan contoh-contoh yang diberikan si ayah. 
Stay at home periode seratus tahunan ini (konon katanya wabah terjadi perseratus tahun) hanya diisi dengan membaca, menulis, memasak, beberes-berbenah dan istirahatnya rebahan aja tanpa nonton drakor (khawatir tersihir...😛). 
Ternyata nikmat banget ya stay dirumah itu (syarat dan ketentuan berlaku, asal gak pake corona). Inshaallah kita dapat menyongsong Ramadhan tahun ini dengan suka cita, tanpa rasa khawatir.
Marhaban Ya Ramadhan...💖

Bagaimana kegiatan ibu-ibu selama stay at home...?
Yuk berbagi...
See you in the next post....

31 March 2020

Stay at Home dan Waktu luang




Pandemi corona memunculkan gerakan stay at home, tinggal dirumah saja. Anak sekolah libur, les bimbel diganti belajar online, arisan dibatalkan, acara shooping diskip, kondangan pengantin ditunda, mau piknik terhalang kena lockdown antar kota, berniat silaturahmi kena aturan social distancing. Pertanyaan yang timbul... Bagaimana mengisi waktu luang dirumah saja ...?
Setelah kena lockdown beberapa hari dirumah, baru tersadar, ternyata waktu luang itu berlimpah jika kita dirumah saja. Mungkin ibu rumah tangga yang anaknya masih kecil, masih ribet ya dengan urusan service dan survive (kecapekaan, pemulihkan tenaga)
Sebagai IRT, dengan anak-anak yang sudah membesar, kegiatan on air sudah mulai berkurang tetapi kegiatan off air sangat menantang...😊

Melihat kegiatan ibunya diluar rumah yang kek pekerja kantoran, anakku yang bungsu sering bertanya dengan nada protes, Mama ini sebenarnya pekerjaannya apa...? 
Aku suka menjawab sekenanya, tulis aja ibu rumah tangga. Ranapun protes... "Tapi mama khan kerja. Kalau form ini gak diisi yang sebenarnya, nanti kena sanksi lho" 
Untuk keperluan data sekolah, anak-anak sering dikasih form, pekerjaan orangtuanya apa dan terkadang ada juga yang menanyakan jumlah penghasilannya berapa..? 
Daripada pusing, aku lebih suka menyebut diri sebagai ibu rumah tangga.
Rana, anak bungsuku ini memang tipe perfeksionis dan amat berhati-hati sekali. Jadi kalau jawaban tidak memuaskannya dia tak akan berhenti bertanya.
Begitu juga dengan Sirin, siputri sulung. Dia pernah berkata, "Jujur Ma, pertanyaan tersulit yang harus dijawab adalah kalau ada yang nanya mama kerjanya apa...?
Lha... Jangankan kedua anakku, aku sendiri aja terkadang bingung kalau diminta mesdiskripsikan apa pekerjaanku. 
Pernah waktu di bank, saat di teller, biasalah si teller berbasa-basi dengan mengatakan, ibu bergerak di bidang properti ya...?   (mungkin simbak sempat mendengar percakapan telponku sebelumnya).
Belum sempat kujawab, simbak sudah meneruskan "Jual-beli rumah..?"
Aku yang tergagap, tidak menyangka didakwa sebagai pemilik properti yang menurutku kegedean, buru-buru menjawab
"Bukan mb...saya bukan jual-beli tapi saya cuman beli-beli saja..." 
Dan ketika si mb kulihat menatap balik dengan terngangah 😮 akupun menyadari kalimat wahamku 😕 Maunya mengngontrol tapi malah mengatrol...🙈
Haha...apa boleh buat, gak bisa diralat karena buku sudah diserahkan dan time is over, waktu untuk antrian berikutnya. 

----------------------------------

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tak pernah selesai. Selain jam kerja yang tak terbatas juga karena jiwa pengabdian seorang ibu pada keluarganya teramat luas. Pernah waktu pembantu pulang dan tak balik, selama sebulan aku stay at home (jaman sivirus corona masih anteng dikelelawar, belum bermutasi) berjibaku dengan celemek, sapu, vacum cleaner dkk memastikan semua berlangsung baik-baik saja. Masak setiap hari, belum lagi cuci-cucinya. Masak cuman dikit, tapi cuciannya banyak banget. Sampai gak pengin makan gegara gak pengin nyuci piringnya. Ampun deh capeknya kebangetan....Bawaannya pengin marah aja...terutama pada anak-anak dan simbak dikampung yang kawin tanpa restuku...😞
Lha gimana gak keki, dimasakin sesuai request, e...yang dimakan cuman dikit aja. Ngomellah siibu yang memang gak sabaran. 
Si sulungpun berkata enteng, "Mama kalau marah-marah gak usah masak deh, makan diluar aja " (jaman sudah modern tapi masih jadul belum ada gojek). Sudah capek seharian di dapur koq masih diminta nyetir keluar beli makanan, duh...mending kelaperan daripada ntar pingsan kecapekan.
Sesaat jadi tahu perasaan mama, kalau sudah bawa-bawa makanan ke surabaya, e...dimakan cuman dikit aja. Alasanku masakan mama keenakan, aku khawatir makan berlebih padahal sedang diet...Mengecewakan orangtua, hukumannya memang gak nunggu lama, keknya kena nih aku sekarang...😢
Saat curhat ma temen, "Ibu rumah tangga yang setiap hari masak keknya pintu surga sudah terbuka lebar".
Temenku terbahak dan menambahkan, "Iya sih asal ikhlas, gak pernah ngeluh, gak pernah marah..." 
Hmm...ini yang namanya sukar bin sulit.
Sekarang ini dirumah saja dengan status ibu paruh baya, sisulung bekerja dan tinggal diluar kota, siperfeksionis Rana sibuk belajar dikamarnya dan hanya keluar saat makan. Formasi art lengkap beberes didapur dan sekitarnya, si ayah sudah berangkat bertugas. 

What should I do...?
Mau nyoba-nyoba  masakan baru, bahan baku terbatas jadi baru berhasil mengotak-atik variasi resep salmon, ayam geprek ala-ala..., empal bumbu rempah ala-ala...
Yah masih seputaran yang praktis-praktis aja. Pengin sih bikin yang ribet kek nasi mandhi, nasi kabuli, nasi kabsah...Apadaya masih  sebatas niat aja belum ada usaha lanjutan. Mau nyoba-nyoba baking, jadi nyesel kenapa suka nunda-nunda belajar bikin kue ke mama.
Ngintip tutorial makeup, keknya bagus juga warna eye shadow yang dipake berlapis-lapis gitu. Pas dicoba, semua warna bercampur jadi satu, persis kek mata habis ketonjok. Fail, males ah mau nerusin...
Mau nyoba-nyoba tutorial hijab, keknya gampang lihat step-stepnya di video. Pas dicoba ternyata hoax jadi mirip tudungnya mike tyson kalau lagi mau bertanding...:(
Yang paling favourite, ngikutin tutorial membuat masker alami. Dan rajinlah aku  melumuri wajah dengan sisa-sisa yogurt dan buah. Yah beginilah dilema, ibu-ibu paruh baya, merindukan kulit yang kencang dan mulus. 
Selanjutnya I did it again...
Menulis ...merenung...menulis...
----------------------------
Sebelumnya, sudah bongkar-bongkar empat lemari. Menata baju-baju, menemukan baju dengan kancing terlepas, menemukan celana si ayah yang mesti dipermak, menyortir seprei sesuai ukurannya, dll
Tutup lemari beralih ke pembersihan lantai dua plus gudang. Aku jarang-jarang menginspeksi gudang dan ditemukanlah beberapa benda purbakala, seperti: botol-botol, pernak-pernik hiasan dll. 
Esoknya dimulai merapikan taman dan segala yang tumbuh diatas tanah. Dimulai dari taman depan sampai taman belakang. 
Esoknya bingung mau ngapaian...tapi ya masihlah beberes dan bebenah..
Esoknya bingung mau ngapain lagi, bosen buka-tutup lemari pakaian. 
Esoknya....jam 12.30 habis shalat dhuhur, masuk kamar, berasa ada hembusan angin yang semilir-semilir dari balik jendela. Koq jadi ngantuk berat ya padahal setelah ngelahirin anak pertama,  gak pernah lagi (tepatnya hampir gak pernah) ngerasain nikmatnya tidur siang. 
Salah-satu pelajaran mama yang belum bisa kuamalkan sehubungan dengan ilmu parenting adalah, kalau dedenya tidur, ikutlah tidur untuk menghemat tenaga. Pengalaman berusaha menidurkan sidedek, dengan tenaga terkuras menggendong meninabobokan, mata sudah terpejam, sepertinya sudah lelap, baru mau ditaruh ke ranjang, eit...matanya melotot duluan. Batal deh tidur barengan. 
Ntar kalau sudah berhasil naruh diranjang, baru mata mau terlelap sedikit, inget cucian belum disentuh, inget harus bikin bubur dll...Akhir cerita, selamat tinggal tidur siang yang nikmat.
----------------------
Semua aktivitas me time berakhir, saat siayah datang. Seneng banget ketemu pacar lama. Rasa-rasanya si ayah adalah salah-satu penghubungku dengan dunia luar. Begitu si ayah datang, langsung disambut dengan pertanyaan ketemu siapa tadi, ada cerita apa, kemana aja, dll.. Ada gak ibu-ibu yang samaan begini...?
Hehe keknya banyak ya, maklum sesama wanita khan saling menduplikasi...;)
Tanpa menjawab, siayah malah menjauh dan cepat-cepat masuk bilik sterilisasi kamar-mandi. Maklum habis bertugas di rumahsakit. 
Setelah kondisi aman terkendali, barulah siayah mengajukan pertanyaan balik, sudah berapa banyak dzikir atau shalawat yang dibaca? Sudah sampai mana ngajinya...?  Absen aktivitas akhirat.
Subhanallah, kalau kita tidak keluar rumah, waktupun menjadi penuh berkah. Kita punya banyak waktu luang...bisa ngaji, bisa dzikir, bisa berkebun, bisa beberes dan bebenah dan bisa yang lainnya juga.
Sudahkah kita melakukannya...? 
Yuk dimulai dari sekarang. 
See you inthe next post...



10 March 2020

Emak-emak & Media sosial & Corona

Alkisah pada suatu sore disuatu hari tahun lalu, saat berada di mobil yang sedang melaju disuatu ruas jalan yang rame, mataku menangkap pemandangan yang tidak biasa. Seorang remaja putri kira-kira berumur 15-17 tahun sedang terduduk ditrotoar dengan bersimpuh dan wajah yang terlihat kusut. Sesekali dia tampak berbicara dengan hpnya. Aku meminta sopir menepi. 
Sebagai seorang ibu yang juga punya anak seumuran, aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Untuk tidak menarik perhatian orang yang sedang berlalu-lalang, aku meminta pak Aris menanyai remaja tersebut, apakah dia butuh sesuatu. Sejurus kemudian pak Aris kembali, dia bilang anaknya bilang gak ada apa-apa. Aku tidak begitu saja percaya, ada seorang cowok yang tampak baik-baik melintas didepanku, aku minta tolong padanya untuk menanyakan kondisi remaja putri tadi. Untuk kedua kalinya si cowok tadi mengabarkan padaku, si anak mengatakan gak ada apa-apa. Instingku sebagai emak-emak tidak bisa dibendung. Aku langsung menghampiri si anak dan membujuknya masuk ke dalam sebuah toko. Alhamdulillah berhasil. 

Dalam perbincangan singkat kucoba mengatakan padanya kalau cara duduknya di trotoar tadi  mengundang perhatian orang datang mendekat. Kukatakan padanya, bagaimana kalau yang datang mendekat orang yang berniat jahat?

Kukatakan juga bahwa aku punya anak seumuran dia. Kalimat ini seperti kata kunci, si anak langsung menurut. Setelah memastikan semua baik-baik saja, akupun melangsungkan perjalanan.
Kenapa aku tidak sedari awal  turun sendiri ?
Ya Allah...aku masih berpikiran, jangan-jangan ini prank...? 
Gegara sering buka instagram, akhirnya...
Duh makanya kesel banget kalau ngeliat bentuk-bentuk prank yang menguji reaksi orang. Kalau mau ngeprank hal-hal yang lucu aja ya...
Ngeprank pura-pura minta tolong, menurutku koyol banget. Lain bila mau mengukur kepekaan sosial, beda cara beda pula hasilnya.
------------------------------------

Aku dan Hp. Meski kesehariannya tidak bisa lepas dengan hp, namun urusan tehnologi gaptek banget. Misal urusan edit-mengedit gambar, ampun...aku sampai minta tolong si Tiwi, Art dirumah yang keliatan paham bener masalah editing (saking pahamnya sampe ppnya di Wa diedit terus kek artis...🙈).
Eit jangan salah ya...edit-mengedit ini bukan foto untuk selvia. Alhamdulillah sudah emak-emak begini jadi sadar foto diri bikin malu sendiri. Editing untuk keperluan upload foto-foto promosi.
Bila semua orang dirumah tak bisa pergi tanpa membawa serta headsetnya, aku awalnya cuek-cuek saja. Dua putriku memakai headset berbeda kepentingan dengan ayahnya. Sang ayah untuk mendengarkan murotal selama dalam perjalanan, kedua putriku memiliki kepentingan yang sama sebagai juri "Indonesian idol", mendengarkan update  lagu-lagu terbaru 😑
Bagaimana denganku..?
Aku menggunakan headset saat berolahraga. Menyadari metabolisme melambat dalam usia menjelang paruh baya, akupun rajin berolahraga. Niat sih rajin tapi apa daya, suka bosen.  Aku berolahraga jalan pagi memutari taman kota... terhenti karena bosen. Berolahraga sambil nonton tv, bosen juga. Finally berolahraga sambil dengerin musik...eit...disemprit ma si ayah yang selalu mengingatkan better dzikir atau dengerin murotal dibanding dengerin musik...😔 Iya sih ada benarnya. 
Tapi kadang-kadang (baca:sering) masih pengin dengerin lagu-lagu gitu, maka dipakelah siheadset sebagai pencitraan. Lama-lama pake headset bosen juga...Kebukalah kedoknya...🙈
Ada cerita lucu tentang headshet ini. Mama kalau di mobil selalu memakai haeadshet terutama bila di mobil ada anak laki-lakinya yang turut serta. Aku sih tahu banget mama kadang mendengarkan murotal, kadang/sering juga mendengarkan lagu-lagu jadul, nostalgia seperti lagunya tety kadi, titiek puspa, hetty koesendang dan yang seangkatan. 
Ketika anak lelakinya bertanya dengan nada sedikit heran, melihat sang umi berstyle anak muda dengan tali headshet yang bergelantungan disela-sela jilbabnya. 
"Mama sedang mendengarkan apa?", tanyanya. 
Dengan sigap mama menjawab, "Lagi mendengarkan lantunan surah-surah pendek"
"Oh..."  
Tak sampai setengah jam, mama ketiduran dan terlepaslah tali headshetnya dan....sayup-sayup terdengarlah alunan lagu Cindai dari Siti Nurhalisa...😉
---------------------

Untuk acara menonton TV, acara favouriteku juga sejuta umat, ILC TvOne. Tema acaranya, pembawa acaranya, pembicaranya, semuanya keren (kecuali ada beberapa pembicaranya yang sering ngasal n nyebelin, terpaksa dilihat juga 😟). Usul nih, coba orang-orang pintar nan idealis kek Karni Ilyas, Najwa Shihab, Haris ashar, dkk itu dicloning...Aman-damai deh negara...👍
Sebenarnya ada beberapa acara sejenis yang gak kalah keren tapi apa daya, mataku tinggal lima watt di pukul 20.00. Karenanya juga aku lebih sering nonton ILC dari cuplikan-cuplikannya yang beterbaran di Ig atau youtube. Sehabis nonton ILC semangat banget ma pembahasan berbau politik tapi apa daya emak-emak ini sehabis bangun tidur, mikirin nyiapin sarapan, masak apa hari ini dll...hilanglah mood berpolitik..ntar bangkit lagi setelah ketemu ILC lagi minggu depan. Begitu terus alurnya...
Mau jadi politikus? Mana tahan...👀
 --------------------------
Untuk majalah, dulu majalah favouriteku Tempo dan femina, juga Intisari. Entahlah sejak jadi emak-emak, rasanya majalah Tempo terlalu berat dan bikin aritmia jadinya cuman kepo ngeliat sampul depannya doang. Majalah Femina masih sering kubaca, terutama cerpen dan cerbernya yang sangat menginsipirasi tulisan-tulisanku.  Kalau intisari, pernah beberapa kali kulihat tapi sudah amat jarang sekali kubaca.
Sebelumnya kukira aku tak bisa melewatkan ngopi pagi tanpa membaca koran. Ternyata... Ajaib, bisa tuh...!
Entah kenapa situkang koran langganan sudah satu bulan ngambek gak kirim dan akupun tidak berniat protes. Umur memang berpengaruh terhadap kesadaran baru, ada sesuatu yang masih pantas dilakukan dan ada sesuatu yang sudah pantas ditinggalkan. Termasuk kesenanganku membaca buku (apa saja yang berbentuk buku, aku selalu suka) dan kegemaranku menulis. Untuk dua hobi ini terkadang aku memilih bertahan dari gempuran guilty feeling yang sering tiba-tiba menyerang. Better ngaji daripada membaca cerpen, iyalah...better ngaji daripada menulis...iya juga sih. Itu sebabnya tulisanku terkesan tersendat-sendat...😏 
Dulu pas jaman jadul...gampang sekali bikin cerpen, ada ide langsung ngendon seharian didepan computer (masih pake system DOS) jadilah sebuah cerpen. Ajaib...
Sekarang diminta ngulang kek begitu lagi, langsung angkat tiga bendera putih, nyerah deh !
Jaman masih gadis, aku suka menuangkan ide menulis dilembaran buku yang sudah tak terpakai. Dasar anak-anak, habis nulis naroh bukunya disebarang tempat jadi pas mau nerusin tulisannya gak ketemu lagi tuh buku. Buat tulisan lagi, ide baru lagi...begitu terus...Finally, idenya gak pernah komplet jadi sebuah cerita. 
Btw, aku menemukan sejarah lucu dibalik kebiasaan buruk ini. Saat bongkar-bongkar lemari kuno dirumah masa kecil (ini termasuk salah-satu kegemaranku). Beberapa kali kutemukan tulisan bernada curhat dari orang-orang terdekat yang kalau dibaca sekarang jadinya menggelikan bin koyol. Ha..ha...biarlah kusimpan sendiri.
Ah...Aku berpikir, jangan...jangan tulisanku yang gak pernah selesai itu nanti akan ditemukan anak atau bahkan cucuku kelak. Makanya kubuat pengumuman melalui tulisan ini, itu ide cerpen ya bukan diary...😉
 -------------------

Berkaitan dengan kebiasaan yang masih pantas atau tidak jika dikaitkan dengan umur. Bisa berjalan secara natural ataupun dengan nila-nilai yang baru masuk. Tiba-tiba saja tersadar sudah  gak pantas lagi pake jilbab pendek,  gak elok lagi pake legging, koq lebih nyaman pake gamis, lebih suka nonton berita dibanding nonton hiburan, dll. Harapannya berproses menuju kebaikan. Inshaallah. Disegmen ini ada satu contoh cerita. Tersebutlah seorang anak yang tak henti-henti mengingatkan ibunya yang suka sekali nonton sinetron berseri-seri. Si anak berharap ibunya yang sudah berusia lanjut itu menggantinya dengan hal lain yang lebih bermanfaat.  Awalnya sang ibu tak mengindahkannya, beliau  tetap nonton sinetron secara sembunyi-sembunyi. Tapi karena si anak konsisten, lama-kelamaan akhirnya sang ibu sendiri yang memutuskan untuk berhenti. Begitulah kita...suka terlena dengan godaan media sosial.
-----------------------------

Tehnologi boleh secanggih apapun tapi akan selalu ada masa expirednya atau masa usangnya. Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna tetap memiliki keterbatasan. Apalagi seperti saat ini, geger dimana-mana gegara pandemi corona all over the world. Makhluk Allah yang berukuran 150 nanometer saat ini berulah mampu membuat dunia kalang-kabut. 
Media sosial dipenuhi berita tentang virus corona yang membuat merana.  Lockdown kota-kota yang masuk redzone telah memutus silahturahmi ibu dan anak, anak dan ibu dll. Disebalik geger corona, ada hikmah terselubung. Munculnya gerakan dirumah saja, ternyata mengandung nikmats (artinya nikmatnya banyak juga). Bukan saja bagi ibu-ibu muda tapi bagi emak-emak sepertiku juga.

Apa yang bisa kulakukan, terjebak dirumah dengan anak kelas 12 yang fokus belajar untuk UTBK? 
Inilah...Aku mulai menulis lagi :) dan rasanya jadi punya banyak waktu untuk kebaikan (masak 2x sehari, bisa jahitin kancing baju lepas dll). Sebelum corona, aku masuk golongan ibu-ibu pengacara, pengangguran banyak acara gak jelas... 🙈 
Dan yang tak kalah penting, lebih care pada kesehatan diri dan keluarga. Bagaimana dengan ibu-ibu yang lain...?

 ------------------------------

Semoga wabah ini segera berlalu dan kita dapat menyambut ramadhan dengan suka cita. Amin...Amin Ya Robbal Alamin...



See You inthe Next Post

 

24 December 2019

Save for Uighur



Seperti kata seorang yang bijak, 
"Tidak perlu menjadi muslim untuk merasakan penderitaan Uighur hanya perlu menjadi "manusia"



"Manusia" dimana kamu...?