18 September 2018

Umi dan Abi


Setelah menjalani operasi ganti panggul, umi agak kesulitan dalam mobilitasnya. Kesulitan gerak bukan dikarenakan efek operasi tapi lebih karena trauma rasa sakit yang menyebabkan terlambatnya umi menjalani fisioterapi. Efek samping dari kesulitan gerak ini merubah ritual keseharian umi yang terbiasa didapur duapuluh empat jam (saking senangnya masak...😉) menjadi hanya terbatas dikamar.


Menoleh kebelakang ketika terdengar suara klik kamera 😉



Karenanya Umi senang sekali kalau diajak jalan-jalan. Kemana saja, biar hanya menjemput Rana sekolah, ke bank atau  belanja ke supermarket (sayang gak ada fotonya karena umi gak suka difoto 🙈). Selama di Surabaya Umi sudah ikut ke stasiun pasar Turi, ITC, pasar Atom, Grandcity, Plaza surabaya, LandMark, PTC dll...Terkadang kalau memungkinkan Umi turun pake kursi roda kalau lagi capek, Umi nunggu aj di mobil (yang jelas gak sendirian, ditemenin). Segitu aja Umi sudah senang...
Hal ini mengingatkaku pada almarhum Abi. Bedanya kalau Abi merequest tempat-tempat yang ingin dikunjungi, kalau Umi, ngikut aja tanpa request. Mungkin karena Abi suka sekali mengunjungi sesuatu yang baru terutama rumah makan (padahal seharusnya diet ketat). Kalau pas arisan, mencoba rumah makan baru dan ada menu yang enak, aku langsung teringat Abi...
Bagi Umi dan almarhum Abi bahagia itu tampak sederhana. Dimasa tuanya mereka hanya ingin ditemanin, diajak berbincang, diajak jalan-jalan, diajak silahturahmi, dinulyakan. Tidak dicuekin, tidak dibiarkan sendirian, tidak dikasihani, tidak dijadikan benda antik. 
Betapa beruntungnya kalau kita masih punya orangtua. Kunci surga terlihat lebih nyata. Kalau kangen kita tinggal peluk dan cium. Kalau salah-satu dari mereka sudah tiada baru kita sadar betapa sangat berharganya mereka. Semoga kita bisa menjadi anak shaleh/shalihah. Amin Ya Robbal Alamin...





26 August 2018

Apa artinya menjadi lima puluh tahun?

Sekelumit kisah wanita menjelang paruh baya..;)

Ditengah lalu lalang kerumunan orang yang sedang menunggu antrian membeli tiket kereta, tampak seorang gadis berlari-lari kecil berusaha mengikuti ibunya yang berjalan cepat menuju mobil. Dengan memakai celana jeans dan sneaker, gerakan sigadis lebih lincah mendahului ibunya untuk menuju mobil diarea parkir.
Sesampai di mobil, siibu menghempaskan tubuhnya di kursi depan sambil menarik napas berusaha rileks. Sementara si gadis sudah duduk disampingnya memegang kemudi. Sebelum memutar kunci mobil, sigadis memegang tangan ibunya seraya berkata kalimat yang sudah diulang-ulangnya sedaritadi.
"Maaf Ma..."
Si ibu memandang anak gadisnya itu dengan tatapan tajam, sejurus kemudian keluarlah kalimat pamungkasnya.
"Sirin tidak pernah dengerin mama.Sudah berapa kali mama bilang, Mama gak suka dicuekin...!
Di Malang ini, Sirin tuan rumah, mama tamunya. Ini tamu gak disambut baik....bla...bla....Penekanan kalimat si ibu pada sikap si anak yang membuatnya bete.
"Maaf... Ma" ujar sang gadis, masih dengan kalimat pengulangan yang sama. Kali ini dengan wajah yang jauh tampak memelas. 
Kupandang wajah anak gadisku ini, sorot matanya, hidungnya, mulutnya dan semua yang menyempurnakan wajahnya mengingatkanku pada sebentuk wajah  kecil nan imut disaat usianya baru dua tahun. 
Subhanaallah...
Mendadak kemarahan yang tadi membuncah jadi memudar, hilang... leyap, entah tersiram hawa dingin ac mobil atau pandangan mata anakku itu mengandung sihir melemahkan semua aliran horman adrenalin ditubuhku
Aku mencoba bertahan...
"Mama gak mau ngasih maaf..." ujarku dengan bahasa tubuh yang nanggung sambil kedua tanganku kulipat kebelakang.
Sigadis yang cerdas itu dengan mudahnya dapat membaca situasi ini. Dia mendaratkan ciuman ke wajahku dan menarik tanganku, diciumnya juga. 
Apalah arti sebuah kemarahan dibanding godaan makhluk manis dalam mobil...?
Itulah sekelumit kisah aku dan anak gadisku kemarin sore, edisi jumat tg: 24/-8/2018 
Setelah unjuk perasaan mereda, seperti biasa si gadis pandai sekali memanfaatkan situasi. Ganti dia yang balik unjuk perasaan.
"Mama kenapa sih gampang bete, gampang baper...?"


---------------------------------
Aku teringat perbincangan didalam bus antar ibu-ibu yang lagi berdarmawisata ke Malang. Kita cerita seru-seruan tentang masa kritis menjelang menopouse (peserta seluruhnya memang emak-emak menjelang paruh baya..😉) 
Hampir semua mempunyai kisah seru disuatu hari akibat apa yang disebut sindrome pra menapouse ...
Dihari itu aku baru sadar, mungkin aku masuk dalam salah-satu yang terkena sindrome pre menopouse. 
Bete, baper, alay, lebay satu paket ma kecemasan yang meningkat, mudah marah, gampang capek dll terutama yang berkaitan dengan emosi.
Sebelumnya, aku termasuk tipe emak-emak yang sadis (susah diajak nangis) terutama didepan anak. Sekarang sih masih sadis didepan anak-anak tapi dibelakang layar, gampang sekali tersentuh dan menangis tanpa sebab. Kalau masih muda dahulu, sindroma ini disebut baby blues (baca juga kisahku tentang ini). Seusiaku sekarang (48 thn) sindrome ini berevolusi dan mendapat nama baru yang bagi sebagian besar perempuan dirasa lebih menakutkan dari proses melahirkan yaitu MENAPOUSE 🙈 
Apa saja pemicu badmood emak-emak premenopouse ini?
Gejala yang kurasakan: sakit kepala berlebih (terutama bila mens), gampang sakit maag, tidak tahan pedas dan yang paling mencolok adalah perubahan susana hati yang seperti naik rollercoaster (terutama saat means)
Pemicunya bisa berupa benda hidup atau mati, invisible atau visible, unknow atau know, tertulis atau tersirat...Nah khan.
Diantaranya tiga yang terbesar adalah:
1. Dicuekin
Seperti kasus diatas, rasa kangen si ibu yang bertumpuk pada sigadis bertepuk sebelah tangan. Diajak ngedate menelusuri kota malang selalunya ada alasan yang nampak masuk akal untuk menunda. Maunya si ibu disuruh nunggu bae di kos sementara si anak gadis berkegiatan gak selesai-selesai. Setelah lama menahan sabar, akhirnya gak sabar juga maka terjadilah drama di hari jumat kemarin.
2. Pertanyaan yang tak terjawab, kapan mantu?
Kalau para jomblo bete ditanya kapan nikah, begitu juga emak-emak juga bete lho kalau ditanya kapan mantu.
Nantinya pertanyaan ini akan disambungkan pada terdakwa satu, sianak gadis. Kalau anak gadisnya sudah punya calon, posisi aman.  Kalau belum, siemak-emak ini ketiban peran jomblo juga, ini yang membuatnya mudah bete. 
Ada beberapa kisah lucu para emak-emak yang sudah ngebet mantu, dalam usahanya mencari jodoh untuk anak gadisnya.
Ada yang berinisisatif, menjodohkan putrinya dengan anak temannya. Ternyata banyak lho ibu-ibu yang berinisiatif menjodohkan putrinya. Rata-rata mereka menganggap putrinya terlalu pasif, terlalu cuek, terlalu pemalu dan ter yang lainnya (nanti deh dibahas lebih lanjut)

Dalam salah satu reka adegan ulangan, seorang ibu memperagakan perbicangannya dengan seorang teman.  Alkisah ibu sigadis mendekati temannya dengan niat menjodohkan anak-anak mereka. Terlibatlah mereka dalam percakapan seperti ini...
"Mb, si Adi sudah lulus ya, wah sudah mau mantu nih..."
"Oh anak masih baru lulus...Gak mau mantu dulu, biar dia kerja yang mapan dulu baru kawin..." 
Dan ibu sigadispun tersapu bersih tanpa sempat interupsi.  Hhh... Kitapun tertawa bareng apalagi melihat mimik wajah si ibu yang nampak sangat gimana-gimana gitu...🙈
3. Sindroma Sarang Kosong
Saat bertambah usia, kecemasan orangtua akan ditinggalkan anak-anaknya (untuk sekolah diluar kota atau menikah) semakin meningkat terutama orangtua yang punya anak perempuan sepertiku. Kalau saat baperku kambuh, aku bisa menangis sesunggukan memikirkan anak-anakku akan pergi mengikuti suaminya atau lebih fokus pada suaminya dan lalai akan kerinduan ibunya. Terkadang aku suka latihan soal cerita untuk mengetahui reaksi anak-anakku. Awalnya aku mengisahkan sebuah ilustrasi tentang rasa cinta orangtua yang lebih tinggi kastanya dibanding cinta anak pada orangtuanya. Ini karena   bla...bla...
"Sirin atau Rana nanti kalau sudah jadi orangtua akan tahu rasanya bagaimana rasa sayang orangtua pada anaknya lebih besar dibanding rasa sayang anak pada orangtuanya. Makanya saat terbaik berbakti pada orangtua adalah sekarang ini, saat orangtua masih no satu tidak ada saingannya". Kataku sambil mencermati reaksi anak-anakku.
Sibungsu Rana yang masih kelas sebelas langsung menanggapai ceritaku dengan mengatakan,
"Mama lebay ah...gak usah takut Ma... Mama selalu tetep no satu koq... " 
Aku hanya tertawa... 
Anakku yang satu ini memang masih belum sampai pada pemahaman bila menikah kelak, anak perempuan harus mengutamakan suaminya dibanding orangtuanya. 

Apabila ketaatakan kepada suami berseberangan dengan ketaatan kepada orang tua, maka bagi seorang wanita (istri) muslimah wajib mendahulukan ketaatan kepada suaminya. Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang wanita yang memiliki suami dan seorang ibu yang sedang sakit: Ketaatan kepada suaminya lebih wajib atas dirinya daripada mengurusi ibunya, kecuali jika suaminya mengizinkannya." (Syarh Muntaha al-Iradat: 3/47)

Aku melirik mencoba melihat reaksi si sulung yang saling mengerlingkan mata dengan ayahnya.
"Baba..Mama lagi baper..."
Ayah dan sisulung memang sehati. Mereka selalu tahu kapan harus menjawab, kapan harus diam untuk menanggapi latihan soalku. 

---------------------------------------------
Bila kumulai sibuk dengan latihan soal kecemasan, suami sering mengingatkan bahwa hidup itu bukan berjalan seperti rumus matematika tetapi berjalan sesuai rumusan takdir.  
Menyimpan kekhawatiran atau ketakutan itu karena kita menyamakan hidup ini dengan rumus matematika. Tetapi lupa bahwa semua sudah ditakdirkan.Yang dibutuhkan bukan kemudahan menghadapi takdir tapi kekuatan dan kesabaran.  Maka berdoalah untuk meminta kekuatan dan kesabaran. Dan berserahdirilah...
Disetiap sepertiga malam, kulawan kantukku untuk dapat menengadahkan tangan memohon jodoh terbaik untuk anak-anak perempuanku. Seorang laki-laki yang dapat membawanya ke surga dan menyempurnakannya menjadi anak sholeha bagi kedua orangtuanya. Hilang sebuah kekhawatiran...

----------------------------
Singkatnya, sindrome pramenapouse atau pasca menapuse adalah bagian dari siklus kehidupan, tak dapat dihindari. Dukungan dari orang-orang terdekat sangat berarti. Sebuah kalimat sederhana dapat sangat bermakna. Pernah sesekali aku terpergok sedang berlinangan air mata. Entah kenapa aja tiba-tiba jadi kangen berat pada almarhum Abi atau teringat masa kecil bersama orang-orang yang kita cintai yang masih lengkap atau mendadak jadi sentimentil saat melihat prosesi akad nikah. Sebuah pelukan sisulung atau ciuman sibungsu atau sebuah kalimat bijak dari suami, cukup untuk meredam  kegalauan di hati. Dan tentu saja, berserahdiri dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta adalah terapi yang amat manjur.
al-‘Arif billah Hasan al-Bashri pernah ditanya: Apa rahasia zuhudmu di dunia ini? Beliau menjawab: Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain (tertukar), karena itu hatiku selalu tenang. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal shalih. Aku tahu Allah Ta'ala selalu mengawasiku, karena itulah aku malu jika Allah melihatku sedang aku dalam keadaan bermaksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah.

See you inthe next post...







13 July 2018

Belajar Bisnis (Tips membeli rumah)

Berbekal pengalaman yang baru seumur jagung, aku memberanikan diri menulis tips membeli property (kususnya rumah). Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat terutama bagi mereka yang sekarang lagi hunting rumah. 
Rasa ketertarikanku pada property, diilhami dari seringnya menginap di hotel, mengikuti kegiatan suami. Aku suka sekali memperhatikan interior hotel apalagi interior hotel yang bergaya classic atau vintage. Wow...habis deh tuh hotel kufoto tiap sudutnya.
Untuk hotel dengan interior modern meski bintang lima sekalipun, biasanya aku cuman terkagum-kagum saja tanpa berniat lebih. Singkatnya rasa ketertarikanku pada property itu sebenarnya lebih kearah dekor-mendekor...😍
 Rumah Idaman



Bismillahirrohmanirrohim...
Tips membeli Rumah: 1
1 .Tentukan dulu tujuannya, rumah dipake sendiri, untuk jual-beli atau untuk dipake usaha, misal: kos, homestay dll. Beda peruntukan, beda pula dalam menentukan luas minimal, lokasi dan pembagian ruangannya.
2 .Tentukan berapa budgetnya, include: mau dibangun dari awal atau renov. Ini juga untuk menentukan besaran luas rumah
3 .Tentukan cara pembiayaannya, mau cash dari tabungan atau kredit inhouse (antara pembeli dan developer). 
4. Tentukan lokasi area pencarian, dekat dengan tempat kerja atau dekat dengan sekolah anak kelak atau berdasarkan wilayah kenyamanan, misal: surabaya timur, surabaya barat,dll5.Tentukan areanya, dalam perumahan, cluster atau perkampungan.
6.Tentukan statusnya: Shm, surat ijo, YKP, milik pelabuhan dll (usahakan untuk membeli rumah berstatus shm). 
Rumah bersertifikat surat ijo memang menggiurkan karena posisinya yang ditengah kota dan harga terbilang murah tapi ini seperti enak didepan, ribet dibelakang. Tergantung sih, ada teman yang senang berburu rumah surat ijo untuk dibikin usaha kos2an dan kebetulan usahanya memang maju. Seorang notaris pernah bilang, rumah surat ijo lebih aman dibanding rumah shm (khawatir penggadaan sertifikat) atau tanah pelabuhan (bisa diambil sewaktu-waktu jika pelabuhan membutuhkan). Mungkin surat ijo cocok untuk rumah yang sekaligus usaha tapi kita masih menahan diri untuk yang spekulatif begini.

Tips Membeli Rumah : 2 
1. Apapun tujuan pembelian rumah, yang pertama harus dilihat adalah lokasi...lokasi...lokasi...
Hal yang mempengaruhi lokasi ini termasuk, di pinggiran kota, dalam gang, dalam perumahan ataukah dekat dengan pemakaman, dekat dengan tempat akhir pembuangan sampah dll.
Bila budget terbatas, saran sih jangan pilih rumah di perumahan. Selain lebih mahal juga biaya-biaya yang mengikuti biasanya juga cukup mahal menguras kantong, seperti iuran keamanan dan kebersihan, pbb dll. 
Siasati pilih aja yang diperkampungan yang terdekat dengan perumahan yang ada disekitar itu. Tidak semua rumah non perumahan tidak aman dan nyaman. Kita harus jeli nanya-nanya atau mengamati daerah sekitarnya. Kita beli rumah daerah medayu, rungkut-Surabaya, alhamdulillah aman koq. Ditinggal berbulan-bulan dengan perabot lengkap, aman-aman saja. Enaknya lagi daerah non perumahan guyup dengan tetangga, sekalian bisa nitip-nitip kunci :)
Termasuk dalam ranah lokasi adalah, usahakan membeli rumah diposisi yang tidak terlalu jauh dari jalan keluar jadi gampang mobilitasnya. Kalau kita, berdasarkan pengalaman rumahnya dah cocok, letaknya jauh dari jalan keluar, mending gak diambil deh (ini karena kita selalu berpikiran rumah tempat tinggal sekalian dibuat usaha atau supaya gampang terjualnya)
2. Pilih yang hook atau yang ditengah?
Kalau tanahnya luas (diatas 200 m) kita bisa pilih hook. Kalau tanahnya terbatas, kita pilih yang ditengah karena bisa memaksimalkan space. Nah kalau lt 90 m, dapet hooks khan rugi tuh, gak bisa maksimal bangunannya. 
3. Pilih rumah yang kotak (panjang x lebarnya sesuai) atau yang trapesium? 
Selama model trapesiumnya tidak terlalu extrem sih gpp. Kita pernah melihat iklan rumah yang dijual murah padahal luas tanah dan daerahnya cocok dengan yang kita cari. Ketika cek ke lokasi, barulah kita mengerti kenapa rumah ini ditawarkan dengan harga miring. Dengan lt 450an, rumah itu hanya menyisakan satu garasi tanpa carport. Bentuk trapesiumnya parah banget. Mungkin dulu pemiliknya tergiur dengan harga murahnya. Dibeli dan dibangun mewah  dengan maksud tak akan dijual, mau dipake sendiri. Apa daya, dunia berputar, rencana juga ikut berubah. Sampai saat ini aku lihat rumah itu masih tegak berdiri dengan tulisan dijual yang menempel sudah bertahun-tahun.  
4. Hati-hati dengan tawaran rumah murah. Lihat konstruksi bangunannya atau lihat denah pembagian ruangannya. Konstruksi bangunan yang salah atau pengaturan denah yang terkesan asal, memang membuat harga rumah jatuh nilainya.  Atau lihat lokasinya.
Apakah dekat dengan area pemakaman atau area tempat akhir pembuangan sampah atau area pasar atau bentuknya seperti kisah diatas?
Pernah kita tergiur untuk membeli rumah yang dijual sangat murah sekali. Lokasinya sangat bagus ditengah kota dengan lt yang gedhe, 500 mtr.  Harga yang ditawarkan sepertiga dari harga normal. Dari awal aku tahu rumah itu hanya berjarak 100 mtr dari pemakaman umum.  Dan yang parahnya tidak bersekat jadi kita bisa melihat iring-iringan keranda jenasah memasuki makam. Karena aku sangat ingin membuka homestay atau kos2an, hampir saja kita putuskan membeli rumah tersebut. Sudah murah, gedhe, vintage lagi rumahnya. Duh hampir gelap mata deh ... Untung saja, celotehan anak sulung yang membatalkan niat bulat kita. 
"Kalau mama jadi beli rumah kuburan itu, Sirin tetap ngekos lho ya. Selain ngeri juga sumpeklah ma, ngeliat iring-iringan orang meninggal khan juga ngaruh, ikutan sedih "
Aku mikir juga, "Jangan-jangan yang berpikiran seperti Sirin banyak..." Iya-ya bener juga.
Bagaimana kalau dekat dengan TPA? Seorang teman mengingatkan kalau kuburan gak bakalan dipindah tapi kalau TPA, masih memungkinkan pindah. Bener juga. Seorang saudara membeli rumah hanya berjarak 100 mtr dari TPA. Lokasi sebenarnya bagus karena selain ggnya lebar juga letak rumahnya dekat dengan jalan raya. Eit beli rumah gak nyampe lima tahun, TPAnya dipindah...Harga jual rumah di lokasi tersebut langsung melambung berlipat-lipat. Itu namanya rezki yang tidak terduga-duga... 
Bagaimana dengan rumah yang dekat pasar tradisional?
Asal tidak berada tepat didepan atau disampingnya masih okelah. Pasar identik dengan ketidaknyamanan. Pemandangan yang semrawut, kotor dan bising.
5. Rumah menghadap timur adalah yang favourite. Kalau kita, rumah boleh menghadap mana saja asal cocok lokasi dan harganya. Karena sebetulnya hadap rumah yang kurang fav (misal hadap barat ) bisa disiasati dengan tanaman vertikal atau kanopi (kain atau kerey)
Kita juga tidak terpengaruh dengan fengshui...mau tusuk sate, mau belakang besar/kecil gpp deh yang penting point utama cocok. 
6. Perhatikan tampak depan rumah
Aku paling suka dengan rumah yang punya halaman depan (ada space antara teras depan dan pagar). Istimewa kalau punya halaman depan maupun belakang. Halaman belakang bisa dinafikan karena jika ukuran rumah kecil biasanya dibelakang akan dibuat full bangunan. Tampak depan ini juga jadi pertimbangan saat awal memilih rumah.
Bagian rumah yang mana yang jadi daya tarik?
Yang jadi daya tarik sebuah rumah adalah garasi (carport) dan dapur. 
Kenapa garasi? Karena garasi biasanya berhubungan dengan struktur rumah. Jadi kalau garasinya terlampau kecil atau tidak cocok, renovnya besar. Aku pernah melihat sebuah rumah, sebenarnya rumahnya agak aneh penataannya tapi gpplah bisa direnov (sedikit maksa karena semata-mata lokasinya istimewa). Pas ngukur garasinya, alamak, sempit sekali (mobil masuk tapi buka pintunya cuman bisa sepertiga aja). Atau pernah juga ketemu rumah yang garasinya beratap pendek (akibat perhitungan yang salah, tidak direnov dari awal, jalan depan rumah ditinggikan developer,  pemilik rumah terpaksa meninggikan lantai rumah supaya tidak banjir tapi bagian garasi  sudah gak bisa ditinggikan lagi karena diatasnya  didak, ada bangunan). Ini sih fatal, mending mundur deh...
Kenapa dapur?
Karena dapur itu ibarat nadi sebuah rumah. Kesehatan penghuni rumah terletak dari apa yang diolah dari dapur. Tata letak dapur harus oke sehingga memudahkan dalam pengolahan dan pembersihannya.Menurutku dapur yang bagus itu yang bersambung dengan garasi. Ini memudahkan bila situan rumah ada hajatan yang memerlukan tambahan ruang (mungkin karena aku suka masak ya).  Kalau ada pantry lebih bagus lagi. Dan selalunya renovku terbesar dari rumah adalah bagian dapur. Jadi kalau ngeliat rumah dapurnya oke, bisa langsung meleleh :)
Selain garasi dan dapur, bagian yang dapat perhatian adalah kamar tidur utama. Pernah ngeliat rumah, kamarnya banyak hanya yang rada aneh semua kamarnya kecil-kecil dan tidak memenuhi syarat sebagai kamar utama. Bisanya kamar utama menempati ruang yang lebih luas, syukur kalau ditunjang dengan kamar mandi dalam atau tambahan balkon. 
----------------------
Pilih mana rumah tangan pertama, tanah atau rumahsecond?
Kalau kita akan pilih yang rumah second. Kenapa? Karena rumah second, rumahnya sudah terpampang didepan mata dengan segala daya tariknya.
Kalau ada pameran perumahan hampir dipastikan kita cuman jadi penggembira saja (paling suka ambil brosur untuk lihat sketsa pembagian ruangan).
Aku susah sekali memahami gambar. Keahlian dimensiku minim, susah memahami rumah dari sketsanya saja, gak deh. Lihat rumah yang sudah jadi didepan mata lebih menarik. Apalagi ada banyak cerita tentang pengembang nakal. Biar lebih mahal gpp daripada ada kemungkinan uang hilang. Begitu juga beli tanah untuk dibangun rumah sesuai keinginan, rasanya koq kurang menarik. Nunggu jadinya kelamaan, gak tahan 🙈

Pilih mana rumah dekat masjid atau dekat sekolahan?
Aku pilih rumah dekat masjid karena bisa meningkatkan ibadah (termasuk memudahkan bapak-bapak sholat di masjid). Sebaiknya rumah yang dekat sekolahan (include disamping atau depannya) gak deh. Ini menyangkut masalah parkir yang semrawut dan juga bikin macet. 
Pilih rumah pertama dengan luas berapa?
Harus disesuaikan dengan budget (termasuk untuk renovnya). Sekarang rumah dengan lt kecil (36,45, 60, 90, 130) bisa dihias lucu dan cantik. Untuk pasangan muda bisa dijadikan referensi ig: babydinata, ig pietarosari, ig rhanikurniawan, ig@nunudellon dll. Mereka kreatif sekali mendekor rumah kecilnya. 
Pilih rumah sempit, lokasi ditengah kota atau rumah luas lokasi dipinggiran kota? 
Kalau aku pilih rumah luas tapi dipinggiran kota. Kalau rumahnya luas, bisa dibuat ngapa-ngapain, jadi tempat tinggal okey, dibuat usaha juga okey. Untuk mensiasati budget, aku pilih lokasi yang bukan dijalan utama, tapi cabang dari jalan utama, lumayan harga permetrnya sudah beda. Dan jangan lupa, meski didalam gg, letaknya jangan terlalu masuk kedalam tapi pilih yang dekat dengan akses keluar supaya gampang mobilitasnya.
Hmm...karena prinsip ini kita belum tertarik dengan tawaran apartemen. Tambah dikit sudah dapat rumah berikut tanahnya, shm lagi :) 
Pilih rumah lt 1 atau rumah yang bertingkat? 
Aku pilih rumah yang bertingkat, minimal ada lt 2nya. Kenapa? Selain masalah dana renov, juga ada tambahan space, at least untuk ruang service (plus Kt dan Km Art) better ada di lt 2. Lumayan lt 1nya bisa full untuk memaksimalkan penataan ruang. Apalagi aku lebih suka kamar tidur plus kamar madi dalam.  
Catatan:
-Perhatikan konstruksi rumah yang akan dibeli. Apakah tidak memerlukan renov berat berkaitan dengan struktur rumah atau hanya perlu renov ringan berkaitan dengan penampakan (interior). Kalau anda tidak mengerti masalah konstruksi, panggil saudara, teman atau tukang untuk melihat dan membuat perhitungan renovnya. Kita kalau berniat beli rumah, sekeluarga besar plus temen deket tahu semua. Bukannya berniat pamer tapi minta pertolongan pertimbangan. Terutama kalau ada kontradiksi, sebagian bilang bagus, sebagian yang lain bilang gak bagus. Wah pulsa telp dipastikan melonjak saking banyaknya saudara yang ditelp, mulai dari sepupu sampai Ami (om)...🙈  Alhamdulillah punya banyak teman baik yg notaris, arsitek juga pengusaha properti. 
Kendala-kendala yang dijumpai dalam pembelian rumah 
1. Keuangan/pembiayaan
Hitung dulu dana yang ready berapa. Persiapkan sesuai dana yang tersedia. Jangan melebihi karena akan menjadi beban dan pengelolaan keuangan menjadi kacau. Termasuk disini kalau uang hanya cukup untuk membeli tanah, beli tanah aja dulu ntar bangunnya kalau sudah ada dananya.  Ingat, kita tidak bisa menghindar dari pengeluaran tak terduga (misal: musibah dll)
2. Pajak.
Ada penjual yang mensyaratkan terima bersih, itu artinya beban biaya notaris dan pajak semuanya menjadi tanggungan pembeli. Kalau ketemu model penjual yang begini, kita harus jeli dan bermain cantik. Kalau memang rumah plus pajaknya jatuhnya murah, ya gpp deh ngalah dikit tapi kalau rumahnya sudah dirasa mahal ya ditolak aja. Kadang ada penjual yang menggunakan persyaratan terima bersih ini untuk membatalkan jual-beli (mungkin gelo karena merasa harganya terlalu murah). Cirinya, persyaratan ini diajukan menyusul.     
3.  Property (rumah) milik ahli waris
Alamak...ampun deh prosesnya lama dan bertele-tele, apalagi kalau ada ahli waris yang tidak setuju atau ada yang meninggal, kudu sabarrrr. kalau harganya murah boleh deh diambil, masih worthed. Kalau harganya standart atau mahal better gak usah, pilih yang gampang-gampang saja. 
Kita pernah beli rumah berhubungan dengan ahli waris model begini. Sudah dikasih dp, uang gak kembali, ditagih malah kucing-kucingan. Rumahnya batal dijual (padahal bukan kita yang membatalkan tapi karena ada salah satu ahli waris yang berkecukupan menolak menjual rumah warisan ortunya. Ditawarkan suruh beli ma saudara-saudara yang lain (kebetulan ada yang minim penghidupannya, sedulurnya itu kagak mau...Ampun deh ketemu orang model antik )  
4. Rumah dalam pembagian gono-gini

Urusannya juga sebelas dua belas ma kasus yang ahli waris. Ribet n bertele-tele.  Meski ada juga yang sampai terbeli, ada juga yang batal padahal kita sudah dp lho (kali ini dpnya kembali 100% karena pembatalan dilakukan oleh dua orang yang masih bertikai dan saling menyebut mantan ) 
5. Rumah diserang rayap 
Dari depan bangunan tampak kokoh ternyata rumahnya rapuh didalam, termakan rayap, kutu kecil yang bisa membuat kerugian besar. 
6. Perhatikan lingkungan sekitar rumah. 
Bagaimana keamanannya dan apakah lingkungannya nyaman. Apalagi kalau tetangganya baik, ini namanya rizki.
7. Harga yang belum deal.
Perlu diingat dalam negosiasi pembelian beda dengan negosiasi sewa. Kalau pembelian melibatkan nominal harga yang  lebih besar dibanding sewa. Sehingga rate negonya bisa lebih besar. Tapi kalau sewa biasanya rate negonya hanya turun sedikit. Untuk pengajuan penawaran harga biasanya kita sudah melakukan survey sebelumnya jadi kita sudah punya standart rate beberapa rumah/tanah didaerah tersebut. Dalam beberapa kasus, harga yang belum deal itu disebabkan karena beda harga yang tidak seberapa. Malah ada satu kasus, yang beda harga penawarannya hanya rp: 25 jt saja. Kalau ini sih masalah sebenarnya bukan harga tapi lebih kearah belum sreg aja sama rumahnya. Disamping rumah yang kita tawar itu ada tanah kosong. Karena pernah punya pengalaman jelek dengan tanah kosong disamping rumah jadinya aku rada galau waktu tawaranku diterima dengan syarat nambah uang rp: 25 jt. Untung penjualnya masih ngasih syarat :). 
Lain masalahnya kalau sudah sreg ma rumahnya, beda harga dikit, dicari win-win solution biar sama-sama enak waktu pengukuhan akad di notaris. Alhamdulillah selama ini baik-baik saja sewaktu akad di notaris.

8. Penjual tidak jujur atau kredibilitasnya meragukan
Bila berhubungan dengan penjual/pembeli yang rada aneh dari penampakan pertamanya, mending berhati-hati meski properti yang ditawarkan harganya miring. Aku pernah berhubungan dengan penjual/pembeli bertipe aneh begini. Omongan penjualnya berubah-ubah, pertama mengenai luas tanah dari 250 menjadi 160, kedua masalah sertifikat, dari shm menjadi surat ijo. Ketika diminta untuk menunjukkan sertifikatnya, dia berdalih segala macam. terakhir, dia mengakui sertifikatnya ada di bank dijadikan agunan peminjaman modal usaha. Ohlala...gak jujur dari awal. Untung punya bodyguard, saudara laki-laki yang siap membantu. Kalau menyerahkan urusan silang-sengketa begini ke suami, hasil akhirnya diminta mengikhlaskan saja...😑
9. Penjual/pembeli yang terkesan over 
Ini juga berhubungan dengan kejujuran. Biasanya terkesan over dengan memuji-muji propertinya atau menggiring opini bahwa rumahnya banyak peminat sehingga kita terdesak untuk deal dan memberi dp.
Kita pernah menemui dua kasus. Yang pertama adalah: kita didesak untuk segera memberi dp padahal ternyata terbukti kemudian surat-surat rumah mereka ternyata masih ada masalah dan dititipkan di notaris. Mana harga yang sudah disepakti ma mantan istrinya dinaikkan lagi. Karena sudah jatuh hati ma rumahnya, langsung aja aku transfer dp tanpa pikir panjang. Toh sepertinya penjualnya orang terpercaya (teman haji temanku, lha khan baru haji pula ), kalau ada apa-apa tinggal didatangin aja dikantornya, begitu pikirku. Ternyata....Batal !!!
Alhamdulillah rezki yang lebih baik datang, dengan harga yang jauh lebih murah, dapat rumah tepat dijalan rayanya. Sementara rumah yang batal  berada dibelakang jalan raya.
Kasus yang kedua: pembatalan sepihak setelah sebelumnya sangat menyakinkan
Tanah kita disewa oleh pengusaha muda yang cukup tenar. Sudah deal harga (meski rada-rada alot dealnya karena mereka nawarnya luar biasa ketat, akhirnya kita yang nyerah bukan karena posisi kita lemah tapi karena ya sudahlah kurang-lebih aja, Inshaallah diganti rezki ditempat yang lain) Lalu ddidp, sudah dikirim maket, sudah dibuatkan hitung-hitungan kapan pelunasannya. Seminggu  menjelang pembayaran di telpon, jangka waktu sewanya direduksi. okey gpp, aslinya kita lebih suka waktu sewa diperpendek. Tiga hari menjelang pembayaran, ditelpon dibatalkan. 
Hah...?!!
Koq ini seperti orang ditalaq lewat telpon ya. Jadi bisa ngerasain sakit hatinya...🙈 Masih belum berakhir, diminta dpnya dikembalikan...Aduh...!!!
Melalui pendekatan kekeluargaan, suami meminta sipengusaha datang kerumah, bicara lebih jelas dan terbuka. Ternyata lebih sadis lagi, ketahuan kalau dibatalkan karena mereka punya cadangan lokasi yang lebih baik di surabaya (tanah kita berada di jalan raya Lawang-Malang). Mereka bilang, khawatir saja kalau diteruskan proyeknya di lawang akan rugi. Duh...Mereka khawatir rugi, artinya belum merugi tapi bagaimana dengan pihak lain (kita)?

Catatan: Membeli/menyewa properti tidak seperti membeli baju atau sepatu yang bisa dikembalikan atau bisa ditukar. Malah ditoko-toko aja sudah ada keterangan, barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan. 
Bagi pengusaha muslim, hati-hati bertindak begini ya. Baik bagi pemilik/pembeli. Ini juga kita jadikan pelajaran berharga. Pengusaha muslim tidak sama dengan pengusaha pada umumnya yang memakai prinsip ekonomi. Pengeluaran yang sedikit untuk  mendapatkan penghasilan yang besar. Karena sebagai pengusaha muslim kita punya acuan jual-beli menurut syariat. Diantaranya: pengusaha dilarang menumpuk barang. Dilarang menjual dengan harga yang berlipat-lipat. Dilarang terlibat riba. Dianjurkan membayar upah bahkan sebelum keringatnya kering dll. 
Apa pelajaran berharga yang bisa diambil?
Kebetulan kita sedang menyiapkan sebuah proyek berkaitan dengan pemanfaatan salah-satu properti. Begitu tanah kita deal sewa, kita langsung memulai proyek  tersebut. Termasuk rencana didalamnya menggunakan setengah dari uang sewa.  Disinilah letak simpul masalahnya. Kalau mereka membatalkan proyeknya karena khawatir rugi, kita malah terlanjur rugi karena sudah memulainya. Kita yang sudah berniat hijrah menghindari bank dan segala turunannya, akhirnya terlilit hutang. Alhamdulillah bukan hutang bank, yang jelas gak ada ribanya
Tapi namanya hutang ya tetap harus dibayar. Nah kalau yang begini jatuhnya dholim gak ya...😟  
Pelajaran yang didapat dalam kasus ini:
-Naikkan dp ketingkat maksimal. 
-Ikrarkan secara lesan bahwa pembatalan sepihak menghanguskan dp (ditambah lagi secara tertulis dan bermaterai). 
-Jangan memulai sesuatu kalau kepastian belum ditangan (pelunasan sudah dilakukan, kalau dp mah bisa lewat).  
-Jangan khawatir tentang rizki.  Ingatlah ini:


Demikianlah ulasan singkat tentang beberapa tips dalam seluk-beluk membeli rumah. Semoga bermanfaat...

NB: Hello dear, Kalau ada yang butuh rumah didaerah surabaya timur, mungkin  rumah ini bisa jadi pertimbangan.



 


22 April 2018

Dua Kunci Surga...

Seorang teman mengirimkan forward sms (dari teman yang lain) bunyinya: "Alhamdulillah kunci surgaku sudah kembali kekedua orangtuaku". 
Terlepas dari apa permasalahannya dan juga karena tulisan ini tidak sedang membahas perkawinan, aku lebih fokus pada kata-kata alhamdulillah dan kembali.
Sebenarnya bagi perempuan (in fact) lebih mudah manakah, kunci surga saat diorangtua atau saat di suami?
Yuk, sharing yuk... 
Kesan yang tersurat dari kata Alhamdulillah dan kembali siteman diatas, mengesankan bagi dia lebih mudah jika kunci surga ada ditangan kedua orangtuanya dibanding suaminya. Mungkin begitu ya...WallahuA'lamBishawab. 
------------
Ketika seorang teman kena musibah, dia bingung memikirkan bagaimana cara mengabarkan berita buruk itu ke ayahnya (ibunya sudah meninggal). Teman tadi sangat menjaga perasaan ayahnya. Dia sangat berhati-hati saat menyampaikan khabar buruk tentang keluarganya kepada ayahnya agar ayahnya tidak bersedih.
Masyaallah Tabarakallah...
Sementara disisi yang lain, miris membaca berita yang mewartakan bila ada anak menggugat ibu kandung atau ayah kandung. Anak yang menelantarkan orangtuanya, anak yang mengusir orangtuanya atau kasus invisible "ringan", anak yang cuek terhadap orangtuanya.
Memang sih orangtua kita bukan maksum tetapi mereka adalah pemegang kunci surga kita. Bagaimana kita akan membuka pintu surga kalau orang yang memegang kuncinya tersakiti oleh ulah kita (apapun dalihnya).
Kalau pas buka-buka medsos, ada banyak cerita yang menginspirasi tentang hubungan orangtua-anak. Iklan-iklan layanan sosial banyak dibuat untuk lebih menghargai orangtua terutama disaat mereka menua dan lemah. 
Ceritanya sungguh menginspirasi...
Jangankan pada orangtuanya yang masih hidup, pada orangtuanya yang sudah meninggal saja, seorang anak diwajibkan untuk memuliakannya.
Bagaimana cara memuliakan Orangtua yang masih hidup?  
Dengan membelikan mereka rumah?
Dengan memberi mereka uang?
Dengan mencukupi kebutuhan mereka secara berlimpah?
Dengan menaikkan haji atau mengajaknya umroh berkali-kali?
Mungkin saja...
Itu beberapa varian yang jawabannya masih mungkin tapi jawaban yang pastinya adalah: dengan menjadi anak sholeh/sholehah.  
Sulitkah menjadi anak sholeh/sholehah dibanding lima varian diatas?
Menjadi anak sholeh adalah cara yang paling mudah 'mengabdi' pada orangtua.  
Yang dibutuhkan hanya seberapa besar cinta kita pada orangtua dan ketakwaan kita pada Allah SubhanallahuWataala sebagai Sang pencipta. Ketakwaan itulah yang akan menuntun rasa cinta kita pada orangtua dan bagaimana memperlakukan mereka. 
Rasa cinta seorang anak pada orangtuanya tumbuh secara naluri meski beda kasta dengan rasa cinta orangtua terhadap anak. Ini hal yang natural.
Yang sedikit sulit adalah menumbuhkan ketakwaan terutama di usia muda dalam rentang kehidupan (awal masa baligh). Alhamdulillah,  kesulitan ini banyak mengilhami para orangtua untuk mengirim anaknya sedini mungkin ke sekolah-sekolah berbasis agama.
Tetapi melempar tugas masalah ketakwaan seorang anak pada sekolah tentu saja tidaklah cukup, peran orangtua tetap dituntut lebih dominan. Dan setelah anak itu baligh (remaja), si anak juga dituntut untuk mengembangkan ketakwaannya dengan usahanya sendiri dan tetap mendapat bimbingan dari orangtuanya.
Ketika membaca cerita anak seorang artis (yang sudah hijrah), pergi dari rumah tanpa pamit dan kemudian si ayah mengakui kesalahannya karena terlampui keras pada anaknya. Kata-katanya yang kuingat:
"Biarlah Allah yang memberi dia hidayah tugas kita membimbing dan mendoakannya"
Setiap orangtua mempunyai caranya sendiri untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak sholeh/shalihah.
Subhanallah...
Aku merasa sedikit lebih baik mengetahuinya. Kadang aku merasa terlalu keras pada anak, terkadang merasa terlalu lemah pada anak. Banyak-gak ya ibu-ibu yang begini...?
Mempunyai dua anak cewek membuatku menjadi ibu yang harus cerewet terutama soal pakaian dan keselamatannya. Kita termasuk orangtua yang terlambat mengharuskan anak memakai jilbab. Sisulung berjilbab diawal kuliah sementara si bungsu memakai jilbab saat kelas tujuh. 
Tak ada penolakan...Bukan berarti tak ada masalah. Aku selalu cerewet tentang baju yang dipake anak-anakku. Kalimat yang kulontarkan, jangan terlalu ketat celananya hingga menampakkan bentuk kaki, jangan terlalu pendek baju atasannya, jangan terlalu pendek jilbabnya, jangan...jangan...Anak-anakku sudah hapal. 
Jojon dibawa-bawa 🙈


Bisakah anak-anakku menerimanya tanpa keberatan?
Mamanya diprotes 🙈
 Mamanya dijadikan meme 🙈

Sebagaimana remaja yang sering bersebrangan dengan orangtua dalam hal keinginan, kemauan dan pilihan begitu juga dengan mereka. Mungkin (?)Kita masuk dalam kategori orangtua yang penuh rasa khawatir, cerewet dan tidak menyenangkan. Karenanya ketika menemukan video ini di laman fb, senang sekali rasanya bertemu 'sejawat' 

Dalam rangka mencetak anak shalehah, kita sebagai ortu tak akan gentar tiap kali ada  yang ngambek, marah, kesel, bete dll. Seberapa sering mereka melakukan kesalahan sesering itupula kita akan menegurnya. Kita rela dilabelin predikat otoriter, diktator, pemarah, cerewet, nyinyir dll apasaja deh gpp, asalkan anak-anak kita selamat dari api neraka. Mungkin banyak yang tidak sependapat. Banyak juga orang yang berusaha bersikap demokrat pada anak meski sianak nyata-nyata bersalah. Mungkin mereka punya cara tersendiri dalam rangka mendidik anak menjadi anak sholeh.

Begitulah kita sebagai orangtua. Sebaliknya begitupulah orangtua terhadap kita.  
Sebagai hamba Allah dengan dua kewajiban, sebagai orangtua dari anak-anak kita dan anak dari orangtua kita, selayaknya kita sadar bahwa tugas orangtua demikian berat. Karenanya sudah selayaknya kita ikhlas dan sabar terhadap apapun perlakuan orangtua terhadap kita apalagi jika salah-satu dari orangtua kita sudah tiada (self reminder) 
Apa yang dapat kita persembahkan ketika semua benda berharga didunia tidak lagi ada artinya dialam kubur. Hanya amalan sebagai anak sholehlah yang dapat menyelamatkan orangtua kita. Amalan anak sholeh itulah tolok ukur rasa cinta kita yang sesungguhnya pada orangtua bukan airmata atau ungkapan dukacita yang terekspose.
Apakah kita punya waktu untuk merenungkan bagaimana kondisi orangtua kita dialam kubur (khususnya yang salah-satu atau kedua orangtuanya sudah berpulang)? Dimana dalam doa-doa, kita berharap mereka ditempatkan ditempat terbaik disisi Allah SubhanallahuWataala.
Bantulah mereka untuk mendapatkan tempat terbaik itu dengan menjadi anak sholeh. 
Bagaimanapun cara mereka mendidik kita, apakah dengan keteladanan, kebijaksanaan ataukah dengan keterbatasan berikut kesalahan-kesalahannya. 
Bila kedua orangtua kita masih lengkap, mungkin kita tidak sadar betapa berharganya mereka. Kita bisa lalai, bisa saja abai, bisa saja lengah akan keberadaan atau kebutuhan mereka. Ketika salah-satunya atau keduanya sudah tiada, barulah muncul penyesalan. Pada waktu itulah nasi sudah menjadi bubur dan supaya sibubur tidak basi, cepet-cepatlah menjadi anak sholeh. 
Jadi anak sholeh itu seperti apa?
Ini ada diskripsi sholeh yang inshaallah bisa mewakili baca

Anak shaleh menciptakan keluarga Samara
Kunci surga bagi anak laki-laki adalah ibunya (baca: orangtua) Sementara kunci surga bagi anak perempuan adalah suaminya. 
Note: Bagi seorang gadis jangan pilih suami yang mengabaikan orangtuanya terutama ibunya. Bagaimana dia akan jadi kunci surga bagimu jika dia sendiri mengabaikan kunci surganya? 
Bagaimana pula dia bisa baik kepada mertuanya jika pada orangtuanya sendiri dia abai. 
Sebaliknya bagi laki-laki jangan pilih istri yang menyebabkanmu menjauh dari orangtua terutama ibumu. Bagimana bisa kau membuka pintu surga dan masuk didalamnya jika dia menghilangkan kunci surganya. Anak lelaki itu milik ibunya bukan milik istrinya.
Setiap kali memaknai kalimat ini, sebenarnya aku jadi harap-harap cemas, khawatir saja mengingat aku adalah ibu dari dua anak perempuan. 
Meski kita selalu berusaha memberikan keteladanan dan mengajarkan ilmu-ilmu dasar seperti tersebut diatas, kecemasan masih tidak bisa sepenuhnya menjauh dari kepalaku. Mengapa?
Karena sebetulnya secara fitrah, istri itu dibentuk oleh suaminya. Kalau Imamnya bener, inshaallah makmumnya juga ikut bener. 
Berdasarkan pengalaman masa lalu, alhamdulilah aku bisa melalui pemahaman ini dengan berproses. Peran suami sebagai imam dalam memaknai kalimat diatas sangatlah penting. Sebagaimana kita tahu, pasangan muda kerap melakukan kesalahan diawal fase pernikahan,baca.
Begitu juga denganku. Aku yang dibesarkan dengan kasih sayang melimpah dari abi (maklum sebagai anak perempuan sigle fighter selama kurleb 11 tahun) sempat terkaget-kaget ketika apa yang akan aku lakukan juga harus sepengetahuan dan restu mertua, misal dalam hal kecil pemberian nama anak.
Lho, bukankah itu hak prerogatifku sebagai orangtua?
Aku menamai anak pertama kami Sirin, dengan pertimbangan nama itu masih langka dan keren. Untuk artinya sampai sekarangpun aku masih belum tahu, yang kutahu hanyalah nama itu adalah nama adik dari istri Rasulullah, Mariyah Qibthiyah. Inilah masalahnya, mertua tidak bisa menerima pemberian nama yang terkesan tanpa arti. 
Aku yang terbiasa melakukan apa yang kumau bersikeras mempertahankan nama Sirin untuk anak pertamaku. Aku merasa hakku sebagai orangtua terkoreksi dan aku keberatan. Disinilah peran suami sebagai imam sangatlah penting. Dengan kesabaran dan kasih sayang (masyaallah tabarakallah), suami yang sedang bertugas diluar pulau sebagai dokter PTT berusaha melunakkan hatiku melalui suratnya yang berlembar-lembar (saat itu tidak ada Hp/Wa). Aku dimintanya menulis surat ke mertua  menjelaskan alasanku menyukai nama Sirin dan tak lupa, suami merequest untuk aku menanyakan ke mertua, nama apa yang akan ditambahkan dibelakang nama Sirin. Jadilah aku menulis dua lembar surat permohonan maaf telah menamai anak tanpa menanyakan dulu pertimbangan aba dan umik (mertua) sekaligus meminta saran mereka untuk menambah nama belakang Sirin. Dengan pendekatan yang baik, akhirnya mertua setuju menambahkan nama Salsabila jadilah nama hasil kompromi: Sirin Salsabila.Win-win solution...
Berdasarkan pengalama pribadi itulah, dalam setiap doa-doaku, aku memohon jodoh terbaik untuk kedua anak perempuanku. Seorang laki-laki yang shaleh dan anak yang shaleh. Seorang suami yang dapat bersikap bijak pada istrinya tanpa mengabaikan orangtuanya.

Untuk membentuk keluarga Samawa, mulailah dari proses memilih calon. Pilihlah calonmu dengan melihat ketakwaanya pada Robnya dan sikapnya pada orangtua. Seharusnya orang yang bertaqwa adalah juga orang yang berakhlaq. Tapi case percase ada juga yang berdiri sendiri tidak berunited antara ketaatannya pada Robnya dan ketaatannya pada orangtuanya. Mungkin ada faktor X-ray yang jadi penghambat. WallahuAllam.

Semoga kita bisa berproses menjadi anak yang sholeh dan orangtua yang shaleh jua. Amin YaRobbalAlamin. 
See you in the next post...






 

The Serenity, Penginapan Syariah di Surabaya Timur

Assalamu alaikum...
Hello dear, jika anda dan keluarga akan mengunjungi surabaya sekedar relax atau mempunyai keperluan khusus, kami hadir menyediakan penginapan berkonsep syariah, 
 The Serenity
Lokasi: Cluster Serenity no: 88
 (are Nginden-Semolo)


 Tampak depan

kamar utama berikut balkon


 kamar lt 1
 kamar lt2 berikut balkon dan kamar mandi dalam


 kamar ke 3 lt2


 ruang tamu lt 1

 


ruang keluarga lt1

Ruang keluarga lt2
 Ruang keluarga lt2

dapur kotor lt 1


Pantry lt 1


kamar mandi kamar utama lt 2


 kamar penjaga plus gudang dan bagian service lt 2


Bismillahirrohmannirrohim
Just For Rent...
Serenity goes to penginapan Syariah
(fasilitas lengkap seperti dirumah sendiri juga disediakan ART). 


Sekarang bisa sewa harian/bulanan (khusus keluarga) atau tahunan (minim sewa dua tahun).
Note: Tidak disewakan perkamar.
Harga lbh murah dari apartemen
Disewakan dengan prinsip syariah.

Baity Jannati,
Rumah ready to use (fullfurnish, include ac: 4 dan TV 3 plus parabola, water heater, dapur kotor plus pantry)
Hunian ini berkonsep vintage, classic and cozy. Ruangannya luas dan lega.
Garasi and carportnya bisa menampung empat mobil.
U/sewa tahunan bisa juga dibikin home office.
U/keterangan lebih detil, silahkan kontak kita, pemilik langsung.
Buruan cek ke lokasi.
U/sewa harian harga Dimulai dari: rp: 800 rb/hari
U/sewa tahunan, negosiasi dimungkinkan setelah visit.
Buruan guys...!
See you there...

CP: 082257540980
Semoga The Serenity membawa kebaikan dan keberkahan. Amin YarobbalAlamin.