21 August 2016

Nikah muda, why not or...? (Anakku Sayang, part: 2)

Pasangan Larissa Chou dan Muhammad Alvin faiz saat ini paling banyak dibicarakan karena keputusannya yang beda dari kebanyakan orang. Berani menikah di kala usia masih muda belia. Di kala anak-anak sebaya yang lain masih alergi dengan segala jenis dan bentuk tanggung-jawab.
Sebagai orangtua kalau ditanya, setuju gak menikahkan anak di usia muda? 
Siapa yang setuju, angkat tangan. Yang tidak setuju juga. Pasti banyak yang angkat tangan ;)
Sepasang Mempelai
Mempelai yang berbahagia...
Semuanya berawal dari perencanaan dan persiapan. 
Menikah diusia golden period (20-25th/perempuan:25-30 th/laki) tidak menjamin tingkat kedewasaan yang matang diantara kedua mempelai. Apalagi anak sekarang yang nampak usia psikologisnya lebih muda daripada usia kronologisnya, ya itu tadi karena prinsip easy going dan take it easy lebih dominan.  

Mengingat kembali ke masa-masa ketika akan menikah yang mendominasi isi kepalaku adalah segala macam urusan yang menyangkut fisik, seperti: undangan, dekor, baju pengantin, tukang rias, catering dll. Persiapan psikis (tanggung jawab baru berkaitan dengan status yang berubah) jadi terabaikan...Akibatnya ya itu: gak sabaran ma anak.  
Ini contoh krisis gak sabaran (plus babyblues syndrome).



Aku masih ingat saking stressnya aku melakukan tindakan koyol tanpa sepengetahuan suami. Kutelpon rumah sakit, tempat aku melahirkan. Kukenalkan diri dengan nama samaran. 
Ini percakapannya...(yang masih kuingat).

"Sus, di RS ini ada fasilitas menitipkan bayi?"

"Iya ada bu. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya mau nitipkan bayi, bisa ya"

Perawat terdengar berkonsultasi dengan rekannya.

"Usia berapa bu ?"

"Dua bulan..."

"Iya bu, bisa. Berapa lama"

"Saya mau nitip sebulan, bisa ya"

"Sebulan..lho?!" Perawat terdengar kembali berkonsultasi dengan rekannya.

"Maaf bu, tidak bisa disini cuman bisa nitip pagi diambil sore. Memangnya ibu mau kemana?" Perawatnya malah balik nanya mungkin dia heran koq ada ibu-ibu mau nitip bayi sebulan.
"Saya mau keluar negeri..." kujawab spontan sambil buru-buru mengakhiri percakapan dan mengucapkan terimakasih.  
Ini percakapan betul-betul nyata bukan rekayasa. Kalau inget aku masih sering geleng-geleng kepala, gak percaya ;)
Pernikahan adalah awal sebuah cerita, bukan bagian akhir sebuah novel.
Ini yang harus dipahami betul oleh pasangan yang akan menikah. Selama ini ideologi yang diedarkan oleh perfileman dan pernovelan adalah: cerita akan diakhiri happy ending dengan menikahnya sang pemeran utama atau sad ending dengan tidak menikahnya pemeran utama dengan pujaan hatinya. Apa yang terjadi setelah menikah bukanlah sesuatu yang menarik untuk ditampilkan. 

Dalam rangka menanamkan nilai-nilai yang baik, Aku menceritakan pelbagai kisah before and after marriage. Mulai fiksi sampai fakta, mulai dari siti nurbaya sampai ke kisah cinderella (tentu saja dengan sedikit editan biar seru atau mengaburkan tokoh cerita supaya tidak berkesan ghibah). Kubagi dalam beberapa episode seperti novel. Ternyata mereka  paling antusias kalau mendengarkan love story orangtuanya. Jadilah ide penanaman nilainya memakai kisah autobigrafi :)

Diantara pelbagai kisahku itu, penekanannya pada jangan salah memilih suami. Pilihan yang salah akan berakibat panjang dan lebar. 
Sebelum menikah, kunci surga anak perempuan dan anak laki-laki terletak pada ridho orangtua. Perempuan yang sudah menikah  kunci surganya ada ditangan suaminya. Dia harus taat pada suaminya. Begitu ijab-qobul, Subhanallah…tugas dan tanggung-jawab orang tua berpindah tangan, estafet diteruskan suaminya. Anak perempuan harus direlakan ber-union dengan suaminya. Lain dengan anak laki-laki yang selalu akan menjadi anak ibunya.  
Ada contoh lucu dari cerita teman berkenaan dengan ini.
Teman tersebut mempunyai tiga anak, dua cewek dan  satu cowok. Si anak cowok (kelas dua esempe) tiba-tiba menghadap ibunya dan melaporkan bahwa dia sudah berunding dengan kakaknya yang cewek (kelas satu esema). Katanya kalau dia menikah dia akan pindah. Dan yang bikin ibunya keki karena si anak cowok satu-satunya ini bilang tanpa rasa bersalah: ”Tapi jangan khawatir Ma... Kata kakak, dia yang mau tinggal sama Mama” 
Ada-ada saja...;)
Berat ya melepas anak perempuan?

Bangeeett...!!!
Gimana gak berat, dari kecil diasuh, dibesarkan dengan segala over dosis reaction dan all protection. Begitu menikah, anak perempuan kesayangan itu mendadak lebih nurut, lebih loyal, lebih...pada suaminya. Begitulah hukumnya, seorang istri harus menomersatukan suaminya. Berbesar hatilah bagi orang tua yang membesarkan anak perempuannya dengan baik, imbalannya jg setimpal (jannah).  
Karena menyerahkan amanah itu beraat banget maka seorang anak perempuan (terutama) dalam memilih pasangannya  sudah seharusnya atas ridho orangtuanya. Dengan ridho orangtua, inshaallah perkawinan ananda akan selamat dari krisis-krisis yang mengintai maupun yang mengancam.
Dalam sebuah forum pengajian, saat sessi tanya-jawab, ada seorang ibu curhat dengan tak dapat menahan tangis. Ibu tadi mengisahkan bagaimana nasib putrinya yang ditelantarkan oleh suaminya padahal sang suami adalah lulusan pondok pesantren ternama. 

Bagaimana perasaan ibu tersebut ya kalau kita yang mendengarkan saja ikut berkaca-kaca tersentuh. Semoga anak ibu tersebut menemukan jalan keluar sebaik-baiknya. Amin YRA.
Btw: Siapa saja bisa mengalami hal tersebut. Kita tidak tahu takdir seperti apa yang akan menghampirikita atau anak-anak nantinya.Yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan awal yang baik dengan doa dan perbuatan baik (teladan). 
Bila doa, rasanya dalam tidurpun ibu-ibu sering merasa sedang mendoakan anak saking sudah terbiasanya dengan doa baik pada anak. Yang agak susah memang teladan (apalagi kalau ibunya mirip-mirip penulis :).  
Ada hukum yang mengatakan kebaikan itu akan diduplikasi satu kali tapi kesalahan akan diduplikasi berkali-kali. Hmm...Terkadang karena mati akal, aku memilih mengambil jalan pintas, mengaku salah (misal dalam bersikap inkonsisten). 
Begini ucapanku: 
"Ini bukan contoh yang baik, Mama melakukannya karena tidak bisa menahan diri, saking sayangnya Mama sama anak. Kalau mau ditiru rasa sayangnya saja kalau perbuatannya J A N G A N Ya !"
Hhh...ini namanya shortcut guilty feeling.
So 
Dari uraian panjang lebar diatas, sikap sebagai orangtua terhadap statement di awal tulisan tentang nikah muda, aku bisa mengangkat tangan, bisa juga tidak. Tergantung dari kesiapan ananda dan juga kesiapan kami sebagai orangtuanya. Sanggup gak ditinggal anak sedini itu de-el-el. Aku yakin kalau Arifin ilham dan istrinya merestui pernikahan anaknya diusia 17 thn itu karena mereka memang sudah yakin pada anaknya dan merekanya juga sudah siap mental. 
Bagaimana dengan anda? Sharing yuk...
See you in next post...

17 August 2016

Anakku Sayang. Love you More...

Sirin, si putri sulung hampir selalu tepat dalam mendiskripsikan style, selera, hoby dan ide-ide ibunya dengan baik :) Bila dia melihat sesuatu yang kira-kira masuk dalam keempat range diatas, dia tidak segan-segan mentransfer informasi itu walau terkadang dalam bentuk gambar as soon as possible (bila terlanjur membeli dia juga segera memberi nota cito untuk reimbes :) 
Baru-baru ini dia mentransfer sebuah video tentang seorang bocah lucu dan menggemaskan bernama Kirana
Setelah melihatnya, aku jadi keranjingan untuk membuka video-videonya yang lain dalam akun IG@retnohening. Selain hiburan juga banyak hikmah yang bisa diambil tentang kesabaran, kasih sayang, kegembiraan dll. 
Terkadang bisa terkekeh-kekeh melihat kelucuan Kirana, bisa juga tertawa kecut kalau videonya mengingatkan sesuatu yang mirip (kelakuan anak-anak semasa kecil dulu) dengan efek yang beda (sikap ibu) atau terkadang bisa sedih juga kalau membaca ikhtisar singkat dari ibunya Kirana. 
Kirana yang lucu dan menggemaskan 
(masyaallah tabarakallah)
Ada sedikit rasa iri dan sesal menggelayut di dada. Iri karena sepertinya pasangan muda sekarang take it easy dalam mendidik anak, dalam artian sekarang banyak fasilitas yang memudahkan. Kalau berjalan di mall, bukan pemandangan langka jika seorang ibu muda dengan dandanan ala makeup artis, badan yang sudah membentuk lengkung sempurna dan senyum tersungging mendorong baby yang masih berumur mingguan dalam stroller sementara si ayah menggandeng kakaknya yang masih batita. 
Koq aku dulu gak begitu yaaaa. Habis melahirkan badan melar, never comeback :( Gak pake baby sitter, semua dikerjakan sendiri, gimana punya waktu buat jalan-jalan? Full jadi ibu rumahan gimana bisa mengupdate peralatan makeup? Harga diapers saat itu mahal banget jadi dipakenya seminggu sekali kalau pas jalan-jalan yang lebih dari 100km ;)  
Yang bikin nyesek, koq aku gak bisa sabaaarrrr yaaa. Kayaknya ibu-ibu sekarang pada sabar-sabar dan baek-baek sama anaknya.
Hmm...Kalau ada mesin waktu pengin balik bentar terus keluar lagi ;) 
Kesabaran memang paling mudah ditulis, dibahas, diingat, dihayati, diajarkan tetapi paling susah dilakukan. Sabar itu didapatkan dari dua hal, genetis dan waktu. Jadi kalau gak turun-temurun berasal dari gen sabar ya harus berlomba dengan waktu. Karena sabar yang bukan genetis itu adalah hasil dari pembelajaran dan ini butuh waktu. Semakin bertambah umur biasanya juga orang akan menjadi lebih sabar. Dalam kamus psikologi, kesabaran itu menjadi salah-satu item emotional intelligence. Konon, orang yang mempunyai EQ tinggi lebih berpeluang sukses daripada orang yang ber-IQ tinggi. Sepertinya begitu. Orang pandai banyak sementara orang yang EQ tinggi seperti lampu antik ;)
Sirin kadang suka protes merajuk,"Mama koq lebih sabar sama Rana. Dulu kalau Sirin begitu mama pasti marah :( Btw: Sirin dan adiknya Rana beda usia delapan tahun.
Aku jadi teringat pada mendiang abi yang juga lebih sabar pada adikku dibanding aku dulu (beda usia kami sebelas tahun) Jadi jelas ya darimana kesabaran itu didapat ;)

Setiap anak adalah uniq. Anak yang satu berbeda dengan anak yang lain meski dilahirkan kembar identik sekalipun. Perlakuan yang sama akan berakibat hasil yang berbeda apalagi perlakuan yang beda, pasti hasilnya juga beda.

Si sulung Sirin, kita diskripsikan sebagai Ice cream (gampang tersentuh). Kalau ngambek atau marah hanya dengan satu kerlingan saja atau sebuah colekan di pipi langsung deh meleleh, seberapun marahnya. Ini sifat baiknya yang kita suka bangeeetttt. Selain itu, mudah bergaul, temannya bertebaran dimana-mana, kadang bikin ibunya jeolous juga, sudah lama ditungu-tunggu kedatangannya (kuliah di luar kota) begitu datang, sudah kayak mentri, agendanya ketemu temen disana dan disini #populer. Kalau yang tidak suka  cuman satu yang paling dominan, kita bilang gaya gravitasi tinggi#gak nginjek bumi#boros banget :( 
Ini contoh ringannya:
 "Bagus Ma...!" 
(hasil akhir purbasari no: 81:)
Kalau adiknya Rana, kita sebut kloning karena sifat dan wajahnya nya mirip ibunya (dulu sewaktu gadis) dan ayahnya bangett. Yang baik ditiru sih suka sekali (hoby nulis, hemat, alusan) tp kalau kurang pe-denya, moody (ibunya bisa mendadak migrain kalau ngadepin) dan yang juga gak kalah bikin pusing, temennya cuman itu-itu aja. Dari mulai TK sampai SMP, temannya bila dihitung hanya memerlukan satu tangan saja. Kalau si kakak kelebihan teman, kalau si adik justru minimum temannya. Ibunya stresslah apalagi kalau dikenalin ma anaknya temen yang sebaya, malah diem seribu basa#jadi patung (ini aku bangetttt:( #dulu :). 
 Sahabat sejak esde
Persamaan keduanya yang positip, sama-sama kutu buku dan yang sering bikin ibunya bete, keduanya kembar identik tidak sabaran :( #genetis. Apalagi kalau lagi pengin sesuatu, maunya sih kalau bisa langsung dapet saat itu juga. Bedanya: si sulung unggul dalam rayuan pulau kelapa sementara si bungsu lebih kalem. Kalau dilihatnya wajahku berubah mimik langsung diralat dengan kata-kata, "Ya...ya gak usah Ma...".
 "Maaf ya Ma..."
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak itu cerminan orangtuanya. Benarkah? 
Dalam contoh kasus diatas ada benarnya (ini yang suka bikin nyesek :( Meski begitu arti peribahasa itu tidak mengikat alias tidak mutlak kebenarannya. Anak pertama adalah anak perjuangan, dimana orangtua masih dalam tahap pembelajaran yang rentan stress. Sebaliknya anak bungsu adalah anak kemerdekaan karena pada tahap ini biasanya orangtua sudah ada pada tahap matang dan mapan. Jadi jangan kaget kalau orangtua lebih sabar dan bijak bersikap dalam menangani anak bungsu. Semua orang tua menyintai anaknya dengan porsi yang sama, penampakannya saja seperti ada perbedaan terutama dalam kacamata anak. Bagaimana bisa seorang ibu divonis lebih menyintai seorang anaknya dibanding yang lain, bukankah mereka ada dalam rahim yang sama? Pemahaman ini yang berusaha aku transfer ke anak sulung kalau lagi berbincang-bincang santai. Maksud dan tujuannya sudah jelas, mencegah munculnya rasa iri antar kakak-beradik sambil berusaha membenahi pelan-pelan kesalahan penanganan dimasa lalu. 
Rupanya hal ini sangat menyentuh bagi Sirin dan terbukti dia pintar sekali mengambil hikmahnya alias pandai memanfaatkan ibunya. Salah-satunya ya melalui request-request seperti contoh soal diatas.  
Jadi tahu khan kenapa sisulung bisa boros banget??? Kalau kata ayahnya menyindir: karena support yang tidak kenal lelah oleh ibunda untuk ananda tersayang. Speechless deh...
---------------------

TOBE continue part:2







13 June 2016

Predator dan Pencuri Koin (lanjutan dari tulisan: Manusia, Siapakah Aku?)

Sudah lama menjadi perdebatan tentang siapa yang salah ketika ada kasus perkosaan dimana korban adalah perempuan muda dengan memakai rok mini atau seorang perempuan yang berprofesi sebagai PSK.
Perlukah kasus itu disebut perkosaan atau perlukah dicari siapa yang salah jika ada yang merasa sebagai korban?
Karena bukan ahli bahasa, saya tidak tertarik mengulasnya secara spesifik dari segi arti kata. Apa itu korban, arti pelaku atau definisi dari kata perkosaan. Begitu juga arti sesungguhnya dari kata predator atau kata pencuri dan kata koin (uang receh).
Saya hanya ingin membahas hubungan semua kata-kata tersebut diatas dilihat dari kacamata seorang ibu yang dianugrahi anak perempuan. 
Kasus perkosaan/kekerasan/pelecehan sexual tidak sama dengan kasus pencurian, perampokan atau pembunuhan.
Kasus ini meninggalkan trauma spesifik bagi para korbannya karena itu memerlukan penanganan yang berbeda. Tidak seperti ketika seseorang kehilangan sepatu atau kehilangan uangnya. Meski saat konseling menghadapi para korban seorang psikolog harus menyakinkan bahwa mahkota berharga yang direngut paksa itu hanyalah sesuatu yang menempel di tubuh dan artinya kurang lebih sama dengan saat sepatu atau baju yang hilang. Jadi nilainya jauh lebih murah dari harga mahkota yang asli terbuat dari emas dan berlian.  
Penanganan terhadap korban harus menekankan pada pendekatan hubungan interpersonal yang mengarah pada terbentuknya kepercayaan. Sedang penanganan terhadap kasusnya juga berbeda dengan cara tidak memblow up kasus tersebut dengan mewawancarai tetangga, teman, guru, orangtua dll untuk mengorek keterangan betapa malangnya si korban atau sebaliknya, betapa si korban pantas diperlakukan seperti itu. Bisakah awak media menggunakan nuraninya untuk masalah yang satu ini?
--------------------------------

Predator disini ditujukan pada laki-laki yang melakukan kejahatan sexual pada perempuan. Predator ini hidup berdasarkan insting semata. Semboyannya: lihat, tunggu dan terkam. Mereka tidak pandai membaca signal dan membedakannya. Satu-satunya keahlian yang dimilikinya hanyalah melihat kelemahan dan kesempatan. Mungkin ini adalah tingkatan manusia yang paling rendah. Wujud mereka adalah manusia biasa dengan segala kelebihan akalnya dibanding makhluk hidup yang lain. Karena itu banyak diantara kita yang masih tidak menyadari keberadaan predator ini sampai mereka melakukan aksinya. Cara terbaik  menghadapinya adalah dengan tidak menghadapinya (tidak memberinya kesempatan).
Pencuri koin (uang receh) adalah label yang melekat untuk: seorang perempuan yang dengan sengaja menggoda/merebut suami perempuan lain dengan mengharapkan keuntungan secara materi semata (beda niat beda pula diskripsinya). Koin identik dengan uang receh. Pada dasarnya, sipencuri koin hanya mendapatkan uang receh tidak peduli seberapa banyak uang, kemewahan dan kenikmatan yang dia dapat. Mengapa? 
Sesuatu yang bisa dicuri itu hanya berupa fisik atau benda. Nilainya tidak terlalu berharga dibanding manusianya itu sendiri. Uang yang lebih besar itu berwujud pendamping hidup/suami /imam yang baik baginya justru tidak dia dapatkan. Apakah ini berarti laki-laki yang baik tidak bisa dicuri? Tidak bisa. 
Karena laki-laki yang baik itu satu paket dengan akhlaq#iman. Iman kadang naik kadang turun dan mencuri itu sebuah keahlian yang membutuhkan proses. Jika dua frase ini dikaitkan maka muncullah sebuah kalimat: "Dan selama proses iman menurun, kata baik pada laki-laki itu otomatis ikut menyublim menjadi tidak baik". Disaat inilah, kecurian itu bisa terjadi. So... Yang dapat dicuri itu adalah laki-laki yang tidak baik.
Fenomena pencuri koin tidak lagi hanya sebuah tren (temporary) tapi sudah berubah wujud menjadi sebuah solusi siap saji. Sebenarnya perempuan diberi kelebihan dengan anatomi tubuh yang berbeda dengan laki-laki dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai makhluk mulia yang dihormati 3x lebih dari laki-laki (baca: ibu), untuk mengandung dan melahirkan. Tetapi segala sesuatu selalu mempunyai dua sisi, sisi baik dan sisi buruk. Jika digunakan sesuai dengan fitrahnya maka dia berada pada sisi baiknya dan jika digunakan melawan fitrahnya maka dia berada pada sisi buruknya.
--------------------------------------
Sering kita dengar, godaan terhadap laki-laki dikategorikan menjadi tiga bagian: harta, tahta dan wanita (baca: perempuan pencuri koin). Benarkah? 
Dan mengapa juga wanita ikut pula masuk nominasi sebagai kategori penggoda? Kenapa tidak bisa dibalik? Kenapa laki-laki tidak bisa masuk dalam nominasi penggoda? Hukum alam berlaku: Laki-laki secara fisik tidak menggoda perempuan atau perempuan tidak tergoda oleh laki-laki secara fisik. 
Kembali ke kalimat diawal tulisan ini:  
Siapa yang salah jika terjadi kasus perkosaan terhadap seorang perempuan yang memakai rok mini atau terhadap seorang perempuan yang berprofesi sebagai PSK?
Jawabannya pasti beragam sesuai tolok ukur yang dipakai. Bagi kaum feminis yang salah adalah jiwa laki-laki itu yang mesum. Bagi pembela kaum laki-laki, yang salah adalah si wanita yang dikategorikan sebagai penggoda. Bagaimana dengan anda?
Bagi saya sebagai ibu dari dua anak perempuan, dengan tegas saya pastikan yang salah adalah kita semua, pelaku, korban dan sistem masyarakat yang sakit. Bagaimana kita bisa melahirkan pelaku, bagaimana bisa memunculkan korban dan bagaimana kita masih bisa memperdebatkan sebuah kesalahan?
----------------------------------------------  
Semua bermula dari keluarga

Mana yang lebih utama mendidik anak perempuan atau anak laki-laki?
Mendidik anak mempunyai kaidah umum yang sama antara anak laki-laki dan perempuan. Memang ada beberapa kaidah yang tidak bisa diperlakukan sama, berkaitan dengan norma (religi) dan budaya. Singkatnya mendidik anak perempuan berbeda dengan mendidik anak laki-laki. Didiklah anak perempuanmu dengan banyak hal baik dimana penekanannya pada "Malu" (dideskripsikan sebagai: pendidikan akhlak untuk menjaga kehormatan) dan "Aku berharga" (dideskripsikan sebagai bentuk pertahanan diri dari segala bentuk pelecehan)
"Malu nak kalau mengambil suami orang". "Malu nak kalau pakai pakaian yang mengumbar aurat". Malu nak kalau pulang larut malam" atau "Anakku cantik". "Anakku sayang"
Dan didiklah anak laki-lakimu dengan penekanan sebagai "Pelindung" (dideskripsikan sebagai cara untuk menjaga dan menghormati perempuan (terutama ibu, istri, anak, saudara perempuan, dll). 
"Jaga adikmu, antarkan dia pergi". "Temani kakakmu". "Jangan pernah memukul perempuan karena setiap perempuan adalah ibu. Kalau engkau memukul perempuan berarti engkau memukul ibumu!"
Bila semua keluarga menekankan dua hal ini pada anak-anaknya, niscaya istilah pencuri koin (dan kerabatnya: seperti ayam kampus, teman tapi mesra, sephia dll) dan predator (berikut anak turunannya: seperti:pedhofil,dll) akan senyap. Selama dunia berputar, mustahil nihil, at least mereka tidak dapat exist.
Akankah semudah itu?
Tentu saja tidak karena kalimat-kalimat bijak seperti ini selalunya hanya sampai kepada keluarga-keluarga yang memang sudah mendidik anaknya dengan baik. Kalimat-kalimat ini tidak pernah sampai pada mereka diluaran sana yang masih hidup dalam pemenuhan kebutuhan tingkat satu (teori Abraham Moslow). Dan secara teori pula, pelaku kejahatan sexual kebanyakan berasal dari strata sederhana yang sarat terbelit dengan masalah sosial ekonomi.
Disinilah perlunya peran masyarakat untuk menyumbangkan ide, dana, tenaga untuk menjadi penyambung lidah kebaikan atau memutus rantai keburukan didaerah sekitarnya. Diperlukan kepedulian sosial on air atau off air.
Bisa atau maukah kita?
Ada banyak cara turut peduli




Berdasarkan tabel prioritas, mendidik anak perempuan lebih utama dari anak laki-laki. Mengapa? 
Semua anak perempuan adalah calon ibu. Melalui perempuanlah seorang anak dilahirkan, dirawat dan dididik. Mengutip ungkapan dari seorang penulis (lupa nama dan judul bukunya :(   
“Jika kamu mendidik satu orang pria, maka kamu hanya mendidik satu orang itu saja. Namun apabila kamu mendidik satu orang wanita, maka sesungguhnya kamu telah mendidik suatu bangsa”. 
Implikasinya, mendidik dan menjaga anak perempuan sejatinya lebih sulit dibanding anak laki-laki (anak perempuan lebih condong menjadi korban dan menerima resiko dibanding anak laki-laki yang cenderung menjadi pelaku dan minim resiko#tidak seperti anggapan umum bahwa mendidik anak laki-laki yang lebih sulit :)
----------------------------
Kini saatnya kita lebih peduli. Tebar kebaikan, anak-anak diluaran sana juga anak-anak kita. Mari kita merapatkan barisan, didiklah anak-anak bangsa dengan benar. Tidak ada kelebihan anak laki-laki dibanding anak perempuan dan begitupun sebaliknya. Laki-laki dan perempuan saling membutuhkan sesuai fitrahnya dan jangan biarkan mereka berada dalam koridor yang melawan fitrah karena disanalah semua keburukan bermula. 
Ingatlah, kelak merekalah yang mengantarkan kita ke syurga.
Terimakasih sudah membaca tulisan ini secara berseri. Semoga bermanfaat...:)

19 May 2016

Manusia, siapakah Aku?


Manusia itu Makhluk Allah yang paling tinggi derajadnya
Manusia itu berakal, berilmu dan beradab
Manusia itu berperikemanusiaan
Manusia itu Makhluk Sosial
Manusia itu bukan predator tetapi dia bisa jadi predator
Manusia itu bukan monster tetapi dia bisa seperti monster
Manusia itu bukan syaitan tetapi dia bisa bersekutu dengan syaitan
Manusia seperti apakah kamu?Jadi siapakah kamu?
Aku ini "binatang jalang"


Binatang...!
Sekejam binatang
Lebih kejam dari binatang
Benarkah binatang kejam? 
Bagaimana binatang bisa kejam kalau  tidak punya logika dan budaya. Binatang hanya punya naluri untuk bertahan hidup. Jadi kalau binatang menjadi predator atau monster itu semata-mata karena binatang perlu makan atau mempertahankan diri. Kalau tidak lapar atau tidak terancam, binatang tidak akan memangsa satu sama lain.
Bagaimana dengan manusia?
Manusia dilengkapi Allah dengan piranti yang jauh lebih sempurna dari binatang dengan tugasnya menjadi pemimpin di muka bumi. Lantas kenapa manusia bisa menjadi predator atau monster?
Bukan karena mereka lapar,terancam, miskin atau bodoh. Tapi karena tidak ada iman dihati. Mereka bisa bersekutu dengan syaitan. Kekuatannya bisa terlihat dari hasil kerusakannya. 
---------------------
Kriminalitas dan kita.
Iman tidak bisa dipisahkan dengan pengetahuan,baca.
Iman berkaitan erat dengan akhlakbaca
Untuk menciptakan manusia yang berperikemanusiaan, pelajaran pertama yang harus diberikan orangtua kepada anaknya atau guru kepada muridnya adalah Iman dan akhlak.
Menjadi manusia yang baik saja tidak cukup, baca
Bukan salah bunda mengandung jika kita temukan seorang predator atau monster disekitar kita. Karena meski sudah menjadi fardhu ain bagi para orangtua untuk mengajarkan iman dan akhlak pada anak-anaknya tetapi juga menjadi fardhu kifayah bagi kita semua mengajarkan kebaikan.
”Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras dalam hukuman-Nya.”(QS. Al-Maidah/5:2)
Dalam kalimat yang berbeda, Julian Assange mengatakan:  "Kejahatan terjadi ketika orang baik berhenti bertindak"
Ketika kriminalitas terjadi disekitar kita, maka telaah pertama adalah apakah kita termasuk salah-satu pendukung langsung atau tidak langsung.  
Kalimat pengingat yang lain berasal dari sebuah hadist:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain"
Bermanfaat untuk orang lain, inilah kata kunci, cara kita bertindak.  Menebar kebaikan, menghambat keburukan dan menuai keberkahan dalam kehidupan.
Dalam rangka bermanfaat untuk orang lain, terutama bagi anda yang kebetulan menjadi pemimpin negeri, pemimpin redaksi, pemilik stasiun tv, pemilik toko buku dll yang menguasai hajat hidup orang banyak dalam hal membangun atau merubah pemikiran, stop bertindak berdasarkan naluri bisnis. 
Karena anda manusia tidak seharusnya anda hanya menggunakan  insting untuk menimbulkan kehancuran yang nyata atau tidak nyata.
Kejahatan atau keburukan tidak seharusnya diberitakan secara detil apalagi bila itu menyangkut sexual harassment. Kejahatan yang satu ini tidak setipe dengan kejahatan lain. Penggambaran secara detil bukan saja merugikan keluarga dan korban yang mengalami trauma psikologis tetapi juga dapat berakibat sebaliknya, menginspirasi orang untuk melakukan teror yang sama. Banyak orang diluaran sana yang tampak normal dalam perwujutan keseharian tetapi mereka sebenarnya sakit. 
Semoga kita bukan termasuk salah satu faktor pencetusnya, baik yang tersamar maupun yang terlihat. 
Semoga almarhumah khusnul khotimah, diampunkan segala dosa-dosanya, dinaikkan derajatnya dan diberi tempat terbaik disisiNya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Amin YRA.

 Tobe conitinue (part:2)

11 April 2016

Kematian adalah sebuah Peringatan...

Sebuah nasehat bijak mengatakan: 
Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.
Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya
.
(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 55/Th. II, tgl 21 Shafar 1426 H/01 April 2005 M , judul asli Kematian Sebagai Peringatan)
QS, Luqman 31:34
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Kematian adalah Kiamat kecil
Duka dan Kehilangan...
Trenyuh
 
Niat yang baik
Selamat jalan Irma... Kematianmu tidaklah sia-sia. Adhamallah Wa'ajrokum. Wa khusnul Khatimah Insyaallah. Amin YRA




08 February 2016

Bekerja itu mudah, mencari pekerjaan itu yang sulit.

Bila ada soal multiple choice seperti di bawah ini, sebaiknya pilih apa?
1. Bekerja bersama orang yang tidak pintar tapi jujur
2. Bekerja bersama orang yang pintar tapi tidak jujur
3. Bekerja bersama orang yang tidak pintar tapi jujur dan mau belajar
Hampir dipastikan  pemilih akan memilih pilihan no tiga. Sayang sekali pilihan no tiga dikehidupan nyata sangat amat jarang sekali. Yang terbanyak adalah varian pilihan satu dan dua. 
Seandainya disuruh pilih satu saja dari kedua pilihan diatas, maka lebih baik pilih yang mana?
Jawabaannya pasti beragam dan punya alasan kuat berdasarkan pengalaman masing-masing. Kalau aku sih dalam taraf yang tidak ekstrem pilih bekerja dengan orang yang tidak jujur tapi pintar. Pilihan dua, memang makan ati (amat-sangat) tapi paling tidak kita bisa mengantisipasinya untuk meminimalkan kerugian, sebaliknya kepintarannya bisa kita manfaatkan sebesar-besarnya. Sementara kalau bekerja dengan orang yang tidak pintar tapi jujur (pilihan pertama), sama makan ati juga (amat-sangat-sekali), merugikan juga dan yang terburuk bisa bikin jantungan saking seringnya ngelus dada. Sebelum terlalu jauh pembahasannya, sekedar info, soal multiple choice ini hanya berlaku dalam rangka mencari asisten RT (include sopir). Jadi teori ini diilhami akibat trauma habis ngeliat share video di fb tentang pembantu bantu pencuri
Dicari...!!!

Pilihan no tiga, terbilang langka dan sangat limited edition. Ini adalah peluang besar bagi pencari suaka kehidupan yang lebih baik. Semua pekerjaan membutuhkan dua variable penting ini (jujur dan mau belajar) sebagai modal dasar. Kalau sudah punya modal dasar ini tinggal menambah varian yang lain, seperti doa, loyalitas, dll sebagai pemicu keberhasilan (sumber: teori sukses)
Sebelum lanjut, ada baiknya menyimak kisah dibawah ini:
Alkisah dari kota sebrang. Siti yang cantik jelita menikah dengan dengan Amir yang tampan nan baik hati plus mendapat restu kedua orangtua masing-masing. Sang suami mempunyai beberapa komponen sifat baik sehingga untuk penampakan dia mendapat rating A- (mirip ratingnya temptalia, beauty blogger :).
Singkat cerita, disanalah kita bertemu dan disinilah aku menulis. Tanpa melalui tebak-tebakan yang rumit, banyaknya kerut di wajah Siti menggambarkan kesulitan hidup yang dialaminya.
Dari pembicaraan hati ke hati, terkuaklah riwayat kisahnya. Bertahun-tahun menikah, keadaan ekonomi keluarga tak kunjung membaik. Setelah melalui pendalaman, secara tersirat tercetus sang suami ternyata pemilih pekerjaan, artinya dia butuh kerja tapi dia hanya akan bekerja bila pekerjaan itu sesuai harapan. Karenanya banyak lowongan pekerjaan yang dilewatkan atau terlewat begitu saja. 
Bagaimana kisah selanjutnya?
Sebuah kisah bersambung yang tidak membingungkan tapi mengharukan melihat kesabaran sang istri. Tetapi bukankah tidak cukup hanya kesabaran yang kita contohkan ke anak-anak? Ketangguhan juga penting diajarkan supaya bisa survive dalam kehidupan.
Kembali ke judul tulisan, lengkapnya: bekerja itu mudah, mencari pekerjaan yang sesuai keinginan itu yang sulit. 
Pengalaman ini menguatkan:
Ketika sopir yang sudah bekerja lima tahun berhenti dengan alasan mau berwiraswasta kerupuk, aku sempat kelimpungan mendapatkan pengganti. Bukan karena tidak ada yang melamar tapi karena tidak berani aja ambil sopir tanpa rekomendasi. Ternyata bukan hanya hanya aku yang diliputi rasa khawatir dalam merekrut pekerja RT (karena bukan pengusaha sebenarnya jadi hanya bisa mencontohkan perekrutan asisten RT sahaja ;). Banyak lho teman  yang mengeluh sulit cari sopir, pembantu atau perawat pribadi untuk orang tua/sakit. Bukankah ini sebuah peluang pekerjaan? (Hanya untuk orang yang berkemauan).
Dalam scope yang lebih luas, percayalah, banyak di luaran sana, orang yang membutuhkan pekerja yang jujur dan mau belajar. Dalam iklan lowongan pekerjaan biasanya kriteria, pekerja keras dan jujur diidentikan dengan sales. Bekerja serabutan diidentikan dengan pesuruh atau cleaning service jadi belum-belum sudah ilfil. Padahal, tidak sedikit orang sukses yang diawali bekerja sebagai sales atau cleaning service.
Kunci sukses adalah mau belajar. Tidak pintar tapi kalau ada kemauan untuk upgrade, lama-lama jadi pintar juga khan. Kalau kita butuh pekerjaan, jangan dilihat dulu besarnya gaji dan jenis pekerjaannya, lihat saja kesempatan atau peluang dari pekerjaan yang ada untuk hidup normal/standart. Seorang suami harus menafkahi keluarganya, seorang anak yang ingin membantu orangtuanya atau seorang individu yang tengah mencari jati diri dengan bekerja sebagai tugas belajar kehidupan edisi bertanggung-jawab.
Kalau tidak merasa cocok, tekuni saja dan jadikan batu loncatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Gaji dari "pekerjaan yang tidak disukai" itu, tabung aja sampai jangka waktu tertentu dan cukup untuk dijadikan modal usaha kecil-kecilan. Atau selama rentang waktu bekerja dengan "pekerjaan yang menjengkelkan" itu, upgrade kemampuan dengan langkah awal, tidak main perhitungan rumit dengan mengatakan ini bukan bagian saya, ini bukan tanggung-jawab saya dll. Kira-kira, senang gak-ya kalau nemu pekerja yang mau melakukan tugas-tugas tambahan, diluar waktu atau melampaui job discriptionnya (dalam artian positip). Pasti senenglah...
Kisah sukses orang-orang besar banyak diwarnai dengan awal yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi mereka jalani saja, tekuni saja, dan akhirnya mereka dipromosikan, direkomendasikan dan tetap rendah hati (mau belajar itu adalah sifat utama dari orang yang rendah hati). Jadilah mereka orang sukses, seperti yang kisahnya dijual dan dipajang di gerai toko-toko buku seantero negri.
Bagaimana menurut anda?
See you in next post...