11 May 2017

Rekam Peristiwa...

Hiii, Iam back...:)
Setelah hampir enam bulan atau sama dengan setengah tahun (uft...lamanya) menganggurkan blog, akhirnya mulai sadar menulis adalah salah-satu terapi mengobati diri sendiri. Ya paling tidak daripada menggerutu atau mengomel gak jelas pada siapa mending membagikan sesuatu yang bermanfaatlah. Merasa berguna, adalah terapi bahagia yang paling sederhana :)
Sebenarnya pengin pake alasan sibuk sebagai full housewife atau sibuk diundang jadi pembicara atau sibuk mengurusi bisnis property atau sibuk sebagai pengusaha cafe.Keren khan...! Ternyata alasannya cuman sepele aja karena: kesel gaptek bener masalah internet dan social media (ngerti khan kenapa tulisan-tulisan diblog ini sepertinya gak diedit langsung dipost apa adanya. Padahal sudah diedit tapi gak berhasil merepair malah kelihatan kacau...#angkat tangan #tembak ditempat alias ngambek. Duh...sebegitu keselnya sampe mogok gak nulis setengah tahun :(
Bukannya tanpa usaha untuk menanggulangi kelemahan satu ini yang sangat mengganggu, mulai diajari adik, kakak, sepupu, teman sampai belajar sendiri, tetap aja masih gaptek (paling berubah dikit). Langkah terakhir, daftar kursus private (rela lho diketawain temen) e...koq nyusun jadwal kapan kursus dimulai kebentur ma jadwal shooting (baca: gangguan) yang padat merayap. Mulai dari gangguan belum pasang Wifi, speedy on-off, sampe gangguan kondangan manten (bukan seminar) yang gak berhenti. Alhasil sampe sekarang, basic internet skillsnya pas-pasan banget :( :( :(

Saking banyaknya yang mau dipindahkan ke dalam tulisan sampe bingung mau nulis yang mana dulu. Yang pertama, nulis masalah ringan-ringan dulu deh. 
1) Bahagia itu sederhana...Bahagia itu tidak berlebihan. Apakah sama artinya? Artinya bisa sama bisa juga beda. Sama dalam arti sederhana dapat diartikan sama dengan tidak berlebihan. Tapi bisa juga beda artinya jika bahagia itu sederhana bisa diartikan perasaan bahagia itu bisa muncul dari hal-hal yang sederhana, misal: sarapan berasa nikmat (baca: bahagia) hanya dengan lauk  tempe penyet dan sambal pencit. Untuk arti bahagia itu tidak berlebihan, pas sekiranya dicontohkan dalam kalimat berikut. Saya merasa bahagia ketika membeli tas seharga rp: 300.000 dan bukannya seharga rp: 3 jt. Hehe...Karena bukan ahli bahasa indonesia, terjemahannya personal sekali ya.
Ceritanya sampe pada kesimpulan ini ada kisah tersendiri. Ketika dirumah masih ada tiga asisten, rumah aman-terkendali, masuk kualifikasi A. Ditambah lagi, salah satunya pinter sekali masak (masih inget dengan Husna?) Punya asisten yang pinter masak menyebabkan akunya jadi males ke dapur. Meski Husna tidak pernah  kuajari masak tapi ternyata diam-diam dia selalu memerhatikan ketika aku masak. Hanya dengan sekali lihat  si Husna ini sudah bisa menyontoh dengan taste mendekati. Akibatnya, anak yang suka protes (suami sih malah abstain-abstain saja :) Rupanya protes anak and abstainnya suami, tanpa  kusadari menyublim menjadi guilty feeling. Perasaan ini menjadi jelas ketika, si Husna mengundurkan diri bersama suami yang sudah siap menjemput. Sempat sih kelimpungan, mau kemana-mana ketahan harus masak dulu...Nano-nano  rasanya ditinggal si Husna, kesel kenapa pembantu yang dua lainnya gak mau belajar masak dari Husna. Kenapa sepertinya aku, belain si Maya ketika bertengkar ma Husna, kenapa gak nahan Husna dll...
Gak tega  ngasih anak bekal nuget terus atau ngasih makananan orderan dari resto meski kesukaannya maka mau gak mau turun lagi ke basic training. Memasak, bersih-bersih  dan menata rumah. Hasil berbanding lurus dengan jerih payah. Ketika melihat anak makan dengan lahap udang kesukaannya atau suami tanduk dua kali makannya, nah...disitu aku merasa bahagia :)
Satu lagi contoh ketika hunting sopir yang menginap. Oh...ampun susahnya bikin mati kutu. Sudah dimasukin surat kabar segala yang melamar cuman tiga orang dan tiga-tiganya tidak memenuhi kriteria. Akhirnya dengan sedikit perubahan, dibuatlah iklan lowongan pekerjan driver tanpa ditulis harus menginap. Hasilnya....OMG...diluar perkiraan, sampe sedih bacanya. Gimana tidak, ada yang melamar pake bahasa inggris, ada yang diketik computer rapi, sistematis, complete seperti melamar pekerjaan kantoran. Yang paling bikin sedih, yang diminta hanya lulusan smp atau sma, yang datang rata-rata kuliah, jurusan psikologi, tehnik informatika, ekonomi dll...Padahal jelas-jelas tertulis dibutuhkan sopir pribadi.
Berbekal pengalaman sebelumnya mencari sopir yang pas, saat dilakukan wawancara dan test drive, intuisiku semakin peka, mana yang kira-kira serius kerja. Bukankah semua serius ingin kerja? Eit..tunggu dulu, ternyata meski ada tambahan kalimat cantik: bersedia bekerja lembur, bersedia bekerja keras, bersedia bekerja sesegera mungkin Atau kalimat menghiba, seperi: tlg pak/bu, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, dll...Ternyata-oh ternyata....Itu hanya kalimat fiktif, ketika sesi wawancara (belum masuk ke ranah gaji) kelihatan sekali mereka tidak punya etos kerja seperti yang dituliskan. Ada yang masih terikat kerja, ada yang tidak bisa kalau nyetir ke luar kota, ada yang tidak bersedia bekerja lembur, dll...(Mestinya kalau butuh pekerjaan gak ada excuse ya...tapi ya begitulah...)
Selain pelamar melebihi dari tingkat pendidikan yang disyaratkan juga banyak pelamar mantan sopir taxi. Kalau dari taxi bluebird, keren deh penampilan dan aturan sopan-santunnya, sudah tinggal pakai saja. Setelah melalui proses seleksi akhir, terpilihlah sopir yang cvnya biasa saja sesuai standart. Yang bikin terpilih karena dia bersedia memenuhi syarat tambahan yang aku ajukan, bersedia bekerja lembur, tentunya dengan tambahan gaji). Sebenarnya syarat tambahan yang aku ajukan adalah hasil negosiasi dengan diri sendiri (baca: perenungan) kenapa sih butuh sopir yang standby 24 jam padahal sehari-harinya dipakenya menthok sampe jam 5 sore aja. Paling sekali-sekali keluar kota, sekali-sekali ada keperluan keluar malam, sekali-sekali ada family dari jauh yang menginap dan minta dianter-anter keliling-keliling. Come on, make it easy...Khan sekarang lebih mudah, ada uber, ada gojek dll...
Duh, bersyukur sekali ada penemuan uber, gojek, grab, sangat membantu mempermudah hidup. Bahagia itu tidak berlebihan...:) Btw: dalam rangka bahagia itu tidak berlebihan, kutemukan juga satu frase kalimat majemuk setara. Meski pendapatan bertambah,  terasa lebih nikmat jika list kebutuhan tidak ikutan bertambah...Ha..Ha...Ya iyalah, anak Sd juga tahu ;)
2)  Anak-anak sekarang jauh lebih pintar... 
Biasanya aku jarang sekali menemai anak belajar. Bukannya tidak mau tapi memang jarang diminta. Seingatku, aku berhenti membuat soal-soal try out sejak mulai hamil anak kedua, saat anak pertamaku, Sirin duduk di kelas 3 SD, begitu juga dengan Rana. Wah...sudah lama sekali ya...Alhamdulillah, anak-anak mandiri dalam hal belajar dan tugas-tugas sekolah (supportku lebih kearah, doa yang kupanjatkan setiap shalat, membangunkan mereka shalat tahajud dan menjaga kesehatannya dengan menyediakan makanan kesukaan dan menyediakan vitamin)
Saat membaca status teman-teman yang pada heboh soal unas atau unbk, akupun terdorong untuk menemani si bungsu Rana, menyambut unas SMPnya. 
Mengintip soal-soal unas terdahulu.

Sebenarnya si bungsu Rana, lebih banyak berdiskusi dengan ayahnya dalam belajar khususnya matematika dan IPA. Aku sih cuman denger-denger aj celotehan mereka. 
 serius didepan komputer
 serius but nyantai
 ketahuan belajar tulang-belulang ;)
Ketika aku setengah-hati protes, "Mama koq gak pernah ditanya-tanya nih, dulu mm ranking satu lho waktu SMA"
E...begitu ditunjukin contoh-contoh soalnya..., diam seribu bahasa.  Gak mau kelihatan nyerah, aku asal saja bicara, 
"Coba mm mau lihat soal bahasa indonesia". Lihat sebentar, angkat alis...pass...
"Coba lihat soal bahasa inggris", pening kepala...pass...
"Coba lihat soal matematika", baru baca sebentar sudah mati kutu...pass ...Rana langsung ketawa cekikan...
OMG... ini yang pinter team yang buat soal atau murid-muridnya ya? 
Bener deh susahnya kebangetan. Bedaaaa bagai langit dan bumi ma jamanku sekolah dulu. Kalau ulangan bahasa indonesia, PMP, agama hampir dipastikan belajarnya lumayan nyantai. Untuk matematika dan yang lain memang belajarnya setengah mati-matian. Khusus bahasa inggris, soal-soalnya hanya berkisar tenses dan vacobulary...udah segitu aja. Saat nemenin Rana belajar kemarin, aku baru nyadar, hebatnya Indonesiaku. Pinter-pinter...baik yang senior, pembuat soal-soal unas begitu juga yang junior yang jawab.  
3) Orang yang shaleh, jujur dalam bisnis akan mendapat rezki yang berkah.
Kebiasaan suami kalau pulang shalat dari masjid selalu menenteng sesuatu, entah makanan, alat pijat, senter atau apa saja yang ditemui disepanjang jalan menuju atau dari masjid. Nah suatu ketika suami pulang dengan membawa dua senter. 
"Tahu gak berapa harga dua senter ini?" Kalau ada pertanyaan begini, hampir dapat dipastikan pasti dapetnya murah. Tapi supaya  seru, aku menaksir dengan harga yang tinggi. Lalu katanya:
"Dua ini aslinya cuman rp: 50 rb lho"
"Oh ya ? Murah sekali..." ;) Tapi koq aslinya, memangnya ada sesuatu?
Suami berkisah kalau tadi, senter dua ditawarkan dengan harga 100 rb. Kemudian setelah terbeli, si penjual mengembalikan uang rp 50 rb karena katanya keuntungannya berlebihan. Lalu ganti suami yang mengembalikan lagi uang rp: 50 ribu pada si penjual karena menurutnya dia sudah rela membeli dua senter itu dengan harga rp:100 rb.
Aku mangut-mangut, terkesan sekali. Ternyata ada ya orang yang menolak mendapat keuntungan terlalu banyak. Terbukti dia malah mendapat keuntungan yang sepadan dengan kejujurannya. Rizkinya langsung datang dari Allah, kebetulan saja suami yang jadi alat penghantarnya.
4) Meletakkan sesuatu pada tempat yang tepat.
Hampir sama dengan rekam peristiwa no:1, bahagia itu tidak berlebihan hanya beda kasus. Saat mengantarkan bibik yang sudah kerja selama 30 tahun untuk foto MRI disebuah RS (terdiagnosa ada batu di ginjal), aku ketemu dengan teman suami. Kebetulan dia sedang ada waktu jadi kita ngobrol sebentar.  Biasalah obrolan emak-emak dan bapak-bapak, topik tidak jauh seputar anak dan keluarga. Pertanyaan yang saling terlontar,
"Apakah sudah mantu atau masih persiapan mantu?"
 Hmm... 
Kami terlibat obrolan seru seputar persiapan mantu kelak (padahal dua-duanya, masih belum punya calon mantu, jadi pembicarannya masih seputar wacana ;)  
Sepertinya idenya menarik, aku menyimak penjelasannya. Ternyata, si bapak ini sudah mendeklarasikan pada anak perempuannya bahwa menikah itu cukup akad nikah saja. Resepsi hanya mengundang keluarga dekat yang berasal dari satu kakek saja. 
"Jadi teman-teman sejawat tidak diundang?" Saking tertariknya sampai gak nyadar kalau memotong pembicaraan.
"Tidak...nanti kita hanya kirimkan pemberitahuan saja. Atau kita kirimkan souvenirnya. Khan yang penting doanya "
Pendekatan ini mendasarkan pada pemikiran untuk tidak berlebihan karena esensi dari pernikahan adalah akad nikah bukan resepsinya. Bahagia saat mantu itu karena kita sudah mendapatkan imam dunia-akhirat untuk anak perempuan kita. Bahagia untuk disyukuri  bukan bahagia untuk di wujudkan dengan pesta mewah. 
Wah... Betul juga ya.
Hmm...ide baru, bisa dicoba untuk mulai disosialisasikan di keluarga nih.
Selama ini yang sudah aku sosialisasikan keanak sulung adalah tidak boleh pacaran-pacaran gak jelas, yang boleh taaruf. Itu juga dengan syarat-syarat 1,2,3...(diantaranya yang paling utama: tidak boleh berduaan) Yang kedua, tidak pernah ada kamus foto prewedding berdua. 
"Lho Ma, khan cuman foto aja.." protes sisulung
"Kalau seperti ini boleh..."
Foto prewedding jadul ;)
"Foto sendiri-sendiri aja ntar ditempel berdekatan. Kalau mau foto berdua, ya harus postwedding..." kataku tegas
Aku memang gak pernah setuju dengan foto prewedding dan juga pesta mewah (pesta dengan undangan mencapai 1000 orang) untuk resepsi pernikahan. Kenapa? 
Menurutku yang paling berhak ditampilkan dalam foto prewed adalah: foto cinta pertamanya, foto keterdekatan anak perempuan dengan ayahnya, lebih menyentuh.
Setiap menyaksikan akad nikah, rasanya sekujur tubuh mendadak jadi panas-dingin, bawaannya pengin nangis saja sampe malu kalau kepergok kerabat yang duduk disebelah kiri dan kanan. Kenapa?
Gimana gak pengin nangis, pada saat akad itu kita menyerahkan anak perempuan (yang kita pertaruhkan nyawa waktu melahirkannya, yang kita sayangi dengan segenap hati, yang kita jaga perasaannya, badannya dan segenap jiwanya) pada seseorang yang baru saja dikenalnya atau yang kita kenal. Surga dan nerakanya sudah berpindah ketangan laki-laki yang telah menjadi imamnya itu. Subhanallah...
Aku masih ingat ketika abi berusaha menguji keteguhan hati saat keluarga suami berniat meminang. Abi melakukan serangkaian tanya-jawab yang alhamdulillah dapat kujawab dengan lancar dan tegas. Kemudian kuingat, abi berkata, "Subhanallah... Inshaallah jodoh dunia-akhirat". 
Katanya menjelaskan, aku kenal calon suami baru beberapa bulan saja tapi sudah membela mati-matian...;)
Dengan banyaknya contoh di kehidupan yang nyata yang bisa dengan mudah terakses dari sos-med,  pikiran was-was sering menyergap. Bagaimana kalau anak kita mendapat suami/kita mendapat mantu yang salah? Baru nikah sehari/sebulan/setahun/ dah bubar...
Nah disinilah, aku sependapat dengan teman suami diatas, untuk meletakkan sesuatu ditempat yang tepat. Belum-belum sudah berpesta wah...padahal belum teruji. Nanti waktu dan doa yang akan membuktikannya. 
Semoga semua yang mengucapkan  akad nikah menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Amin Ya Robbal Alamin.   
Ketika sosialisasi pertama aku bicarakan dengan mama, apa reaksinya?
Mama bilang, ntar dipikir orang pelit lho kalau cuman ngundang orang segelintir. Haha...Tantangan pertama sudah ditemui.
5)Pengin masuk ke lorong waktu 
Ada dua alasan yang mendorongku berkhayal tentang lorong waktu. Yang pertama, berkenaan dengan keinginan menjadi ibu yang lebih baik terutama bagi si sulung tersayang, Sirin. Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, nih anak overload dalam mengelola keuangan. Kalau aku masuk lorong waktu, pengin tahu apa sih peristiwa/pola asuh atau sikap yang salah yang menjadi pencetusnya. Ntar kalau sudah tahu, aku akan merubah sikapku. Waktu suami tahu hal ini, dia cuman ketawa aj dan bilang, mestinya yang masuk lorong waktu bukan aku tapi Sirin (ceritanya, dua-duanya saling berkhayal bahwa lorong waktu itu ada ;)
Btw: Lho koq bisa sih? 
Iya karena kalau aku yang masuk ya tetep aja gak bakalan ngerubah dan gak ada yang berubah. Gitu katanya. Aku pikir-pikir lagi bener juga perkataannya. Kesimpulannya: Sirin harus bisa merubah dirinya sendiri, mulai bersikap dewasa dan bertanggung-jawab penuh akan kehidupannya kelak. Karenanya , dia perlu dikasih lagi satu senjata dari tiga senjata kehidupan, selain iman dan kasih-sayang juga kepercayaan.Tapi...
"Ma, boleh gak Sirin exchange sebelum kelulusan"?
"Ha...Lagi...?!" Speechless...Termenung, apakah ini termasuk range kepercayaan atau...? (geleng-geleng kepala... )
Selain masalah intern partai, pengin masuk lorong waktu ketika membaca kisah tepatnya berita: si A bunuh diri karena...si B bunuh diri karena...
Duh...pengin nangis rasanya. 
Siapapun pelakunya, apakah  remaja atau  orang dewasa yang sudah berkeluarga tidak seharusnya mereka memilih jalan pulang menghadap sang Khaliq dengan cara kembali yang paling buruk. Bagaimana perasaan orangtuanya, bagaimana perasaan anak/suami/istrinya? 
Meski begitu, menurutku kita tidak bisa  menghakimi mereka dengan label bunuh diri karena kita tidak pernah tahu, saat-saat terakhir kehidupan seseorang. Mungkin saja, iman yang tersisa menyelamatkan mereka. Hanya saja kesadaran yang tiba-tiba itu tidak bisa merubah kondisi yang sudah sangat terlambat. Penampakannya mereka bunuh diri namun sebenarnya...  Wallahu A'lam Bishawab. Insyaallah kita semua meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, termasuk juga mereka yang sudah dilabeli mati bunuh diri. Amin YRA.
Ada kisah, contoh dari keluarga sendiri. Seorang kel bernama A, dikhabarkan bunuh diri melompat kelaut (kalau tidak salah, dia sedang dalam perjalanan dari banjarmasin ke surabaya). Saat dia melompat, waktunya diatas magrib, pertolongan yang dapat dilakukan juga sangat terbatas. Maka dikhabarkanlah  pada keluarga bahwa, si A bunuh diri. Hebohlah berita ini diseantero keluarga. Subhanallah... Dua hari kemudian si A muncul dirumahnya. Padahal kel si A sudah melakukan shalat gaib karena menganggapnya sudah meninggal (berenang ditengah laut yang luas seperti itu dikegelapan malam lagi, hanya Allah yang menjaganya). 
Ketika ditanya, kenapa dia melompat kelaut, jawabannya juga tidak bisa dipertanggung jawabkan (si A, punya riwayat skizophrenia, mungkin pada saat dia melompat, ada bisikan yang menyuruhnya melompat, entahlah...ajal belum sampai padanya, sampai sekarang dia hidup sehat-walafiat bersama istri dan anak-anaknya). Nah, pasti penumpang yang lain yang tidak mengetahui riwayat si A, akan menceritakan kisah ini dengan versinya, yang intinya si A bunuh diri dengan terjun kelaut.

Orang yang kehilangan harapan dan memilih mengakhiri hidup,   alasan terbanyak yang jadi pemicunya adalah: depresi.
Tidak semua orang bisa melihat jalan keluar dari sebuah persoalan dan tidak semua orang juga tanggap akan persoalan orang lain. Bila anda membutuhkan pertolongan, say HELP...
Alangkah baiknya kalau ada layanan hotline pencegahan bunuh diri (apa sudah ada ya cuman akunya yang gak tahu). 
Bila anda atau seseorang yang anda tahu, punya persoalan yang membuat anda/dia hopeless, dengan segenap hati, saya bersedia membantu. Silahkan dm saya di facebook villa dleyla atau Ig laylafachirthalib. Saya bukan psikolog terkenal atau milyuner yang dapat membantu anda dengan kekuatan uang tapi saya hanya ibu rumah-tangga biasa yang sangat peduli dengan hidup sesama. 
Bersambung... 

17 November 2016

Me & Ma

Here We are...

Hampir semua anak perempuan senang bila dikatakan mirip dengan ibunya, begitu juga denganku. Meski sebenarnya kita gak mirip-mirip banget. 
Nih beberapa ulasannya:

Fakta: mama itu amat suka sekali masak dan pinter banget
Aku :suka masak dan lumayanlah hasilnya :)
Fakta: mama itu kalau kedatangan tamu, selalunya tamu dikasih makan. Ini karena keahliannya memasak. Bisa masak dalam waktu lima belas menit, sudah ready beberapa menu.
Aku: kalau kedatangan tamu, malah gak pengin masak, penginnya nyantai dan si tamu diajak ngobrol melulu. Pas saat makan, maunya praktis, beli makanan dari luar (karena itu untuk pembuktian pandai memasak susah, gak ada saksi ahli :) 
Fakta: mama itu pandai berbisnis, apa saja bisa disulap jadi uang.
Aku: suka berbisnis tapi gak pandai menyulap uang :)
Fakta: mama itu selalu langsing karena sudah pembawaannya.
Aku: langsing kalau lagi diet aj, kalau gak ya melar :(
Fakta: mama itu suka belanja pecah-belah dan menumpuk barang
Aku: suka belanja pernak-pernik dan menumpuk barang, akur :)
Fakta: mama itu amat sangat takut ke dokter (gampang panik/cemas)
Aku: dulu gak takut ke dokter, sejak usia 40 th keatas begini jadi agak takut ke dokter apalagi kalau urusan mamografi dan usg endo 
(terbukti khan kecemasan itu menurun) 
Fakta: mama itu pecinta kopi (very addicted). Pernah nyoba gak minum kopi dua hari langsung kolaps, sampe diinfus segala.
Aku: kalau lagi pengin aja minumnya, itupun secangkir gak habis. Sisanya dimasukin kulkas, besok pagi dipanasin, diminum lagi. Hehe...segitu hematnya ;)
Fakta: mama itu kalau denger anaknya sakit panik, padahal hanya bilang sakit perut.
Aku: samaaaa...setali tiga uang. Kalau anak sakit, rasanya kepala beku, gak bisa mikir. Was-was, khawatir berlebihan. Untung si bapak orangnya tenang and cekatan. Jadi tentang perawatan anak sakit, sudah langsung diserahterimakan.
 
Ada cerita lucu berkaitan dengan turunan was-was ini. Seorang kepanakan (cowok: klas 7) lagi sakit perut. Dia telp ibunya (sekolah di luar kota) dan bilang perutnya sebah dan perih. Si ibu menyuruh minum obat maag. Lima menit kemudian si anak sudah telpon ibunya lagi dan bilang, 
"Ma, kalau aku baca kontraindikasinya, obat ini bahaya lho Ma. Nanti aku bisa meninggal kalau kebanyakan minumnya..."

Hhh....penyakit keturunan...:) Lha iya jangan diminum sebotol tho...Kalau minum sesendok aja masak meninggal?  
 





 Suka sekali difoto :)


Begitulah setiap anak cewek senang bila diasosiasikan dengan ibunya. Setiap hari kita bertiga cewek, menelpon mama sehari 3-4 kali (maklum ibu RT, gak sibuk-sibuk amat. Dari mulai anak masih bayi sampai setua ini) kecuali adik no:dua yang supersibuk (drg. Rima fachir Thalib SpKG, nelponnya seminggu sekali, disesuaikan jadwal liburan ;).   

See you in the next post...

10 November 2016

Tantangan & Urusan domestik..

Hari ini ada yang tertawa, ada yang menangis badai, ada yang terharu. Mungkin Donald Trump lagi senang-senangnya sampai tidurnya pules. Hillary Clinton lagi sedih-sedihnya, pupus harapan menjadi presiden perempuan pertama di Amerika. Sementara  warga dunia lagi bingung-bingungnya, menunggu what' next. Yang jelas, sampai hari ini aku masih tertantang dengan urusan domestik yang susul-menyusul jadi gak sempet mikirin bagaimana prosesnya sampai Amerika punya presiden baru bernama uncle Donald.
Duh, ngapain mikir dunia lain kalau dirumah masih banyak yang harus dipikirkan?
Apa saja sih yang dipikirkan para ibu?
Mungkin list ini dimiliki ibu-ibu yang lain: suami,anak, dan pembantu atau asisten RT (sopir). Kalau suami dan anak masih aman, urusan domestik yang satu lagi, benar-benar bikin tepok jidat n geleng-geleng kepala (barangkali ini juga yang dilakukan para imigran di amerika sekarang. Ternyata masih gak habis pikir juga sama dunia lain  :)
Ditulisan terdahulu, pernah kutulis tentang pembantuku yang punya masa kerja tigabelas tahun, seusia Rana, anak bungsu. Setelah melahirkan anak kedua (hamil sampai melahirkan seminggu masih dirumah) barulah dia hijrah kembali ke desa. Suaminya aja yang masih ikut tapi seiring dengan waktu, ternyata dia juga tidak betah terpisah dari anak-istri, akhirnya ikut drop-out. 
Dalam enam bulan sesudahnya, rumah mirip penampungan, pembantu baru datang keluar-masuk. Ada yang hanya bertahan sebulan, ada juga yang hanya bertahan sehari. Katanya takut tidur sendirian. Duh...
Yang bertahan sebulan, keluar dengan alasan kangen anak. Ada yang keluar karena suami berubah pikiran, melarangnya kerja. Ada lagi sudah ditraining sama mama, dapet label bagus untuk urusan bersih-bersih, untuk masakan masih gak dapet status. Lha koq pas mama lagi repot, ada ngundang penganten baru makan siang dirumah, si bibik ini salah masukin masakan gule kedalam soup kikil. Mama yang ngeliat hasil jerih payahnya, subuh-subuh ke pasar, milih-milih daging, masak sendiri berjam-jam sepertinya jadi sia-sia, langsung marah besar. Bukannya minta maaf, sibibik langsung ngacir hari itu juga.  Speachless... 
Berbagai usaha sudah aku upayakan untuk menahan laju endap keluar-masuk pembantu. Masalah gaji, sudah sesuai permintaan, aku atur lagi rumah supaya mereka nonton tvnya enak, jam istirahat diberlakukan sampai ke iming-iming kasih bonus baju pesta. Ceritanya: pembantuku namanya halimah, berniat pulang karena diminta suaminya berhenti kerja. Sehari sebelumnya dia bertengkar antar pembantu dan berakhir dengan anti klimaks, pembantu seterunya pulang. Lha koq dia besoknya juga mau pulang dengan alasan seperti tersebut diatas. Padahal aku sudah terlanjur cinta, kerjanya cepat dan bersih. Gak bisa masak gpplah, aku sendiri yang masak (meski itu artinya gak bisa pergi kalau belum masak dulu). Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan koleksi gaun pesta yang sudah gak kepake karena kekecilan. Aku bilang kalau dia balik lagi, hari senin (pulangnya jumat) aku kasih gaun ini. Matanya terlihat terbelalak saking senangnya. Dia bilang, "Aku balik bu, jangan khawatir ". 
Ternyata satu lagi keahlian pembantu adalah: pinter ngapusi...Hiks...Senin dia gak balik :( Sebulan kemudian dia, minta balik, eit..tunggu dulu...aku masih keki berat apalagi dapat info dari sopir, si halimah ini sering keluar malam nemui seseorang, entah itu suaminya atau saudaranya. Pantes aja sering aku cari untuk bantu-bantu didapur, kalau pas mau bikin sesuatu tapi dipanggil-panggil, gak ada jawaban. Pikirku dia sudah tidur, meski jam masih menunjukkan jam 20.00. Ya mungkin capek, gpplah, aku buat sendiri (daripada ntar bikin alasan, suka dibangunin tengah malam ma majikannya :( Ohlala baru tahu, kalau ternyata saat itu dia lagi didepan menemuai sesorang yang misterius itu.
Banyaknya kejadian, turn-over pembantu menuntunku untuk introspeksi...introspeksi, mungkin ada yanga salah. Jadilah aku bikin forum curhat pembantu ma temen-temen. Ehm... ternyata mereka punya masalah yang sama (glek, setengah lega tidak seperti tertuduh penganiayaan atau majikan bengis atau majikan pelit setengahnya lagi masih ganjel, mikirin ribetnya)
Keluarnya pembantu sama dengan datangnya musibah, tidak terduga,  waktunya tidak tepat dan tidak bisa ditunda. Tidak segan-segan memakai alasan ada keluarga yang meninggal, dibilang ibunya meninggal atau neneknya (mungkin meninggalnya sudah lama, who knows). Pasnya lagi, istri sopirku juga mengajukan sms resign, bersamaan ditambah lagi dengan istri sopirnya suami mengajukan sms resign (dua-duanya menggunakan istri untuk sekilas infonya). Alamakk...koq kompak merepotkan. Kalau aku anggota partai pasti fokusnya, ada aktor yang menunggangi nih...
diberhentikan oleh istri (part 1)#capek deh
                 diberhentikan oleh istri (part 2)#terlalu sayang


Pak Yono, sopir kesayangan mengajukan resign yang kedua. Yang pertama dulu, istrinya bilang mau berdagang krupuk. Hanya sebulan merugi, kembalilah dia kehabitatnya semula menjadi sopir di daerah tetangga. Sebenarnya dia mengirim signal-signal akan kembali tapi tidak kugubris. Aq masih keki and kesel sama alasannya resign. Kalau kerupuknya sudah jalan, istrinya minta suaminya bantu-bantu karena kewalahan mendapat order, ya gpplah. Merubah nasih menjadi lebih baik. Ikut senang kalau berhasil. Ini enggak koq, baru berniat berdagang krupuk sudah mengajukan resign. Duh... 
Setelah dua tahun, dia mengirimkan lagi signal-signal ingin balik kerja. Pake janji manis segala, disini pelabuhan kerja yang terakhir. Ya..ya...ya, aku terima dengan lapang dada, sudah menguap rasa keselnya. Apalagi  dikompor-komporin sama adikku dan mama yang juga cintaaa ma pak Yono. Finally, resmilah pak Yono menghias rumah. 
Baru setahun kerja, gak ada banjir gak ada badai, sekarang mengajukan resign lagi dengan alasan mau bertani. Hadeww...
Masih mau lho, belum membuahkan hasil. Keki bin kesel banget, double marahnya sampe aku bilang, melarang dia sms-sms, nanya-nanya khabar, mampir-mampir kerumah dll (soalnya, aku gampang tergoda, kasihan...):
Lain pak Yono, lain si Mukidi, pak wahab. Sopir suami ini resign dengan alasan kesehatan. Istrinya juga yang melayangkan sms, pamit. Yalah gpp, dia kolap juga mengikuti ritme kerja suami yang lebih banyak kerja malam hari. Kujawab smsnya merelakan pak Wahab pergi sekalian menutup kemungkinan balik lagi (gak sopir gak pembantu, gampang sekali request minta balik...padahal sepeninggalnya, serasa naik rollercoster). Aslinya ada perasaan senang pak Wahab resign. Bagaimana tidak senang, yang menyebabkan mobil suami sampai kayak gerobak ya si Mukidi ini. Pokoknya dia cuman bisa nyetir tapi gak bisa ngerawat mobil, bahkan sampai yang paling remeh sekalipun seperti mencuci mobil. Gak tahu gimana caranya dia mencuci mobil, hasilnya cat mobil beret dan belang merata. Untung aja mobil sudah diasuransikan. Selama masih pak Wahab sopirnya, hopeless deh punya mobil cantik dan bersih.  
Koq masih dipertahankan sih?
Yang lebih tepat kita yang bertahan, karena gak tega aja. Sebenarnya dia juga banyak jasanya (keahliannya bisa bantu-bantu masak, bersih-bersih rumah, pasang pigura dll, pkknya nih supir keahliannya diluar menyetir dan urusan  mobil. Aneh bin ajaib... Cerita tentang pak Wahab, lucunya mirip-mirip si Mukidi itu (setelah resign baru bisa dianggap lucu, pada saat kejadian aduhhh...makan hati ):  Ntar deh kalau ada waktu, aku tulis dengan edisi khusus (update: istri pak wahab baru aja sms lagi, mohon pak Wahab bisa diterima kembali. Lho piye tho?
Ditinggal dua sopir plus pembantu lama, aku rada kolaps. Akupun curhat...Pas curhat itu aku dapet ide melihat rumah temenku yang disulap ala-ala cafe. Ketika kutanya, jawabannya sungguh sangat menginspirasiku melakukan hal yang sama. Katanya, dengan membuat list dan memakai alat-alat modern, hidup dibuat sepraktis dan sesimpel mungkin. Cucian masukin laundry, setrika pake setrika uap yang lebih praktis, masakan, langganan catering, disajikan dimeja dengan pemanas listrik yang selalu on. Sedia aneka frozen food di frezzer. Its simple. 
Do you think its enough? No.....Itu yang coba kubuktikan. Aku rombak dapur supaya nyaman, aman dan tentrem pas lagi masak. Gudang kubongkar, nemulah berbagai harta karun, alhamdulillah. Untung suka nyimpen barang jadi gak kesulitan memenuhi kriteria ini, alasan suka shopping ;)
Tapi...Lama-lama makan ala catering juga bosen, makanan frozen food juga sudah gak bisa ditelan saking dah kebas. Cucian dimasukin laundry, baliknya lama. Lalu gimana dong?
Tidak berputus asa, hunting lagi pembantu n sopir.Telp sana-sini persis kayak petugas marketing lagi masarin produk. Pernah tergoda nyari pembantu lewat internet tapi rasa khawatir mengalahkan keinginan. Pernah kepikiran, enaknya tinggal di apartement, praktis kayaknya tapi karena melihat harganya, nambah dikit bisa dapet rumah, mengurungkan niat. 
Kutebarlah sms ke mantan pembantu, mantan sopir, teman-teman di group Wa sampai buat iklan di radar Bojonegoro. Pertolongan itu datang. 
"Pada setiap kesulitan, pasti ada kemudahan" (surat Al-sharh ayat: 5-6). 
Dalam waktu dua hari, aku mendapatkan sopir (untukku) dan tiga pembantu. Berlebihan sih tapi bagaimana lagi. Aku dapet dua pembantu dari pembantuku yang lama. Dan adikku datang kerumah dengan membawa si bibik, hasil dari pencarian makelar kepercayaannya. Kasihan kalau mau dipulangkan. 
Pak Yono sebelum resign, aku tugaskan untuk mentraining sopir baru ketempat-tempat vital, seperti antar anak sekolah, ketempat les, supermarket, ambil laundry dan pasar.
Untuk pembantu, awalnya aku agak underestimate pada ketiganya terutama si bibik yang baru ketahuan tidak bisa baca tulis dan cuman bisa bahasa madura. Tetapi ternyata.... 
Bisa ngopi di pagi hari

 Bisa baca majalah juga
 Bisa sarapan dengan tenang
Note: Sebelumnya, aku harus turun tangan sendiri mulai memasak, menyiapkan, menghangatkan dan menghidangkan. Keki rasanya kalau sudah ribet masak, e...si mbak saat menghidangkan atau menghangatkan salah prosedur. Sekarang cuman masak saja, urusan goreng-menggoreng dan menyajikan sudah bisa didelegasikan.
Bahagia itu sederhana. 
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
 (QS. Ar-Rahman: 55 )
Lemari rapiii
Note: Hanya pembantu si Timah saja (masa kerja 13 tahun)  yang bisa nyusun lemari rapi begini. Pembantu-pembantu sebelumnya (masa kerja 4 bulan) belum nyampe begini. Kalau mau rapi ya harus turun tangan sendiri. Kalau bersih-bersih kamar, juga sesuai protap, digeser-geser barang-barangnya supaya tidak ada debu yang tertinggal.
                          Bahu-membahu

Note: berinisiatif sendiri, membersihkan sudut rumah yang sulit dijangkau dengan vacum cleaner padahal belum dikasih tahu cara-caranya lho.
 Tiga dara :)
 Masyaallah tabarakallah. Jangan pulang ya...
Note: Masa kerja: 24 hari. Sibibik dengan ekspresi wajah datar.
Tantangan:
Mari kita lihat, bisakah trio ini bertahan untuk gajian yang pertama? Gaji part 2? Seberapa lamakah rasa senang punya pembantu pinter bisa bertahan? 
Sepertinya rasa senang punya pembantu pinter berbanding lurus dengan rasa khawatir  mereka pamit pulang.
Note: saat menulis ini masa kerja sudah 26 hari, pada hari ke 24 si bibik mengeliminasi diri dengan alasan: dapat khabar anaknya didesa sakit panas. 
- "Umur berapa bik?"
- "Duapuluh dua tahun..." 
-  Speachless... 
Sibibikpun sambil berderai air matanya pamit pulang. Yang bikin rada syok, dia mencium tangan dan memohon bisa balik lagi ...
Ya...ya...ya...Ini didokumentasikan lho bik, balik gak-ya? 
Bagaimana pemirsa, ditunggu ya hari-hari kedepan liputannya.
Tantangan untuk sopir: (masa kerja dua minggu)

Biasanya sopir masa expirednya lebih lama dibanding pembantu. Carinya juga lebih gampang, bisa lewat iklan atau referensi temen.  Sopirku, kerjanya baru terhitung dua minggu. So far sih baik-baik saja. Kelebihannya: Sopan, tidak terdeteksi sebagai kutu loncat dan yang penting paham tentang mesin mobil. Satu lagi, bisa bantu-bantu dirumah (aku memang mensyaratkan sopir harus multitasking, dengan kata lain tidak pilih-pilih kerjaan, kalau ada yang bisa dibantu, ya harus dibantu. Seperti bersih-bersih area halaman luar, betulin kran air bocor, buang sampah dll). 
Kekurangannya: dari pengamatan selama dua minggu, ada   yang mengganjal. Diantaranya: penampilan kudu dipermak supaya kelihatan lebih resmi, orangnya rada slebor/cuek. Yang kedua, merokok (gimana caranya melarang orang merokok, istri aja gak bisa apalagi hugo boss atau kebalik ya, bossnya aja gak bisa apalagi istri ;). Paling aku beri batasan-batasan saja supaya tidak merokok sewaktu bertugas dll. Diennya? ya...tampak lumayan tapi...Ya itu tadi penampilan luarnya tidak/kurang mendukung. Husnudzon saja, Inshaallah baik-baik seperti penampakannya.
Cerita tentang penampilan luar: ada mantan sopir kita yang sholatnya di masjid lima waktu. Begitu adzan, langsung ke masjid. Hp dioffkan. Biar badai sekalipun kalau waktunya sholat, ngilang selama kurang-lebih tigapuluh menit. Kalau pas bersamaan ada keperluan, rasanya pengin marah kenapa hpnya gak bisa dihubungi jadi ewuh pakewuh. Mau marah gimana wong kebaikan koq dilarang.  
Ternyata oh ternyata dibalik itu ada horornya. Nih sopir suka mengganggu para pembantu. Tahunya ya dari pembantu-pembantu yang drop out itu. Saat mereka telp mau balik, yang ditanyakan pak sopir masih ada gak. Kalau masih ada, mereka gak mau balik, kalau gak ada mereka mau balik. Kenapa ini?  
Setelah ditanya, mereka akhirnya mau cerita. Oh...gitu toh. Akupun bilang aman, sopirnya sudah drop out. Sayang seribu sayang, rencana pembantu balik selalu gak tepat, sama seperti saat mereka mau pulang. Dirumah sudah ada penunggu yang baru meski masih deg-degan juga karena gak tahu kapan expire datenya ;)
Dalam rangka menunggu tantangan mengetahui masa berlakunya SIM Kerja para pembantu, aku punya plan B. Salah-satu itemnya, memanggil balik siTimah. Dia sudah beberapa kali menawarkan diri hanya aku saja yang masih ngeles. 
Gimana ya? Sindrom pembantu lama adalah: kalau cocok berpasangan, sisenior membully yuniornya. Kalau tidak cocok, si senior memakan juniornya. Simalakama :(
Update: masa kerja 30 hari
Semalam habis ngasih gaji yang pertama, deg-degan juga sih khawatir terpaksa mendengarkan si mbak mau pamit pulang...(biasanya ada aja alasannya kalau habis terima gaji). Alhamdulillah berjalan lancar, bahkan gajinya minta dititipkan dan yang sebagian dikirim ke keluarga di desa. Lega ...(part:1)
 Update: masa kerja 37 hari (21/nov)
Lagi di jalan, ditelp si mbak, katanya dia ditelpon mertua mengabarkan suaminya sakit. Si exelent Husnah ijin pulang karena suaminya sakit panas ada di rumah sakit. 
Hua...hua rasanya gak pengin balik kerumah, bayangin ribetnya ditinggal si mb exelent. Langsung cek and ricek ke bu Sup, sipenjaga villa dleyla yang juga. Oh ya, tiga asisten dirumah termasuk dua penjaga villa dleyla di Batu juga saling kenal-mengenal karena mereka bertetangga di kampung. Ada plus minusnya punya asisten RT  bersangkut-paut begini.
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu...
Hasil cek and ricek, suami Husnah memang benar-benar sakit dan ada di Rs. Ditambah lagi si mb, tidak bawa baju dan uang gaji hanya diambil separuh, (lega, part 3) but...Kalau sampai masuk rumah sakit, bukankah butuh waktu agak lama berikut pemulihannya :(  Hanya tinggal siSumay alias Maya dirumah. Semoga keribetan ini cepat berlalu...
Update: masa kerja: 43 hari, tg23- Nov
Saat pulang Husna berjanji rabu sudah akan balik, sementara rabu pagi, aku terbang ke jakarta sampai sabtu malam. Selasa siang aku memastikan ke bu Sup (penjaga villa dleyla sekaligus makelar duo husna and Maya, bahwa Husna akan datang di hari rabu. Aku berangkat ke jakarta dengan perasaan berdebar-debar (karena di rumah cuman ada Maya aja dan si Maya gak bisa masak ): Untung ada mama yang dengan senang hati memasakkan menu-menu istimewa untuk cucunya, si bungsu Rana. Bersyukur banget masih punya orangtua. Nah rupanya si sopir ini melihat ada peluang untuk istrinya kerja menggantikan Husna (nih minusnya punya sopir satu kampung halaman dengan pembantu. Mau talking-talking everything about duo assistent di rumah by hp dengan mama kudu pake bahasa isyarat alias bahasa banjar campur-aduk).
Kembali ke soal sopir, dengan pedenya dia mengabarkan kalau istrinya bersedia menggantikan Husna. Ohlala...
Dengan pede pula aku infokan bahwa Husna bakal balik (padahal saat itu belum yakin).
Mendarat di Jakarta sampai sore n malam gak ada khabar. Huh...capek deh.
Barulah keesokan harinya khabar baik itu datang, si exelent Husna balik kamis pagi. Alhamdulillah... (lega part: 4). Ternyata...Para ipar yang mampir ke rumah mengabarkan bahwa Maya juga exelent sampai katanya mau diculik salah-satu. Hhh... Alhamdulillah :)
Setelah kenyang dengan pengalaman dibantai pembantu keluar-masuk, sepertinya terlalu dini untuk mengatakan mereka akan lama kerja dirumah. Bukan karena gak betah tapi...memang ada saja halangan bagi perempuan untuk bekerja atau berkarier diluar rumah (hukum agama juga menyebutkan beban mencari nafkah jatuh pada laki-laki meski terkadang kesempatan untuk perempuan lebih terbuka) Kalau bukan alasan suami, alasan anak sakit atau mertua atau orangtua yang sakit atau alasan mau dinikahkan, menyebabkan mereka harus quit untuk sementara atau seterusnya. Sampai sejauh mana kemesraan ini akan berlangsung? Wait and see...
TOBE continue

30 October 2016

Review Hotel Azizah Solo, Hotel Tentrem Yogya, Hotel Horizon Semarang dan Hotel Namira Pekalongan

Sudah lama tidak membuat review hotel padahal ada banyak perjalanan yang belum sempat juga dibuat kisahnya. Diantaranya: Tour de Bangka belitung, tour de Purwokerto, tour de Johor baru de-el-el...
Ntar deh, gantian. Beginilah penulis amatir, menulis berdasarkan mood dan kesempatan. Kalau lagi rajin menulis, sampai terbawa mimpi sedang mengarang cerita. Sebaliknya kalau pas lagi  malessss ....gara-gara urusan domestik yang datang silih berganti, sudah duduk berjam-jam didepan layar tetep aja ide cerita gak keluar.  
1. Tour de Solo 
Kota ini menurutku sangat menakjubkan. Kota dagang dengan jalan-jalan satu arah dan tingkat kemacetan yang tinggi ;) Seperti wisatawan lainnya selama di solo, kita berburu batik (kita adalah wisatawan non kuliner, selain alasan diet juga bukan termasuk tipe orang yang suka mencoba menu-menu baru. Kalau soal makanan, dari sabang sampai merauke yang dicari cuman rm bermenu: ikan, misal: RM Cianjur, Mang engking ;) susah diajak berpindah ke lain hati. 
Destinasi utama: mengunjungi kampung batik laweyan, butik gunawan setiawan, toko roti Amira (roti-rotinya enak, lumayan buat oleh-oleh), pasar beteng (cari kain seprei), PGS, pasarTriwindu (cari barang antik, belum kesampaian ): Destinasi yang baru gress,  cari lampu-lampu antik di Aneka Glass, Pak Amin didaerah: Pabelan baru 2. Gelap mata deh kalau kesana.

Diantara pesona lampu antik
Review Hotel Azizah Syariah by Horizon (U/picnya google aja ya)
Dengan adanya nama Horizon yang melekat, tidak perlu diragukan lagi standart kenyamanannya. Rate harga rp: 300 rban, pas aja di kantong. Luas kamar cukup, kebersihan cukup, fasilitas cukup. Hanya saja ada sedikit gangguan, pas mau lihat tv, remote tidak berfungsi.Ya sudahlah mending tidur aj, jam juga sudah menunjukkan pukul 22.00. Kelebihannya lately check out dikasih waktu sampe jam: 14.00. Karena ingin merasakan restonya, kami memesan makanan nasi khabsa. Begini penampakannya:

Rasanya enak, porsinyapun pas. Cuman agak lama ya nunggunya, lebih dari 15 menit. Overal, hotel Azizah syariah not badlah. Tentunya kenyamanan akan berkurang jika satu kamar diisi lebih dari dua orang (walau pake extra bed sekalipun karena ukuran kamarnya sepertinya sudah disetting hanya untuk berdua saja). Hotel ini cocok dipilih jika bepergian dengan teman.
2. Tour de Yogya
Bolak-balik ke Yogya, selalunya tidak melewatkan kunjungan ke pasar Beringharjo. Nemu aja pernak-pernik yang pas untuk menghias villa (villa dleyla) atau beli baju untuk oleh-oleh. Kali ini karena hanya bermalam sehari, terpaksa kunjungan rutin dipangkas. Kita memilih tour de merapi. Tournya seru sekali terutama karena mobil yang dipakai tidak biasa, jeep willys dan medan yang dilewati sangat terjal. Ibu hamil dilarang 100% mengikuti tour de merapi. 




                              Saksi bisu letusan merapi


Review hotel Tentrem, Yogya
Ini baru pertama-kalinya nginep di hotel Tentrem. Kesan pertama masuk, masih baru, mewah, bagus hotelnya. Yalah nih hotel punya jamu Sidomuncul. Kamarnya luas, fasilitas up to date, kamar mandi luas, nyaman deh. Hanya ada sedikit catatan kecil: Yang bikin keki di hotel-hotel mewah begini, masih soal kamar mandinya yang membingungkan. Seringkali kalau muter kran shower, main tebak-tebakan, air mana yang jatuh duluan, atas atau bawah. Gak ada petunjuk jadi trial and error. Pas dibuka,  Byuuur...Air jatuhnya dari shower diatas, bukan dari kran bawah. Basahlah baju :( 
Kalau disuruh milih, prefer milih fasilitas kamar mandi bintang 3, yang pake shower flexibel daripada pake shower fixed gitu.
Tentrem di hotel Tentrem, Yogya
                                         Suasana lobby

Saat breakfast, saat yang special. Beragam jenis makanan tersedia.  




Pilihan menginap di hotel Tentrem sangat cocok bila pergi bersama keluarga ataupun hanya berdua dengan pasangan. Hotelnya benar-benar nyaman dan mewah, sesuai kelasnya.
Btw: Di yogya, kita kesulitan referensi tentang tempat barang-barang antik, unik dan etnik. Atau googlingnya yang kurang ya. Jadi sementara ini kalau ke yogya hanya belanja, jujug di  pasar Beringharjo dan Mirota aja.
3. Tour de Semarang 
Semarang kotanya tenang dengan jalan-jalannya yang lebar. Setelah nyampai semarang baru tahu kalau ini kota biskuit dan kota bandeng juwana. Aku pikir bandeng Juwana itu dari sidoarjo (geleng-geleng kepala). Ini kunjunganku kedua di semarang, kunjungan pertama cuman numpang lewat aja, pantesan gak tahu apa-apa:)
Di Semarang kita mengunjungi: Klenteng Sam Poo Kong, Lawang Sewu yang legendaris, Masjid Agung Jawa tengah, Gereja Blenduk, agrowisata ke kebun karet dan kopi di sragen dan  pusat Oleh-oleh bandeng Juwana. Dari pusat oleh-oleh ini juga kita beli lumpia semarang yang enakkkk banget (list perjalann menyusul).
Catatan: didepan gereja blenduk ada beberapa penjual barang-barang antik. Bagi penghobi barang antik bisa jadi tambahan referensi.
Mampir ke pak Edi
   Beraksi di Lawang Sewu yang legendaris
 Klenteng Sam Poo Kong, gereja blenduk dan Lawang sewu
             Perjalanan menuju kebun karet dan kebun kopi


              Kunjungan ke taman buah sekalian makan siang


Review Hotel Horison di Semarang
Kalau pas ke suatu daerah yang kita tidak tahu harus pilih hotel apa (karena referensi yang kurang) pilih aja hotel Horison. Kita suka karena kamarnya pasti lebih besar dari Ibis atau Aston. 
Kamar mandinya meski terlihat kuno tapi cukup bersih.
Hotel ini terletak di Simpang Lima, pusat keramian di Semarang. Dari dalam hotel juga ada akses menuju mall (apa ya gak tahu namanya) dan mall ciputra. Karena mall yang satu foodcoutnya kecil, kita pilih akses yang nyambung ke mall ciputra, foodcourtnya banyak pilihan dan sekalian bisa shopping batik disini. 
Breakfast: menunya beragam bervariasi, unik dan enakk sekali. tersedia juga jamu-jamu siap minum sekaligus dilayani oleh ibu penjualnya. 
Tour de Pekalongan

Sebenarnya kalau ke Pekalongan selalu saja waktunya mepet jadi gak pernah explore daerah wisatanya, paling cuman shopping batik aja. Untuk menyingkat waktu, kita cuman mengunjungi batik Luza, Khanan (punya Luza juga), batik Qonita dan batik Huza. Sayang sungguh sayang, koleksi baju-baju batik di tiga tempat itu sangat terbatas karena mereka fokus ke Jakarta fashion week yang tengah berlangsung saat itu. Apa boleh buat, akhirnya hanya belanja taplak-taplak, daster dan kain batik saja.
Pekalongan kota kecil yang mulai menggeliat, ditandai banyak cafe -cafe dan hotel baru bermunculan. Dekornya lucu-lucu. Pengin mampir sih, sayang waktunya terbatas, tiba jam 20.00, balik ke sby, kesokkan harinya jam 14.00. Kapan-kapan mesti balik lagi ke Pekalongan terutama explore hotel n cafe-cafenya yang lucu n keren.
Review Hotel Namira Pekalongan
Biasanya kalau ke Pekalongan kita tiga kali menginap di hotel Umaro, syariah. Hotelnya letaknya bagus, strategis, ketempat-tempat batik cuman naik becak aja. Pelayanan okey, sayang kebersihan mengalami degradasi :( Akhirnya diputuskan pindah kelain hati.
Hotel Namira ini mengusung konsep syariah. Suasana religius langsung berasa saat kita membuka pintu. Alunan ayat-ayat al quran langsung menyambut kita di loby. Hotel ini masih baru (paling senang kalau ke hotel baru, closetnya pasti masih bagus, dasar obsessive kompulsif ma kamar mandi, tepok jidat). Masuk ke kamar, sesuai prediksi, kamarnya lumayan kecil. Kebersihan okey. kamar mandi okey, pake shower fixed tetapi ada kran untuk wudhu juga ada shower pump untuk closet. Paling kesel n sebel kalau closetnya gak ada shower jetnya (biasanya malah kamar mandi hotel bintang lima), jadi kesulitan kalau bersuci. Interior kamar  n hotel okey, hanya di kamar cuman ada pendingin bukan kulkas. 
Breakfast: jenis dan ragam makanannya minimalis.Gak ada nasi megono, nasi khas pekalongan juga egg corner :( Tapi lumayanlah ada menu fish and soto.
Breakfast di Namira


 Ada satu hotel, letaknya dekat dengan hotel Namira. Decornya lux dan keren, namanya hotel Siji. Nanti kalau ke Pekalongan lagi, kita pengin nyoba bermalam disana. 

Okey, see you in the next post