31 March 2020

Stay at Home dan Waktu luang




Pandemi corona memunculkan gerakan stay at home, tinggal dirumah saja. Anak sekolah libur, les bimbel diganti belajar online, arisan dibatalkan, acara shooping diskip, kondangan pengantin ditunda, mau piknik terhalang kena lockdown antar kota, berniat silaturahmi kena aturan social distancing. Pertanyaan yang timbul... Bagaimana mengisi waktu luang dirumah saja ...?
Setelah kena lockdown beberapa hari dirumah, baru tersadar, ternyata waktu luang itu berlimpah jika kita dirumah saja. Mungkin ibu rumah tangga yang anaknya masih kecil, masih ribet ya dengan urusan service dan survive (kecapekaan, pemulihkan tenaga)
Sebagai IRT, dengan anak-anak yang sudah membesar, kegiatan on air sudah mulai berkurang tetapi kegiatan off air sangat menantang...😊

Melihat kegiatan ibunya diluar rumah yang kek pekerja kantoran, anakku yang bungsu sering bertanya dengan nada protes, Mama ini sebenarnya pekerjaannya apa...? 
Aku suka menjawab sekenanya, tulis aja ibu rumah tangga. Ranapun protes... "Tapi mama khan kerja. Kalau form ini gak diisi yang sebenarnya, nanti kena sanksi lho" 
Untuk keperluan data sekolah, anak-anak sering dikasih form, pekerjaan orangtuanya apa dan terkadang ada juga yang menanyakan jumlah penghasilannya berapa..? 
Daripada pusing, aku lebih suka menyebut diri sebagai ibu rumah tangga.
Rana, anak bungsuku ini memang tipe perfeksionis dan amat berhati-hati sekali. Jadi kalau jawaban tidak memuaskannya dia tak akan berhenti bertanya.
Begitu juga dengan Sirin, siputri sulung. Dia pernah berkata, "Jujur Ma, pertanyaan tersulit yang harus dijawab adalah kalau ada yang nanya mama kerjanya apa...?
Lha... Jangankan kedua anakku, aku sendiri aja terkadang bingung kalau diminta mesdiskripsikan apa pekerjaanku. 
Pernah waktu di bank, saat di teller, biasalah si teller berbasa-basi dengan mengatakan, ibu bergerak di bidang properti ya...?   (mungkin simbak sempat mendengar percakapan telponku sebelumnya).
Belum sempat kujawab, simbak sudah meneruskan "Jual-beli rumah..?"
Aku yang tergagap, tidak menyangka didakwa sebagai pemilik properti yang menurutku kegedean, buru-buru menjawab
"Bukan mb...saya bukan jual-beli tapi saya cuman beli-beli saja..." 
Dan ketika si mb kulihat menatap balik dengan terngangah 😮 akupun menyadari kalimat wahamku 😕 Maunya mengngontrol tapi malah mengatrol...🙈
Haha...apa boleh buat, gak bisa diralat karena buku sudah diserahkan dan time is over, waktu untuk antrian berikutnya. 

----------------------------------

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tak pernah selesai. Selain jam kerja yang tak terbatas juga karena jiwa pengabdian seorang ibu pada keluarganya teramat luas. Pernah waktu pembantu pulang dan tak balik, selama sebulan aku stay at home (jaman sivirus corona masih anteng dikelelawar, belum bermutasi) berjibaku dengan celemek, sapu, vacum cleaner dkk memastikan semua berlangsung baik-baik saja. Masak setiap hari, belum lagi cuci-cucinya. Masak cuman dikit, tapi cuciannya banyak banget. Sampai gak pengin makan gegara gak pengin nyuci piringnya. Ampun deh capeknya kebangetan....Bawaannya pengin marah aja...terutama pada anak-anak dan simbak dikampung yang kawin tanpa restuku...😞
Lha gimana gak keki, dimasakin sesuai request, e...yang dimakan cuman dikit aja. Ngomellah siibu yang memang gak sabaran. 
Si sulungpun berkata enteng, "Mama kalau marah-marah gak usah masak deh, makan diluar aja " (jaman sudah modern tapi masih jadul belum ada gojek). Sudah capek seharian di dapur koq masih diminta nyetir keluar beli makanan, duh...mending kelaperan daripada ntar pingsan kecapekan.
Sesaat jadi tahu perasaan mama, kalau sudah bawa-bawa makanan ke surabaya, e...dimakan cuman dikit aja. Alasanku masakan mama keenakan, aku khawatir makan berlebih padahal sedang diet...Mengecewakan orangtua, hukumannya memang gak nunggu lama, keknya kena nih aku sekarang...😢
Saat curhat ma temen, "Ibu rumah tangga yang setiap hari masak keknya pintu surga sudah terbuka lebar".
Temenku terbahak dan menambahkan, "Iya sih asal ikhlas, gak pernah ngeluh, gak pernah marah..." 
Hmm...ini yang namanya sukar bin sulit.
Sekarang ini dirumah saja dengan status ibu paruh baya, sisulung bekerja dan tinggal diluar kota, siperfeksionis Rana sibuk belajar dikamarnya dan hanya keluar saat makan. Formasi art lengkap beberes didapur dan sekitarnya, si ayah sudah berangkat bertugas. 

What should I do...?
Mau nyoba-nyoba  masakan baru, bahan baku terbatas jadi baru berhasil mengotak-atik variasi resep salmon, ayam geprek ala-ala..., empal bumbu rempah ala-ala...
Yah masih seputaran yang praktis-praktis aja. Pengin sih bikin yang ribet kek nasi mandhi, nasi kabuli, nasi kabsah...Apadaya masih  sebatas niat aja belum ada usaha lanjutan. Mau nyoba-nyoba baking, jadi nyesel kenapa suka nunda-nunda belajar bikin kue ke mama.
Ngintip tutorial makeup, keknya bagus juga warna eye shadow yang dipake berlapis-lapis gitu. Pas dicoba, semua warna bercampur jadi satu, persis kek mata habis ketonjok. Fail, males ah mau nerusin...
Mau nyoba-nyoba tutorial hijab, keknya gampang lihat step-stepnya di video. Pas dicoba ternyata hoax jadi mirip tudungnya mike tyson kalau lagi mau bertanding...:(
Yang paling favourite, ngikutin tutorial membuat masker alami. Dan rajinlah aku  melumuri wajah dengan sisa-sisa yogurt dan buah. Yah beginilah dilema, ibu-ibu paruh baya, merindukan kulit yang kencang dan mulus. 
Selanjutnya I did it again...
Menulis ...merenung...menulis...
----------------------------
Sebelumnya, sudah bongkar-bongkar empat lemari. Menata baju-baju, menemukan baju dengan kancing terlepas, menemukan celana si ayah yang mesti dipermak, menyortir seprei sesuai ukurannya, dll
Tutup lemari beralih ke pembersihan lantai dua plus gudang. Aku jarang-jarang menginspeksi gudang dan ditemukanlah beberapa benda purbakala, seperti: botol-botol, pernak-pernik hiasan dll. 
Esoknya dimulai merapikan taman dan segala yang tumbuh diatas tanah. Dimulai dari taman depan sampai taman belakang. 
Esoknya bingung mau ngapaian...tapi ya masihlah beberes dan bebenah..
Esoknya bingung mau ngapain lagi, bosen buka-tutup lemari pakaian. 
Esoknya....jam 12.30 habis shalat dhuhur, masuk kamar, berasa ada hembusan angin yang semilir-semilir dari balik jendela. Koq jadi ngantuk berat ya padahal setelah ngelahirin anak pertama,  gak pernah lagi (tepatnya hampir gak pernah) ngerasain nikmatnya tidur siang. 
Salah-satu pelajaran mama yang belum bisa kuamalkan sehubungan dengan ilmu parenting adalah, kalau dedenya tidur, ikutlah tidur untuk menghemat tenaga. Pengalaman berusaha menidurkan sidedek, dengan tenaga terkuras menggendong meninabobokan, mata sudah terpejam, sepertinya sudah lelap, baru mau ditaruh ke ranjang, eit...matanya melotot duluan. Batal deh tidur barengan. 
Ntar kalau sudah berhasil naruh diranjang, baru mata mau terlelap sedikit, inget cucian belum disentuh, inget harus bikin bubur dll...Akhir cerita, selamat tinggal tidur siang yang nikmat.
----------------------
Semua aktivitas me time berakhir, saat siayah datang. Seneng banget ketemu pacar lama. Rasa-rasanya si ayah adalah salah-satu penghubungku dengan dunia luar. Begitu si ayah datang, langsung disambut dengan pertanyaan ketemu siapa tadi, ada cerita apa, kemana aja, dll.. Ada gak ibu-ibu yang samaan begini...?
Hehe keknya banyak ya, maklum sesama wanita khan saling menduplikasi...;)
Tanpa menjawab, siayah malah menjauh dan cepat-cepat masuk bilik sterilisasi kamar-mandi. Maklum habis bertugas di rumahsakit. 
Setelah kondisi aman terkendali, barulah siayah mengajukan pertanyaan balik, sudah berapa banyak dzikir atau shalawat yang dibaca? Sudah sampai mana ngajinya...?  Absen aktivitas akhirat.
Subhanallah, kalau kita tidak keluar rumah, waktupun menjadi penuh berkah. Kita punya banyak waktu luang...bisa ngaji, bisa dzikir, bisa berkebun, bisa beberes dan bebenah dan bisa yang lainnya juga.
Sudahkah kita melakukannya...? 
Yuk dimulai dari sekarang. 
See you inthe next post...



10 March 2020

Emak-emak & Media sosial & Corona

Alkisah pada suatu sore disuatu hari tahun lalu, saat berada di mobil yang sedang melaju disuatu ruas jalan yang rame, mataku menangkap pemandangan yang tidak biasa. Seorang remaja putri kira-kira berumur 15-17 tahun sedang terduduk ditrotoar dengan bersimpuh dan wajah yang terlihat kusut. Sesekali dia tampak berbicara dengan hpnya. Aku meminta sopir menepi. 
Sebagai seorang ibu yang juga punya anak seumuran, aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Untuk tidak menarik perhatian orang yang sedang berlalu-lalang, aku meminta pak Aris menanyai remaja tersebut, apakah dia butuh sesuatu. Sejurus kemudian pak Aris kembali, dia bilang anaknya bilang gak ada apa-apa. Aku tidak begitu saja percaya, ada seorang cowok yang tampak baik-baik melintas didepanku, aku minta tolong padanya untuk menanyakan kondisi remaja putri tadi. Untuk kedua kalinya si cowok tadi mengabarkan padaku, si anak mengatakan gak ada apa-apa. Instingku sebagai emak-emak tidak bisa dibendung. Aku langsung menghampiri si anak dan membujuknya masuk ke dalam sebuah toko. Alhamdulillah berhasil. 

Dalam perbincangan singkat kucoba mengatakan padanya kalau cara duduknya di trotoar tadi  mengundang perhatian orang datang mendekat. Kukatakan padanya, bagaimana kalau yang datang mendekat orang yang berniat jahat?

Kukatakan juga bahwa aku punya anak seumuran dia. Kalimat ini seperti kata kunci, si anak langsung menurut. Setelah memastikan semua baik-baik saja, akupun melangsungkan perjalanan.
Kenapa aku tidak sedari awal  turun sendiri ?
Ya Allah...aku masih berpikiran, jangan-jangan ini prank...? 
Gegara sering buka instagram, akhirnya...
Duh makanya kesel banget kalau ngeliat bentuk-bentuk prank yang menguji reaksi orang. Kalau mau ngeprank hal-hal yang lucu aja ya...
Ngeprank pura-pura minta tolong, menurutku koyol banget. Lain bila mau mengukur kepekaan sosial, beda cara beda pula hasilnya.
------------------------------------

Aku dan Hp. Meski kesehariannya tidak bisa lepas dengan hp, namun urusan tehnologi gaptek banget. Misal urusan edit-mengedit gambar, ampun...aku sampai minta tolong si Tiwi, Art dirumah yang keliatan paham bener masalah editing (saking pahamnya sampe ppnya di Wa diedit terus kek artis...🙈).
Eit jangan salah ya...edit-mengedit ini bukan foto untuk selvia. Alhamdulillah sudah emak-emak begini jadi sadar foto diri bikin malu sendiri. Editing untuk keperluan upload foto-foto promosi.
Bila semua orang dirumah tak bisa pergi tanpa membawa serta headsetnya, aku awalnya cuek-cuek saja. Dua putriku memakai headset berbeda kepentingan dengan ayahnya. Sang ayah untuk mendengarkan murotal selama dalam perjalanan, kedua putriku memiliki kepentingan yang sama sebagai juri "Indonesian idol", mendengarkan update  lagu-lagu terbaru 😑
Bagaimana denganku..?
Aku menggunakan headset saat berolahraga. Menyadari metabolisme melambat dalam usia menjelang paruh baya, akupun rajin berolahraga. Niat sih rajin tapi apa daya, suka bosen.  Aku berolahraga jalan pagi memutari taman kota... terhenti karena bosen. Berolahraga sambil nonton tv, bosen juga. Finally berolahraga sambil dengerin musik...eit...disemprit ma si ayah yang selalu mengingatkan better dzikir atau dengerin murotal dibanding dengerin musik...😔 Iya sih ada benarnya. 
Tapi kadang-kadang (baca:sering) masih pengin dengerin lagu-lagu gitu, maka dipakelah siheadset sebagai pencitraan. Lama-lama pake headset bosen juga...Kebukalah kedoknya...🙈
Ada cerita lucu tentang headshet ini. Mama kalau di mobil selalu memakai haeadshet terutama bila di mobil ada anak laki-lakinya yang turut serta. Aku sih tahu banget mama kadang mendengarkan murotal, kadang/sering juga mendengarkan lagu-lagu jadul, nostalgia seperti lagunya tety kadi, titiek puspa, hetty koesendang dan yang seangkatan. 
Ketika anak lelakinya bertanya dengan nada sedikit heran, melihat sang umi berstyle anak muda dengan tali headshet yang bergelantungan disela-sela jilbabnya. 
"Mama sedang mendengarkan apa?", tanyanya. 
Dengan sigap mama menjawab, "Lagi mendengarkan lantunan surah-surah pendek"
"Oh..."  
Tak sampai setengah jam, mama ketiduran dan terlepaslah tali headshetnya dan....sayup-sayup terdengarlah alunan lagu Cindai dari Siti Nurhalisa...😉
---------------------

Untuk acara menonton TV, acara favouriteku juga sejuta umat, ILC TvOne. Tema acaranya, pembawa acaranya, pembicaranya, semuanya keren (kecuali ada beberapa pembicaranya yang sering ngasal n nyebelin, terpaksa dilihat juga 😟). Usul nih, coba orang-orang pintar nan idealis kek Karni Ilyas, Najwa Shihab, Haris ashar, dkk itu dicloning...Aman-damai deh negara...👍
Sebenarnya ada beberapa acara sejenis yang gak kalah keren tapi apa daya, mataku tinggal lima watt di pukul 20.00. Karenanya juga aku lebih sering nonton ILC dari cuplikan-cuplikannya yang beterbaran di Ig atau youtube. Sehabis nonton ILC semangat banget ma pembahasan berbau politik tapi apa daya emak-emak ini sehabis bangun tidur, mikirin nyiapin sarapan, masak apa hari ini dll...hilanglah mood berpolitik..ntar bangkit lagi setelah ketemu ILC lagi minggu depan. Begitu terus alurnya...
Mau jadi politikus? Mana tahan...👀
 --------------------------
Untuk majalah, dulu majalah favouriteku Tempo dan femina, juga Intisari. Entahlah sejak jadi emak-emak, rasanya majalah Tempo terlalu berat dan bikin aritmia jadinya cuman kepo ngeliat sampul depannya doang. Majalah Femina masih sering kubaca, terutama cerpen dan cerbernya yang sangat menginsipirasi tulisan-tulisanku.  Kalau intisari, pernah beberapa kali kulihat tapi sudah amat jarang sekali kubaca.
Sebelumnya kukira aku tak bisa melewatkan ngopi pagi tanpa membaca koran. Ternyata... Ajaib, bisa tuh...!
Entah kenapa situkang koran langganan sudah satu bulan ngambek gak kirim dan akupun tidak berniat protes. Umur memang berpengaruh terhadap kesadaran baru, ada sesuatu yang masih pantas dilakukan dan ada sesuatu yang sudah pantas ditinggalkan. Termasuk kesenanganku membaca buku (apa saja yang berbentuk buku, aku selalu suka) dan kegemaranku menulis. Untuk dua hobi ini terkadang aku memilih bertahan dari gempuran guilty feeling yang sering tiba-tiba menyerang. Better ngaji daripada membaca cerpen, iyalah...better ngaji daripada menulis...iya juga sih. Itu sebabnya tulisanku terkesan tersendat-sendat...😏 
Dulu pas jaman jadul...gampang sekali bikin cerpen, ada ide langsung ngendon seharian didepan computer (masih pake system DOS) jadilah sebuah cerpen. Ajaib...
Sekarang diminta ngulang kek begitu lagi, langsung angkat tiga bendera putih, nyerah deh !
Jaman masih gadis, aku suka menuangkan ide menulis dilembaran buku yang sudah tak terpakai. Dasar anak-anak, habis nulis naroh bukunya disebarang tempat jadi pas mau nerusin tulisannya gak ketemu lagi tuh buku. Buat tulisan lagi, ide baru lagi...begitu terus...Finally, idenya gak pernah komplet jadi sebuah cerita. 
Btw, aku menemukan sejarah lucu dibalik kebiasaan buruk ini. Saat bongkar-bongkar lemari kuno dirumah masa kecil (ini termasuk salah-satu kegemaranku). Beberapa kali kutemukan tulisan bernada curhat dari orang-orang terdekat yang kalau dibaca sekarang jadinya menggelikan bin koyol. Ha..ha...biarlah kusimpan sendiri.
Ah...Aku berpikir, jangan...jangan tulisanku yang gak pernah selesai itu nanti akan ditemukan anak atau bahkan cucuku kelak. Makanya kubuat pengumuman melalui tulisan ini, itu ide cerpen ya bukan diary...😉
 -------------------

Berkaitan dengan kebiasaan yang masih pantas atau tidak jika dikaitkan dengan umur. Bisa berjalan secara natural ataupun dengan nila-nilai yang baru masuk. Tiba-tiba saja tersadar sudah  gak pantas lagi pake jilbab pendek,  gak elok lagi pake legging, koq lebih nyaman pake gamis, lebih suka nonton berita dibanding nonton hiburan, dll. Harapannya berproses menuju kebaikan. Inshaallah. Disegmen ini ada satu contoh cerita. Tersebutlah seorang anak yang tak henti-henti mengingatkan ibunya yang suka sekali nonton sinetron berseri-seri. Si anak berharap ibunya yang sudah berusia lanjut itu menggantinya dengan hal lain yang lebih bermanfaat.  Awalnya sang ibu tak mengindahkannya, beliau  tetap nonton sinetron secara sembunyi-sembunyi. Tapi karena si anak konsisten, lama-kelamaan akhirnya sang ibu sendiri yang memutuskan untuk berhenti. Begitulah kita...suka terlena dengan godaan media sosial.
-----------------------------

Tehnologi boleh secanggih apapun tapi akan selalu ada masa expirednya atau masa usangnya. Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna tetap memiliki keterbatasan. Apalagi seperti saat ini, geger dimana-mana gegara pandemi corona all over the world. Makhluk Allah yang berukuran 150 nanometer saat ini berulah mampu membuat dunia kalang-kabut. 
Media sosial dipenuhi berita tentang virus corona yang membuat merana.  Lockdown kota-kota yang masuk redzone telah memutus silahturahmi ibu dan anak, anak dan ibu dll. Disebalik geger corona, ada hikmah terselubung. Munculnya gerakan dirumah saja, ternyata mengandung nikmats (artinya nikmatnya banyak juga). Bukan saja bagi ibu-ibu muda tapi bagi emak-emak sepertiku juga.

Apa yang bisa kulakukan, terjebak dirumah dengan anak kelas 12 yang fokus belajar untuk UTBK? 
Inilah...Aku mulai menulis lagi :) dan rasanya jadi punya banyak waktu untuk kebaikan (masak 2x sehari, bisa jahitin kancing baju lepas dll). Sebelum corona, aku masuk golongan ibu-ibu pengacara, pengangguran banyak acara gak jelas... 🙈 
Dan yang tak kalah penting, lebih care pada kesehatan diri dan keluarga. Bagaimana dengan ibu-ibu yang lain...?

 ------------------------------

Semoga wabah ini segera berlalu dan kita dapat menyambut ramadhan dengan suka cita. Amin...Amin Ya Robbal Alamin...



See You inthe Next Post

 

24 December 2019

Save for Uighur



Seperti kata seorang yang bijak, 
"Tidak perlu menjadi muslim untuk merasakan penderitaan Uighur hanya perlu menjadi "manusia"



"Manusia" dimana kamu...?

08 November 2019

Antara Film dan dunia Nyata...

Semasa gadis, aku bercita-cita pengin nonton sesering mungkin. Bercita-cita nonton bukan berkeinginan nonton lho...Ya karena keknya saat itu  susah sekali nonton film dibioskop. Mau nonton bareng teman, ijinnya sulit banget.  Yang sempat kuingat aku nonton film jadul bodyrock dibintangi Lorenzo Lamas dan flashdance, dibintangi Jennifer Beals bareng teman. Sehabis pulang, malamnya sampai kebawa mimpi pengin jadi Jennifer Beals. Kalau istilah sekarang habis nonton gak bisa move on..😉 Saat itu, era tahun 80an, jangan dibanyangin bisokopnya senyaman sekarang.
Tehnologinya masih sederhana (dua tingkat diatas lanyar tanceplah), gak ada jaringan XXI, kursinyapun dari rotan tegak bediri kek kursi makan. Cemilan untuk dimakan sambil nonton bukan popcorn tapi kacang godok..😛 Dan satu lagi penderitaan sehabis nonton paha bentol-bentol merah-merah karena digigitin serangga (nama serangganya dalam bahasa jawa:Tinggi, kalau bahasa latinnya gak tahu...😃). Pulangnya kita pasti mampir beli nasi goreng Kumala yang nagih banget enaknya. Sayang seribu sayang nasi gorengnya gak bertahan lama, belum tamat SMP, sinasigoreng sudah gak pernah kedenger lagi issuenya.
Acara nonton tahunan, waktu libur puasa, pergi bareng-bareng ma sepupu habis tharawih. Filmya selalu pilem india...😉, bintangnya Kumar Gaurov dan Phonam Dillon. Nama bioskopnya Himalaya, khusus spesialis pilm-pilm India. Seperti biasa, malamnya, berhalusinasi ketemu Kumar Gaurov di Pasuruan...😄 
Film india jaman jadul  beda dengan yang sekarang. Kalau dulu, tari-tarian dan menangisnya hampir mengisi sepertiga cerita film. Kalau sekarang mah...film indianya bener-bener bagus cerita maupun kemasannya apalagi kalau aktornya Syahrukan  dan Kajol yang main. Keknya cuman dua kali nonton Kajol and Syahrukan, selebihnya tetep aja pasang telinga, denger-denger issuenya saja. Hehe...sedikit banget yang aku ingat, judul filmnya malah gak inget. 
Saat kuliah malah aku gak ingat pernah nonton bareng teman saking jarangnya atau malah mungkin memang gak pernah sama sekali.  
Setelah menikah, wajar dong bercita-cita nonton bareng suami. Aku lupa filmya apa, yang kuingat malah tempat nontonnya di TP I karena ya memang waktu itu TP masih ada satu (kalau sekarang sudah berseri sampai TP 6). Baru sekali nonton sudah keburu hamil, sudah gak sempat lagi menggapai cita-cita...😔

Alhasil dua puluh lima tahun menikah, nonton bareng suami ditotal gak lebih dari sepuluh jari. Nonton bareng anak gak lebih dari sepuluh jari, nonton bareng suami dan anak gak lebih dari sepuluh jari juga. Inilah yang disebut menggantung cita-cita...😯 Lha gimana lagi, beda selera kek iklan mie instan. Suami pada dasarnya gak suka nonton jadi ya gitu, bilang, oke-okey tapi gak jalan.  Kalau anak-anak sukanya nonton horor sementara aku sukanya nonton action atau drama. Tiga kali menemani anak-anak nonton film horror, rasanya kapok. Bukan karena takut, tapi lebih kearah ngabisin waktu. Nonton pengin rileks kog dibuat terkaget-kaget tiap lima menit. Gak seru ah...

Film si Doel the Movie, pas lihat previewnya pengin bangetttt nonton. Ngajak suami ogah, ngajak anak ogah-ogahan, ngajak teman malah udah nonton duluan. Mau nonton sendiri, males, mending anteng dirumah aja. Akhirnya lolos gak nonton. Ada lagi film sepertinya bagus, bikin penasaran, judulnya wedding agrement, pengin nonton bangettt....Balik lagi kebentur alurnya. Suami ogah-ogahan,  anak gak mau, temen sudah nonton, mau berangkat sendirian, males...Melas deh, hasil akhir gak nonton...😕

Dibanding sinetron aku lebih prefer nonton film. Apalagi sinetron yang berseri-seri, gak deh (sempat sih terpukau dan terpaku drama korea, akhirnya bertobat karena mengganggu jadwal tidur). Film indonesia banyak yang bagus, pemilihan bintangnya, penjiwaan karakter pemainnya dan pengemasan tema ceritanya pas...pas..pas..kek pertamina pasti pas...😊 
Penginnya sing ngereview beberapa film gitu tapi apa daya nontonnya cuman di youtube dan itu juga trailernya aja, mana bisa dipake reviewnya. 
Menurutku daya tarik sebuah film bukan terletak pada kisahnya karena sebetulnya kisah/cerita film hampir semuanya bertema mirip. Tapi lebih kearah bagaimana film itu bisa menjangkau psikis penontonnya. Perpaduan yang apik dari akting, pengemasan dan tema cerita yang pas. Kalau habis nonton film, kitanya jadi gak bisa move on, nah itu salah satu tanda filmya bagus...😏, sederhana sekali ya. Maklum yang bicara bukan kritikus film. 
Sadar akan kekurangan, aku gak berani bicara lebih lanjut tentang review sebuah film. Aku cuman mau sharing aja kalau sebuah film hanyalah sebuah cerita yang dikemas meski   pembuatan naskahnya didasarkan pada sebuah kisah nyata. Kalau film yang seratus persen asli ma fakta namanya film dokumenter. Dan biasanya film dokumenter tidak dikemas untuk dijual...😊
Ngintip trailernya wedding agrement, memang bikin greget, drama bangettt...Apalagi para aktornya bermain apik. 

Menurutku, kalau secara hukum agama, gak mungkinlah kisah film itu ada didunia nyata. Apa gak haram ya hukumnya kawin kontrak begitu...? Kalau kandungan dramanya memungkinkan sih terjadi di dunia nyata. Banyak orang menikah karena dijodohkan dan cinta datang kemudian. Atau kisah tentang kesabaran seorang istri menghadapi suami yang tidak menyintainya. 
Kira-kira ada gak orang yang terinspirasi film ini...? Tentu ada yang happy ending dan ada yang sad ending.
Yang berakhir happy tentu menjadi insiprasi positip dan yang malah berakhir sedih, namanya terinsiprasi negatip alias konyol.

--------------------------------

Dalam sebuah perbincangan, seorang teman mengabarkan ada cerpen yang jadi trendingtopic. Kisahnya sudah bersliweran di wa group. Aku dan ibu-ibu yang setipe yang jarang baca wa group, awalnya gak ngeh. Setelah baca, baru ngeh banget. 
Awal dari sebuah segitiga yang tidak sama kaki, kebohongan, poligami dan perceraian. Gak pengin membahas poligami ah, soalnya bukan termasuk kelompok yang pro juga bukan termasuk kelompok yang kontra...😐
Yang pengin dibahas yang bikin miris, kenapa ya pasangan muda sekarang gampang sekali selingkuh (kagak nunggu tua dulu kek era jadul, biasanya yang tua-tua yang suka selingkuh) dan satu lagi, bisa lanjut ke gampang banget minta cerai?
Seorang teman, menyumbangkan pemikirannya karena mereka masih pengin bebas. Apa masih kurang ya kebebasan yang didapat selama masa lajang?😟

Menurut sekumpulan ahli psikologi, yang bukan ahli nujum sepakat, masa perkawinan yang paling rawan adalah lima tahun pertama. Ini masa penyesuaian dengan diri sendiri, pasangan, mertua, ipar, keluarga besar dll. Kalau bisa melewati tahap aman pertama, masih ada tahap kedua, ketiga dan selanjutnya tapi paling tidak modal awal sudah terbentuk. 
Pasangan muda dalam tahap awal, masih goyah banget. Terantuk masalah sedikit kalau salah penanganan bukannya diskusi musyawarah mufakat malah irit bicara...Kalau keterusan, malah ego yang saling bicara. Kecenderungan untuk memikirkan perpisahan dimulai dari tingkatan yang paling samar: pisah ranjang, ngambek,  balik kerumah ortu, akibatnya malah jadi pisah beneran. Ini baru masalah kecil apalagi kalau masalah besar...akhirnya pake bantuan Yang Mulia, bapak hakim ...🙈

Selingkuh itu masalah kecil atau besar ya...?
Semua sepakat selingkuh adalah masalah besar dalam rumah tangga. Berikut juga yang menjadi big problem, kebohongan, kekerasan (KDRT), tidak bertanggung-jawab (tidak menafkahi), possesive, kikir dll. Dan masalah kecil dijabarkan sebagai hal yang remeh-temeh berkaitan dengan kebiasaan buruk.
Kata teman, permasalahan itu bukan dilihat dari besar-kecilnya tapi dilihat bagaimana cara menghadapinya
Apakah selingkuh bisa ditolerir...?
Gak juga sih tapi ...
Apakah KDRT bisa ditolerir...?
Gak juga dan gak pake tapi...
Apakah possesive bisa ditolerir...?Gak juga karena bisanya possesive satu paket dengan KDRT
Apakah tidak bertanggung-jawab bisa ditolerir...?
Gak juga sih tapi.. .
Apakah kebohongan bisa ditolerir...?
Gak juga sih tapi... 

Selingkuh itu apa sih...?
Seperti juga kesalahan pada umumnya, selingkuh adalah salah-satu cara syaitan memperdaya manusia. Dosa selingkuh biasanya didahului dengan kebohongan dan diikuti dengan perbuatan jelek yang lain. 
Aku juga masih heran, ada orang yang selingkuh diusia perkawinan yang seumuran jagung. Kalau ada salah-satu pasangan selingkuh terus minta cerai ya wajar-wajar aja. Hanya aku, agak takjub ma pasangan yang memutuskan tidak berpisah meski salah-satunya berselingkuh. Pasangan seperti ini patut diapresiasi, bukan untuk ditiru kesalahannya tapi untuk ditiru bagaimana satu sama lain bisa saling memaafkan (dan tentunya ada niatan untuk saling memperbaiki diri). Mereka berusaha bertahan dari serangan  badai (/teror dan serpihan masa lalu) yang kebanyakan pasangan lain pada nyerah, minta cerai. 
Catatan: Lebih takjub dua kali ma pasangan yang muda bersama, menua bersama dan berbagi surga yang sama. Dengan kata lain, pasangan yang Samawa. Tak ada realty show, drama perselingkuhan dalam  panggung sandiwara kehidupannya.

Kesalahan selingkuh beda ya ma KDRT yang gak bisa ditolerir. KDRT lebih kearah ganguan jiwa, patologis ( kalau selingkuhnya , tipis-tipis) mungkin pasangan bisa memaafkan tapi kalau selingkuhnya riewuh ya patalogis juga, ya gak bisa ditolerir).
Kalau tidak bertanggung-jawabnya patologis ya gak bisa ditolerir. Kalau posessivenya patologis ya gak bisa ditolerir. Pokoknya semua yang patologis tidak bisa ditolerir.  
Kalau poligami, gimana...?
Ya kalau poligaminya patologis ya gak bisa ditolerir. Menelantarkan istri, menelantarkan anak, menelantarkan rumah itu patologis. Ada sebuah note yang dibuat secara anonim, bisa jadi renungan: Jangan berpoligami jika akhirnya harus menjandakan istrimu. Nah khan...

Kembali ke film tidak seindah aslinya, kalau dihubungkan dengan tulisan diatas, maksudnya: film tidak bisa dijadikan acuan untuk contoh dikehidupan nyata. Apa yang ada di film, semua tentang imaginasi dan inspirasi sutradaranya. Kalau sampe menginspirasi baik sih boleh saja tapi kalau yang negatip, percaya deh apa yang ada di film tidak seindah aslinya didunia nyata. Seperti misalnya film prety woman. Keberuntungan seperti itu hanya terjadi sekali dalam perbandingan 1:1000 (atau mungkin 1:sejuta kali). Terus ngapain dimimpiin segala. Banyak sekali halu-halu difilm yang bikin halusinasi, jangan terjebak ya ananda termasuk halusinasi mudah minta cerai. Dipikir gampang apa kalau cerai, tinggal nunggu hari iddah selesai, dan kemudian besok atau lusa sudah bisa pdkt dengan calon  yang segala-galanya jauh lebih baik. Astagfirullah... 
Gak segampang itu ya...Ada banyak anak tangga kesedihan, kemarahan, kesulitan yang mesti dilalui satu-persatu. Perceraian bukan suatu aib, meski begitu buatlah perceraiaan menjadi sesuatu yang sulit atau suatu jalan keluar dari sebuah keburukan yang terus-menerus. 

Memilih pasangan dimulai dari niat dan cara yang baik. Bila niatnya ngasal  jadilah rumah tangganya nyasar. Rumah tangga yang samawa, dimulai dengan niat dan cara yang baik. Tidak ada niat kontrakan, mau berumah tangga selama setahun terus pisah, berumah tangga hanya untuk punya anak terus pisah, atau pengin nikah dengan si A karena tajir, atau pengin nikah dengan si B karena pinter ini namanya niatnya ngasal. Pake panduan agama sajalah, kek GPS gitu sudah paten, biar gak nyasar ntar rumahtangganya. 
Kalau mau nikah niatkan untuk mendapatkan ridho Allah, niatkan untuk beribadah, insyaallah ntar keluarga yang terbentuk dengan niat baik begini akan menjadi keluarga yang samawa. Terus pake cara yang baik pulak. Jangan mentang-mentang sudah saling cocok, orangtua ditodong harus setuju, gaklah. Orangtua itu diminta/dimohon restunya (terutama ibu) bukan hanya diberitahu atau malah diultimatum harus setuju. 
Kalau belum setuju, bagaimana...?
Tunggu aja sampai setuju. 
Berapa lama..? Ya sampai setuju lho, ditunggu, gak pake limit waktu.
Biasanya ketidaksetujuan orangtua itu ada penyebabnya dan salah satu penyebabnya adalah mereka memikirkan jangka panjangnya, berkilo-kilo meter dari kehidupan anaknya yang sekarang. Kalau anak-anak itu mereka hanya memikirkan kilometer terdekat saja dari tempat mereka berpijak sekarang, malah kalau ada jalan pintas, mereka lebih suka menggunakan e-toll...😟 
Bila ada seseorang datang meminang anaknya, dalam pandangan orangtua (baca: aku) yang pertama dilihat secara kasat mata adalah, penampakan raut wajahnya. Apakah beraut sabar, ataukah beraut lugas ataukah beraut tegas. Ditingkat awal, tingkat religiusnya tidak bisa terlihat tapi paling tidak bisa tersirat. Maka berbahagialah orang-orang yang berwajah sabar bak malaikat...😏

Ada perbedaan ukuran berdasar perbedaan nilai antara orangtua dan anak dalam memindai seseorang. Orangtua memberikan rating  tinggi  pada rasa aman sementara anak pada rasa nyaman. Wajar dong ada selisih rate. 
Persoalannya hanya bagaimana cara menggeser aman ke nyaman atau nyaman ke aman..? Sanggup kagak digeser...?
Ridho Allah itu tergantung dari ridho orangtua. Jangan pernah memilih antara orangtua atau calon. Orangtua itu sudah pasti adalah pintu surga bagimu, sementara calon pasanganmu belum tentu menjadi surgamu. Khan masih calon...😊


Jadi ananda-ananda yang mau menikah, perbaiki dulu niatnya. Kalau niat sudah okey, lakukanlah dengan cara yang baik. Pilihlah pasangan yang sekufu dari segi umur dan jenjang pendidikan (terutama dikalangan etnis arab, masih ada anggapan semakin beda usia semakin bagus. Perbedaan jenjang pendidikanpun terkadang tidak dipermasalahkan karena yang terpenting bagi seorang istri itu bisa samikna waatokna 😑) Bukankah fungsi istri itu hanya salah-satu peran saja disamping fungsi yang lebih penting lagi, peran ibu bagi anak-anaknya. Semakin berilmu seorang ibu, semakin berilmu pula anak-anaknya.

Jangan memilih harta atau wajahnya. Ini bukan kalimat bertingkat, memang harta atau wajah dapat seketika hilang. Masak sih kalau punya suami kaya atau tampan, kalau karakternya pemarah jadi termaafkan...? Atau kalau enggan shalat jadi termaklumi...? Atau kalau kelakuannya menjengkelkan jadi terlupakan...? Khan enggak...
Lakukanlah dengan cara yang baik termasuk didalamnya tidak berlebihan dalam selebrasinya. Gak usah deh berlomba untuk diingat sebagai royal wedding, princess wedding atau dipost sebagai wedding impianku dll. 
Khan cuman sekali seumur hidup...? Harapannya begitu tapi takdir atau faktanya bisa berkata lain. Pada hakekatnya resepsi hanyalah proses awal, sebuah pengumuman kegembiraan yang dikemas. Dan   perkawinan adalah sebuah paket lengkap plus toping  kegembiraan, kesedihan, kesabaran, kesetian, pengertian dll  yang  butuh proses panjang untuk dua orang saling belajar menyesuaikan diri. Dalam proses belajar panjangnya ini sesuatu bisa terjadi baik yang diharapkan atau yang tidak pernah diharapkan. Usaha dan doa adalah tameng terbaik untuk menjadi keluarga samawa till jannah. 
Jadi mengapa harus berlebihan diproses awalnya jika kita tidak tahu akhirnya...?
----------------------------
Alhamdulilah punya teman yang suaminya baik-baik semua. Kalau mendengar cerita dari luar tentang suami yang serem-serem, aku jadi miris plus galau. Memang bukan ke suami sih tapi...
Sungguh malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, apadaya semua calon mantu berhadapan dengan ibu, sidosen killer ...😟
Si ayah selalu mengingatkan bahwa meski kita menganggap anak  sebagai bidadari, pada hakekatnya tidak ada manusia yang menyerupai setengah bidadari. 
Nah kalau bukan setengah bidadari ya jangan cari setengah malaikat dong, katanya lagi. Artinya: setiap manusia tidak ada yang sempurna, mau dicari keujung dunia juga gak bakalan ketemu. Terus kata si ayah yang genap menginjak 52 tahun, usia yang cukup matang untuk bertutur tentang kehidupan.  Katanya, kalau kita yakin bahwa si calon adalah imam yang dapat membawa anak kita ke surga itu sudah cukup. Kita ini mau nitip anak pada seorang yang bisa mendidik dan membawa anak kita ke surga kelak. Janganlah dibebani dengan urusan remeh-temeh, yang keluarganya bikin ilfillah, yang temannya bikin was-waslah, hal-hal kecil jadi kendala.

Dan siayahpun lanjut bertutur, sekalian menyentil sikap ibu yang penuh kekhawatiran.  Katanya, semua orangtua berharap anaknya menjadi baik dan berada dijalur yang benar. Karenanya jangan pernah berprasangka buruk pada bapak yang mengatur anak lelakinya atau pada ibu yang dekat sama anak lelakinya dan sebaliknya.

Cukup dilihat sianak agamanya baik, insyaallah jadi baiknya. Justru kita harus berterimakasih pada laki-laki yang terpilih kelak, tongkat estafet tanggung-jawab kita serahkan penuh padanya. Inshaallah laki-laki pilihan itu yang akan mengantarkan anak kita ke pintu surga. 
Kata-katanya begitu menyentuh dan sederhana. Sesederhana itu...? Ya, sesederhana itu...Meski proses menuju pemikiran kesana tidak sesederhana yang diucapkan.
Dan siibupun masih harus banyak belajar. Menyederhanakan ketakutan dengan berpasrah diri. Hal baik dan buruk tidak terlepas dari takdir. Tidak semua yang terlihat, seperti yang ingin kita lihat. Berdoa adalah salah-satu kekuatan menuju kesederhanaan pemikiran. Semangat ya ibu-ibu yang punya anak perempuan...😊

---------------------------------

Mana yang lebih baik, memilih calon yang sudah mapan atau yang sama-sama memulai dari nol?
Mau memilih yang sudah mapan atau memulai dari nol bisa sama-sama baiknya atau sama-sama jeleknya jika ukuran yang dipake salah (niatnya). Pake aja ukuran diennya mana yang lebih bagus, itu aja yang diambil. Kalau sudah ketemu diennya bagus (plus atau include sabar), kriteria lain yang cuman katalisator aj. 
Ntar ya kalau sudah nikah, biar diajak shopping berlian sehari tiga kali, dihormati oleh orang sekampung atau diajak naik ke podium menerima hadiah nobel sekalipun, tapi kalau salah sedikit dibentak- bentak, mending gaklah...

Tapi, suami yang:
-Shaleh, ngajak shalat sunnah berjamah, membaca quran, berpuasa bareng...atau
- Sabar, kita tidak perlu khawatir emosinya akan meledak-ledak kek kompor ketika tahu kita melakukan kesalahan.
- Bertanggung-jawab /mandiri (bedakan dengan mapan). Bila bersamanya tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu
- Patuh dan hormat pada orangtua dan mertua. Tidak membedakan antara orangtua dan mertua.
- Bukan perokok. Seorang perokok mempunyai karakter yang beda dengan yang bukan perokok dan biasanya karakter idaman banyak melekat pada seseorang yang bukan perokok. Singkatnya, dosa seorang perokok adalah, bersikap cuek dengan dirinya. Apalagi dengan sekitarnya ya ? 
- Pengertian, perhatian dan penyayang. Kalau kita pas sakit, tak segan tangannya mengompres, memijit atau mulutnya tak henti menyenandungkan dzikir. Masyaallah Tabarakallah...

Dan dia tidak akan pernah,
menghardik dengan mulutnya
menghukum dengan tangan/kekuasaannya
merendahkan dengan kelebihannya
melakukan kekerasan walau hanya bersuara keras 
Muda berdua, menua bersama dan berbagi surga yang sama.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan...?
Sudahkah ananda menyadarinya...? 

Semoga ada yang bisa diambil manfaatnya dari tulisan ini. See you in the next post...!

Note: Pas lagi nulis topik ini,  iseng-iseng searching di komputer, nemu tulisan begini. Masyaallah tabarakallah... bagus-bagus impiannya, kecuali yang satu itu bikin speechless deh...😏